
Suasana terik terasa menyengat hingga ke ubun-ubun, seorang wanita berjilbab lebar tengah duduk di sebuah taman di depan bangunan yang tampak ramai dengan lalu lalang anak-anak remaja dengan buku dan tablet di tangannya.
Rahma menarik nafas dalam, suasana terasa lebih sejuk dengan duduk di taman tepat di bawah pohon yang cukup rindang itu. Untuk pertama kalinya dia keluar dari rumah setelah selama sebulan lebih berada di Jakarta.
Tidak banyak yang berubah dari aktivitasnya selama di Jakarta ini, menulis dan menjadi tutor di aplikasi pembelajaran online masih Rahma lakukan seperti biasanya. Keadaannya yang sedang hamil muda terlihat cukup baik, dia sama sekali tidak merasakan ngidam atau morning sickness seperti wanita yang hamil muda pada umumnya. Sepertinya sang janin sangat memahami keadaan ibunya. Saat ini dirinya tengah ada janji temu dengan pimpinan Lembaga tempatnya menjadi mentor belajar dalam jaringan yang memang berkantor di Jakarta.
Anggara masih suka menghubungi Rahm melalui pesan singkat karena jika menelepon Rahma.tidak pernah mengangkatnya, dengan dalih menanyakan kabar kandungan mantan istrinya itu sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah terhadap anaknya, Rahma pun hanya seperlunya menjawab. Walau bagaimanapun dia harus menciptakan batasannya sendiri tidak ingin menjadi sumber masalah dalam keluarga mantan suaminya.
Anggara pun tidak lupa mengirimi Rahma uang bulanan bahkan dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, dia sempat menolak namun Anggara bersikeras melakukannya kembali dengan dalih jika itu semua dia lakukan untuk anak dalam kandungan Rahma yang merupakan darah dagingnya. Rahma sampai membuat rekening baru untuk itu, biarlah dia menerima apa yang Anggara berikan toh itu untuk anaknya dan dia tidak ingin mengganggunya.
”Assalamu’alaikum, Mbak Rahma” seorang perempuan yang diperkirakan usianya lebih senior dari Rahma datang menghampiri, penampilannya tidak jauh beda dengan Rahma, bergamis longgar, kerudung lebar hanya berkaca mata, itu yang sedikit membedakan penampilannya dengan Rahma.
“Wa’alaikumsalam, Mbak Yuni” jawab Rahma ramah, mereka pun bersalaman dan saling memeluk di pertemuan pertama mereka di dunia nyata setelah sebelumnya mereka hanya bisa bersua di dunia maya.
“Alhamdulillah, senang sekali rasanya akhirnya bisa bertemu dengan Mbak Rahma langsung. Terima kasih ya, sudah menyempatkan waktunya untuk datang” ucap wanita yang dipanggil Mbak Yuni oleh Rahma.
Banyak hal yang mereka perbincangkan, dari mulai masalah pekerjaan sampai masalah pribadi dengan saling bercerita tentang keluarganya. Mbak Yuni yang memiliki pembawaan supel dan mudah akrab membuat Rahma pun nyaman mengobrol dengannya. Dalam hati dia bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti wanita di hadapannya di tempat batu ini.
“Saya pernah menikah dan saat ini sedang sendiri Mbak” jawab Rahma dengan kepala tertunduk Ketika Mbak Yuni menanyakan tentang statusnya.
“Ouh...maaf jika pertanyaan saya membuat Mbak Rahma tidak nyaman” Mbak Yuni pun mengklarifikasi pertanyaannya,
“Tidak apa-apa Mbak” jawab Rahma Kembali menatap teman yang baru ditemuinya di dunia nyata itu dengan tersenyum, selama ini mereka cukup berhubungan baik walaupun hanya melalui dunia maya.
“Jadi bagaimana? Apakah tawaran saya diterima?” pembicaraan mereka pun kembali ke hal pokok yang menjadi alasan pertemuan mereka hari ini.
__ADS_1
Saat mengetahui jika sekarang Rahma berdomisili di Jakarta Mbak Yuni langsung menghubunginya dan menawarkan untuk menjadi tutor di lembaga bimbingan belajarnya secara langsung.
