Belenggu Akad

Belenggu Akad
Tangisan Tama


__ADS_3

Rahma melenggang memasuki ruang pertemuan yang nyaman untuk keluarga itu. Dia mengabaikan Tama yang masih mematung menatap ke arahnya.


"Naura aku bisa jelaskan" Tama menghadang Rahma, sontak membuat Rahma menghentikan langkahnya. Dia menatap di balik punggung Tama tiga orang wanita tengah memberinya kode untuk mengikuti permainan yang sudah mereka buat.


"Naura, aku menolak perjodohan ini. Aku sudah sampaikan pada kedua orang tuaku jika aku sudah mempunyai pilihanku sendiri" ucap Tama dengan wajah cemas, dia terlihat ketakutan jika Rahma tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


Belum juga kekagetan Tama berakhir, dari arah pintu masuk sudah datang Budi, dia pun mengucapkan salam dan memasuki ruangan itu.


"Mas Budi..." Tama tampak kembali syok, dia menatap Budi yang juga tengah menatapnya.


"Lho ... Mas Tama di sini juga?" Budi yang sudah diberitahu sang istri tentang rencana Ibu Hakim mengerjai putranya dengan santai bertanya.


"Mas, saya..." Tama kembali kehilangan kata-kata, belum juga dia memberi penjelasan pada Rahma kini sudah datang Budi yang juga perlu penjelasan Tama.


"Saya sedang ada acara keluarga, perkenalkan ini kedua orang tua saya" Tama beralih pada mama dan papanya yang tampak menjadi penonton pertunjukan sang putra.


"Dan mereka..." Tama melirik tiga orang yang sejak tadi sudah ada di sana,


"Mereka keluarga sahabat orang tua saya" Tama memperkenalkan Maya, kakak ipar dan Adam. Budi sedikit terkekeh saat mendengarnya, dia hampir tidak bisa menguasai dirinya.


"Naura, aku akan jelaskan" Tama beralih pada Rahma yang ada di belakangnya, Rahma hampir saja tertawa karena melihat Maya yang terus membalikan badan dengan bahu yang berguncang.


"Silahkan Pak" jawab Rahma serius,


"Ma, Pa, ini Naura, namanya Naura Rahmania" Tama menggiring Rahma agar berdiri sejajar dengannya.


"Dia wanita yang sudah mencuri hatiku sejak tujuh tahun yang lalu. Dulu aku optimis untuk bisa mendapatkannya setelah kembali dari luar negeri tanpa harus mengikatnya terlebih dahulu. Tapi ternyata aku salah, ketika aku kembali ternyata dia sudah menjadi milik orang lain. Aku akui aku kecewa saat itu, kecewa pada diriku sendiri yang terlalu percaya diri jika wanita ini masih akan menungguku. Aku marah pada diriku sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperjuangkan cintaku." Tama terlihat sendu, dia menundukkan kepala menghindari sesuatu yang mendesak ingin keluar dari matanya.


"Saat itu aku merasa kehilangan arah, tujuan hidupku sudah tak berwujud. Tidak ada yang ingin aku raih lagi. Harapan papa dan mama padaku selama ini sudah aku penuhi. Pendidikanku selesai sesuai harapan papa dan mama, kepemimpinan di perusahaan pun sudah aku lanjutkan dengan baik. Semuanya berjalan lancar dan sesuai ekspektasi mama dan papa tapi ternyata tidak dengan kisah cintaku" Tama mendongak, menatap kedua orang tuanya. Bu Hakim sudah tidak mampu menahan air matanya, sejak tadi dia ingin sekali memeluk putra satu-satunya itu. Putra yang selalu menjadi kebanggaan keluarga.


