Belenggu Akad

Belenggu Akad
Serba-Serbi Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Tama kembali melaju dengan kecepatan sedang, dua wajah yang berada di dalam mobil itu menunjukkan ekspresi yang berbeda.


Tama mengulas senyum lebarnya, menandakan hatinya yang berbunga-bunga. Hampir saja dia khilap tidak mampu menahan diri untuk memeluk Rahma. Untunglah reaksi Rahma yang melotot sampai mendorong dadanya dengan tas yang ada di pangkuan calon istrinya itu membuat Tama kembali beristigfar. Namun ide jahilnya tiba-tiba muncul, dia berhasil menggoda Rahma hingga keduanya akhirnya tergelak bersama.


"Kenapa masih senyum-senyum?" tanya Rahma ketus, dia sempat kesal saat Tama tadi menggodanya.


"Mau dilanjutkan?" Tama kembali menggoda calon istrinya itu, walaupun Rahma menunjukan wajah kesalnya tapi terlihat semakin menggemaskan di mata Tama.


"Stop, fokus mas kamu lagi nyetir" sentak Rahma,


"Baik Nyonya Ardhan...." godanya lagi, Rahma hanya mendelik menanggapinya.


Calon pasangan suami istri itu pun kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya Athaya dengan obrolan ringan. Banyak hal yang baru Rahma ketahui tentang calon suaminya, dia tidak menyangka jika Tama ternyata memiliki sisi manja dan lucu.


Waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya. Persiapan pernikahan Rahma dan Tama sudah hampir seratus persen.


Pernikahan akan dilaksanakan di sebuah gedung yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kakaknya. Awalnya Bu Hakim menawarkan diri untuk mengatur semuanya. Keluarga Rahma tinggal terima beres, tetapi karena biasanya jika ada acara nikahan keluarga perempuan yang paling repot, pun demikian dengan keluarga Rahma. Mereka tidak ingin kehilangan momen itu.


Beberapa kali Rahma meminta izin pada Tama agar pernikahan mereka dilaksanakan dengan sederhana, dia pun mengiyakan keinginan calon istrinya itu dan menyerahkan semuanya pada sang Mama. Rahma pun menyerahkan semua urusan pernikahan pada kakak ipar dan Maya. Mereka berdua tampak antusias mempersiapkan semuanya. Anak-anak sudah dipercayakan pada pengasuh dan orang rumah, mereka berdua sibuk wara wiri kesana kemari. Memastikan semua kebutuhan pernikahan Rahma tidak ada satupun yang kurang.


Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu bagi keluarga Rahma maupun orang tua Tama terutama mamanya. Tinggal tiga hari lagi waktu yang ditunggu-tunggu akan segera tiba. Secara garis besar semua persiapan pernikahan sudah rampung, tetapi untuk memastikan tidak ada kekurangan dalam hal sekecil apapun kakak ipar, Maya dan mamanya Tama masih cek ini dan itu.


"Kakak, jangan terlalu capek. Aku gak mau lho kakak kecapean gara-gara menyiapkan semuanya." Rahma menghampiri kakak iparnya yang sedang berada di ruang kerjanya di toko yang tidak jauh dari rumah. Terlihat kakak ipar sedang sibuk menelepon menanyakan kabar kesiapan setiap vendor yang bertanggungjawab dalam acara pernikahan Rahma.


H-3 Rahma sudah mengajukan cuti dari kegiatan mengajarnya. Dia pun sudah tidak pergi ke toko, semua urusan toko sudah diserahkannya pada karyawan kepercayaannya. Dia pun sudah tidak mengantar dan menjemput Athaya sekolah. Ada A Budi yang setiap pagi mengantarnya, dan Yusuf yang setiap selepas makan siang menyempatkan diri untuk menjemput keponakan kesayangannya.


(Assalamu'alaikum. Sayang, sedang apa?)


Satu pesan masuk ke ponsel Rahma, dari layar ponsel yang tiba-tiba menyala itu Rahma tahu siapa pengirim pesan. Sudah Empat hari mereka tidak bertemu sejak terakhir kali kebersamaan mereka saat membersamai Athaya mengikuti lomba pildacil tingkat kota.

__ADS_1


Atas anjuran dari dua keluarga, seminggu menjelang hari H keduanya sepakat untuk tidak bertemu sampai hari pernikahan tiba.. Berat memang, apalagi untuk Tama. Sejak lamarannya diterima dan diputuskan akan segera menikah Tama benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tidak bisa untuk tidak bertemu wanita yang selalu menjadi bidadari hatinya itu.


