Belenggu Akad

Belenggu Akad
Memulai dari Adik Ipar


__ADS_3

Rahma tidak menyangka akan melalui hari ini dengan orang yang selama ini tidak pernah disangka akan kembali hadir dalam hidupnya. Selama mereka menghabiskan waktu libur di Kerkof yang dilanjutkan dengan menjelajah alun-alun dan berakhir di kawasan wisata belanja Sukaregang saat sore menjelang Athaya tidak pernah jauh dari Tama.


Pertemuannya dengan Shanum yang juga ternyata membawa serta seluruh anggota keluarganya untuk berlibur di Garut membuat Tama semakin leluasa menunjukan keakrabannya dengan Athaya karena Tama pun mengenal Shanum dan seluruh keluarganya. Semua orang bahkan sudah mengetahui perihal Tama yang belum bisa move on dari seorang wanita yang akhirnya disinyalir Shanum dan suaminya bahwa wanita itu adalah Rahma.


Tidak lupa di sana pun bergabung Ghifar, sahabat sekaligus asisten pribadi Akhtar suami dari Shanum dan juga Hasna, adik ipar Shanum dari suaminya terdahulu sebelum menikah dengan Akhtar.


(Tentang Shanum dan Akhtar ada di novel "Senja di Ujung Harap)


Rumah makan muara sunda menjadi akhir petualangan mereka. Selepas maghrib semua sepakat akan makan malam terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat masing-masing. Tiga buah mobil sudah terparkir di parkiran rumah makan itu.


"Sepertinya akan segera tersebar undangan nih..." Shanum memulai perbincangan dengan menggoda Rahma setelah beberapa saat mereka duduk di saung lesehan dengan pemandangan sawah di malam hari.


Suasana pedesaan sangat kental terasa di rumah makan itu. Rahma yang duduk berdampingan dengan Shanum dan Hasna sedang mengawasi Athaya yang sedang bermain di arena bermain anak yang menjadi salah satu fasilitas di rumah makan itu.


Athaya bermain sangat semangat, sepertinya anak itu tidak merasa lelah sama sekali padahal seharian mereka berpetualang di Garut tapi Athaya masih sangat aktif mencoba berbagai aneka permainan bersama si kembar putra dan putri dari Shanum dan Akhtar dengan ditemani Tama tentunya. Sementara Yusuf yang biasanya menjadi pengasuh Athaya kini tengah asik mengobrol dengan Fauzan, temannya yang merupakan adik dari Shanum. Sedangkan Akhtar suami Shanum dan Ghifar asistennya sedang terlibat obrolan seputar pekerjaan.


"Undangan apa Teh? dari siapa?" tanya Rahma belum faham dengan ucapan Shanum.


"Heummm....suka pura-pura ah..." jawab Shanum masih dengan senyum menggoda.


"Teh Rahma mau menikah? kapan? jangan lupa undang aku ya" Hasna yang faham dengan perkataan kakak iparnya yang pasti tentang Rahma mulai bergabung dalam obrolan mereka. Gadis yang gila kerja itu akhirnya bersedia juga diajak berlibur oleh Shanum kakak iparnya.


"Ish....siapa yang mau nikah, enggak ih" Rahma mulai mengerti arah pembicaraan mereka, seketika wajahnya memerah karena ternyata dirinya yang menjadi objek pembicaraan.


"Lihatlah, mereka sudah sangat cocok. Kemistrinya dapet banget" tunjuk Shanum dengan dagunya ke arah Athaya dan Tama yang berada di arena bermain tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Aku kira Mbak Hasna lho yang mau nikah" Rahma mengalihkan topik pembicaraan setelah sempat menatap ke arah Athaya dan Tama di arena bermain.


"Mohon do'anya juga, semoga Allah mudahkan ya" Shanum yang menjawab, sementara Hasna hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


"Masih harus mencari yang tepat Teh, aku mah harus lebih ekstra hati-hati biar tidak zonk lagi..." sahut Hasna dengan tersenyum getir.