"Ma, Pa, walaupun dulu aku sempat menerima kehadiran wanita pilihan mama dan papa tapi sejujurnya di hatiku masih di penuhi dengan nama yang sama. Maaf jika aku menerimanya hanya karena ingin menyenangkan mama dan papa. Aku berusaha untuk ikhlas walaupun sangat berat, asalkan mama dan papa bahagia. Namun ternyata semesta pun tak merestui" Tama kembali menghela nafas menjeda bicaranya,


"Ma, Pa, sekarang wanita yang selalu menjadi bidadari di hatiku ada di sampingku. Aku sudah melamarnya, dia wanita istimewa, wanita hebat, dan wanita kuat. Dia kembali hadir dalam hidupku plus bonus dengan putranya yang membuatku merasakan hidup yang lebih bermakna. Aku tidak hanya jatuh cinta padanya, tapi juga pada putranya yang sangat menggemaskan dan selalu membanggakan" Tama menatap dalam pada Rahma, tatapan yang penuh cinta dia khusus berikan untuk bidadarinya, Rahma sampai tersipu dengan pipi yang langsung memerah mendapat ungkapan cinta yang begitu indah dari pria di hadapannya itu.


"Apapun tanggapan mama dan papa, tidak akan merubah keputusanku untuk menghalalkannya" pungkas Tama kembali menghadap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sejenak keheningan tercipta di ruangan itu. Semua orang anteng dengan pikirannya masing-masing. Rahma masih tidak percaya jika Tama berani mengungkapkan semuanya di hadapan kedua orang tua juga keluarganya.


"Tapi Kak Tama harus tahu kalau mama dan papa kak Tama sudah melamar kakakku" suara Maya mengembalikan kesadaran semua orang,


"Maaf untuk itu, aku rasa itu bukan urusanku. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dalam hidupku. Aku pun berharap mama dan papa mengerti" Tama memandangi Maya dan kedua orang tuanya bergantian.


"Rahma sudah menerima pinangan sahabat orang tua kami" suara Budi kembali menjadi perhatian, Tama pun langsung menatap Rahma dengan tajam, kecemasan kembali menyergap hatinya.


yx


"Naura, benarkah itu?" tanya Tama cepat,


"Katakan jika kamu tidak menerima lamaran keluarga sahabat almarhum orang tuamu. Katakan kalau kamu sudah lebih dulu menerima lamaranku"


"Maaf, Pak..." jawab Rahma menggantung, namun mampu membuat hati Tama seketika bagai tertimpa batu besar.


"Apa maksud kamu? Katakan dengan jelas" tanya Tama tegas, dia masih menaruh harapan jika kesimpulannya salah, kata maaf yang diucapkan Rahma bukan berarti dia sudah menerima lamaran laki-laki lain.


"Teh Rahma sudah menerima lamaran sahabat orang tua kami untuk putranya" kali ini Maya yang menjawab, membuat Tama sejenak mengalihkan pandangannya. Namun segera dia kembali menatap Rahma. Tatapan yang penuh dengan kekecewaan sekaligus harapan.


Deg.......dunia Tama kembali runtuh, sesuatu seketika bergejolak dalam dadanya dan mendesak untuk keluar, namun dia berusaha untuk menahan diri sadar akan keberadaannya saat ini. Kendatipun demikian raut wajah kecewa tergambar jelas di wajah Tama.


"Naura ... kamu tega" ucapnya lirih, Tama menjatuhkan tubuhnya di kursi yang tadi sempat dia duduki, dia menundukkan kepala mencerna semua yang didengar dan dialaminya hari ini.


Keheningan kembali tercipta, semua orang masih memfokuskan perhatian pada Tama yang masih duduk dengan posisi menunduk.


"Kalau begitu saya permisi" Tama berdiri, dia menatap kedua orang tuanya sekilas bahkan Rahma dia abaikan begitu saja.


"Jadi Pak Hakim, kapan kita akan melaksanakan acara pernikahannya?" Tama yang sudah satu langkah menuju pintu keluar tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah sumber suara. Tama yakin itu adalah suara Budi, kakak dari wanita yang sangat dicintainya.


Tama menautkan kedua alisnya, dia tampak berpikir kenapa Budi menanyakan rencana pernikahan pada papanya.


"Kami ingin secepatnya Nak Budi, tapi sepertinya putra kami masih galau" sindir Pak Hakim dengan tatapan tertuju pada putranya, Tama masih terlihat bingung.