“Saya belum bisa memutuskan Mbak, saya harus mendiskusikannya dulu dengan kakak dan adik saya. Kebetulan di Jakarta ini saya tinggal menumpang di rumah kakak saya" jawab Rahma apa adanya,
“Baiklah, silahkan didiskusikan terlebih dahulu dan saya harap keputusan yang Mbak Rahma ambil adalah menerima penawaran saya. Semenjak Mbak Rahma bergabung di lembaga belajar kami, jujur semakin banyak para pelajar yang masuk dan bergabung bersama kita. Mereka memberikan testimoni yang sangat baik tentang Mbak Rahma dan saya pun sependapat dengan mereka” puji Mbak Yuni dengan penuh harap Rahma mau menerima tawarannya menjadi tutor bimbingan belajar offline karena lembaganya memang sangat membutuhkannya.
“Insya Allah Mbak, secepatnya akan saya kabari keputusannya. Tapi satu lagi….” Rahma menjeda ucapannya, dia tampak ragu untuk mengatakannya,
“Kenapa Mbak? Katakan saja” sahut Mbak Yuni,
“Saat ini saya sedang mengandung. Apakah tidak apa-apa jika saya menjadi pengajar di tempat Mbak?” ucap Rahma ragu,
Mbak Yuni sedikit terhenyak mendengar penuturan Rahma, pasalnya saat ini Rahma tidak terlihat seperti sedang mengandung karena pakaian longgar dan jilbab lebar yang dikenakannya. Mbak Yuni pun memindai Rahma dari atas sampai bawah, mencari pembenaran dari informasi yang disampaikan Rahma, tatapannya bahkan terpusat lama ke arah perut Rahma.
“Iya Mbak, usia kandungan saya sudah lima bulan dan saya khawatir jika ini akan berpengaruh pada lembaga Pendidikan Mbak jika ada pengajar yang sedang hamil seperti saya” tegas Rahma,
“Tidak-tidak, bagi saya hal itu tidak masalah justru saya mengkhawatirkan kesehatan Mbak Rahma dan kandungannya apakah tidak apa-apa jika mengajar?” Mbak Yuni balik bertanya, harapannya sangat besar jika Rahma bisa bergabung di lembaganya tapi saat mengetahui jika Rahma sedang hamil, kekhawatiran pun timbul di pikirannya.
“Insya Allah kandungan saya baik-baik saja Mbak” jawab Rahma melegakan, dia pun mengusap perutnya yang berbalut hijab sehingga sedikit terlihat jika dirinya sedang mengandung karena perutnya terlihat membuncit,
“Alhamdulillah kalau tidak apa-apa, saya sangat berharap Mbak Rahma bisa bergabung dengan kami secepatnya” ujar Mbak Yuni senang,
Perbincangan mereka pun berlanjut seputar kehamilan, Mbak Yuni dengan senang hati berbagi pengalaman kehamilannya. Wanita yang sudah dikaruniai 3 anak, dua putri dan satu putra itu menceritakan pengalaman hamil ketiga anaknya, Rahma sangat senang dia banyak belajar tentang kehamilan dan melahirkan dari wanita yang bernama lengkap Yuniar Wijaya itu.
Saking asyiknya bercerita tidak terasa adzan Ashar pun berkumandang dimana-mana dan menghentikan obrolan mereka. Mbak Yuni mengajak Rahma memasuki ruangannya untuk melaksanakan shalat Ashar.
__ADS_1
Seperti malam-malam sebelumnya, kakak beradik yang tinggal satu rumah itu selalu menyempatkan berkumpul selepas makan malam di ruang keluarga, Rahma yang sedang mengandung pun sering bertanya tentang kehamilan kepada kakak iparnya, dan dengan senang hati sang kakak ipar selalu menjawab pertanyaan Rahma dan begitu memperhatikan keadaan adik iparnya itu. Pengalamannya hamil dan melahirkan dua orang anak membuatnya banyak tahu apa saja yang dirasakan dan dibutuhkan saat sedang hamil. Sebagai seorang kakak, dia sangat perhatian pada adik iparnya itu, termasuk Yusuf yang saat ini juga melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta.
