
Menu makan malam tersaji sudah di atas meja makan minimalis dengan tatanan yang lebih cantik dari biasanya. Rahma sudah mempersiapkan segalanya untuk malam ini.
Sebuah berita bahagia akan dia persembahkan sebagai kejutan untuk suaminya malam ini. Berita kehamilan yang baru beberapa hari yang lalu dia ketahui, sengaja dia simpan hanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak memberi tahukan siapapun sebelum memberi tahukan suaminya.
Malam ini Anggara pulang tepat selepas shalat Maghrib. Rahma pun dengan antusias menyambut kedatangan suaminya yang sudah hampir dua bulan ini tidak pulang. Hanya melalui chat mereka berkomunikasi itupun jika Rahma yang memulai menanyakan kabar tentang suaminya.
Selepas Isya, Rahma menunggu sang suami yang masih berada di mesjid komplek untuk melaksanakan shalat berjama'ah. Hatinya diliputi kebahagiaan, tidak sabar ingin segera melihat reaksi suaminya. Hal yang selama ini mereka nantikan akhirnya Allah berikan kepercayaan.
"Mas, sudah pulang....mau langsung makan dulu?" Rahma meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya penuh takdzim. Tidak lupa Anggara pun mendaratkan kecupan di kening istrinya. Rutinitas yang sudah lama tidak dilakukan karena jarak yang membentang di antara mereka.
"Kita makan dulu ya" jawab Anggara dengan senyum merekah di bibirnya. Lagi-lagi kecupan hangat dia daratkan di kening Rahma yang tentu dibalas dengan senyum bahagia Rahma. Hatinya semakin berbunga-bunga, tidak sabar ingin segera memberi kabar bahagia yang sudah disiapkannya.
Dua puluh menit berlalu, acara makan malam suami istri itu pun berjalan lancar. Obrolan ringan pun mengalir di antara mereka.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Anggara mengusap lembut kepala Rahma yang saat ini bersandar di sebelah dadanya. Mereka tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah itu.
Selepas makan malam usai, mereka berdua mengisi kebersamaan dengan menonton televisi karena waktu masih menunjukan kurang dari pukul sembilan malam.
Anggara menggamit pinggang Rahma erat, dia bahkan mengarahkan kepala istrinya itu agar bersandar di dadanya.
"Ada apa?" Rahma masih menjatuhkan kepalanya di dada Anggara, tangannya memegang remote dan memilih saluran televisi mencari acara yang tepat untuk ditontonnya.
"Dia kembali" dua kata yang keluar dari mulut Anggara membuat Rahma menghentikan gerakan tangannya. Masih di posisi yang sama, dia terdiam menunggu kelanjutan ucapan suaminya itu.
"Dia kembali dan menyesali keputusannya pernah pergi waktu itu" Anggara melanjutkan ucapannya. Dari sini Rahma mulai faham maksud perkataan suaminya. Dia mengangkat kepalanya dari dada bidang itu dan menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah suaminya.
"Maksud mas, mantan kekasih mas itu?" tanya Rahma, menatap Anggara yang
menundukkan pandangannya.
"Heummh" Anggara pun menganggukan kepalanya, sekilas dia membalas tatapan Rahma dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi.
__ADS_1
Melihat ekspresi Anggara, membuat Rahma berspekulasi negatif, namun dia buru-buru menepisnya. Rahma menarik nafasnya panjang, dia mengambil gelas yang masih berisi air putih penuh. Meneguknya beberapa kali, berusaha menetralisir pikiran dan suasana hatinya.
"Alhamdulillah jika dia menyesali kesalahan yang pernah dilakukannya. Itu artinya dia telah berusaha untuk menjadikan dirinya pribadi lebih baik lagi" ucap Rahma lembut, wajahnya dihiasi senyum seperti biasanya.
Anggara kembali melirik Rahma, ada keraguan dimatanya untuk melanjutkan ucapannya. Sejenak mereka saling beradu tatap dengan pikiran yang berbeda.
Anggara menarik nafasnya, mengisi paru-parunya yang seolah kehabisan oksigen. Tenggorokannya terasa tercekik, sulit untuk berucap.
"Sayang...." Anggara membelai pipi Rahma, kini mereka duduk berhadapan dengan bersila di atas sofa.
Rahma hanya membalas dengan senyuman, dia masih menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu" sebuah pernyataan yang terdengar romantis Anggara lontarkan untuk Rahma. Hati Rahma menghangat mendengarnya.
"Maaf jika beberapa bulan ini aku mengabaikanmu" Anggara kembali mengusap pipi Rahma penuh kasih dan dengan senyum diwajahnya Rahma menganggukan kepalanya.
"Kamu mencintaiku kan?" tanya Anggara dengan mata sayunya, Rahma pun kembali menganggukan kepalanya.
Rahma mengernyitkan dahinya, dia belum mengerti dengan arah pembicaraan suaminya.
"Kenapa Mas tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Rahma lembut,
"Aku tidak ingin kehilanganmu, berjanjilah untuk tetap di sisiku" jawab Anggara, semakin membuat Rahma kebingungan.