Tidak ada lagi Tama yang datar dengan senyum seperlunya. Sejak saat itu wajah ceria selalu terlihat, menandakan hati yang bahagia. Sang mama bahkan sudah sering menggoda putranya, dia bisa melihat dan merasakan sendiri perubahan sang putra yang lebih bersemangat dan terlihat bahagia. Berbeda dari sebelum-sebelumnya saat belum bertemu dengan Rahma.


"Kakak tidak capek, justru kakak sangat senang melakukannya. Terima kasih sudah memercayakan semuanya pada kakak, kakak sangat bahagia dan terharu diposisikan sebagai pengganti Ibu oleh kalian" Kakak ipar menghentikan aktivitasnya, dia berbicara serius dengan tatapan penuh kelembutan pada adik iparnya, matanya pun berkaca-kaca. Sebagai anak tunggal yang sejak kecil sudah ditinggal kedua orang tua karena kecelakaan membuatnya sangat menyayangi keluarga suaminya. Mereka duduk di berhadapan, terhalang meja kerja tempat kakak ipar memantau aktivitas toko kuenya.


"Terima kasih Kak, sehat selalu dan panjang umur" do'a Rahma tulus,


Ting...


Notifikasi pesan masuk kembali terdengar dari ponsel Rahma,


(Sayang!)


Pesan dari nomor yang sama membuat Rahma mengulas senyum. Dia tahu, calon suaminya itu tidak akan berhenti mengiriminya pesan sebelum mendapat balasan yang memuaskan darinya.


"Siapa? Tama?" dari gestur Rahma kakak ipar langsung bisa menebak siapa pengirim pesan di ponsel adiknya itu.


Kakak ipar hanya mengulas senyum, dia senang melihat Rahma lebih ceria. Dia benar-benar sudah move on daru masa lalunya, pikir kakak ipar. Kakak ipar masih ingat betul bagaimana Rahma melalui hari-hari beratnya pasca perceraian dalam keadaan mengandung. Apalagi latar belakang utama perceraian itu terjadi karena perselingkuhan mantan suaminya.


"Kalau begitu cepat balas, jangan sampai dia tiba-tiba datang kemari. Ingat, kalian lagi dipingit tidak boleh bertemu" ujar kakak ipar dengan senyum lebarnya.


"Iya Kak" Rahma pun beranjak dari tempat duduknya, menuju teras belakang ruang kerja kakak ipar yang terhubung dengan taman belakang rumah mereka.


'Wa'alaikumsalam. Aku lagi ngobrol dengan kakak ipar, Mas' pesan balasan Rahma untuk Tama.


(Ngobrolin aku ya?)


balasan dari Tama begitu cepat. Sejak hari ini diapun sudah tidak datang ke kantor dan memilih memantau pekerjaannya dari jarak jauh.

__ADS_1


'Ish...ge er, sudah ya aku mau ngebantu-bantu kakak. Dia lagi ngecek-ngecek lagi persiapan untuk acara kita'


Rahma berusaha mengakhiri percakapan mereka melalui aplikasi pesan itu. Dia tahu Tama tidak akan mudah berhenti jika terus dilayani. Sudah hampir empat hari mereka tidak bertemu, hampir setiap jam calon suaminya itu menghubunginya.


Merayu ingin video call, namun dengan lembut dan penuh kesabaran Rahma menolak. Athaya selalu jadi alasan untuknya bisa bervideo call. Bocah itu pun sudah semakin dekat dengan Tama. Hampir setiap malam mereka bervideo call bahkan sampai Athaya terkantuk-kantuk dan berakhir layar yang kosong.


(VC dulu ya!)


Bujuk Tama dengan emot memohon dan menitikkan air mata. Membuat Rahma kembali mengulas senyum saat membaca pesan itu.


'Athaya nya sedang sekolah, Mas' balas Rahma cepat,


(Aku mau VC dengan Bundanya Athaya)


Balasan pun datang tak kalah cepat masuk ke room chat Rahma.


'Tunggu tiga hari lagi. Assalamu'alaikum' pungkas Rahma mengakhiri berkirim pesannya dengan Tama.


(Eh)


(Sayang)


(Sayang, kamu kemana?)


(Hey....Yang ...)


Rahma hanya membaca dari layar pipih di genggamannya yang masih menyala namun sudah keluar dari aplikasi berkirim pesan. Pesan bertubi-tubi yang dikirim Tama dia abaikan dan hanya mengulas senyum sambil geleng-geleng kepala mengingat kelakukan calon suaminya itu.


(Baiklah Yang, aku mengalah. Wa'alaikumsalam)❤️❤️

__ADS_1


Pesan terakhir yang Tama kirim diakhiri dengan emot dua buah hati.


__ADS_2