
Hari yang ditunggu keluarga Anggara pun tiba. Jumat sore Rahma sepulangnya dari sekolah Rahma sudah bersiap, malam ini suaminya yang akan datang menjemput karena mereka akan langsung menuju Jakarta tepatnya ke kediaman tante Anggara yang akan menikahkan putranya.
Rahma sudah menawarkan diri agar dirinya saja yang datang ke Bandung dan Anggara menunggu di sana. Tapi suaminya itu bersikeras untuk menjemputnya.
"Mas, kita akan bertemu banyak orang ya di sana? semua keluargamu hadir?" Rahma memulai obrolan setelah tepat pukul delapan malam mobil yang mereka kendarai melaju menuju Jakarta.
"Iya, semua keluarga Papa akan datang, keluarga mama juga. Kenapa?" tanya Anggara sekilas menoleh ke samping dimana Rahma duduk,
"Enggak apa-apa, ini untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan mereka. Waktu pernikahan kita mereka kan tidak hadir" jawab Rahma, dia menundukkan kepalanya menahan sesuatu di hatinya yang tiba-tiba terasa menghimpit.
"Iya, waktu itu pernikahan kita terlalu mendadak. Makanya mereka gak bisa datang" jawab Anggara apa adanya,
"Kamu tenang saja, mereka semua baik-baik ko, Papa adalah anak pertama dan laki-laki satu-satunya jadi adik-adik papa dan keluarganya sangat menghormati papa. Mereka juga pasti senang bertemu denganmu" ujar Anggara yang tahu jika ada keresahan tersirat di wajah istrinya, mungkin karena untuk pertama kalinya Rahma akan bertemu dengan keluarga besarnya makanya Rahma terlihat sangat gugup, hal yang wajar. Pikir Anggara.
Pagi pun menjelang, mentari pagi sudah memanasi belahan bumi ibu kota. Pertanda jika aktivitas manusia sudah di mulai di hari yang baru itu.
Rahma sudah siap dengan pakaian yang sudah disediakan oleh ibu mertuanya, paduan warna baju dan hijab yang digunakannya sangat cantik dan pas sekali di badan Rahma. Polesan make up menambah aura kecantikan Rahma semakin terlihat sempurna, dia berdandan lebih dari biasanya karena ini merupakan momen spesial bagi sepupu suaminya.
"Sudah siap?" Anggara memasuki kamar hotel tempat mereka menginap semalam. Kedua orang tuanya sudah menyiapkannya, mereka menginap di hotel yang sama. Anggara baru saja bertemu dengan Mamanya yang mengirimkan pesan agar putranya itu datang ke kamarnya.
"Sudah Mas" jawab Rahma singkat,
"Kamu dari mana?" tanya Rahma penasaran, saat dirinya keluar dari kamar mandi dia tidak mendapati suaminya di kamar itu,
"Aku dari kamar mama, tadi mama mengirimiku pesan agar aku menemuinya di sana" jawab Anggara jujur,
"Kamu sudah bertemu mama? aku belum menemui beliau" intonasi bicara Rahma sedikit meninggi karena dia merasa tidak enak belum sempat menemui kedua mertuanya. Semalam mereka datang tepat tengah malam dan langsung masuk kamar yang sudah dipesankan.
"Sekarang kalian akan bertemu, kamu cantik sekali sayang" Anggara yang sejak memasuki kamar itu tidak melepaskan pandangannya pada Rahma. Dia tidak menyangka istrinya akan terlihat berbeda, penampilannya sangat berbeda dari biasanya.
"Alhamdulillah, terima kasih Mas. Maaf aku sedikit berdandan hanya untuk menyesuaikan. Sekarang kan momen spesial sepupumu, sepertinya kalau dandananku sama seperti ketika ke sekolah, aku takut kamu malu, atau aku...." jawab Rahma polos, dia pun menyadari jika hari ini dia tidak seperti biasanya,
"Aku suka, aku suka kamu seperti ini, cantik sekali istriku" potong Anggara menghentikan klarifikasi Rahma terkait dandanannya, dia mendekat ke arah istrinya dan menggamit pinggang sang istri posesif, dikecupnya sekilas bibir ranum yang selalu menjadi candunya. Rahma tersenyum menatap penuh cinta pada suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau luluhkan hati suami hamba. Semoga pernikahan kami abadi hingga ke surgaMu" gumam Rahma dalam hati.
Mereka pun berjalan menuju ballroom hotel tempat dilaksanakannya acara pernikahan, semua orang sudah tampak hadir di sana terutama anggota keluarga.
Beberapa mata menatap tak berkedip ke arah Anggara yang berjalan berdampingan dengan Rahma, tangan mereka saling bertaut. Anggara berjalan tegap penuh percaya diri seperti biasanya. Sementara Rahma menebar senyum penuh keramahan di wajahnya.
"Woww....pengantin baru" pekik salah satu sepupu Anggara, Rahma pun diperkenalkan oleh Anggara ke semua keluarga besar dari pihak ayahnya.
Anggara dan Rahma menghentikan langkahnya tepat di meja dimana ayah dan ibu mertuanya duduk di sana, Rahma pun menyalami keduanya dengan takdzim.
"Gue gak nyangka akhirnya lu dapet cewek bener juga" Adiya yang merupakan sepupu Anggara berkata saat mereka duduk berdua setelah acara inti pernikahan selesai,
"Maksud lu apa?" Anggara menoleh, menanggapi pernyataan sepupunya itu.
"Ya lu fahamlah maksud gue, tapi jangan dipikirkan. Sekarang gue sudah cukup senang lihat lu bahagia dengan wanita yang tepat" sambung Adiya yang tak ingin melanjutkan perbincangannya,
"Mas, mau makan sekarang?" Anggara tidak sempat menanggapi ocehan sepupunya karena Rahma yang datang dan kini berdiri di hadapannya.
