Belenggu Akad

Belenggu Akad
Menanti Jawaban


__ADS_3

Rahma memilih duduk kembali di kursi yang khusus disediakan untuk para orang tua siswa. Menghampiri Athaya sekarang sepertinya bukan pilihan yang tepat.


"Wow....luar biasa adek dapat kado spesial" salah satu guru yang bertugas menjadi pemandu acara saat itu mengajak para penonton kembali bertepuk tangan setelah Tama memberikannya sebuah kado.


"Namanya siapa? boleh ya kita kenalan dulu?" tanya sang mc yang berjalan mendekat ke arah Athaya berdiri di tengah panggung. Sementara Tama memilih untuk kembali ke tempatnya duduk.


"Athaya, nama aku Athaya. Aku santri TPQ Baitur Rahmah" Athaya mengangguk mendapat pertanyaan dari sang mc, dia pun langsung memperkenalkan dirinya sesuai dengan arahan guru ngajinya yang harus menyebutkan asal tempatnya belajar karena yang tampil tidak hanya dari tingkat TPQ tapi juga PAUD dan yang lainnya.


"Wah keren, kalau Bu Guru boleh tahu siapa nih yang ngajarin Athaya buat ceramah kayak tadi?" sang mc kembali bertanya, pertanyaan yang mewakili para penonton tentunya.


"Di sekolah aku latihan sama bu guru, kalau di rumah aku latihan sama Bunda" jawab Athaya jujur,


"Siapa yang ngajarin Athaya buat bergaya kayak tadi?" sang mc mempraktekan gaya Athaya saat bercerama yang berhasil membuat gemas para penonton.


"Bunda" jawabnya singkat, Athaya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang Bunda.


"Mencari siapa, Dek?" tanya sang mc,


"Bunda" jawab Athaya dia melambaikan tangan ke arah dimana Rahma kembali berdiri saat mendengat sang putra mencarinya.


Athaya pun tenang setelah melihat keberadaan sang bunda. Dia turun dari panggung dibantu gurunya setelah menjawab semua pertanyaan mc.


"Aku sedih, Athaya bahkan tidak menyebut namaku" suara yang tak asing di telinga Rahma membuat dia memutar kepala ke arah sumber suara.


"Mas" Anggara ternyata sudah berdiri di belakangnya,


"Mas di sini? sejak kapan?" tanya Rahma penasaran,


"Sejak kamu duduk di sana aku sudah duduk di sini" jawab Anggara, dia memang datang bahkan lebih awal daripada Rahma ke tempat itu. Rahma saja yang tidak menyadari keberadaannya sejak tadi.


"Oya, aku tidak tahu" jawab Rahma, dia kembali meluruskan pandangannya karena acara inti dimulai.


"Aku sudah berjanji pada Athaya untuk hadir dan aku tidak akan mengecewakan dia" jelas Anggara tanpa diminta,


"Alhamdulillah" balas Rahma singkat, dia tidak mau larut dalam obrolan dengan Anggara karena merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, saat ini dia berada di deretan kursi para orang tua santri dan Anggara duduk tepat di belakangnya.


"Alhamdulillah, yayasan ini tumbuh semakin berkembang atas dukungan moril dan materil yang diberikan oleh sponsor utama kami. Dan hari ini dengan hormat kami meminta beliau untuk memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kantor yayasan yang baru" sambutan penutup ketua yayasan disambut dengan tepuk tangan riuh para tamu dan seluruh hadirin. Sekaligus menyambut naiknya Tama ke atas panggung.

__ADS_1


"Kenapa kamu menyekolahkan Athaya di sini? apa karena laki-laki itu?" Anggara kembali berbisik mendekati telinga Rahma yang fokus mendengarkan sambutan ketua yayasan.


Rahma menarik nafasnya dalam, mantan suaminya ini masih saja memancing hal-hal yang bersifat privasi bagi Rahma.


