Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kabar Pasti


__ADS_3

"Mas.. mereka pasti menunggu kita" Rahma kembali mengingatkan suaminya, beberapa kali telepon sang suami bergetar dia yakin jika itu adalah panggilan dari salah satu anggota keluarganya.


"Sayang, aku menginginkanmu malam ini" Tama mendongak, ada kabut gairah yang terlihat jelas oleh Rahma di mata lelaki halalnya itu.


"Tentu Mas, tapi sebaiknya sekarang kita temui dulu keluarga kita. Mereka pasti sudah menunggu kita untuk makan malam bersama" jawab Rahma dengan tatapan yang teduh dan senyuman. Dia mengusap kembali kepala sang suami yang masih betah berada di atas pangkuannya.


"Malam ini ya?" tanya Tama lagi memastikan, dia kembali bermanja dengan tatapan memohon dan hanya dibalas anggukan dengan senyum penuh arti oleh Rahma.


"Aah...rasanya aku sulit sekali beranjak" Tama yang sudah bangkit dari rebahannya kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan Rahma,


"Mas ..." Rahma meraih kepala suaminya itu dan berusaha membangunkannya.


Cup


Dalam gerakan cepat, Tama tiba-tiba duduk dan langsung melayangkan satu kecupan di bibir istrinya.


"Mas..." belum juga selesai hendak protes, Tama kembali menempelkan bibirnya di bibir Rahma hingga istrinya urung melanjutkan kata-katanya.


Awalnya hanya menempel, namun Tama tidak menyia-nyiakan momen itu perlahan dia memperdalam ciumannya.


Tok...tok...tok...


"Assalamu'alaikum, Bunda, Papi...." suara ketukan pintu dan teriakan Athaya seketika menghentikan ciuman mereka.


Tama langsung melepas pagutannya, dengan sigap dia berdiri dan setengah berlari menuju pintu karena dia tahu sang putra telah ada di depan pintu kamarnya. Sementara Rahma hanya menyunggingkan senyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Tama.


"Wa'alaikumsalam, Boy" jawab Tama segera sesaat setelah pintu kamarnya dia buka.


"Papi, mana Bunda? aku cari-cari bunda dari tadi, sekarang semua orang sudah menunggu bunda dan papi di meja makan" Athaya langsung nyerocos mengatakan tujuan kedatangannya.


"Maaf Mas, yang dikatakan Athaya benar. Semua orang sedang menunggu Mas dan Mbak Rahma di bawah untuk makan malam" jelas Fajar yang berdiri di belakang Athaya, dia menemani Athaya yang disuruh tantenya menyusul sang bunda dengan senyuman terkulum karena melihat rambut Tama yang sedikit berantakan.


"Baiklah, aku ganti baju dulu. Sebentar lagi kami turun, kamu kembalilah duluan biar Athaya sama aku" balas Tama yang kemudian mendapat anggukan Fajar.


"Ayo sayang masuk dulu, bunda di dalam" Athaya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu seketika digendong oleh Tama dan dibawanya ke dalam.


"Woow...kamar papi besar sekali" seru Athaya yang mengedarkan pandangannya menatap kagum semua hal yang ada di kamar itu.


"Bilang apa kalau kagum?" Rahma datang dari arah ruang tidur mereka. Dia sudah tidak memakai mukena lagi, sudah rapi dengan gamis santai polos berwarna mocca dan jilbab yang berwarna senada namun lebih muda.

__ADS_1


"Bunda...." pekik Athaya yang sangat merindukan bundanya itu karena sedari tadi dia melihat sang bunda banyak tamu dan dirinya pun asik bermain dengan sepupu dan teman-teman barunya.


Rahma merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima Athaya yang berlari ke dalam pelukannya.


"Thaya kangen" Athaya merajuk, beberapa jam tidak bersama sang Bunda membuatnya merasakan kerinduan, biasanya pagi hari dia akan diantar sang bunda ke sekolah, siang harinya dijemput dan bermain bersama sang bunda di toko hingga malam menjelang.