Rahma mengernyit, tidak faham dengan apa yang dikatakan Hasna. Gadis cantik yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu sangat mudah mengakrabkan diri. Rahma baru tahu jika Hasna adalah adik ipar Shanum dari suami pertamanya. Dia bahkan sempat kaget ternyata pernikahan Shanum dengan Akhtar adalah pernikahannya yang kedua.


"Aku pernah gagal nikah teh, padahal tinggal akad" Hasna mulai membuka diri, dia bercerita tentang dirinya yang gagal menikah karena calon mempelai pria yang tiba-tiba ditangkap polisi saat akad akan berlangsung.


Rahma mendengarkan dengan seksama cerita Hasna yang sesekali disahuti Shanum. Perasaan empati pun muncul di hati Rahma, ternyata semua orang memang mempunyai jalan hidupnya masing-masing perihal jodoh dan pernikahannya. Kisah Shanum dengan Akhtar yang penuh onak dan cabaran cukup memberi Rahma pelajaran jika jodoh tidak akan kemana, dan saat ini mendengar cerita Hasna tentang kegagalan pernikahannya memberi Rahma pelajaran juga jika Allah akan menghadirkan orang yang tepat dan menjauhkan orang yang tidak layak berada dalam hidup kita.


"Mudah-mudahan Mbak Hasna segera dipertemukan dengan orang yang tepat ya" ucap Rahma tulus,


"Teh, sepertinya usia aku lebih muda dari teteh deh, jangan panggil aku mbak panggil aja aku Hasna" pinta Hasna setelah mengaminkan do'a Rahma.


Pesanan makanan mereka pun datang, para pelayan dengan sigap menyajikan aneka hidangan makanan khas sunda yang mengunggah selera.


Rahma memanggil Athaya, begitupun Shanum memanggil si kembar. Semua orang sudah siap duduk melingkar di meja yang di atasnya sudah penuh dengan sajian aneka makanan dan minuman pesanan masing-masing. Lagi-lagi posisi duduk seolah sengaja diatur memudahkan Tama untuk semakin dekat dengan Rahma dan Athaya.


"Apa?" Shanum melirik sekilas sang adik, dia belum faham maksud sang adik.


"Tuh...." tunjuk Yusuf ke arah Athaya yang sedang disuapi Tama,


"Eh...Pak, biar saya saja yang menyuapi Athaya. Maaf merepotkan" Shanum panik sendiri, dia segera menarik piring Athaya yang lebih dekat dengan Tama,


"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya" jawab Tama santai membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum, berbeda dengan Rahma yang panik.


Tepat pukul sembilan malam tiga buah mobil dengan merk berbeda siap meluncur meninggalkan parkiran rumah makan itu. Rahma dan Yusuf yang menggendong Athaya memasuki mobil Tama yang kali ini dibawa oleh Yusuf . Sementara Shanum dengan kedua anak kembarnya memasuki mobil Akhtar yang dikemudikan oleh Fauzan dan satu lagi mobil Ghifar yang dia bawa sendiri bersama Hasna.


Setelah saling berpamitan dan sepakat dengan agenda untuk besok, mereka pun pergi meninggalkan rumah makan itu. Sebelumnya Rahma memang sudah janjian dengan Shanum jika mereka akan berada di Garut selama satu minggu. Rahma sudah menyerahkan toko pada karyawan kepercayaannya, sedangkan untuk tugas mengajar dia izin dari tugas mengajar tatap muka dan hanya memberikan pembelajaran online yang bisa dilakukannya dari jarak jauh.


