Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pengakuan


__ADS_3

Berita kedatangan Friska ke toko langsung sampai pada Tama yang saat ini sedang memimpin rapat internal di perusahaannya. Di lantai tertinggi dari gedung pencakar langit itu Tama langsung menghentikan rapatnya. Dia lebih memilih untuk segera meluncur ke tempat dimana istrinya berada. Pak Hakim yang saat itu turut hadir dalam rapat mendukungnya, sebagai seorang suami dia akan melalukan hal yang sama untuk melindungi istrinya.


"Maafkan aku Pa, aku akan segera kembali setelah memastikan Rahma baik-baik saja" ucap Tama sebelum dia memilih keluar dan setengah berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


"Pergilah Nak, prioritas utamamu adalah keluarga." dukung Pak Hakim yang tak lupa memberi support pada sang putra kebanggaannya itu.


☘️☘️☘️


Brukkk.....


Tanpa diduga, saat Rahma masih menerka-nerka dengan kondisi keluarga mantan suaminya itu, tiba-tiba Friska bersimpuh di hadapannya.


"Friska, kamu ngapain?" Rahma seketika berdiri namun pergerakannya terkunci karena Friska yang tiba-tiba memegangi kakinya.


"Maaf..." satu kata yang terucap dari lisan Friska, selanjutnya hanya isak tangis yang terdengar pilu membuat Rahma pun mematung seketika.


Sepuluh menit berlalu, tak ada suara apapun dalam ruangan itu selain isakan tangis Friska yang terdengar semakin menyayat hati. Rahma memilih kembali duduk dan membiarkan Friska melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Dengan pikiran yang masih menerka-nerka dengan maksud kedatangan dan perilaku Friska yang tidak biasa itu. Rahma hanya menatap kosong Friska yang masih bersimpuh di kakinya dengan bahu yang berguncang.


"Maafkan aku Rahma, maaf untuk setiap rasa sakit yang sudah aku torehkan dalam hati dan hidupmu" Rahma masih menunggu kelanjutan kata-kata yang akan diucapkan Friska, dia belum bisa mengikuti kemana alur pembicaraan mantan madunya itu.


"Apa yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu benar-benar dosa besar yang bahkan saat aku masih hidup pun Allah sudah mulai menunjukkan balasannya"


"Maaf, karena aku sudah menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengan Mas Anggara, aku merebut suamimu, maaf aku sudah menghancurkan rumah tangga kalian. Maaf Rahma, tolong maafkan aku"


"Sudah cukup selama ini aku hidup dalam rasa bersalah yang karena keegoisanku, hanya mampu aku pendam sendiri dalam hatiku tanpa mau meminta maaf padamu. Sekarang Allah sudah menegurku, hikssss....."

__ADS_1


"Tolong Rahma maafkan aku" Friska mendongak dengan mata sembab dan air mata yang masih terus mengalir membasahi pipinya,


Rahma manarik nafasnya dalam, rasa iba pun menghampiri. Walau sakit yang ditorehkan wanita itu begitu lebar dan dalam, namun dia tidak ingin terus terkungkung dalam rasa itu. Apapun yang sudah terjadi atas hidupnya, itu adalah qadarullah. Allah lebih tahu yang terbaik untuknya. Rahma pun memilih menghempaskan rasa sakit itu, bukan ranahnya untuk membalas apa yang pernah dilakukan wanita itu terhadapnya, biarlah semuanya terjadi berdasarkan apa yang sudah ditulis-Nya dalam skenario kehidupan.


"Aku sudah memaafkanmu, sekarang bangunlah. Ceritakan dengan benar apa yang sebenarnya terjadi?" Rahma akhirnya menyimpulkan jika kedatangan Friska kali ini juga kedatangan mantan mama mertuanya beberapa hari yang lalu pasti karena telah terjadi sesuatu dalam keluarga mereka.


"Semua berawal dari kecelakaan yang menimpa anak sulungku di sekolahnya" Friska mulai tenang, Rahma membantunya berdiri dan menggiringnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Rahma.


Rahma menatap Friska lekat, dia menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Friska.


"Anakku tertabrak motor saat pulang sekolah. Penabraknya melarikan diri dan sampai saat ini polisi belum berhasil memburunya. Kami semua pun memilih fokus pada keadaan putri kami yang ternyata harus dioperasi dan membutuhkan banyak darah"


"Darahku maupun Mas Anggara tidak ada yang sama dengan putri kami. Saat itu juga Mas Anggara langsung melakukan tes DNA tanpa meminta penjelasan apapun padaku"


"Hasilnya menyatakan jika Mas Anggara bukanlah ayah biologis Bianita, hikss...."


Pikiran Rahma kembali ke masa dimana dirinya dicampakkan karena tak kunjung hamil, bayangan keluarga Anggara yang mencemooh dirinya dan membanggakan kehamilan Friska kembali melintas di benaknya.


"Mas Anggara murka, dia marah semarah-marahnya. Aku bahkan baru pertama kali melihatnya seperti itu. Mas Anggara langsung pergi ke rumah kami dan di sana dia menghancurkan semua foto pernikahan kami" Friska menghela nafas menjeda ucapannya,


"Aku bahkan sampai terluka oleh pecahan kaca yang berasal dari bingkai foto pernikahan kami, tapi dia tidak peduli. Mas Anggara sama sekali tidak memedulikan keadaanku saat itu. Untunglah putri keduaku masih berada di sekolah, sehingga tidak sempat melihat kekacauan yang terjadi saat itu." Friska mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipinya,


"Sejak saat itu dia pergi dari rumah kami menuju kediaman mama dan papa. Dan lagi-lagi di sana Mas Anggara melakukan hal yang sama. Dia kembali menghancurkan semua foto-foto pernikahan kami yang ada di rumah itu. Mama sampai syok, untunglah papa mampu mengendalikan Mas Anggara sampai akhirnya dia berhenti dan menangis sejadi-jadinya."


