Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kehadiran Sahabat (2)


__ADS_3

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Untuk menjadi perempuan yang kuat...


ALLAH harus patahkan hatimu berkali-kali..


Hidupmu sering dipenuhi dengan luka...


Bahkan kadang hancur tak berupa....


Pada akhirnya kamu mulai lelah, karena selalu mendapati tempaan hidup yang hampir-hampir membuatmu goyah....


Engkau pun hampir putus asa...


karena dihadapkan oleh ujian hidup luar biasa...


Seolah semua enggan peduli dan tak ada yang mengerti betapa lebamnya hati hadapi semua yang terjadi...


Hingga engkau merasa seakan hidup ini sangat tidak bersahabat, tersebab banyak kau dapati hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi..


Tentang cinta, kawan, rezeki materi, seakan semua gagal dan membuatmu terhempas.


Sementara ikhtiar sudah maksimal, ibadah sudah diperbanyak, tetap saja hidup malah kian sulit dan sempit.


Padahal kegagalan sebenarnya bukan dalam urusan cinta, pertemanan, atau bahkan materi.


Kegagalan sesungguhNya adalah saat kita gagal mempercayai ALLAH, gagal meyakini janji-janji ALLAH, dan gagal menjalankan perintah-perintah ALLAH..


Bukankah jelas, dalam urusan cinta, ALLAH menuntun kita untuk berserah diri pada ketetapan-Nya, upaya maksimal menjaga diri, memperbaiki kualitas hati sebagai bekal menempuh lika-liku perjalanan cinta bersama pasangan halal dengan ikatan janji suci dalam bingkai ridha ilahi. Lalu kenapa kau ingkari, hingga akhirNya jatuh kesekian kali.


Bukankah jelas, dalam urusan teman ALLAH memerintahkan kita berteman karena ALLAH,


Lalu mengapa kau harus mementingkan penilaian manusia dibandingkan ALLAH? Bukankah ketika seisi dunia meninggalkanmu pun ALLAH tetap bersedia menerimamu dan mendekapmu dengan kasih-Nya. Maka tak perlu merasa sedih dan khawatir ketika diabaikan manusia..


Bukankah jelas, perihal rezeki sudah ALLAH tetapkan pada setiap anak manusia. Lalu jika ibadahmu banyak, ikhtiarmu maksimal, kenapa harus merasa gagal memperoleh rezeki? Bukankah sedikit banyaknya rezeki itu yang penting berkahnya..?


Dan ibadahmu selama ini bukanlah semata-mata demi mendapatkan rezeki bukan..?


Lalu kenapa engkau terus mengeluh dan merasa ujianmu lebih sakit dan lebih pedih dibanding ujian orang lain?


Apakah dengan mengeluh itu bisa membuat lukamu sembuh?


Apa kau lupa janji ALLAH bahwa " setelah kesulitan pasti ada kemudahan" .

__ADS_1


Berhentilah merengek sayang..


Nanti kamu akan mengerti, bahwa segala kesakitan dan kesulitanmu sebelum-sebelumnya hingga hari ini adalah bagian dari kebahagianmu esok nanti, in syaa ALLAH..


Biarlah, jika hatimu harus remuk, fisikmu lelah, asal iman didada tak goyah. Tak seharusnya kau "lemah" dan "kalah"


Perempuan hebat itu kamu..


Kamu yang -biidznillaah- berhasil melewati fase hidup penuh liku, penuh haru dan penuh pilu.


Perempuan sabar itu kamu..


Sabar melewati ujian meski harus tersayat sembilu, Sabar menanti segala kebaikan hidup yang ALLAH janjikan sebagai hadiah terindah atas upaya keta'atanmu..


Tersenyumlah sayang..


Sudah sepantasnya kamu percaya dengan Janji-Nya, pada setiap ketetapan-Nya. Bahwa "ALLAH" tak mungkin mengecewakan "Hamba-Nya"


Ujian yang hebat untuk orang yang hebat !


Sabar... ALLAH tau betapa gigihNya kamu berdo'a dan berusaha.


Tetaplah percaya pada Kemahakuasaan-Nya


"..Yaa ALLAH, sesungguhNya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.. "


Semoga Allah menerima amal ibadah kita Aamiin.


✨💗✨💗✨💗✨💗✨💗✨💗✨💗✨


Sebuah tulisan singkat telah selesai dia baca. Salah satu tulisan yang mengisi kolom blognya dengan judul "Wanita Kuat itu Kamu".


Setiap Jumat sore Rahma rutin menjadi salah satu pengisi kajian online khusus akhwat, dan salah satu tema yang dia bahas minggu kemarin adalah tentang wanita kuat. Tulisan itu dia persembahkan sebagai motivasi untuk para perempuan di luar sana yang merasa kehidupan menempa dirinya begitu keras. Dengan keyakinan yang kuat, selama Allah dilibatkan dalam setiap langkah, selama Allah yang menjadi tujuan, maka tidak akan ada yang sia-sia.


Hari ketiga berada di klinik dengan jarum infus masih tertancap di punggung tangan kirinya. Sepertiga malam menjadi waktu yang paling indah untuk Rahma merefleksi diri. Muhasabah diri sambil bermunajat di sepinya malam yang menentramkan jiwa.


Sebuah laptop berada di pangkuannya, dia membuka blog yang berisi tulisan-tulisannya. Rahma membaca kembali coretan dan menekuri setiap rangkaian kalimatnya. Apa yang ditulisnya dalam kajian minggu lalu ternyata sangat tepat untuk dirinya sendiri saat ini. Tapi apakah dia bisa sekuat itu?


