Belenggu Akad

Belenggu Akad
Keputusan Rahma


__ADS_3

Selalu berusaha melihat sisi yang bagus dan terang, memangĀ  tidak mudah.Tapi memang ini salah satu cara untuk membuat hati kita lebih damai dan tenang.


Jika terjadi hal yang kurang menyenangkan, kita terima dengan ikhlas , sambil bertanya kepada diri kita, pelajaran apa yang bisa saya dapat dari kejadian ini. Hikmah apa yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Apa langkah ke depan yang membuat ini bisa lebih baik.


Jika kita larut terus ke dalam hal yang "gelap" dan sedih kurang baik untuk hidup kita, mencoba mencari sisi terang dari hal yg gelap tersebut adalah hal baik yang tepat untuk dilakukan, walaupun itu tidak mudah.


Lebih fokus pada apa yang bisa kita syukuri , karena disinilah kita menemukan ketenangan dan kedamaian.


Ahad, penghujung senja.


Sepenggal tulisan kini kembali mengisi halaman blognya, Rahma mematikan laptop dan menutupnya setelah dia membaca ulang dan memposting tulisannya.


Alunan suara adzan maghrib terdengar sayup-sayup, berawal dari yang jauh hingga kini saling bersahutan dari mesjid satu dan mesjid yang lainnya.


Rahma merapikan laptop dan beberapa buku yang selalu menjadi teman setianya beberapa hari ini. Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit Rahma meminta izin untuk tidak masuk sekolah dengan alasan kesehatan, sejak saat itu pula aktivitasnya hanya menulis dan membaca.


Puluhan panggilan masuk dan puluhan pesan dari Anggara memenuhi ponselnya, sejak meninggalkan Rahma di puskesmas tempatnya dirawat laki-laki itu terus menghubunginya. Walaupun Rahma tidak pernah mengangkat telepon ataupun membaca pesan yang dikirimnya, tapi dia tidak jera untuk terus menghubungi wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


Seperti saat ini, baru saja Rahma akan beranjak dari tempat duduknya dan akan memasuki rumahnya karena sudah maghrib, dering telepon menghentikannya. Ditatapnya layar yang terus menyala itu, sebuah kontak dengan nama suamiku tertera di sana.


Rahma memilih mengabaikannya, sampai saat ini dia masih enggan untuk menjalin komunikasi dengan Anggara, tidak mudah untuk Rahma menata hatinya setelah mengetahui kenyataan tentang suaminya yang sudah menikah lagi.


"Naw, Anggara menghubungi aku...dia bilang sudah mentransfer uang ke rekening kamu, dia meminta aku untuk memberitahu kamu karena telepon dan pesannya tidak pernah kamu balas" sebuah pesan kembali Rahma terima, kali ini dari Lisna. Rupanya Anggara menghubunginya karena Rahma tak kunjung mengangkat teleponnya.


Rahma memilih memasuki kamar mandi untuk berwudhu karena adzan maghrib telah usai tanpa berniat membalas pesan yang dikirim sahabatnya itu


Di atas hamparan sajadah selalu menjadi tempat ternyaman untuk Rahma, dia menumpahkan segala keresahan hati dalam sujudnya. Rahma menyadari jika semua yang terjadi dalam hidupnya adalah takdir yang sudah Allah tetapkan untuknya.


"Astaghfirullah....ya Allah ampuni hamba" berkali-kali ucapan istighfar terucap dari lisannya, menyadari kekeliruannya dalam bersikap selama ini.


Percaya sepenuhnya kepada Allah adalah kunci segalanya. Ketika seseorang telah meyakini bahwa semua urusan di tangan Allah, maka hatinya dipenuhi rasa tenang dan tenteram. Bagaimanapun kondisi dan situasi yang ada.


