
Sabtu pagi Rahma sudah siap dengan pakaian sesuai dresscode acara hari ini. Tunik berbahan kaos berwarna lilac menjadi pilihannya untuk kegiatan karya wisata dalam rangka mengisi waktu jeda tengah semester ganjil ini. Dipadukan dengan rok berbahan jeans dan sepatu ket membuat Rahma tampil casual dan terlihat seperti gadis remaja.
Kerudung dengan warna lebih tua dari baju yang dipakainya dikenakan Rahma dengan sederhana namun membuatnya begitu mempesona. Apalagi sapuan make up flawless diwajahnya membuat aura kecantikan Rahma semakin bersinar.
Roti isi yang sudah disiapkannya setelah shalat subuh tadi menjadi bekal untuknya agar bisa sarapan di bis. Rahma keluar dari rumahnya dengan menenteng kunci motor dan segera mengeluarkan motor dari ruang di samping rumahnya tempat dirinya menyimpan motor.
Rahma kembali memeriksa pintu rumahnya untuk memastikan jika rumahnya sudah aman. Tidak lupa dia melihat kembali ponselnya, membuka room chat dirinya dan Anggara. Pesan yang dikirimnya sejak semalam masih bercentang satu artinya sampai saat ini ponsel suaminya itu belum aktif.
Dia kembali mengirimkan pesan, biarlah tidak dibaca saat ini pun yang penting dia sudah menyampaikan apa yang menjadi agendanya hari ini. Rahma bahkan sudah meminta izin untuk kegiatan hari ini sejak lama, namun entahlah apakah suaminya ingat atau tidak.
“Mas, aku pamit untuk pergi mengikuti acara sekolah. Semoga Mas baik-baik saja”
Rahma pun melajukan motor matic keluar dari halaman rumahnya setelah pesannya terkirim, dia kembali turun untuk mengunci pintu pagar kemudian melaju menuju sekolah di pagi yang mulai temaram.
Semua siswa sudah berkumpul, mereka menempati jok sesuai nomor urut yang sudah diatur panitia. Enam bis sudah berderet rapih di depan komplek Yayasan. Rahma pun sudah stand bye di bis nomor satu sebagai guru pembimbing, mengabsen ulang semua siswa bimbingannya memastikan tidak ada satu pun siswa yang tertinggal.
“Bagaimana Bu, semuanya sudah lengkap?’ Regi yang kebetulan akan berada satu bis dengan Rahma pun menanyakan kesiapan semuanya,
“Sudah Pak, hanya satu jok yang kosong. Menurut keterangan itu adalah kursinya Andrean, kata Bu Wanda dia sudah izin membawa kendaraan pribadi karena akan pulang ke rumah orang tuanya dahulu yang ada di Bandung” Rahma pun melaporkan keadaan terkini bis yang berisi siswa bimbingannya,
“Baiklah kalau begitu, pastikan semuanya siap dan tidak ada yang terlewatkan” pesan Regi sebelum keluar untuk mengecek bis yang lainnya.
“Baik Pak” jawab Rahma sambil kembali melangkah menyusuri selasar bis dari depan sampai belakang.
Semua persiapan sudah selesai, tepat pukul enam pagi bis sudah siap untuk meluncur menuju tujuan karya wisata di daerah Bandung.
“Selamat pagi Bu, maaf aku terlambat” Adrian tiba-tiba saja muncul dan masuk dari pintu depan bis.
Rahma yang duduk di deretan kursi paling depan berdampingan dengan Bu Wanda pun membulatkan mata ketika melihat anak itu muncul begitu saja,
“Andrean, bukankah kamu mau membawa kendaraan pribadi?” Bu Wanda yang memberi izin muridnya itu untuk membawa kendaraan pribadi pun lebih dulu bertanya,
__ADS_1
“Maaf Bu, setelah dipikir-pikir sendiri itu tenang tapi Bersama kalian jauh lebih menyenangkan” jawabnya puitis,
Andrean memang terkenal sebagai salah satu murid most wanted di sekolah itu karena kecerdasan dan keahliannya dalam menguasai beberapa alat musim. Siswa pindahan dari kota kembang itu memang multi talent, selain cerdas dengan pelajaran matematika dan sains dia pun tak kalah pandai dalam sastra dan seni.
Tak heran banyak murid perempuan yang tertarik dengannya apalagi jika dia sudah mengeluarkan kata-kata puitisnya, sepertinya mampu menghipnotis banyak telinga. Seperti jawabannya pagi ini pada Bu Wanda, membuat murid-murid yang mendengarkannya pun riuh menyorakinya.
Mereka menyambut kedatangan Andrean dengan tepuk tangan membuat Regi dan guru lainnya geleng-geleng kepala melihatnya.
“Anak sama Bapak sama aja” gumamnya pelan,
“ Apa Pak?’ Wanda yang kebetulan duduk di sejajar dengan kepala sekolahnya itu pun menoleh dan bertanya karena penasaran.