Air mata menetes membasahi pipi untuk kesekian kalinya dan malam selalu menjadi saksinya. Rahma menatap seseorang yang setia menemaninya sejak hari pertama. Dia tengah terbaring di atas karpet tepat di samping tempat tidurnya.


"Terima kasih Ya Allah, di saat seperti ini Engkau hadirkan dia bersama hamba. Lisna, terima kasih telah menjadi sahabat yang baik untukku" gumamnya pelan.


Seseorang yang terbaring itu tidak lain adalah Lisna, rekan kerja sekaligus sahabat yang menemaninya sejak hari pertama dia dibawa ke klinik itu.

__ADS_1


Setelah Lisna mendesaknya untuk jujur perihal keadaan dirinya yang sebenarnya, Rahma akhirnya menumpahkan semua hal yang selama ini hanya dipendamnya sendiri pada sahabatnya itu.


Lisna memutuskan untuk berada di sana dan menemani Rahma, dia tidak pulang hanya menelepon adiknya untuk membawakan beberapa perlengkapan pribadi yang dibutuhkannya untuk menginap di sana. Melihat keadaan Rahma, dia yakin jika Rahma tidak ingin keluarganya mengetahuinya.


Sementara Anggara, setelah seharian dia menemani Rahma di klinik. Sabtu sore teleponnya terus berdering, Rahma tahu itu dari siapa. Diapun mempersilahkan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu untuk kembali ke Bandung.


Lisna kesal melihat keadaan itu, tanpa sepengetahuan Rahma dia terang-terangan mengungkapkan kekesalannya pada Anggara sebelum laki-laki itu pergi meninggalkan klinik.


"Sorry Lis, kali ini aku benar-benar dilema. Aku titip Rahma ya, hubungi aku kalau ada apa-apa" Hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya setelah panjang lebar Lisna berbicara mengungkapkan kekesalannya.


"Dasar laki-laki brengsek" umpat Lisna dalam hati setelah mobil yang dikendarai Anggara meninggalkan parkiran klinik.


Rahma menghela nafasnya, di saat pelik seperti ini dia masih bersyukur dihadirkan seorang sahabat untuk menemaninya. Air mata Rahma kembali menetes saat teringat dengan percakapan dirinya dengan Lisna sepeninggalnya Anggara.


"Naw, kamu selalu bilang jika dengan bercerita akan membuat sedikit melegakan masalahmu maka pastikan bahwa Allah menjadi tempat yang tepat untuk mendengarkan ceritamu. Tapi kali ini izinkan aku untuk menjadi pendengarmu juga" Lisna menatap pilu pada sahabatnya itu, keadaan Rahma kini sudah lebih baik setelah mendapatkan penanganan medis.


Rahma menarik nafasnya panjang seolah mengumpulkan energi untuknya bisa mengungkapkan semuanya pada sahabatnya itu.


"Sejak awal rumah tangga kami memang sudah tidak sehat" Rahma tersenyum miris saat mengingat bagaimana awal kehidupan rumah tangganya, dia pun menceritakan semuanya pada Lisna.


"Jadi benar perempuan itu pingin balikan lagi sama Anggara?" Lisna bertanya menggebu, setelah mendengar semua cerita sahabatnya itu tekanan darahnya seketika naik.


"Heumm" jawab Rahma diiringi anggukan kepala tanpa menoleh pada sahabatnya itu.


"Lalu?"


"Mereka sudah menikah"


"Apa?" pekik Lisna, seketika dia berdiri dari duduknya. Ponsel yang berada di tangannya bahkan terjatuh tanpa sadar.


"Lis tenang, ini di klinik" peringatan Rahma seketika membuat Lisna mengedarkan pandangannya. Untunglah Rahma di rawat di kamar dengan penghuni satu orang pasien jadi apa yang Lisna lakukan tidak mengganggu pasien lainnya.


"Gila ya si Anggara. Naw, kenapa kamu setenang ini setelah mengetahui kenyataannya? kamu masih membiarkan dia baik-baik saja? kamu gak boleh diam saja, lakukan sesuatu, Naw!" sentak Lisna, dia jadi geram sendiri setelah mendengar kabar jika Anggara ternyata sudah menikah lagi dengan mantan kekasihnya,


"Istrinya sedang hamil" lanjut Rahma,


"Apa?" lagi-lagi Lisna bersuara keras karena kaget mendengar apa yang dikatakan Rahma.


"Lisna, pelankan suara kamu!" Rahma kembali memberi Lisna peringatan.


Kemarahan semakin membuncah di hati Lisna setelah mengetahui semuanya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Anggara begitu tega menyakiti wanita sebaik Rahma. Ingin rasanya Lisna memaki dan mencabik-cabik Anggara. Namun perasaan bersalah seketika meredam emosinya, dia memeluk Rahma yang masih berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir di pipinya mengiringi setiap kata yang terucap dari bibirnya.


"Maafkan aku Naw, maafkan aku. Aku yang sudah mengenalkan kamu pada Anggara, aku yang membuat kamu menjadi menderita begini" Lisna pun akhirnya tak kuasa menahan air matanya, rasa bersalah dan iba mendengar cerita sahabatnya bercampur dalam hatinya, dia memeluk erat Rahma.

__ADS_1


Suasana kamar rawat haru seketika, hanya terdengar suara isak tangis yang saling bersahutan. Dua orang sahabat tengah berpelukan menumpahkan perasaannya masing-masing lewat tangisan.


__ADS_2