
Uwa Nuri usai sholat isya, dia kembali ke dapur, melanjutkan kue pesanan untuk haqiqahan anak kepala dusun setempat, di dapur sudah ada Anna yang memixer adonan, sementara Rasti mengawasi kue yang terpanggang dalam oven. Melihat ponakannya, wanita itu selimuti rasa haru, meski tak memiliki anak dari rahimnya sendiri, tetapi dia bisa merasakan jadi ibu seutuhnya dengan kehadiran ponakan-ponakannya.
"Semua hampir selesai, sisa manggang adonan terakhir, sedikit lagi. Setelah itu kalian makan lalu istirahat." Ucapnya.
Anna yang mengingat cerita Bu Minah langsung bertanya pada Uwa Nuri.
"Uwa,tadi Bu Minah kesini, katanya ada orang yang berpenampilan kaya datang bertanya-tanya tentang almarhum kakek, dan keluarga kita."
Uwa Nuri terkejut. "Dia datang kah di rumah kita?"
"Tidak, Wa. Cuma di Bu Minah saja." Jawab Anna dengan tangannya yang masih memutar mixernya.
Uwa Nuri malah diam, sesuatu yang sempat ia lupa telah terbayang di benaknya, suatu amanah yang pernah di serahkan untuk di jaga agar semua terhubung dengan benar sesuai keinginan almarhum Bapaknya, Lambau.
"Apakah ini sudah pertanda." Lirih Uwa Nuri dalam hati.
"Uwa tahu tentang itu?" Tanya Anna penasaran.
__ADS_1
Terkejut, Uwa Nuri terbata-bata.
"Tidak, tidak, Nak. Kamu selesaikan adonan ini.uwa masuk kamar dulu untuk mencari balsem." Jawab Uwa Nuri mengeles.
Anna hanya mengangguk.
Uwa Nuri bergegas ke kamarnya, menutup pintu dengan rapat, dia membuka lemari pakaian yang sebagian lapuk di makan anai, mencari sesuatu di bagian terdalam, suatu yang bertahun-tahun ia simpan bila waktunya tiba, dia akan memperlihatkan pada yang berhak.
" Di mana, ya Allah. Apa aku lupa naruh dimana." Gerutunya meraba-raba bagian ujung lemari.
"Alhamdulillah, sampai sekarang ini masih awet." Ucapnya mengusap kaleng peninggalan bapaknya.
"Sangat rindu dengan almarhum bapak."
"Ini isinya apa, ya? Pasti ini sangat penting untuk bapak karna aku saja yang di beri tahu." Gumamnya.
tetesan bening itu menetes di kedua pipinya,kerinduan yang amat berat pada sang ayah yang sangat di kenal baik.
__ADS_1
Pak Lambau salahsatu pejuang di daerahnya, melawan tentara Belanda pada masanya,pria yang tak gentar akan suara senjata api yang amat mengerikan. Sesosok yang juga sangat di takuti para tentara Belanda. Maka dari itu, sampai sekarang ini, keluarga mereka sangat di segani sebab nama Pak Lambau selalu di kenang para masyarakat di tanah Luwu itu.
Rasanya ingin membuka kaleng itu, Uwa Nuri begitu penasaran dengan isinya, namun karna penghormatannya yang begitu besar pada sang ayah, ia mengurungkan niatnya, sebab ada yang lebih berhak, dan itu bukan dirinya.
"Yang terhubung itu maksud bapak apa, ya? Harta kah? Atau apa? dan apa hubungannya sama Anna?" Uwa Nuri kebingungan.
"Waktu yang di bilang bapak dulu, pasti tidak lama lagi akan terjadi. Memikirkan rahasia ini, kepalaku benar-benar pusing, balsemku mana, ya." Gumamnya yang memijat kepalanya.
Uwa Nuri kembali menyimpan kaleng berbentuk bulat itu ke dalam lemarinya lalu kembali ke dapur memantau kedua anak gadisnya.
"Bagaimana, Na, kuenya sudah matang" Uwa Nuri berusaha mengelabui.
Anna yang melihat Uwa Nuri bergelagap aneh,mm menimbulkan kecurigaan, Uwa Nuri tipe orang yang sangat ekspresrif dalam bersikap, sebagai ponakan yang sejak lahir mengenal Uwanya, tentu dia paham betul akan setiap sikap tantenya itu.
"Ini pasti ada sesuatu." Lirih Anna yang sesekali mencuri pandang di Uwa Nuri.
*********************
__ADS_1