"Aku berusaha menjelaskan, mengakui semua kesalahan dan dosa yang selama ini yang aku pendam sendiri. Aku bersujud Rahma, aku meminta maaf atas semua kesalahanku. Dari semua kebohonganku, satu yang tidak bohong yaitu cintaku pada Mas Anggara."


"Aku akui, saat memilih untuk menjauh dari kalian aku melakukan kekhilapan. Waktu itu acara ulang tahun perusahaan tempatku bekerja, aku memang sedikit minum hingga tanpa aku sadari paginya aku berada di sebuah kamar hotel dengan laki-laki yang selama ini mendekatiku dan bilang mencintaiku."

__ADS_1


"Aku kira dia sungguh-sungguh dengan ungkapan cintanya selama ini, nyatanya saat aku ketahuan hamil mengandung anaknya dan aku meminta pertanggungjawabannya dia berkilah. Dia bilang dia tidak mungkin menikahiku karena sudah memiliki istri"


"Aku hancur bingung saat itu, aku hancur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika keluargaku mengetahui keadaanku. Hingga akhirnya terbersit di pikiranku untuk kembali menemui Mas Anggara karena aku yakin dia masih sangat mencintaiku" isak tangis masih mengiringi pengakuan Friska, Rahma hanya diam mendengarkan dengan baik apa yang dituturkan wanita itu.


"Ternyata aku salah, saat aku kembali dan berusaha merayunya agar mau kembali bersamaku ternyata Mas Anggara sangat sulit diraih. Dia sudah jatuh cinta padamu dengan cinta yang belum pernah aku terima sebelumnya"


"Aku pun tak mau menyerah, aku mendekati tante yang sejak dulu paling mendukung hubungan kami. Hingga rencana licikku untuk menjebak Mas Anggara pun berhasil. Aku berhasil membuat Mas Anggara datang ke apartementku malam-malam dan membuatnya tertidur di dalam kamarku. Aku pun mengatur semuanya, seolah-olah kami memang tidur dan melakukannya. Padahal selama pacaran, Mas Anggara selalu menahan diri untuk tidak melakukannya."


"Sebulan kemudian, aku menemuinya dan mengaku kalau aku hamil. Dia frustasi, dia bingung harus bertindak seperti apa. Di satu sisi dia tidak mau meninggalkan kamu, istri yang sangat dicintainya. Di sisi lain dia pun tidak mau disebut pria tidak bertanggungjawab karena telah menghamiliku"


"Mas Anggara terus mengulur waktu, sampai-sampai dia menutup akses komunikasi kami, dia memilih cuti besar dan tinggal lama di Garut." ingatan Rahma pun kembali ke masa lalu, saat suaminya pulang dan tiba-tiba tinggal sangat lama dengan alasan sengaja cuti karena ingin bersamanya dan melakukan program hamil.


"Ditemani tante, aku akhirnya menemui mama dan mengatakan kehamilanku dan akhirnya pernikahan kami pun terjadi karena Mas Anggara yang tidak akan pernah bisa menolak permintaan mamanya"


"Awal pernikahan kami cukup sulit, karena dia yang sering menghindar dan lebih sering menyendiri. Aku tahu di pikirannya hanya ada kamu, tapi aku tidak menyerah terus berusaha kembali meraih cintanya. Sampai akhirnya kamu mengirimkan surat gugatan cerai, Mas Anggara semakin sulit untuk aku raih. Dia asyik dengan dunianya sendiri, yaitu bekerja."


"Di tahun ketiga pernikahan kami, barulah aku merasakan pernikahan yang normal. Mas Anggara mulai memerhatikan aku saat aku hamil anak kedua, dia mulai berubah setelah aku mengancam akan menggugurkan kandunganku kalau dia tidak kembali seperti dulu saat kami masih pacaran


Dan sejak saat itu, aku pun berusaha memutuskan semua hal yang berhubungan dengan dirimu dan Athaya."


"Semua berjalan sesuai keinginanku, sampai hari itu tiba. Kecelakaan yang menimpa putriku menjadi pemantik bom waktu itu meledak. Ternyata selama ini Mas Anggara memendam sesuatu yang akhirnya meledak dengan tidak terkendali."


"Di hadapan mama dan papa Mas Anggara langsung mengucapkan talak atas diriku. Sejak saat itu semuanya berubah, duniaku runtuh Rahma. Aku tak lagi mendapatkan cinta dan perhatian suamiku, putri sulungku kritis di rumah sakit, sementara putri keduaku terus menangis menanyakan keberadaan papanya. Aku pun tak lagi mendapatkan kasih sayang dari kedua mertuaku. Keluargaku pun marah besar, mereka malu dengan perbuatanku selama ini."


Tangis Friska semakin menjadi, memikirkan kehidupannya selama satu tahun terakhir ini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.


"Sekarang, dengan tidak tahu malunya aku datang menemuimu. Aku bersujud meminta pengampunanmu, dan aku pun tidak akan menyerah sampai kamu memaafkan aku dan bersedia menolong Mas Anggara" pungkas Friska mendongakkan kepalanya, menatap Rahma dengan tatapan memohon.

__ADS_1


__ADS_2