Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kebersamaan Athaya dan Anggara


__ADS_3

Susana haru ruang rawat Anggara seketika berubah menjadi tegang karena Anggara yang kembali tidak sadarkan diri. Dokter menghimbau semuanya untuk tenang karena ini adalah reaksi yang normal untuk penderita depresi seperti Anggara. Dokter pun memberi motivasi dan harapan jika setelah sadar semoga ingatan Anggara benar-benar kembali seperti sebelumnya.


Tiga puluh menit berlalu atas permintaan papa Anggara, Rahma dan Tama masih berada di rumah sakit. Athaya kini berada di pangkuan sang kakek yang duduk berdampingan dengan mamanya Anggara. Kehadiran cucu mereka sungguh menjadi asupan energi positif untuk kedua paruh baya yang terlihat cemas karena kondisi putra semata wayang mereka.


Ceklek....


Suara pintu yang terbuka dari dalam membuat perhatian semua orang yang berada di depan ruangan tempat Anggara dirawat menoleh.


Dokter keluar dengan senyum mengembang di wajahnya, diikuti beberapa perawat yang membawa beberapa peralatan kedokteran dan berkas.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" mama Anggara segera berdiri berjalan mendekat ke arah dokter, bertanya dengan tidak sabar tentang keadaan putranya.


"Alhamdulillah, berkat do'a semua Mas Anggara sudah sepenuhnya sadar, dia berpesan untuk bisa bertemu dengan Mbak Rahma dan suaminya" jawab dokter itu membuat semua orang saling beradu pandang,


"Angga sudah sepenuhnya sadar dok?" mama Anggara kembali bertanya untuk meyakinkan, dia masih belum percaya jika sang putra sudah benar-benar sadar dan meminta untuk bertemu dengan mantan istrinya.


"Benar Bu, Anggara sudah sepenuhnya sadar. Sekarang dia meminta untuk bertemu dengan Mbak Rahma dan suaminya. Silahkan Mbak, Mas, Ade ganteng tunggu di sini dulu ya sama kakek dan nenek" dokter mengalihkan pembicaraan, dia mengusap kepala Athaya yang dituntun erat oleh sang kakek,


Athaya menoleh ke arah Tama dan Rahma, dia meminta arahan atas permintaan sang dokter.


"Thaya mau ya menunggu dulu di sini dengan kakek dan nenek? Papi sama Bunda akan menemui dulu ayah" Tama mengambil alih, dia memberi pengertian pada sang putra agar bersedia menunggu dan tak perlu diragukan lagi, Athaya memang paling menurut pada ayah sambungnya itu.


"Papi jangan lama, jagain bunda juga" pesan Athaya sebelum dia melepas genggaman tangannya dari sang papi.


"Iya sayang" Tama meyakinkan, mereka pun beradu tos sebelum kedua orang tuanya itu memasuki ruang rawat Anggara.


Sebuah pemandangan yang manis, namun sangat menohok bagi mama Anggara. Penyesalan semakin menyelimuti hati orang tua itu, andai dulu dirinya lebih sabar menanti kehamilan Rahma mungkin saat ini putranya sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Tangis pun tak mampu dielakkan lagi, mama Anggara kembali tergugu menangis tersedu karena penyesalan dan rasa bersalahnya.


"Sudahlah Ma, semuanya sudah berlalu. Sekarang kita harus bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya" papa Anggara seolah faham apa yang dirasakan oleh sang istri, dia merangkul bahu istrinya itu dan membawa serta Athaya untuk kembali duduk di kursi tunggu.


Dari jarak yang tidak terlalu dekat, Friska pun kembali menangis. Bahagia dan terluka melihat pemandangan yang ada di hadapannya, bahagia karena Anggara sudah kembali sadar dan mengingat semuanya dan terluka karena anak-anaknya sampai saat ini belum diterima lagi di keluarga besar mantan suaminya itu.


