Belenggu Akad

Belenggu Akad
Mensupport Anggara


__ADS_3

"Terima kasih sudah mau menjaga mereka selama ini" ucapan yang tulus terlontar, menjadi pembuka obrolan antara Anggara dan Tama.


Saat ini Tama membawa keluarga kecilnya ke kediaman Anggara, setelah menyelesaikan makan siang dengan Friska dan kedua putrinya, mereka pamit pulang. Tama yang awalnya hanya sendirian akan mengantarkan Athaya untuk menemui Anggara nyatanya mengajak serta Rahma untuk sekalian bersilaturahmi.


Dan di sinilah sekarang mereka berada, rumah yang cukup megah di kawasan perumahan elit di Jakarta.


Semenjak Anggara sakit, kedua orang tuanya memutuskan untuk tinggal di rumah Anggara di Jakarta. Rumah yang Anggara tempati seorang diri pasca perpisahannya dengan Friska. Orang tua Anggara rela meninggalkan Bandung agar bisa menjaga putra semata wayang mereka.


Setelah mengobrol dengan suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan di ruang tengah rumah itu, kini tibalah kesempatan Anggara dan Tama berbicara berdua selepas shalat Ashar berjamaah yang diimaminTama. Mereka memilih teras belakang yang menghadap taman yang cukup luas, bahkan di tengah-tengah taman itu ada gazebo yang sangat nyaman untuk bersantai.


Sementara Rahma saat ini sedang bersama mantan mertua dan adik sepupu Anggara yang juga tinggal bersama mereka selama beberapa bulan ini.


"Aku semakin yakin jika kamu memang yang terbaik untuk Rahma. Terima kasih juga sudah menyayangi Athaya bahkan melebihi aku yang ayah kandungnya." sambung Anggara dengan wajah sendu, ada rasa bersalah yang tersirat dari ekspresi wajahnya. Kini dia sadar jika selama ini sudah sangat salah dalam melangkah.


"Sama-sama, aku sangat bersyukur sudah Allah berikan kesempatan untuk bersama mereka. Aku adalah laki-laki beruntung yang sudah Allah titipkan wanita seperti Rahma dan putra seperti Athaya dan aku akan menjaga mereka dengan seluruh hidupku." Tama menekan kalimat terakhirnya, dia pun menghela nafas menjeda ucapannya, bayangan wajah sang istri tiba-tiba melintas di pikirannya. Dia tersenyum sendiri tanpa diketahui Anggara, senyum indah dan tatapan yang meneduhkan Rahma selalu mampu membuatnya terpesona, tenang dan menghangat.


Rindu pun tiba-tiba menyeruak dalam dada padahal mereka saat ini berada di tempat yang sama hanya terpisahkan tembok, namun setiap kali bayangan wajah cantik istrinya itu melintas, sungguh Tama tidak dapat menghalau kerinduannya.


"Dan perihal Athaya, kamu jangan khawatir. Aku tegaskan kembali bahwa aku sangat menyayanginya dan akan menjaganya semaksimal usahaku. Meskipun dia buka putra kandungku, tapi Allah sudah menitipkan bundanya padaku, maka Athaya pun adalah tanggung jawabku" dengan tegas Tama mengatakannya, tidak ada keraguan atau pun kebohongan dari setiap kata yang diucapkannya.


"Terima kasih" hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Anggara, dia mendongak, menahan sesuatu yang akan jatuh dari sudut matanya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, yang pasti penyesalan tergurat jelas di wajah sendunya.


Mendengar Anggara kembali terdiam, Tama menoleh.


"Sekarang giliran kamu yang harus bahagia, ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Berhusnudzanlah pada Allah, bahwa setiap rencanaNya adalah takdir terbaik untuk kita." Tama menepuk bahu Anggara yang duduk tepat di sampingnya. Sekilas Anggara pun menoleh dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Ketika Allah menentukan sebuah takdir yang berat untukmu, yakinlah itu sudah ditakar sesuai kekuatanmu. Gak ada beban yang kau angkat melebihi kekuatanmu, jika merasa putus asa karena tidak punya siapa-siapa untuk menjadi sandaran, ingatlah kamu punya Allah." dengan bijak dan tulus Tama memberi motivasi pada laki-laki yang terlihat begitu rapuh itu. Dia tidak menyangka keadaan Anggara akan seperti ini.


Mendengar apa yang dikatakan Tama, seketika hatinya terhenyak. Ada sesuatu yang dia abaikan selama ini. Anggara terlalu terlena pada masalah yang menimpanya, dia lupa bagaimana menyelesaikannya dengan cara yang paling jitu yaitu berserah pada yang Maha Kuasa, Allah subhanahu wata'ala.


"Sorry, bukannya aku mau menasehati kamu. Aku pun sama masih terus belajar untuk hidup lebih baik. Dan kamu tahu dari siapa sumber inspirasiku?" Anggara menoleh, dia penasaran menunggu kelanjutan perkataan Tama.


"Tentu saja dari istriku" jawabnya dengan senyum bangga.


"Meskipun masih hitungan hari kebersamaan kami dalam ikatan halal namun sudah banyak pelajaran berharga yang aku dapat darinya. Termasuk bagaimana aku belajar ikhlas dan menjadikan akhirat sebagai prioritas dalam kehidupan ini."


Anggara kembali menarik nafas dalam, sejenak dia memejamkan mata. Bayangan kehidupan tenang bersama Rahma kembali melintas di pikirannya. Shalat berjama'ah, puasa bareng, mengaji bareng, semuanya kembali melintas di benak Anggara. Jujur selama itu Anggara merasakan ketenangan batin dan ketentraman jiwa yang luar biasa. Parahnya semua itu berbanding terbalik dengan yang Anggara rasakan saat berumah tangga bersama Friska.


