Belenggu Akad

Belenggu Akad
Tidak Tahan


__ADS_3

Yusuf membelokkan mobil ke arah Cipanas. Malam ini mereka masih akan menginap di villa yang disiapkan Regy dan Lisna. Pasangan pengantin itu bahkan seharian tidak beranjak dari sana. Setelah keluarga keduanya berpamitan dan Rahma pergi jalan-jalan, mereka berdua memilih menghabiskan waktu dengan hanya berada dalam kamar dan sesekali keluar untuk menghirup udara segar di sekitaran villa.


"Aku tidak bisa menjawab Kak, apapun yang menyangkut keputusan hidup teteh semuanya aku serahkan sama teteh, aku hanya akan mendukung apa yang membuatnya bahagia" jelas Yusuf ambigu, Tama masih belum menangkap adanya kepastian dukungan dari adik kandung Rahma itu.


"Maksud kamu?" akhirnya Tama mengungkapkan kepenasarannya,


"Semuanya terserah teteh, kalau teteh mau menerima Kak Tama sebagai pendamping hidupnya aku sih dukung aja, tapi kalau teteh mau menerima yang lain aku pun hanya bisa mendukungnya. Karena aku yakin teteh sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik" jelas Yusuf membuat hati Tama mencelos, sepertinya dia tidak akan dengan mudah mewujudkan harapannya.


"Maksud kamu......."


"Di Jakarta ada beberapa orang yang sedang mendekati teteh juga Kak" jelas Yusuf yang menangkap ketidakpahaman Tama akan penjelasannya,


"Mereka bahkan sudah sangat lama mendekati teteh" lanjut Yusuf membuat Tama seketika mematung.


"Ada temannya Aa, dia seorang hakim. Sama-sama pernah menikah dan mempunyai satu putri. Sudah lama mendekati teteh, bahkan putrinya sudah sangat akrab dengan teteh dan Athaya. Ada teman kakak ipar juga, dia Wakil CEO sebuah perusahaan besar sudah beberapa bulan ini menjalin kerja sama pengadaan snack di hotel dan restonya, sepertinya dia juga berniat mendekati teteh karena beberapa kali pernah mengirim hadiah buat teteh. Selain itu...."


"Cukup..." cegah Tama, dia tidak mau lagi mendengarkan kelanjutan cerita Yusuf, dadanya mendadak sesak seketika hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya,


"Haha....kenapa Kak?" tawa Yusuf pecah, melirik sekilas laki-laki yang berbeda cukup jauh usia dengannya kini berwajah memerah seperti menahan kesal,


"Kamu tahu, kalau aku sudah menyukai kakakmu sejak dulu?" Tama mulai bisa menetralisir hatinya, setelah mendengar penuturan Yusuf tentang laki-laki yang sedang mendekati Rahma dia semakin menguatkan tekadnya untuk mempercepat misinya menghalalkan wanita yang selalu menjadi bidadari di hatinya itu.


"Dek.....sudah sampai mana ini?" belum juga Yusuf menanggapi pertanyaan Tama, dari jok belakang sudah terdengar Rahma dengan suara serak khas bangun tidurnya,


Tama menoleh ke arah Yusuf, dia memberi kode untuk tidak melanjutkan bahasan mereka dan Yusuf pun mengerti, dia menganggukkan kepalanya kecil.


"Sebentar lagi sampai, Teh. Teteh bangun atuh biar gak pusing" jawab Yusuf dengan pandangan lurus ke depan,


"Iya ...." Rahma merenggangkan otot-ototnya,


"Tapi teteh ngantuk pisan" sambung Rahma santai, dia berbicara dengan mata terpejam. Tidak menyadari keberadaannya saat ini dan sedang bersama siapa.


"Teh, bangun...nanti pusing lho..." Yusuf kembali mengingatkan sang kakak,


"Ngantuk...." jawab Rahma lagi tanpa membuka mata, dia masih menikmati kenyamanannya menikmati tidur dalam perjalanan,

__ADS_1


"Teh bangun.... nanti teteh mah suka susah dibangunin" ujar Yusuf, mengajak ngobrol Rahma agar sang kakak terbangun,


"Kamu gendong aja teteh ke kamar...." masih setengah sadar Rahma berbicara, dia benar-benar tidak menyadari jika dirinya saat ini berada dalam mobil dengan orang lain.


Mendengar ucapan Rahma sontak membuat Tama yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan kakak beradik itu dengan tatapan lurus ke depan menengok ke belakang, dia melihat penasaran dan ternyata Rahma memang benar-benar masih memejamkan matanya.


Yusuf menahan tawa, dia yakin Rahma masih belum menyadari keberadaan Tama bersama mereka. Dengan tawa tertahan Yusuf menggeleng-gelengkan kepalanya. Membayangkan reaksi sang kakak jika dia menyadari keberadaan Tama bersama mereka dan mendengar semua yang dikatakan Rahma.


Suasana kembali hening, tampaknya Rahma memang benar-benar kelelahan. Dia kembali tertidur dengan pulasnya.


"Kakakmu biasa seperti itu?" tanya Tama memecah keheningan, dia bertanya setelah memastikan tidak ada lagi suara Rahma,


"Seperti apa?" Yusuf balik bertanya,


"Tidur di mobil dan susah dibangunin?" tanya Tama serius, dan seketika membuat tawa Yusuf pecah. Namun segera terhenti karena mendengar gumaman Athaya.