"Sudahlah tante, setidaknya tante masih punya kesempatan untuk meminta maaf pada Bu Fahma, omm Anggara dan memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik lagi." Adrian, keponakan Friska yang sedang berada di Jakarta kini membersamai sang tante yang meneleponnya beberapa waktu lalu dan menceritakan semua masalahnya.


Kedua orang tua Friska tidak bisa datang karena terlanjur malu akibat perbuatan putri mereka. Beberapa kali kedua orang tua Friska datang ke kediaman kedua orang tua Anggara untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat putrinya, namun mereka hanya diterima sebagai tamu yang mendapat sambutan kurang ramah sang tuan rumah.


"Tante tahu, tante sadar, tante tidak berhak lagi kecewa atau sakit hati. Semua ini layak tante terima sebagai hukuman dari kesalahan tante di masa lalu." ucap Friska yang mulai berubah, penampilannya kini bahkan semakin tertutup walaupun masih belum berjilbab.


"Kalau begitu ayo kita pulang" ajak Friska pada sang keponakan, tanpa pamit mereka pun meninggalkan rumah sakit setelah mengetahui jika Anggara sudah kembali sadar.


Sementara di ruang rawat tempat Anggara masih terbaring lemah, sepasang suami istri duduk berdampingan di samping ranjang pasien. Rahma menatap tubuh lemah itu, tubuh yang dulu begitu gagah kini sudah tak ada lagi.


"Maaf" kalimat pertama yang terucap dari bibir Anggara, tadi dia sudah berusaha untuk duduk namun keadaan tubuhnya sangat lemah alhasil Tama membantu agar Anggara kembali tertidur dengan nyaman.


" Rahma, terima kasih pernah hadir dalam hidupku dan maaf karena aku begitu tidak tahu dirinya karena sudah menyia-nyiakanmu. Sekarang aku sudah mendapat tegurannya, anak yang dikandung Friska ternyata bukan darah dagingku. Aku sakit Rahma, aku sangat kecewa, aku menyesal karena sudah membuang berlian demi batu kerikil. Aku sangat menyesal, aku bahkan tidak ingin lagi hidup di dunia ini, semuanya terasa sangat menyakitkan." air mata berhasil lolos dari sudut mata Anggara namun dia tidak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Rahma yang mendengarkan dengan seksama apa yang tengah dikatakannya.


"Tapi aku sadar saat kedatanganmu beberapa hari yang lalu, aku melihatmu begitu lain. Kamu hidup dengan baik sepeninggalku, bahkan lebih baik dari saat hidup bersamaku, padahal aku tahu betul seberapa dalam luka dan kesakitan yang aku torehkan di hatimu." Anggara menghela nafas menjeda ucapannya,


"Aku jadi berpikir kenapa aku tidak bisa sekuat dirimu, padahal aku laki-laki. Harusnya aku lebih kuat dan bisa memperbaiki keadaan. Sejak saat itu ingatanku mulai kembali, aku harus bangkit. Namun lagi-lagi ketika mengingat pengkhianatan yang dilakukan Friska membuat semangat hidupku kembali meredup." Tes ... Anggara kembali menitikkan air matanya.


Suasana kembali hening, Rahma maupun Tama belum mengeluarkan suara. Mereka berdua masih memberi ruang kepada Anggara untuk mengeluarkan semua isi hatinya.


"Terima kasih untuk semuanya, dan maaf atas segala kesalahan dan kekhilafanku, Rahma. Aku berdo'a semoga kamu selalu hidup bahagia." pungkas Anggara dengan tatapan mata yang berkaca-kaca dan dibalas Rahma dengan anggukan kepala dan senyum kelegaan. Rahma bersyukur Anggara sudah mulai kembali dengan kehidupan yang seharusnya.

__ADS_1


"Sama-sama Mas, aku pun berdo'a semoga Mas hidup dengan baik setelah ini karena hidup akan terus berjalan tanpa bertanya sanggup atau tidaknya kita melangkah. Masih banyak hal yang harus kita syukuri dalam hidup ini, anak-anak akan selalu membutuhkanmu." Rahma berkata dengan lembut,


"Anak..." mendengar kalimat terakhir yang disebutkan Rahma raut wajah Anggara seketika berubah. Ada kerinduan sekaligus kekecewaan di wajahnya.