"Uluuh anak bunda kangen ya, bunda juga" mereka kembali berpelukan, pemandangan indah membuat hati Tama menghangat.


"Bunda aja nih yang dikangenin? Papi enggak?" giliran Tama yang merajuk, dia pura-pura ngambek dengan menunjukkan wajah cemberutnya.


"Kangen Papi juga" Athaya merentangkan satu tangannya, satu tangan yang lain masih melingkar di leher sang bunda.


Buru-buru Tama mendekat, dia pun memeluk keduanya erat. Haru bahagia semakin menyeruak, terobati sudah setiap lelah dan rindu dari setiap penantian yang bertemankan sepi. Kini hanya rasa syukur yang terus terucap dalam hati, Allah Maha Baik, sudah memberi kebahagiaan yang begitu besar di usianya yang cukup matang saat ini. Seorang istri yang shalehah dan anak shaleh yang lucu dan membanggakan.


"Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah" ucapnya lirih namun terdengar jelas di telinga Rahma, dia sedikit menoleh, tatapan mereka berdua saling beradu, senyum pun tersungging di bibir keduanya di balik punggung si kecil yang tertawa bahagia dalam pelukan kedua orang yang sangat disayanginya.


☘️☘️☘️


Sambutan keluarga dan para sahabat terdengar riuh saat melihat kedatangan mereka di ruang makan privat yang memang sudah disiapkan untuk keluarga sang owner. Tama datang dengan menuntun Athaya dan merangkul Rahma. Berbagai candaan dan godaan terus menghujani pengantin baru itu.


"Akhirnya, sang pemilik bumi datang juga..." Akhtar menjadi pemicu keriuhan, disambung sahabat-sahabat lainnya turut serta menggoda pengantin baru itu.


Acara makan malam pun dilalui dengan suasana kekeluargaan yang terasa sangat kental. Semuanya berbaur. Pak Hakim dan Bu Hakim tersenyum bahagia melihat kebahagiaan putranya. Sahabat-sahabat Tama bahkan sudah dianggap seperti anak untuk mereka, tak segan si kembar putra Akhtar dan Shanum pun memanggilnya dengan sebutan kakek.


"Apa kabar Ayahmu, Nak?" Pak Hakim yang memang mengenal ayah Akhtar membuka pembicaraan setelah acara utama makan malam selesai. Saat ini mereka tengah menikmati aneka dessert yang sudah dihidangkan para pelayan.


"Alhamdulillah Ayah baik, Omm. Ayah juga menitipkan salam buat omm dan mohon maaf tidak bisa menghadiri undangannya" jawab Akhtar sopan, para pria sengaja duduk di meja terpisah setelah makan bersama di meja yang sama tadi.


"Terakhir dia menelepon omm meminta pandangan tentang rencananya untuk kembali mendekati ibumu. Omm hanya bisa mendo'akan semoga niatnya dimudahkan." Pak Hakim yang memang sudah bersahabat lama dengan ayah Akhtar pun sedikit banyak tahu tentang kisah rumah tangga sahabatnya itu, yang harus berpisah dengan istri pertamanya yang tak lain adalah ibu Akhtar karena kehadiran orang ketiga yang tak lain adalah sahabat istrinya sendiri.


"Iya omm, aku pun hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk ibu dan ayah. Walaupun hatiku mengatakan mereka ingin bersama lagi, tapi aku tidak bisa memaksa. Semua keputusan ada pada Ibu dan Ayah" Akhtar menarik nafas dalam, perihal keadaan keluarganya yang sedang tidak baik-baik saja sedikit banyak memang menjadi bahan pikirannya.


"Tentu Nak, mereka sudah sangat dewasa untuk saling berbicara" Pak Hakim pun menepuk bahu putra sahabatnya itu, memberi motivasi dan penguatan bahwa semua akan baik-baik saja.


