Belenggu Akad

Belenggu Akad
Penyesalan


__ADS_3

"Rahma, maafkan aku. Aku sungguh menyesal." ucapnya dengan berderai air mata,


"Rahma sayang, aku tak bisa melupakanmu. Waktu enam tahun tak mampu membunuh rasa yang sudah tumbuh dalam hatiku untukmu. Pada setiap malam dan siang hatiku memendam rasa padamu."


"Rahma sayang, bagaimana bisa lelaki sepertiku menceraikanmu. Bagaimana bisa wanita sepertimu aku ceraikan. Bagaimana bisa seorang wanita diceraikan tanpa kesalahan. Kamu adalah wanita berakhlak mulia, cerdas dan berparas indah, Naura Rahmania."


"Aku mencintaimu, Rahma. Aku mencintaimu"


Kalimat panjang terucap begitu saja dalam hati Anggara dengan air mata yang tanpa disadarinya terus berjatuhan membasahi pipi.


Tatapannya dari sang mantan beralih pada putranya. Rasa sesak di dada semakin membuat nafasnya tercekat. Pemandangan saat sang putra mencium pipi Tama atas inisiatifnya sendiri membuat hatinya memanas. Anggara semakin tak berdaya, hingga akhirnya dia pun memilih berlalu dari tempat itu. Tak sanggup rasanya jika harus menemui dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu.


Berbeda dengan Anggara yang diam-diam datang ke acara pernikahan Rahma dan Tama. Di sebuah rumah mewah seorang perempuan tampak termenung sendiri memandangi undangan pernikahan yaang ada di genggamannya. Dia terus mengamati setiap kalimat undangan itu. Seutas harapan untuk bisa kembali bersama dengan laki-laki yang masih berstatus suaminya secara hukum namun tidak secara agama tumbuh di hatinya. Namun dirinya cukup sadar diri dengan kesalahan yang diperbuatnya. Sudah hampir tiga bulan suaminya itu keluar dari rumah. Malam naas saat rahasia yang selama ini disimpannya rapi harus terbongkar karena kedatangan seseorang di masa lalunya.


Flasback on


"Pi, malam ini mami ada acara kumpul-kumpul sama temen-temen lama mami, boleh ya mami datang?" bujuk Friska pada Anggara yang sedang anteng dengan laptop di pangkuannya.


"Kemana Mi?" tanya Anggara tanpa mengalihkan pandangannya,


"Di hotel XY Pi, tidak lama ko, jam sembilan juga Mami sudah di rumah. Anak-anak juga sudah mami titipin sama Mama" jelas Friska yang berbicara dengan nada manja pada suaminya,


"Oke, tapi jangan lewat jam sembilan pulangnya" seru Anggara, sekilas dia melirik sang istri yang ternyata sudah berpenampilan rapi.


Hubungan yang cukup harmonis terjalin dalam rumah tangga mereka. Selama ini Friska mampu menjadi istri yang baik untuk Anggara, dia selalu memastikan kebutuhan anggota keluarganya tercukupi. Walaupun tingkat kecemburuannya masih sangat tinggi terutama terhadap Rahma dan Athaya, tapi Anggara tetap berusaha memakluminya.

__ADS_1


Hingga malam itu pun terjadi peristiwa yang membuat Anggara membuka mata, jika wanita yang dipilihnya sebagai pasangan hidup ternyata pernah mengkhianati dan membohonginya selama ini.


Derrrt....derrtt.....


"Hallo Ga" suara mami Anggara dari ujung telepon terdengar panik, dia menghubungi anaknya berkali-kali dan entah panggilan yang ke berapa kali barulah terhubung.


"Ya Ma, ada apa?" tanya Anggara dengan suara serak khas bangun tidur, ternyata dia ketiduran di atas sofa di kamarnya.


"Aura panas Ga, mama sudah memberi dia kompres demam tapi panasnya gak turun-turun" jelas mama Anggara yang menelepon putranya karena cucu yang dititipkan padanya mengalami demam yang sangat tinggi,


"Hah, Aura kenapa?" tanya Anggara balik, kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar penjelasan sang mama.