"Bismillah," gumamnya mantap, dia berhasil memantapkan hatinya untuk tidak larut dalam ruang gelap kesedihan yang menimpanya. Mencari sisi terang dari jalan gelap yang sedang ditapakinya akan dia lakukan. Rahma yakin Allah akan membimbingnya menuju keadaan yang lebih baik. Menerima takdirnya untuk dimadu, Rahma akan mencoba.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuat Rahma menghentikan aktivitasnya yang sedang membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu Isya menjelang. Dia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk membuka pintu dengan masih memakai mukena.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam dari luar membuat Rahma tahun siapa yang datang,


"Wa'alaikumsalam" jawab Rahma sambil membuka kunci,


"Lis, ada apa?" tanya Rahma yang kaget melihat Lisna sudah berdiri di depan pintu dengan membawa dua tas di tangannya dan satu tas lagi di punggungnya,


"Malam ini aku mau nginep lagi di sini, kamu harus bantuin aku ngerjain tugas-tugas yang diberikan kepala sekolah kita tercintah" ucapnya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa menunggu disuruh, Rahma hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.


Dia tahu jika Lisna kini dilimpahi beberapa tugas yang biasanya diserahkan pada Rahma, tapi karena mengetahui Rahma harus cuti untuk berisitirahat karena sakit Pak Regi kepala sekolah mereka pun meminta Lisna untuk mengerjakannya.


"Lis, besok aku mau mulai masuk sekolah" ucap Rahma disela-sela mereka makan malam, sebelum berkutat dengan tugas Lisna mengajak tuan rumah menikmati makan malam yang sengaja dibawanya dari rumahnya,


"Beneran?" tanya Lisna seketika menghentikan makannya, dia menatap Rahma penuh selidik,


"Kamu yakin sudah sehat?" tanya Lisna meyakinkan dan kembali dijawab anggukan kepala oleh Rahma,


"Kamu sudah memutuskan?"merasa ada jalan, Lisna kini berbicara lebih serius dengan sahabatnya itu. Beberapa hari kemarin dia belum berani untuk membahas hal ini mengingat keadaan Rahma yang belum stabil. Tapi malam ini dia melihat Rahma sudah lebih baik, bahkan Rahma terlihat mulai bersemangat untuk kembali ke rutinitas mereka yaitu mengajar,


"Memutuskan apa?" tanya Rahma santai sambil terus menikmati makanan hasil masakan mama Lisna,


"Tentang kehamilan kamu, Anggara masih belum tahu kan?" Lisna hati-hati berbicara, dia takut sahabatnya kembali murung karena membicarakan hal itu.


Saat Rahma dirawat, dokter memberi tahu jika Rahma tengah hamil, hal itu membuat Lisna syok sekaligus bahagia. Syok karena di saat masalah besar tengah mengguncang rumah tangga sahabatnya itu ternyata Rahma justru hamil tapi dia pun turut berbahagia karena akhirnya do'a dan harapan Rahma terkabul, Rahma akan menjadi seorang ibu. Namun mengingat kelakuan Anggara, Lisna kembali geram.


"Untuk saat ini belum, aku masih ingin berusaha memastikan hati dan pikiranku untuk bisa menerima kenyataan jika Mas Anggara memiliki istri selain aku" jawab Rahma santai, kini dia lebih leluasa mengungkapkan curahan hatinya kepada Lisna setelah sahabatnya itu mengetahui keadaan rumah tangganya yang sebenarnya.


Lisna bahkan menjadi orang pertama yang mengetahui jika dirinya kini tengah berbadan dua. Rahma meminta Lisna agar kehamilannya tidak dulu diketahui orang lain terutama Anggara termasuk keluarganya dan Lisna pun menurut.


"Keluarga kamu, sudah dikasih tahu?'' tanya Lisna lagi, dan kembali Rahma menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku belum siap" jawabnya singkat,


"Baiklah, terserah kamu. Apapun keputusanmu aku akan mendukung. Aku yakin kamu akan berpikir dan bertindak dengan bijak dan kapanpun kamu membutuhkan aku, aku akan selalu siap membantu" Lisna kembali memberi dukungan kepada Rahma, dan hal itu membuat Rahma tersenyum. Dia pun mengangguk mantap dengan senyum lebar menatap sahabatnya itu.