"Kak, kapan Aa pulang? ada yang ingin aku sampaikan pada kalian tapi mau nunggu dulu Aa biar sekalian" Rahma mengambil jeruk yang ada di atas piring di meja kecil yang terletak di samping mereka yang duduk lesehan di atas karpet di ruang keluarga. Yusuf yang sedang asik bermain dengan dua keponakannya pun sempat menoleh mendengar Rahma berbicara seperti itu.
"Aa sebentar lagi pulang" suara deru mobil menghentikan perkataan kakak iparnya, sepertinya orang yang mereka bicarakan sudah pulang. Malam ini Yusuf sudah mengabari jika akan pulang setelah makan malam dengan rekan kerjanya, dia mengabari jika dirinya tidak akan makan malam di rumah karena ada kegiatan lain di luar kantornya.
"Nah itu sepertinya Aa pulang" lanjut kakak ipar setelah suara mobil terdengar berhenti tepat di garasi rumah mereka,
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Budi pun bergabung dengan istri, anak dan adik-adiknya, dia sangat terlihat bahagia saat tahu Rahma dan Yusuf bersedia tinggal dengannya di Jakarta, selain karena ada yang akan menemani istri dan anaknya di tempat baru, Budi juga lebih tenang karena adik-adiknya kini lebih dekat dengannya. Hanya adik keduanya Maya yang jauh, namun dia pun tenang karena Maya bersama dengan orang yang lebih berhak atasnya yaitu suaminya.
"Aa, Kakak, Dek ada yang mau aku sampaikan" ucap Rahma mengawali obrolan serius mereka, dia pun menceritakan pertemuannya dengan Mbak Yuniar dari mulai awal bertemu secara daring sampai pertemuannya tadi siang Rahma ceritakan semuanya tidak ada yang terlewat. Jarak dari rumah kakaknya ke tempat bimbingan belajar itu hanya sekitar empat puluh lima menit menggunakan mobil.
"Kamu bagaimana, bersedia?" Budi balik bertanya pada adiknya itu, dia tidak akan memutuskan sendiri semuanya tergantung Rahma,
"Aku sih mau...." jawab Rahma pelan, dia melirik adiknya Yusuf yang masih diam menyimak apa yang disampaikannya,
"Dek, kalau menurut Kakak itu adalah awal yang baik untuk mengawali hidup barumu. Selama kamu mampu dan baik-baik saja kenapa tidak dicoba, jika nyaman lanjutkan jika tidak berhentilah jangan sungkan" Kakak ipar Rahma pun mulai memberikan masukan, dia kembali bergabung setelah menidurkan kedua anaknya di kamar.
"Hidup kamu harus terus berjalan dengan semestinya, Dek. Jangan hentikan langkahmu hanya karena badai yang menghampiri, badai itu bukan untuk dinikmati melainkan untuk dilewati. Jika kamu terus berada di titik ini bukannya malah bisa terbebas, tetapi malah semakin terjerumus ke dalamnya. Ingatlah di dunia ini tidak ada yang abadi, begitupun dengan kesedihan dan penderitaan. Keduanya bisa sirna jika kamu bisa menanganinya, teruslah jalani hidupmu. Jika badai saat ini kamu tidak kuat bagaimana dengan badai-badai selanjutnya, bukankah Allah menciptakan hidup dan mati sebagai ujian untuk kita?" Kakak ipar merangkul bahu Rahma yang duduk tepat di sampingnya,
"Jadikanlah masalah ini sebagai guru, yang bisa mengajarimu banyak hal dan tetap berdiri dalam keadaan apapun. Jadikan pula ini sebagai musuhmu, lawanlah jika dia melawanmu, jangan menjadi lemah ketika musuh menginginkanmu jatuh." Kakak ipar semakin mengeratkan rangkulannya,
"Kakak tahu malam-malammu selalu dihiasi dengan air mata, kakak tahu menjadi kamu dengan posisimu saat ini bukanlah hal yang mudah. Namun kakak yakinkan sama kamu kalau kamu tidak sendiri Dek, ada kami di sini yang akan selalu ada untukmu"
Rahma sudah tidak mampu menahan air matanya, apa yang dikatakan oleh kakak iparnya semuanya benar. Sekuat apapun dirinya berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya ternyata dia tidak mampu. Selama ini keluarganya tahu apa yang dia lalui setiap malam, hanya mereka memilih untuk diam menghargai usaha Rahma untuk tetap tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
__ADS_1