"Aura demam, sekarang mama lagi di jalan membawa dia ke rumah sakit. Tadi sempat mimisan cukup banyak, mama khawatir. Friska juga sangat sulit dihubungi. Sudah ya, kamu susul mama ke rumah sakit sama papa. Mama tutup dulu teleponnya"


Anggara melirik jam di dinding, jarum pendeknya mengarah pada angka sepuluh. Dia teringat akan istrinya yang pamit untuk bertemu dengan teman-teman lamanya.


"Maaf Pak, Ibu belum pulang" seorang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampiri majikannya saat mendengar teriakan sang majikan memanggil-manggil istrinya.


"Belum pulang?" tanya Anggara kaget karena ternyata sang istri belum pulang padahal tadi sidah diwanti-wanti untuk pulang paling lambat jam sembilan.


"Belum Pak" jawab sang asisten mantap,


Anggara pun memilih untuk pergi ke rumah sakit yang dituju mamanya, dia menyambar jaket dan kunci mobil menuju garasi.


Alangkah syoknya Anggara saat mendengar keterangan dokter jika putri sulungnya menderita kelainan darah atau blood disorder. Saat ini kondisi putrinya masih dalam tahap observasi sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih jelas.

__ADS_1


"Maaf Pak, putri anda mengalami pendarahan yang cukup banyak. Saat ini kami membutuhkan golongan darah yang sama karena harus segera dilakukan transfusi darah. Kebetulan darah dengan golongan yang sama dengan putri Bapak sedang kosong di stok bank darah kami" seorang dokter jaga menyampaikan hasil pemeriksaannya pada Anggara.


Sejak tiba di rumah sakit, dia terus mencoba menghubungi istrinya yang tak kunjung terhubung.


"Kalau begitu ambil darah saya Dok, saya ayahnya" jawab Anggara antusias, dia memilih mengirim pesan pada istrinya memberitahukan keadaan putri sulung mereka dan memintanya untuk segera menyusul ke rumah sakit.


Tepat pukul sebelas malam, Friska datang dengan nafas masih memburu. Setelah membuka ponsel dan dia kaget mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari mama mertua dan suaminya. Dia pun membaca pesan yang dikirim suaminya.


Diantar oleh seorang teman lama yang turut hadir di acara pertemuan mereka, Friska segera mencari keberadaan putrinya di rumah sakit.


"Mama, bagaimana keadaan Aura?" Friska segera mendekati mama mertuanya dan menembaknya dengan pertanyaan tentang putrinya.


"Angga sedang melakukan pemeriksaan agar bisa diambil darahnya. Anak kamu membutuhkan transfusi darah karena dia mengalami pendarahan hebat" jelas mama Anggara dengan ketus karena merasa kesal dengan menantunya yang pergi tidak tahu waktu.


"Ma aku...."Friska menghentikan ucapannya saat melihat Anggara datang ke arah mereka.


"Pi, bagaimana? maaf mami baru membuka hp tadi dan langsung ke sini" jelas Friska. yang melihat kekesalan di wajah suaminya saat mereka beradu tatap.


"Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter" jawab Anggara sambil memalingkan wajahnya dan memilih berlalu menuju kursi tunggu tempat mamanya duduk.


"Bagaimana dok?" setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, dokter pun kembali datang dan menemui mereka.


"Maaf Pak, darah anda dengan putri anda tidak cocok. Mungkin anda bisa menghubungi ayah kandungnya? karena golongan darah putri anda terbilang langka, dan biasanya hanya ayah kandungnya yang berpeluang untuk memiliki golongan darah yang sama dengannya"


Bagaikan mendengar suara petir yang tiba-tiba menggelegar tepat di telinganya, Anggara merasa ada batu besar yang menghantam kepalanya.

__ADS_1


"Maksud dokter, dia bukan putri kandung saya?"


"Benar Pak" jawab dokter itu.


__ADS_2