
Hari libur telah berakhir, saatnya kembali ke rutinitas. Sekolah selalu menjadi tempat favorit Rahma untuk mengekspresikan diri. Bersama murid-muridnya dia mengeksplor potensinya, bersemangat berbagi ilmu pengetahuan dan berkolaborasi mencari pelajaran dan pengalaman baru melalui proses pembelajaran di sekolah.
Naura Rahmania sudah mengajar sejak dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa, menjadi guru les dan tutor di beberapa lembaga bimbingan belajar saat kuliah di Bandung di sela-sela waktu libur kuliah membuatnya memiliki cukup pengalaman untuk menjadi seorang pendidik setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pendidikan dari universitas negeri yang ada di Bandung.
Tak heran saat dirinya melamar dan mengikuti seleksi sebagai guru di sekolah unggulan yang berada di daerahnya dia dengan mudah bisa lolos dan kini sudah hampir lima tahun Rahma menjadi guru tetap di sana.
Rahma menjadi guru favorit anak-anak SMA Insan Mulia. Salah satu sekolah swasta yang banyak diminati masyarakat. Sarana prasarana dan sumber daya manusia yang kompeten membuat sekolah itu berkembang pesat sejak didirikannya.
Berada di bawah naungan yayasan Bina Harapan milik seorang putra daerah yang telah berhasil dengan semua bisnisnya di kota besar dan kembali ke kampung halaman dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang layak untuk para putra daerah.
Pembawaan Rahma yang supel dan bijak membuat murid-muridnya nyaman berlama-lama bersama dan bercerita banyak hal padanya. Respon Rahma yang selalu cepat dan tepat dalam setiap keluhan para peserta didiknya membuat mereka semakin nyaman. Tak heran jika kehadirannya begitu dirindukan usai libur akhir tahun pelajaran selama dua minggu ini.
"Selamat pagi, Bu" seorang siswa pria tiba-tiba sudah berada di belakangnya saat Rahma baru saja melepas helmnya di parkiran motor khusus guru.
"Astagfirullahal'adzim...." Rahma hampir saja menjatuhkan helm yang masih ada di tangannya karena kaget. Rahma menoleh ke sumber suara terlihat seorang murid laki-laki yang tak asing untuknya tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Pagi, Bu" anak itu kembali mengulang sapaannya masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya,
"Pagi...." dengan napas sedikit terengah karena kaget Rahma pun menjawab sapaan anak itu,
"Kamu bikin kaget ibu, ada apa?" Rahma membetulkan helm yang hampir jatuh, dia menyimpannya dalam bagasi motor agar lebih aman, kemudian membenarkan jilbabnya sambil bercermin di kaca spion motornya.
"Ini Bu" anak itu mengulurkan tangan kanannya yang menenteng sebuah paper bag berukuran sedang bermotif batik,
"Ini apa?" tanya Rahma menatap ke arah paper bag yang masih berada di tangan anak itu, dia belum bersedia menerimanya.
__ADS_1
"Ini hadiah buat ibu, liburan kemarin aku pergi ke Singapura dan saat menemani mamiku belanja gak sengaja lihat ini, sepertinya sangat cocok buat ibu" jawab anak itu panjang lebar, dia pun semakin mendekatkan tangannya menyerahkan paper bag yang entah apa isinya, Rahma tidak bisa menerka.
"Duuh kamu baik sekali sih, terima kasih atas ingatannya. Tapi ibu sungkan untuk menerimanya, ini termasuk gratifikasi lho..." canda Rahma dengan tersenyum lebar,
"Ibu tenang saja, papiku seorang polisi dan aku sudah memastikan jika ini bukan gratifikasi, hanya sekedar oleh-oleh" ucap anak itu dengan serius menanggapi candaan Rahma,
"Hehe....kamu bisa aja. Tapi apa ini?" sela Rahma, dia tergelak saat mendengarkan penjelasan anak itu yang dipikirnya sangat diplomatis,
"Ibu bisa buka sendiri, nanti juga tahu apa isinya" jawab anak itu yang kemudian pamit karena bel tanda upacara akan segera dimulai sudah berbunyi,
"Kalau begitu terima kasih, Jazakalloh khairan kasiraa. Sampaikan ucapan terima kasih dan salam dari Ibu untuk mami dan papi kamu" ucap Rahma dengan ramah, anak itu pun mengangguk sambil berlari menuju lapangan upacara.
🌻
Hari ini adalah hari pertama para siswa baru mengikuti MPLS, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Rahma yang tahun ini tidak terlibat dalam panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terlihat lebih santai saat menuju ruang guru.