"Yayasan ini milik Pak Hakim, beliau ketua yayasannya" Rahma menunjuk dengan dagunya ke arah panggung tempat pak Hakim berdiri.


"Beliau adalah teman almarhum bapak, asli orang Garut yang merantau ke kota. Beliau mendedikasikan keberhasilannya di kota untuk umat dengan mendirikan yayasan ini" jelas Rahma panjang lebar, dia ingin mengakhiri prasangka Anggara yang menurutnya berlebihan dan tidak beralasan.


"Sebenarnya aku tidak perlu menjelaskan ini sama Mas, apa yang menjadi urusan pribadiku sepertinya tidak harus Mas ikut campur. Tapi karena ini menyangkut pendidikan Athaya, aku ingin meluruskan niat kenapa menyekolahkan Athaya di sini. Tolong ya Mas." pinta Rahma mengakhiri bicaranya yang juga pelan, untunglah kursi di samping kirinya kosong hingga dia tidak perlu terlalu berbisik bicara dengan Anggara karena takut ada yang mendengar.


"Oke, maafkan aku" jawab Angga mengalah, dia tahu lagi-lagi dia tidak bisa mengontrol dirinya.


Satu jam berlalu, acara peresmian gedung kantor yayasan baru telah usai tepat pukul 17.30. Rahma membentangkan tangan menyambut Athaya yang berlari ke arahnya. Dia baru bisa bersama sang putra karena sejak tadi Athaya harus menerima wawancara eksklusif reporter khusus yayasan yang bertugas di bagian publikasi dan dokumentasi yayasan.


Salah satu terobosan baru yang dibuat tim pengembang yayasan adalah dengan adanya tim IT yang khusus mendokumentasikan dan mempublish setiap kegiatan yayasan. Mereka mempublikasikannya baik melalui media cetak maupun elektronik.


Beberapa akun media sosial atas nama yayasan juga sudah cukup viral di jagad maya. Tidak heran jika dalam kurun waktu yang cukup singkat yayasan ini berkembang sangat pesat.


"Anak bunda senang hari ini?" Rahma mencium pucuk kepala Athaya yang masih berada dalam dekapannya.


"Alhamdulillah, aku senang sekali Bunda. Tadi aku dapat hadiah dari omm ganteng" Athaya menyerahkan paper bag coklat ke tangan bundanya.


"Sudah Bunda, kata omm nanti ada hadiah susulan lain katanya" jawab Athaya membuat Rahma sepersekian detik membeku.


"Athaya sayang, ini hadiah dari ayah" Anggara yang sejak tadi merasa diabaikan akhirnya menyapa lebih dulu.


Rahma pun mundur beberapa langkah, mengarahkan Athaya untuk menyalami ayahnya dan menerima kado yang diberikan Anggara.


"Terima kasih ayah" jawab Athaya singkat, dia pun mencium tangan Anggara namun dibalas dengan pelukan erat oleh Anggara, dia lalu menggendongnya.


"Ayah, Thaya sudah besar. Badan Thaya berat, turunin..." protes Athaya yang tidak mau berlama-lama digendong ayahnya.


Hati Anggara mencelos, mengingat perbedaan perlakuan Athaya padanya saat ini. Athaya terlihat begitu nyaman saat digendong Tama di atas panggung tadi, berbeda saat digendong olehnya yang langsung melayangkan protes dengan alasan Athaya sudah besar dan minta diturunkan.


Rahma menangkap raut kecewa di wajah Anggara saat Athaya meminta dirinya diturunkan. Dia hanya menghela nafas, tidak bisa berbuat apa-apa. Rahma pun tidak mau memaksa putranya untuk bisa akrab dengan Anggara, toh apa yang terjadi hari ini mungkin buah dari perlakuan Anggara selama ini.


"Bunda, kita pulang!" Athaya merajuk, dia yang saat di perjalanan mau shalat berjama'ah maghrib di yayasan tempatnya sekolah malah lebih dulu meminta pulang padahal masih ada waktu yang lumayan lama menjelang maghrib.