"Athaya sangat mengharapkan kamu segera sehat, dia ingin mengajakmu bermain sepeda di taman yayasan." Tama menimpali, obrolan mereka beberapa hari yang lalu saat Tama menjemput Athaya dan sempat singgah di rumah yang kelak akan mereka tempati yang masih berada di area yayasan.


"Athaya...." Anggara menyebut nama putranya lirih.


"Benar Athaya, dia putramu, kamu ayah kandungnya. Jangan karena kecewa oleh Friska lantas kamu melupakan anak-anakmu. Tidak hanya Athaya yang merindukan kamu, tapi aku yakin anak-anak Friska juga merindukan kamu. Mereka adalah manusia-manusia suci yang Allah titipkan pengasuhannya padamu, tidak peduli bagaimana proses mereka terlahir ke dunia ini yang pasti Allah sudah memercayakannya padamu untuk mendidik dan merawatnya." kali ini Tama bicara panjang lebar, dia berharap pikiran Anggara lebih terbuka.


Sejak sering berkomunikasi dengan Friska perihal Anggara, sedikit banyak Tama bisa melihat perubahan pada teman jauhnya itu. Friska bahkan pernah bilang jika dia benar-benar ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak akan meminta untuk kembali bersama Anggara, baginya sekarang yang terpenting Anggara sembuh dan kembali menjalani hidup dengan baik walaupun tidak bersamanya lagi.


Friska cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih setelah semua kebohongan yang dia ciptakan. Jangankan berharap untuk diterima kembali, untuk mendapat maaf dari Anggara dan keluarganya saja dia tidak cukup berani.


Kedua anaknya sekarang tinggal bersamanya, keberadaan mereka berdua menjadi sumber motivasi untuk Friska berubah menjadi lebih baik.


"Boleh aku bertemu dengan Athaya?" tanya Anggara lirih, matanya kembali berkaca-kaca mengingat betapa dirinya abai pada putra kandungnya sendiri.


"Tentu....akan aku panggilkan" Tama menjawab mantap, dia hendak beranjak dari tempatnya duduk namun dicegah oleh Rahma yang sudah lebih dulu berdiri.


"Biar aku saja yang memanggil Athaya Mas" ucap Rahma lirih dan dijawab anggukan kepala oleh Tama yang kemudian kembali duduk di kursinya.


Pertemuan Athaya dan Anggara kembali menimbulkan keharuan, tidak hanya pria yang baru sembuh itu yang memeluk sang putra dengan tangis, tapi semua orang yang menyaksikan pun tak urung mengusap ujung mata mereka.


Kedua orang tua Anggara pun kini sudah berada dalam ruangan tempat putranya dirawat, mereka meminta maaf pada Rahma atas semua yang telah terjadi di masa lalu dan berterima kasih padanya juga Tama karena masih bersedia menjalin silaturahmi dengan baik.


Saat Rahma, Tama dan kedua orang tua Anggara terlibat obrolan yang sudah merambat kemana-mana, di atas ranjang pasien Athaya dan Anggara pun saling melepas kerinduan mereka. Kedua mengobrol banyak hal, sesekali terdengar gelak tawa keduanya, membuat orang-orang yang melihatnya pun turut tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ayah, harus sehat dan panjang umur ya. Athaya senang bisa seperti ini dengan ayah." ucap Athaya yang seketika membuat Anggara memaku, lidahnya seakan kelu untuk berucap, dia memeluk sang putra dengan mata yang kembali berkaca-kaca, kali ini tangisnya adalah tangis haru bahagia. Dalam hati dia sangat bersyukur memiliki putra yang begitu cerdas dan sangat menyayanginya walaupun selama ini dia begitu mengabaikan sang putra.


"Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan ini. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya lagi" gumam Anggara dalam hati, kebersamaannya dengan sang putra menjadi asupan energi untuknya agar segera bangkit kembali.


__ADS_2