"Harus kamu tahu, tadi pagi Friska dan anak-anaknya bertamu ke rumah kami"


"Jangan khawatir, Friska sudah berubah." Tama terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukan Anggara, dia seolah tahu apa yang dipikirkan rekannya itu.


"Dia datang untuk bersilaturahmi. Entah keberapa kalinya pertemuan mereka dan di setiap pertemuannya Rahma bilang jika Friska selalu meminta maaf padanya atas perbuatan dia di masa lalu." Tama mengalihkan tatapannya dari Anggara, dia memandang lurus ke depan. Pikirannya kembali menerawang saat tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan Rahma pada Friska.


'Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan. Karenanya mari kita bersama saling memaafkan'


Tama menceritakan kebersamaan meraka sejak tadi pagi sampai siang sebelum berangkat ke rumah Anggara. Dia yang berada di ruang kerja dengan alasan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda nyatanya mengawasi setiap sudut apartemennya melalu pantauan cctv uang terhubung di laptopnya.


Tama tahu betul bagaimana perlakuan tulus Rahma pada Friska, begitu pun dengan Friska dari semua hal dia amati selama kebersamaan mereka Friska benar-benar menunjukan perubahannya yang lebih baik.


"Rahma bilang Friska ingin mulai berhijab, dia yang datang tanpa hijab pulang dengan hijab berhijab" Tama terkekeh saat mengatakan kalimat itu, dia menceritakan semua hal hasil pengamatannya, tidak ada yang terlewat.

__ADS_1


"Jika aku bisa menerima Rahma dengan dan Athaya, tanpa memandang status atau pun masa lalunya, aku pikir tidak ada salahnya jika kamu pun mencoba berdamai dengan dirimu sendiri, lupakan semua hal buruk di masa lalu, cukup menjadi pengingat agar tidak terulang di masa mendatang. Mulailah melangkah, menata masa depan dengan niat yang baru, ikhtiyar yang baru." Tama mengambil secangkir teh yang tadi disajikan oleh asisten rumah tangga Anggara, dia menyeruput teh yang sudah menghangat itu pelan sebelum melanjutkan pembicaraannya.


Hal yang sama pun dilakukan Anggara, namun dia masih terdiam, menunggu Tama menyelesaikan perkataannya.


"Seperti bisnis yang kadang untung kadang rugi, begitupun dengan hidup. Makanya variasi rencana memang harus ada, jika sewaktu-waktu ada kendala, kita hanya perlu mengubah jalan, bukaan tujuan."


"Tidak ada manusia yang sempurna, yang terlepas dari kesalahan, aku pikir Friska pantas mendapatkan kesempatan kedua. Anak-anak yang terlahir dari rahimnya tidak bersalah, karena itulah takdir mereka. Andai mereka bisa memilih mungkin mereka akan memilih untuk terlahir dari rahim wanita lain. Tapi Allah sudah menetapkan semuanya dan itulah yang terbaik menurut-Nya, tinggal bagaimana kita dapat menemukan hikmah di balik setiap takdir itu."


Anggara tertunduk, dia meresapi setiap kalimat yang diucapkan Tama. Dalam hati kecil dia pun membenarkan, mengakui jika dirinya pun tidaklah sempurna. Banyak kesalahan dan dosa yang sudah dilakukannya. Jika saat ini dirinya merasa kecewa dan tersakiti oleh Friska, mungkin ini peringatan sekaligus balasan atas perbuatannya dulu yang mengecewakan dan menyakiti wanita sebaik Rahma.


Suasana pun berubah hening, kedua laki-laki itu tengah asik dengan pemikiran mereka masing-masing. Sampai-sampai kehadiran seseorang di antara mereka pun tidak mereka sadari.


"Butuh waktu yang lama untuk sampai pada titik rela. Melewati rasa sakit, pikiran yang rumit, berkelahi dengan ego sendiri serta banyak rasa sesak yang tidak bisa diungkap. Semua tidak sesederhana mengucapkan kata ikhlaskan saja." suara yang tidak asing di telinga keduanya membuat mereka berdua buyar dari lamunannya masing-masing.


Rahma datang dengan membawa nampan yang berisi cemilan, dia menyimpannya di atas meja kecil yang berada tepat di depan mereka.


"Sayang..."panggil Tama, dia mengulurkan tangan agar Rahma mendekat.


Nyesss....ada sesuatu yang menusuk di hati Anggara saat Tama memanggil Rahma dengan panggilan mesra.


"Maaf kalau aku menimpali" ucap Rahma setelah berdiri di dekat Tama dengan,


"Aku hanya ingin berbagi sedikit yang pernah aku alami. Untuk ikhlas itu memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Semuanya bisa diusahakan, selama Allah yang menjadi tujuan tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama Allah yang menjadi sandaran tidak ada do'a yang percuma. Semuanya akan indah pada waktunya. Kami yakin Mas Anggara bisa melewati semua ini dan melanjutkan hidup dengan baik, mari kita saling mendo'akan." pungkas Rahma dengan tersenyum. Pelukan tangan Tama di pinggangnya pun semakin terasa mengerat. Tama mendongak menatap istrinya dengan senyum tak kalah manis, rasa cinta semakin mengembang di dadanya, dalam hati dia bangga akan sikap dewasa dan bijaksana sang istri.


Sementara Anggara hanya mampu tertunduk dengan air mata yang tak mampu lagi dia bendung.

__ADS_1


__ADS_2