Mereka pun kembali mengobrol ringan sambil menikmati masakan mama Lisna sebelum memulai mengerjakan tugas.


Pukul dua belas malam tugas--tugas Lisna sudah selesai dengan bantuan Rahma. Lisna bahkan sudah tertidur dengan di atas karpet tebal yang menjadi alas duduk mereka dengan laptop yang masih menyala. Rahma tersenyum melihat sahabatnya yang sudah tampak pulas itu, dia mengambil selimut dan membiarkan Lisna lelap dengan tidurnya.


Malam ini Rahma memilih tidur di ruang tengah, dia tidak membangunkan Lisna untuk pindah ke kamar. Rahma memilih membawa selimut dan bantal dan tidur berdampingan dengan Lisna setelah mematikan laptop Lisna.


Jam dinding sudah menunjukan pukul satu dini hari. Seperti malam-malam sebelumnya, dia masih sulit untuk memejamkan matanya tetapi malam ini sedikit berbeda, meskipun dia masih belum bisa tertidur tapi malam ini tidak ada lagi air mata yang menemaninya. Hatinya lebih tenang setelah memantapkan keputusan.


Rahma meraih ponsel yang sejak sore tadi di silent, dia kembali menerima panggilan dan pesan masuk dari Anggara. Rahma pun memutuskan untuk membuka pesan-pesan dari suaminya itu dan membacanya.


"Assalamu'alaikum, sayang maaf kalau aku harus meninggalkan kamu. Mama menelepon katanya Friska terjatuh di kamar mandi. Aku akan segera kembali setelah memastikan semuanya baik-baik saja"


Rahma menghela nafas, dia kini tahu ternyata itu alasan Anggara memilih pergi dan meninggalkan dirinya di klinik.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? sudah lebih baikkan? maaf aku belum bisa kembali. Friska sangat membutuhkan aku"


Rahma kembali membuang nafasnya kasar, membaca pesan itu membuat hatinya serasa dicubit.


"Sayang, kamu sudah bisa pulang? syukurlah. Aku sudah mentransfer uang untuk biaya perawatanmu. Lekas sehat ya, aku mencintaimu"


"Sayang, kamu sudah di rumah? kenapa tidak mengangkat teleponku? kamu masih marah? aku harap kamu mengerti dengan keadaanku. Maafkan aku sayang, aku mencintaimu"


Dan masih banyak lagi pesan yang dikirim Anggara setiap harinya selama seminggu ini. Kata-kata cinta selalu di umbar oleh Anggara hampir dalam setiap pesannya, membuat Rahma berkali-kali menghela nafas saat membacanya.


Rahma akan mengakhiri berselancarnya di room chat dirinya dan suaminya karena hanya kata-kata cinta yang Anggara kirimkan, namun sebuah pesan terakhir cukup menarik perhatiannya kembali.


"Sayang, awal bulan depan syukuran empat bulanan kehamilan Friska. Aku sudah bilang pada Friska, mama dan Papa bahwa kamu menerima pernikahan kami dan akan hadir pada acara itu. Aku akan menjemputmu nanti, aku juga sudah mentransfer uang belanja buat kamu. Sampai jumpa awal bulan depan sayang, aku mencintaimu"


Andai kata-kata cinta itu kamu ucapkan tanpa ada orang lain dalam hati dan hidupmu, sungguh aku akan sangat bahagia, Mas" gumamnya dalam hati, Rahma pun memilih memejamkan matanya, berharap rasa kantuk segera menghampiri. Setidaknya dengan tidur sejenak dia bisa melupakan semua hal yang menimpanya akhir-akhir ini yang membuat dadanya selalu terasa sesak saat mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2