"Mas, kita sudah cukup lama bersama. Mas sudah tahu aku seperti apa. Bagiku rumah tangga bukan sekedar urusan duniawi saja, tetapi juga sarana menuju surgaNya" ucap Rahma lembut, kelembutannya dalam bertutur kata memang selalu mampu memberikan kenyamanan untuk Anggara.
"Aku tidak ingin ada lagi yang disembunyikan dari kamu," Anggara semakin erat menggenggam tangan Rahma, seolah takut Rahma akan beranjak meninggalkanya.
"Memangnya apa yang mas sembunyikan?" tanya Rahma dengan tenang, dia masih tersenyum manis memberi ketenangan saat melihat raut wajah suaminya begitu tegang.
"Aku mau mengakui sesuatu yang selama ini tidak kamu ketahui" ucap Anggara dengan intonasi melemah,
__ADS_1
"Katakanlah Mas, aku akan mendengarkan" ujar Rahma lembut,
"Kamu tahu, aku dan dia cukup lama berpacaran. Selama itu pula kedua orang tuaku tidak merestui kami. Berkali-kali aku mencoba membawanya ke hadapan kedua orang tuaku, berusaha meyakinkan mama, tapi responnya selalu tidak baik. Mereka tetap tidak mau menerima kami. Entah karena alasan apa mama dan papa tidak merestui kani,aku sendiri tidak tahu. Mama hanya bilang jika dia tidak cukup baik untuk menjadi pendampingku. Hanya tante, adik bungsu papa yang menerima dan bersikap baik padanya dan mendukung hubungan kami." Anggara menghela nafas menjeda ucapannya,
"Kami pun merasa punya tempat berlindung, aku lebih dekat dengan tanteku dan kami sering menghabiskan waktu di rumah tanteku. Hingga suatu hari, sesuatu yang seharusnya belum saatnya untuk terjadi, akhirnya terjadi antara kami" Anggara menatap Rahma, ingin mengetahui reaksi istrinya setelah dirinya mengatakan hal itu.
Rahma masih berusaha tenang, sebagai orang dewasa dia faham maksud ucapan suaminya, gaya pacaran mereka yang bebas. Dada Rahma bergemuruh, namun dia masih bisa menahannya.
"Sejak saat itu, setiap pertemuan kami hal itu seakan menjadi rutinitas. Hingga suatu hari aku lupa tidak memakai pengaman, dan ....." Anggara turun dari atas sofa, dia duduk bersimpuh di pangkuan Rahma.
"Dia hamil....." genggaman tangan Anggara semakin kuat dirasakan Rahma, bukan tanpa alasan Anggara melakukannya, dia bisa merasakan tangan yang digenggamnya gemetar dan berkeringat.
Deg... sesuatu menghantam dada Rahma. Namun dia masih berusaha tenang, ingin sampai tuntas mendengarkan pengakuan suaminya.
"Aku panik, aku takut, aku tidak mungkin mengakui hal ini di hadapan papa dan mama, mereka pasti akan sangat kecewa padaku, hiks...." suara isak tangis mulai terdengar di telinga Rahma,
"Tante adalah satu-satunya orang yang bisa kami andalkan. Dan kami pun mengatakan semuanya pada tanteku"
"Mengingat kami tidak pernah direstui oleh kedua orang tua kami, dan tante pun tidak berani menghadapi papa jika sampai hal ini diketahui mereka. Dia pun mengusulkan agar Friska menggugurkan kandungannya, dan kami menyetujuinya"
Deg.... fakta kedua yang berhasil membuat Rahma tak mampu menyembunyikan kekagetannya.
"Astaghfirullah..." ucap Rahma pelan, dia tidak menyangka jika masa lalu suaminya serumit ini,
"Dengan bantuan tante kami dibawa ke seorang kenalan yang biasa melakukan hal itu dan berhasil. Kandungan Friska berhasil digugurkan, kurang lebih satu bulan Friska dirawat di sana sampai benar-benar pulih"
"Perasaan bersalah selalu menghinggapi hatiku jika teringat peristiwa itu. Aku merasa selalu dikejar dosa karena telah membunuh darah dagingku sendiri" Anggara tertunduk saat mengatakan semua itu, dia tak kuasa untuk menahan air matanya, rasa malu terhadap wanita dihadapannya pun membuat dia tak kuasa untuk mengangkat kepalanya.
"Astaghfirullah..." terdengar kalimah istighfar kembali terucap lirih dari bibir Rahma. Pelan, namun terdengar jelas di telinga Anggara membuat dirinya semakin enggan untuk mengangkat kepalanya.
"Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk berusaha meyakinkan kedua orang tuaku agar mau menerima Friska, tapi nihil. Sampai aku bertemu, mereka tak kunjung memberi restu"
__ADS_1
Rahma menatap kepala yang tertunduk tepat di hadapannya. Dia masih berusaha mencerna tentang semua yang dikatakan suaminya. Awal pernikahan mereka memang tidak baik dan Rahma berhasil menerima itu. Anggara pun berubah menjadi layaknya seorang suami, rumah tangga mereka pun berlangsung baik. Tapi kenyataan yang baru diketahuinya hari ini membuat dirinya benar-benar syok.