“Ah, apa?" tanya Regi pura-pura tidak mengerti,
“Bapak bicara apa barusan? Saya kurang dengar” ulang Wanda menanyakan kepenasarannya,
“Oh, tidak apa-apa. Saya hanya merasa lucu saja melihat tingkah si Andrean” jawab Regi bohong, dia hampir saja keceplosan.
“Oh” Bu Wanda hanya ber oh ria, dia pun kembali menoleh ke belakang memastikan jika murid yang bernama Andrean itu sudah duduk dan siap berangkat,
“Bapak, barangkali ada yang mau disampaikan lagi?” Rahma menawarkan kepada Regi untuk menyampaikan pesan-pesan sebelum keberangkatan, dia pun menoleh pada guru yang duduk di sampingnya.
“Pak Arman, ada yang mau disampaikan?” tanya Regi pada guru muda yang baru bergabung tahun ajaran baru ini di sekolah itu, dia menjadi guru pembimbing juga mendampingi Rahma dan Bu Wanda.
“Tidak Pak, sudah cukup dengan apa yang disampaikan Bu Rahma, terima kasih” ucapnya santun,
‘Lanjutkan saja Bu Rahma” titah Regi pada Rahma.
Rahma pun melanjutkan dengan mempersilahkan semua penumpang bis untuk berdo’a sebelum berangkat.
Perjalanan Garut Bandung ditempuh dengan waktu yang diluar perkiraan karena jalanan yang macet. Akhir pekan memang selalu menjadi waktu untuk orang-orang berhenti sejenak dari rutinitas hariannya dan banyak yang memilih berlibur atau menghabiskan waktu dengan bersantai di luar rumah.
__ADS_1
Tempat wisata menjadi tujuan banyak orang di akhir pekan ini, pantaslah jalanan pun begitu padat merayap apalagi jalanan menuju Lembang yang merupakan tujuan wisata mereka saat ini.
Agenda utama kegiatan karya wisata pun selesai tepat pukul satu siang. Semua siswa dan guru pembimbing sudah berkumpul di titik kumpul yang sudah ditentukan setelah melakukan observasi beberapa jam lamanya. Rahma yang bertanggung jawab secara keseluruhan kegiatan ini pun mengambil microfon untuk memberikan intruksi agenda selanjutnya.
“Mau kemana?” Lisna yang duduk melingkar bersama Rahma dan beberapa guru lainnya bertanya saat melihat Rahma berdiri dari tempat duduknya,
“Toilet, mau ikut?” tanya Rahma balik membuat guru-guru lain pun tergelak mendengar jawabannya.
Mereka tahu jika Lisna dan Rahma bukan hanya rekan sejawat, mereka berdua adalah sahabat dekat yang sudah seperti saudara jauh sebelum mereka mengajar di sekolah itu. Mereka berdua memang selalu saling menjaga dan melindungi,
“Enggak” jawab Lisna cepat.
“Eh….tapi kamu berani kan?” ucap Lisna tak kalah mengandung nada ejekan,
“Berani dong, kenapa emangnya?” jawab Rahma
“Kali aja ada yang ngikutin dan nyulik kamu” Lisna menakut nakuti Rahma dengan wajah yang dibuat bergidik,
“Ish….dasar” sentak Rahma sambal berlalu meninggalkan kumpulan teman-teman sejawatnya yang menertawakn perdebatan kecil dirinya dengan Lisna karena terlihat lucu dimana mereka,
Ting….suara notifikasi di ponsel Rahma membuat dirinya sejenak menghentikan langkah. Dia tahu betul notifikasi pesan masuk itu dari siapa, pasalnya Rahma sengaja membedakan nada notifikasi juga nada panggilan dari Anggara, suaminya.
‘Iya, hati-hati. Maaf aku belum bisa pulang. Aku sudah mentransfer uang tambahan untuk kamu pergi hari ini. Bersenang-senanglah”
Deg….pesan balasan dari Anggara membuat detak jantung Rahma seolah berhenti beberapa detik. Dia membaca kembali pesan dari suaminya itu berkali-kali, masih tidak percaya dengan kiriman pesan yang begitu penuh perhatian itu.
“Iya Mas, terima kasih. Semoga Allah selalu melindungimu dimanapun kamu berada”
Rahma membalas pesan suaminya dengan senyum terukir di wajah. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyeruak ke dalam hatinya saat kembali membaca pesan masuk dari Anggara.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah semoga ini menjadi awal yang baik untuk rumah tanggaku” harapnya,
__ADS_1
Meskipun lisan dan pikirannya mengakui dan masih menjunjung tinggi kesepakatan yang terjalin antara dirinya dengan Anggara di awal pernikahan mereka. Tetapi sejujurnya di dalam hati kecil Rahma masih ada setitik harapan untuknya dapat menjalankan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah bersama Anggara.
Walau bagaimanapun cita-citanya tentang pernikahan masih sama, sekali seumur hidup. Mencintai dan mengabdikan diri, meraih keridhoan sang Illahi dengan taat pada suaminya dalam hal ma’ruf. Hingga visi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, sehidup sesurga pun dapat diraih dalam pernikahannya.