"Selalu sih enggak, tapi seringnya gitu..hehe" jawab Yusuf diakhiri dengan kekehan yang membuat Tama menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, entah apa yang dipikirkannya namun gurat kekhawatiran terlihat di wajahnya.


Mobil yang dikendarai Yusuf pun sudah terparkir di halaman villa tempat mereka menginap, suasana tampak sepi karena waktu memang sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam.


"Kak, aku mau gendong dulu Athaya, nanti mobilnya aku pindahin ke parkiran. Kak Tama kalau mau duluan, duluan saja"


"Ada yang bisa aku bantu?" Tama pun melepas seatbell,


"Enggak Kak..."


Tanpa menunggu lagi, Yusuf keluar dan membuka pintu mobil belakang, dia melihat Rahma tertidur dengan lelap. Perlahan Yusuf memangku Athaya yang tertidur di pangkuan Rahma, dia pun menggendong keponakan kesayangannya itu menuju villa.


Sementara Tama terpekur, berdiri menjaga pintu mobil yang terbuka. Menikmati bidadari hatinya yang tertidur begitu lelap di jok belakang.


Wajahnya begitu teduh, semakin lama Tama menatapnya semakin dia menemukan kecantikan alami dari wanita yang selalu bertahta di hatinya itu. Andai dia bisa memutar waktu, dia tidak akan menyia nyiakan waktu selama lima tahun kemarin. Andai dirinya tidak memilih untuk menutup diri dari berita apapun tentang Rahma, mungkin saat ini dia sudah menjadi wanita halalnya.


Cerita Yusuf tentang Rahma yang sering dipindahkan tidur dari mobil ke kamar kembali membuat hati Tama memanas. Ada perasaan tidak rela merajai dalam hatinya, walau pun Yusuf adalah adik kandungnya sendiri tapi dia lebih suka jika hal itu dilakukan oleh dirinya.


"Astaghfirulloh....mikir apa aku ini" gumam Tama,

__ADS_1


"Maaf ya Kak jadi satpam dulu..." Yusuf datang dengan buru-buru setelah menidurkan Athaya di kamarnya.


"Enggak apa-apa, santai bro ..." ucap Tama seraya mundur, memberi ruang pada Yusuf untuk membangunkan Rahma.


"Kamu mau menggendongnya juga?" tanya Tama cepat, wajahnya benar-benar menunjukan kekhawatiran.


"Haha....aku coba bangunin dulu teteh ya Kak" jawab Yusuf dengan tergelak, dan dijawab anggukan oleh Tama.


" Gini ni Kak, kalau nanti Kak Tama berjodoh sama Teteh, dia akan bikin kak Tama repot dengan hal-hal kayak gini" ucap Yusuf dengan masih menyisakan gelak tawa,


"Gak apa-apa, aku suka" jawab Tama enteng, kembali membuat Yusuf Tergelak, seulas senyum terbit seketika di wajah Tama. Mendengar perkataan Yusuf barusan membuat hatinya menyimpulkan jika Yusuf mendukung niatnya menghalalkan Rahma.


"Yess" sorak Tama dalam hati,


"Teh...teteh....bangun, kita udah nyampe..." Yusuf menggoyangkan tubuh Rahma,


"Gendong...." masih dengan mata terpejam Rahma menjawab dengan suara manjanya, sisi lain Rahma yang baru diketahui Tama. Seulas senyum kembali menghiasi wajah Tama, merasa lucu dengan fakta baru dari Rahma yang baru diketahuinya, tertidur tapi masih bisa berbicara.


"Unik..." batin Tama,


"Mau digendong sama aku atau sama Kak Tama" Yusuf berkata dengan sedikit keras berharap Rahma segera terbangun, kebiasaan Rahma yang jika kelelahan dia paling mudah tidur di perjalanan dan paling sulit dibangunkan,


"Sama........" Rahma menjawab masih dengan mata terpejam, namun terjeda seketika. Sepertinya kesadarannya mulai berdatangan setelah mendengar nama yang diucapkan Yusuf,


"Hah....Yusuf, kita di mobilnya..." Rahma membuka matanya seketika, kesadarannya belum terkumpul dia mengerjap-ngerjapkan matanya, Yusuf mundur membiarkan Rahma melihat sendiri siapa yang sedang berdiri di luar mobil dan melihat dirinya.


Mata bulat dengan bulu mata yang lentik itu mengerjap berkali-kali, memastikan pandangannya tidak salah. Dia membulatkan mata menatap sosok yang berdiri tepat di samping pintu mobil yang terbuka.


Blushh.....seketika wajah putih dibawah cahaya lampu mobil yang temaram terlihat merona, Rahma menegakkan tubuhnya dan bersiap keluar.


"Pak...Pak Tama, maaf...." ucap Rahma dengan wajah bingungnya, seketika dia menutup wajahnya karena malu,


Tama masih diam, berdiri dengan tersenyum melihat kelakuan Rahma. Sementara Yusuf dia sudah berjongkok karena tidak tahan untuk tidak tertawa melihat tingkah konyol kakaknya.


"Kalau melihat tingkah kamu menggemaskan begini, rasanya aku tidak tahan untuk segera menghalalkanmu" ucap Tama dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2