
"Mama dan Papa apa kabar?" Rahma bersikap sama selayaknya dulu saat dirinya masih berstatus sebagai menantu keluarga ini, tidak ada yang berubah. Bagi Rahma mereka adalah orang tuanya juga. Dia ditemani Lisna dan Yusuf mendatangi rumah mantan mertuanya itu untuk berpamitan. Saat ini mereka sudah duduk berlima di ruang tamu.
"Alhamdulillah kami sehat, bagaimana denganmu Nak?" papa yang menjawab, sejak awal memasuki keluarga mantan suaminya Rahma merasakan jika papa mertuanya memang lebih menyayangi dan sangat perhatian walau pun jarang ditunjukan.
"Alhamdulillah baik Pa" jawab Rahma singkat, dia melirik mantan ibu mertuanya yang masih belum bersuara tetapi malah memerhatikan Rahma lekat dari ujung kepala hingga kaki.
"Ma..." Papa menegur mama saat mengetahui jika istrinya terus memerhatikan Rahma sejak awal kedatangannya ke rumah itu.
"Hah?...oh, iya Rahma Alhamdulillah kami baik" jawab mama berusaha menetralkan kembali sikapnya,
"Mama, Papa....maksud kedatangan saya ke sini karena ada sesuatu hal yang harus disampaikan. Rahma memulai mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Mungkin Mas Angga sudah cerita mengenai rumah tangga kami. Saya minta maaf jika pilihan ini yang harus saya ambil, saya berharap Mas Angga berbahagia dengan keluarga barunya"
"Kamu masih tetap anak kami Nak" Papa kembali menimpali,
__ADS_1
"Terima kasih Pa" jawab Rahma dengan senyum manisnya,
"Assalamu'alaikum" tidak lama datang Anggara dengan Friska yang sudah tampak kesulitan berjalan karena kehamilannya yang semakin besar, dan dengan siaganya Anggara memapah istrinya yang tengah hamil besar itu.
Ada perasaan sakit yang tiba-tiba menyergap hati Rahma melihat pemandangan di depannya, walau pun kedatangan dirinya ke rumah mantan mertuanya itu untuk menyampaikan salinan surat cerai dan berpamitan, tapi sebagai wanita biasa yang pernah begitu tulus mencintai mantan suaminya itu, sejujurnya Rahma belum sekuat itu untuk melihat kemesraan mantan suami dengan istrinya.
"Wa'alaikumsalam" kompak semuanya menjawab, Rahma memaling tatapannya saat beradu tatap dengan Anggara, dia tidak mau ada salah faham walau bagaimanapun status mereka saat ini bukan lagi mahram.
Sejenak Anggara menghentikan langkahnya, menatap lekat wanita yang sudah berstatus mantan istrinya itu, ada yang berubah dari Rahma menurut penglihatannya tapi dia belum menyadari apa itu. Hanya yang pasti Anggara melihat aura kecantikan Rahma semakin terpancar apalagi dengan senyum manis yang selalu menghadirkan lesung pipi yang menjadi ciri khasnya.
Rahma pun menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan memberi salam kepada Anggara dan diterima oleh Anggara dengan tatapan yang menyiratkan penyesalan. Tidak lupa dengan ramah Rahma pun menyapa Friska. Mereka bersalaman dan bercipika cipiki, Rahma mengusap perut Friska dan melantunkan do'a tentunya semoga ibu serta bayinya sehat-sehat.
"Kami turut menyesalkan dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Tapi kami pun tidak bisa intervensi terlalu jauh dengan keputusan yang sudah kalian pilih" Papa Anggara kembali memusatkan perhatian semuanya pada bahasan pokok dari pertemuan ini. Saat ini mereka sudah duduk melingkari meja di ruangan tamu.
"Maafkan saya Pa, Ma, jika keputusan yang saya ambil kurang sesuai dengan harapan kalian. Tapi mungkin ini adalah yang terbaik untuk kami semua, dan kedatangan saya ke sini untuk menyerahkan ini" Rahma merogoh tas yang dibawanya, mengeluarkan selembar amplop coklat kepada Anggara.
__ADS_1
Seketika wajah Anggara berubah sendu, hati kecilnya belum ikhlas untuk menerima kenyataan jika dirinya dan Rahma sudah resmi berpisah dibuktikan dengan akta cerai yang ada ditangannya.
Semua orang yang ada di sana menyadari perubahan raut wajah Anggara termasuk Friska. Semenjak kepulangannya dari Garut sebulan yang lalu dia memberikan kabar kepada Friska dan kedua orang tuanya jika dirinya sudah menalak Rahma, sejak saat itu Anggara terlihat lebih pendiam, kurang bersemangat dan banyak melamun. Sempat terjadi beberapa kali pertengkaran kecil antara Anggara dan istri barunya, salah satu faktor pemicunya karena pernah mendapati Anggara yang masih menyimpan foto Rahma.
"Saya dan mas Angga sudah resmi berpisah di mata agama dan hukum. Kedatangan saya ke sini sekaligus mau berpamitan dan meminta maaf kepada Mama dan Papa jika selama saya menjadi menantu di keluarga ini banyak kesalahan dan kekhilafan yang saya perbuat baik yang terasa ataupun yang tidak terasa. Maafkan saya juga karena selama ini tidak mampu menjadi menantu yang baik untuk Mama dan Papa. Semoga ke depannya kehidupan yang kami jalani masing-masing ini lebih baik lagi" Rahma menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya, dia berbicara tenang dan penuh kelembutan.
"Maafkan kami juga Nak atas semua yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Papa bersyukur pernah mengenal kamu. Sampai kapanpun papa akan menganggap kamu anak, tolong kamu pun jangan melupakan kami. Papa do'akan semoga kamu pun segera mendapat jodoh yang lebih baik dan berbahagia dengan kehidupan kamu selanjutnya. Iya kan ma?" seperti biasa papa berbicara dengan penuh wibawa, dia pun meminta persetujuan mama yang sejak tadi hanya berbicara seperlunya.
"Iya, tentu saja. Kami sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri, jangan lupakan kami" sahut mama Anggara mengiyakan pernyataan papa, dia pun terlihat merasa bersalah.
"Tentu saja Ma, Pa....Insya Allah silaturahim kita akan terus berlanjut. Saya tidak mungkin melupakan kalian, walaupun saat ini saya dan Mas Angga sudah berstatus sebagai mantan suami istri tetapi papa dan mama tetaplah orang tua saya, nenek dan kakek dari anak saya" ungkap Rahma,
Deg.....Anggara yang sejak tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya di samping Friska yang tak melepaskan genggaman tangannya seketika mendongak. Dia menatap heran kepada Rahma yang tepat berada di hadapannya. Tidak hanya Anggara tetapi Mama dan Papanya pun termasuk Friska menatapnya heran.
"Rahma, apa maksud kamu?" tanya Anggara penasaran,
__ADS_1
"Saya sedang mengandung Mas"