"Bu, saya duluan ya. Saya harus mengondisikan anak-anak OSIS yang akan bertugas hari ini" Pak Surya yang merupakan pembina OSIS pun pamit untuk lebih dulu menuju ruang guru,
"Mangga Pa, silahkan" jawab Rahma sedikit bergeser memberi ruang yang lebih luas untuk Pak Surya, saat ini dia sedang berjalan di selasar ruang kelas yang sudah nampak kosong karena anak-anak sudah berada di lapangan.
Rahma pun mempercepat jalannya, dia pun harus mengikuti upacara bersama guru lainnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang dengan tiba-tiba keluar dari ruang bimbingan konseling yang terletak di ujung kelas dan berdampingan dengan ruang guru menghadangnya.
"Astagfirullah" Rahma terlonjak dan mundur beberapa langkah karena kaget dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba menghadangnya itu, dia pun menjatuhkan paper bag yang dibawanya saking kagetnya.
"Sepertinya kamu memang belum fokus, kenapa? masih belum move on dari liburan?" cerca orang itu dengan nada ketus dan wajah yang datar,
__ADS_1
"Pak Tama? maaf saya hanya kaget" jawab Rahma jujur dengan nafas yang memburu, dia memang sedikit melamun saat berjalan hingga sangat kaget saat tiba-tiba Tama menghadang jalannya,
"Kenapa?" tanya Tama yang masih berdiri menghadang Rahma dengan kedua lengan dimasukan ke dalam saku celananya, dia menatap tajam Rahma.
"Maaf Pak saya tadi buru-buru jadi kaget pas lihat bapak keluar dari ruangan ini" tunjuk Rahma ke arah ruang bimbingan konseling dengan matanya, dia berubah pias saat melihat Tama masih berwajah dingin padanya. Rahma pun berjongkok untuk mengambil paper bag yang dia jatuhkan tadi.
"Apa itu?" tanya Tama masih dengan nada ketus,
"Ini?" Rahma balik bertanya,
"Iya, apa itu?" ulang Tama,
"Ini...tadi ada siswa yang memberikannya pada saya Pak, katanya oleh-oleh karena liburan kemarin dia pergi ke Singapura" jelas Rahma apa adanya,
"Kamu menerima gratifikasi?" Tama menyipitkan matanya melihat reaksi Rahma yang membulatkan matanya karena mendengar tuduhan Tama,
"Tidak Pak tidak, tadi saya sudah menolaknya tapi anak itu keukeuh meminta saya menerimanya, katanya ini hanya sekedar oleh-oleh" elak Rahma membela diri, dia tidak ingin dicap sebagai pendidik yang korup hanya karena menerima oleh-oleh dari muridnya,
"Artinya itu bisa dikatakan hadiah dan hadiah termasuk bagian dari praktek gratifikasi" jelas Tama semakin membuat Rahma memucat,
"Maaf Pak, saya akan mengembalikan hadiah ini pada anak itu, kalau perlu saya akan mengembalikannya langsung pada orang tuanya. Maafkan saya kalau sudah berbuat salah karena keterbatasan pengetahuan saya. Sekali lagi maafkan saya Pak" Rahma menganggukan kepalanya berkali kali sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia menundukkan kepala tak berani menatap Tama saat mengatakan semuanya, Rahma tidak tahu jika saat ini bibir Tama mengulas senyum karena merasa gemas dengan tingkah Rahma.
"Setelah upacara kamu bawa hadiah itu ke ruangan saya, kita selesaikan di sana" pungkas Tama dengan mode datarnya, dia pun melenggang pergi menuju lapangan upacara karena upacara akan segera dimulai, dan hari pertama masuk sekolah ini Tama sengaja belum kembali ke Bandung karena dia akan bertindak sebagai pembina upacara.
Tubuh Rahma terasa lemas setelah mendengar ucapan terakhir Tama, dia baru saja memulai harinya kembali ke sekolah dengan harapan baru. Bagi Rahma sekolah adalah tempat ternyaman untuk menjadi dirinya sendiri, tapi sayangnya hari pertama dia kembali bekerja sudah dihadapkan dengan masalah yang cukup menguras emosi, Rahma pasrah apapun sanksi yang akan diterimanya dia akan menerima dengan lapang dada.
__ADS_1
"Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah" gumamnya lirih, dengan langkah gontai dia menuju ruang guru untuk menyimpan tasnya dan kembali keluar segera menuju lapangan upacara.