"Kalian curang, kenapa tidak bilang-bilang kalau akan berlibur lama di sini?" Tama berkata dengan nada merajuk, setelah mendengar perbincangan Rahma dengan Shanum dia terlihat lebih banyak diam. Rupanya Tama sedang memutar otak bagaimana agar dirinya bisa ikut serta sedangkan besok dia sudah ada janji temu klien di Bandung.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Kak, ini mah rencana Teh Rahma. Aku juga gak bisa lama-lama cutinya, besok sore harus sudah kembali ke Jakarta karena Selasa pagi ada rapat dengan pimpinan" ujar Yusuf yang ternyata pengajuan cuti satu minggunya tidak di acc karena ada hal mendesak di perusahaan tempatnya bekerja dan hanya diberi waktu satu hari yaitu hari Senin dia libur.


"Teh, teteh yakin masih mau di sini seminggu ini?" Yusuf melirik sang kakak dari spion yang menggantung di atas kepalanya, terlihat Rahma menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam bersama Athaya yang tertidur pulas di pangkuannya.


"Teh, teteh tidu?...." Tama menengokkan kepalanya ke belakang, karena tak ada jawaban dari Rahma. Benar saja dia melihat dua orang yang sudah memenuhi hatinya itu tengah tertidur pulas setelah beberapa menit mobil melaju.


"Suf, kakak mau melamar tetehmu" melihat Rahma yang tertidur Tama merasa punya kesempatan untuk berbicara lebih intim dengan pemuda itu. To the point, Tama langsung pada intinya. Membuat Yusuf seketika tersentak dan mengerem mobil mendadak. Aksi pertamanya untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat Rahma dia mulai dari calon adik iparnya.


"Hah....maaf maaf Kak, aku hanya kaget. Aku kira tidak secepat ini Kak Tama akan mengungkapkan maksud kakak. Aku sudah mengira sepanjang hari ini yang Kak Tama lakukan terlihat ada maksud ke arah sana tapi aku tidak menyangka akan secepat ini" Yusuf pun menguraikan keheranannya,


"Kami sudah bukan anak remaja lagi. Bukan lagi waktunya saling mengenal dengan berpacaran. Lebih cepat halal itu lebih baik" ujar Tama dengan mantap.


"Kamu mendukung kakak melamar kakakmu?" tanya Tama kembali pada intinya,


Yusuf menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Tama.


"Buat aku kebahagiaan teteh adalah yang paling utama. Dengan siapapun teteh akan bersama asalkan teteh bahagia aku akan mendukungnya. Sudah cukup selama ini teteh menderita, aku tidak ingin apa yang pernah teteh alami selama pernikahannya dengan Kak Angga kembali terulang" ucap Yusuf dengan nada sendu, dia seolah terbawa suasana ke beberapa tahun silam bagaimana Rahma menjalani rumah tangganya dengan Anggara. Yusuf adalah saksi hidup betapa rumah tangga kakaknya itu hanya menyisakan luka yang mendalam.


"Kamu tahu keadaan rumah tangganya dulu?" tanya Tama penuh selidik, walau pun dia sudah mendengarnya dari Lisna tapi Tama ingin tahu juga versi Yusuf.


"Aku yang membawa paksa teteh dari rumah mertuanya saat kak Angga syukuran empat bulanan istri keduanya" jawab Yusuf ketus, mengingat kembali peristiwa itu wajahnya langsung terlihat kesal.


"Apa?" fakta baru yang Tama ketahui, Lisna tidak pernah menceritakan itu. Dia pun penasaran dan bertanya lebih pada Yusuf.


Yusuf menceritakan lebih detail seperti apa Rahma saat menjalani kehidupan rumah tangganya. Dia adalah orang pertama yang mengetahui perihal yang menimpa kakaknya. Yusuf bahkan menjadi orang terdepan yang selalu ada untuk Rahma.


Tama mengusap dadanya pelan, kesal marah dan merasa tak berdaya kembali bercampur menjadi satu. Bisa-bisanya wanita sebaik Rahma mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


"Suf, sekarang izinkan kakak untuk mengobati semua lukanya" ucap Tama yakin.

__ADS_1


__ADS_2