"Aku sudah makan tadi menemani Ibu hamil" jawab Rahma diakhiri dengan kekehan di akhir kalimatnya, dia langsung akrab dengan istri Adiya sepupu Anggara.
"Baguslah..." balas Anggara dengan tangan yang mengusap mesra pipi Rahma,
Obrolan mereka pun berlanjut, beberapa sepupu Anggara lainnya pun turut bergabung dengan pasangan mereka. Suasana kekeluargaan tercipta penuh kehangatan Rahma lega ternyata pertemuan pertamanya dengan keluarga besar Anggara tidak semenegangkan yang dipikirkannya.
Resepsi berakhir tepat pukul tiga sore, semua keluarga masih berada di hotel yang sama. Sesuai dengan kesepakatan jika malam minggu dan hari minggu akan digunakan keluarga besar untuk berlibur bersama. Ini adalah momen langka, dan tidak disia-siakan begitu saja oleh keluarga besar Anggara.
Rahma sudah akrab dengan sepupu-sepupu Anggara. Sekitar jam lima sore mereka mengajak Rahma untuk bertemu di kafetaria hotel. Atas izin suaminya Rahma pun menerima ajakan mereka, sementara Anggara memilih berada di kamar karena lelah semalam menyetir.
"Tante, aku mencintainya" terdengar ucapan Anggara yang sedang mengobrol dengan tantenya di depan pintu kamar mereka, Rahma sontak menghentikan langkah dan memilih bersandar di balik dinding sebelum berbelok ke kamarnya,
"Kamu yakin? ko tante ragu ya" ucapan Tante Anggara terdengar mencibir, bahkan dia mengatakannya dengan tersenyum tipis.
"Menurut tante kamu itu hanya menjadikan istrimu pelampiasan karena Friska memilih pergi. Tante yakin kalau dalam hati kamu masih ada dia, cinta kamu masih untuk dia juga" sambung tante Anggara yang terdengar jelas di telinga Rahma, sesuatu yang menohok membuat hatinya berdenyut sakit.
__ADS_1
"Entahlah tante, tapi yang pasti saat ini aku bahagia dengan istriku" ucap Anggara terdengar ambigu bagi Rahma dengan kalimat yang diucapkannya.
"Istri kamu yang hanya seorang guru di kampung itu? hha...." Tante Anggara semakin pedas dengan ucapannya,
"Tante, dia istriku" Anggara mengingatkan, jika kali ini tantenya sudah keterlaluan.
"Iya, iya dia istrimu. Istri yang kamu bawa hanya untuk memenuhi selera mama mu yang kolot itu. Tante yakin dalam hati kamu masih ada Friska, dan kamu masih mencintainya. Tante hanya ingin kamu membuka mata"
"Tante, dia yang meninggalkanku" sela Anggara,
"Iya tante tahu, tapi itu untuk karirnya agar dia menjadi wanita yang sukses sehingga semakin pantas untuk menjadi pendamping kamu. Kamu tahu kan mana wanita berkelas dan mana wanita biasa saja?"
"Maksud tante, istri aku wanita biasa saja?"
" Iya, kalau harus tante jujur dia tidak pantas berdampingan denganmu. Kamu itu seorang pejabat, seorang pewaris tunggal juga. Kamu lihat kan bagaimana penampilan istri kamu, bagaimana bisa dia diajak ke acara-acara perusahaan sekelas internasional dengan penampilan seperti itu. Berbeda dengan Friska, selain cantik dia juga paling bisa beradaptasi dengan penampilannya"
Tantenya Anggara yang selama ini paling mendukung hubungan Anggara dengan Friska semakin mengompori Anggara. Saat mamanya Anggara tidak merestui hubungan mereka, tantenyalah orang yang paling terdepan membela mereka. Anggara bahkan lebih sering membawa Friska ke rumah tantenya selama mereka pacaran.
"Lagian ya, mama kamu juga pernah tuh ngeluh sama tante tentang istri kamu"
"Maksud tante?" Anggara menautkan kedua alisnya penasaran dengan ucapan tantenya,
"Mama kamu bilang, kalian sudah dua tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda istri kamu hamil. Mama kamu ingin segera punya cucu, apalagi sebentar lagi papamu juga pensiun. Mereka ingin menghabiskan masa tua dengan cucunya. Kamu sudah periksa istri kamu belum? jangan-jangan dia mandul lagi. Kalau kamu mah tante yakin sehat-sehat saja kan, dulu aja sama Friska....."
"Tante......" sentak Anggara, dia seolah mencegah tantenya mengatakan sesuatu yang tidak ingin Anggara dengar membuat tantenya membulatkan mata karena kaget.
"Tante, aku sudah memutuskan untuk hidup bersama Rahma dan aku akan menjaganya. Aku akan menerima apapun keadaan Rahma" tegas Anggara yakin,
"Benarkah? termasuk kalau ternyata dia enggak bisa memberi kamu keturunan? Kamu lihat Adiya, dia sudah mau punya anak dua. Belum lagi sepupu-sepupumu yang lain mereka pas menikah tidak lama langsung punya anak" tante Angga berkata tak kalah tegas,
"Kamu pikirkan lagi, tante yakin Friska juga masih mau menerima kamu. Bulan depan dia kembali, tante harap saat itu pikiran kamu sudah terbuka dan kamu sudah bisa memutuskan siapa sebenarnya yang layak menjadi pendamping kamu" pungkas tante Anggara, dia pun berlalu meninggalkan keponakannya.
"Mas ...."
__ADS_1