__ADS_1


"Hah ..iya sayang, sebentar" Rahma merogoh ponsel di tas selempangnya yang bergetar. Dan di saat bersamaan ponsel milik Anggara pun berdering.


Rahma yang akan mengangkat telepon urung saat melihat nama penelepon, dia memilih menggenggam ponselnya.


"Mas aku tahu ya kamu pergi ke sekolah anak kamu bukannya pergi ke luar kota" suara yang cukup keras dari penelepon yang menghubungi Anggara terdengar sampai ke telinga Rahma karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh. Anggara pun sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.


"I...iya...aku pulang" jawab Anggara cepat, dia langsung menutup teleponnya tanpa menunggu, tatapannya langsung ke arah Rahma dengan raut wajah memerah karena malu ketahuan berbohong.


"Aku harus pulang" ucap Anggara ragu, dia malu karena yakin Rahma pasti mendengar teriakan istrinya itu.


"Silahkan Mas" Rahma menganggukan kepalanya pelan, Anggara pun beralih pada Athaya dan berpamitan dan diangguki Athaya tanpa beban.


"Athaya....."suara anak kecil memanggil Athaya, dia adalah teman satu kelas putranya. Mereka pun mengobrol setelah Athaya mencium tangan Anggara yang akan pergi.


"Bunda, aku mau ke sana dulu sama Kahfi, boleh ya?" Athaya yang sempat merajuk meminta pulang sepertinya terlupakan karena kehadiran teman-temannya. Dia meminta izin pada Rahma untuk bermain.


"Baik nak, tapi hati-hati dan jangan jauh-jauh ya" Rahma mengizinkan sambil tak lupa memperingatkan sang putra. Kesempatan ini digunakan Rahma untuk menerima telepon yang terus saja berdering dari tadi.


"Assalamu'alaikum" sapa Rahma setelah panggilan terhubung,


"Wa'alaikumsalam, aku mau menagih jawabannya sekarang" to the point karena memang itu yang diharapkan si penelepon yang tidak lain adalah Tama.


Laki-laki yang sudah dua hari ini tidak menghubunginya, tadi dia hanya sempat memandanginya dari kejauhan saat Tama memberikan pidato. Rahma tidak menyangka jika Tama adalah donatur utama dari yayasan tempat putranya belajar.


Sejujurnya Rahma kembali merasa insecure setelah semakin mengetahui siapa Tama, tetapi hatinya mantap untuk memberi jawaban segera sesuai dengan permintaan Tama yang akan menagih jawaban ungkapan cintanya selepas pulang dari luar negeri.


"Kamu masih di sana kan?" tanya Tama melalui sambungan teleponnya, dia masih menunggu karena Rahma yang tak kunjung bersuara,


"Iya Pak, saya masih di sini" jawab Rahma tersentak dari lamunannya,


"Apa jawabannya?" tanya Tama lagi, kali ini suaranya terdengar bukan lagi dari sambungan telepon karena Tama sudah berdiri tepat di belakang Rahma yang memilih menjauh dari keramaian saat akan menerima telepon.


"Pak Tama" Rahma tersentak, seketika berbalik dan mereka pun saling berhadapan. Di hadapannya kin berdiri sosok gagah dan tampan dengan balutan stelan jas lengkap yang sejak tadi hanya bisa dipandanginya diam-diam dari kejauhan.


"Lama nunggu jawaban kamu, aku sudah tidak sabar ingin mendengarnya" ujar Tama datar, pandangannya tak beralih sedetik pun menatap wajah merona bidadari hatinya.


"Saya...saya...." Rahma kikuk, jawaban yang sudah disiapkannya pun seketika buyar karena kehadiran Tama yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Saya apa?" tanya Tama melembut dengan tatapan penuh harap.


"Saya ....." Rahma memberanikan diri membalas tatapan Tama, dia menarik nafas panjang mengisi paru-parunya yang serasa menyempit saat akan berbicara.


__ADS_2