Sementara di meja lain, Shanum tengah berbincang dengan Rahma dan kakak ipar serta adiknya. Tidak lupa Bu Hakim turut serta dalam obrolan ibu-ibu muda itu, bahkan sedikit banyak menjadi narasumber dari setiap bahasan mereka yang tidak jauh seputar anak, suami dan rumah tangga.


Di sela obrolan mereka Shanum melipir mendekat ke arah Rahma. Dia menunjukan sebuah foto yang sudah tampil di layar ponselnya.


"Teh Rahma mengenalnya?" tanya Shanum penuh harap, dan seketika matanya berbinar saat melihat Rahma mengangguk.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Shanum memastikan,


"Iya Teh, dia Ustadzah Liani, pimpinan asrama putri di yayasan Baitur Rahmah tempat Athaya sekolah. Aku juga sering bertemu kalau kajian Ahad pagi di sana?" jelas Rahma panjang lebar,


"Alhamdulillah...." ucap Shanum penuh syukur, matanya berkaca saking bahagianya. Namun beberapa detik kemudian berubah sendu.


"Kenapa memangnya Teh?" tanya Rahma penasaran, dia menelisik memperhatikan wajah Shanum yang berubah sendu.


"Dia sahabatku, kami sudah kehilangan kontak hampir satu tahun" jawab Shanum, dia mengusap ujung matanya yang berair agar tidak tumpah.


"Kenapa Ustadzah Liani begitu?" Rahma semakin penasaran,


"Ceritanya panjang, dan ini bermula dari Kak Ahsan. Kak, sini." Shanum melambaikan tangan meminta Ahsan mendekat ke arahnya,


"Apa?"


"Kata Teh Rahma, dia beneran Liani Kak. Liani kita" pekik Shanum tertahan, dia tidak ingin mengganggu momen kebersamaan keluarga ini dengan ulahnya.


"Serius?" Ahsan membulatkan matanya, dia berjongkok mengambil ponsel Shanum dan kembali menunjukkannya pada Rahma.


"Kamu mengenal dia?" tanya Ahsan memastikan,


"Iya Pak Ahsan, dia Ustadzah Liani, Liani Salsabila, pimpinan asrama putri di yayasan Baitur Rahmah, kalau tidak percaya tanya saja sama Mas Tama dan Papa" Rahma menunjuk dengan dagunya ke arah suaminya yang duduk satu meja dengan ayah mertuanya.


"Kenapa?" tanya Tama yang turut mendekat ke arah Ahsan berada.


"Ini Mas, Teh Shanum dan Pak Ahsan menanyakan tentang ustadzah Liani" jelas Rahma pada suaminya, semua orang dewasa pun teralihkan perhatiannya pada mereka yang sedang membahas Liani. Sementara Athaya dan anak-anak lainnya tengah asyik menikmati tontonan kartun di layar besar yang juga ada di ruang itu.


"Iya, dia papa yang rekrut. Kenapa San? jangan bilang kamu naksir ya, dia sudah ada yang punya" seru Tama membuat Ahsan bungkam seketika, begitupun Shanum dan juga Akhtar yang mengetahui detail kisah mereka.


"Liani sudah menikah Mas?" Shanum menjadi orang yang pertama tersadar dari keterkejutannya, dia pun menatap Tama berharap segera mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Belum, hanya sudah papa jodohkan sama Fajar, ya Pa? Ustadzah Liani sudah siap menikah dengan Fajar kan?" Tama menoleh ke arah sang papa meminta jawaban dan Pak Hakim mengangguk pasti menjawab pertanyaan putranya.


Semua orang tahu siapa Fajar, dia adalah laki-laki yang cerdas dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Dia menjadi orang kepercayaan Pak Hakim dan asisten pribadi Tama jika dirinya berada di Jakarta.


Sahabat-sahabat Tama sudah mengenal Fajar, termasuk Ahsan yang juga sudah bertemu beberapa kali karena laki-laki itu selalu membersamai Tama dalam berbagai pertemuan.


Jleb.....ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam dada Ahsan, dia berdiri mematung tanpa ekspresi setelah mendengar kabar yang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2