"Saya sangat berharap adik saya ini segera ada yang menjaga, kami akan sangat bahagia ketika dia pun bahagia" Budi merangkul bahu Rahma, dia saling pandang dengan sang istri yang juga menganggukan kepalanya dengan senyum penuh kasih.

__ADS_1


"Iya Pak, kami sangat berharap teteh segera menemukan kebahagiaannya dengan orang yang tepat" Maya maju melakukan hal yang sama seperti yang Budi lakukan.


"Apa lagi ini maksudnya?" Tama sudah tidak tahan dengan kebingungannya,


"Assalamu'alaikum Bunda...." namun suara Athaya berhasil mengalihkan perhatian semua yang ada dalam ruangan itu,


"Eh ada om ganteng" Athaya mengulurkan tangannya untuk menyalami Tama, dia memasuki ruangan itu menuju tempat Tama berdiri, di belakangnya Yusuf dan keempat keponakan lainnya pun mengikuti Athaya.


"Lho...Yusuf?" Tama kembali terkejut,


"Assalamu'alaikum Kak, sudah lama datang? Selamat ya, akhirnya harapan kakak terwujud. Aku titipkan Teteh sama kakak. Aku percaya Kak Tama bisa menjadi suami sejati untuk teteh sekaligus ayah yang baik untuk Athaya. Jadi kapan nih rencana pernikahannya?" Yusuf yang tidak tahu menahu tentang drama nge prank Tama berbicara panjang lebar, Tama mencerna setiap kalimat yang Yusuf ucapkan. Dia pun mulai menarik benang merah.


"Mas, kopinya sudah dingin, diminum dulu ya" kakak ipar yang sejak tadi diam mendekati suaminya yang masih berdiri dengan jarak tidak terlalu jauh darinya, dia menyerahkan secangkir kopi pada suaminya.


"Terima kasih sayang" Budi mengulas senyum pada istrinya,


"Jadi Mbak ini istrinya Mas Budi?" Tama mulai mengurai kebingungannya, bertanya yang entah ditujukan pada siapa. Tidak ada yang menjawab, semua orang hanya mengulum senyumnya.


"Iya Kak dia kakak ipar serasa ibu bagi kami, istri dari kakak kami tercinta Mas Budi, dan aku, kenalkan aku Maya adik perempuan Teh Rahma sekaligus kakaknya Yusuf" Maya yang sudah tidak tahan melihat kepolosan Tama yang membuatnya gemas langsung bicara mengulang memperkenalkan dirinya.


"Jadi sahabat orang tua kamu yang melamar kamu adalah...." Tama beralih menatap Rahma meminta jawaban.


"Itu adalah kami, orang tuamu. Dan kami datang ke sini untuk melamar Nak Rahma untuk kamu, Nak" Pak Hakim memotong perkataan Tama, dengan senyum menjelaskan pada sang putra.


"Papa..." Tama menutup mulutnya, kembali terkejut dengan fakta ini.


"Tapi sayang, kamu kan menolak untuk menikah dengan wanita pilihan mama, padahal mama sudah memakaikan cincin lamaran di jari mbak Rahma" Bu Hakim pura-pura merajuk, dia mengulum senyum melihat respon putranya yang tampak syok.


"Jadi...." Tama tidak bisa menutupi kebahagiaannya,


"Jadi kamu mau tidak menikah dengan wanita pilihan mama?" sentak Bu Hakim menarik Rahma agar berdiri di sampingnya.


"Ini ni wanita pilihan mama dan papa, namanya Naura Rahmania, dan ini bonusnya" Bu Hakim juga menuntun Athaya ke sampingnya yang berdiri di dekat Rahma.


"Mama..." Tama sudah tidak bisa menahan keharuannya lagi, dia berhambur ke pelukan sang mama dan menumpahkan tangis bahagianya di balik punggung wanita yang telah melahirkannya itu. Tama menangis sejadi-jadinya di pelukan sang mama, kecewa, marah, terluka yang tiba-tiba berubah menjadi bahagia tak mampu membendung air matanya.

__ADS_1


"Jadi kalian mengerjaiku?" ucap Tama di sela tangisnya, kompak tawa semua orang pun akhirnya pecah.


__ADS_2