
Lima bulan kemudian, suara tangisan bayi meriuhkan istana korain. Dae Jung pun sudah di rawat di rumah dengan di dampingi dua dokter dan lima perawat khusus. Meski belum juga sadar tapi dia bisa mendengar semua kalimat yang di lontarkan padanya. Dia juga mampu mendengar tangisan si kembar, Haneul dan Micha.
"Sayang, itu ayah .." kata Anna saat menggendong Haneul, bayi laki-lakinya. Sedang Micha, bayi perempuannya di gendong oleh Bu Nas.
Tangan mungil Haneul di letakkan di wajah Dae Jung. Bayi berwajah bulat itu menepuk pelan pipi ayahnya. Suara racau tersengar nyaring, seakan dia berkomunikasi pada ayahnya.
Sementara Micha di letakkan di kaki Dae Jung. Bayi cantik itu malah tertawa riang, seperti bermain dengan seseorang, padahal Anna dan Bu Nas pada saat itu gamang meratapi Dae Jung.
"Hei, anak gadis tertawa, kamu tertawa dengan siapa?" tanya Anna.
Micha tatapannya terarah ke kursi kosong di depan Anna. Tertawa cekikian seperti sedang di gelitik. Anna tersenyum melihat kedua bayinya. Dari dulu Dae Jung selalu bilang dia ingun memiliki anak perempuan.
"Dia tertawa dengan siapa Bu Nas?" tanya Anna mulai merinding.
Bu Nas tak menjawab.
"Hei si gendut, kamu tertawa sama siapa sih, nak?"
Haneul dan Micha tumbuh jadi anak yang subur. Layaknya bayi khas Korea pada umumnya. Tak ada sedikit pun pada kedua anak itu menandakan keturunan Indo, semua mirip ayahnya, Kim Dae Jung.
Da.dad..ada.. racau Haneul pada kursi kosong itu. Michi masih tertawa.
"Jika ayah bangun, pasti kalian akan selalu tertawa seperti ini, bahkan dia tak mau ke kantor karena kalian," liirh Anna dalam hati.
Tangan Haneul terulur ke kursi kosong itu lagi, sepert ingin menyentuh sesuatu.Setelah itu dia tertawa cekikikan. Sangat lucu.
Dae Song dan Ji Yeong tiap hari memutar otak agar korain tetap stabil tanpa Dae Jung. Namjn tetap saja hoki itu hanya pada Dae Jung. Korain hanya bisa di atasi oleh ayah Haneul dan Micha semata.
Kakek Hang hanya menyibukkan diri mengawasi cicitnya. Tak ingin lagi terjun lada korain, dia sangat mempercayakan itu pada Dae Song dan Ji Yeong yang memiliki otak standart.
"Apakah kamu mendengarku?" bisik Anna pada Dae Jung.
"Jika kau bisa mendengarku, aku tetap mencintaimu, aku dan si kembar akan selalu menantikan kamu bangun," tutur Anna.
"Nona, kata biksu yang pernah ku temui, orang yang koma itu rohnya berkeliaran, bisa saja tuan Kim ada disekitar kita," ucap Bu Nas.
Anna mengerutkan alis. Di agama islam dia juga pernah mendengar itu. Bahkan ketika seseorang tidur pun ada hadist yang mengatakan roh kita berkelana. Makanya banyak yang selalu bermimpi berada di tempat berbeda dan tak jarang menemui orang yang sudah meninggal dunia.
"Begitu Bu Nas?" tanya Anna.
__ADS_1
"Iya, Nona, sepengetahuan ku begitu, karena banyak sudah yang terjadi," papar Bu Nas.
Anna melirik ke suaminya, benarkah itu? bila benar, dia merasa senang, Dae Jung tetap mengawasinya dan juga kedua anaknya.
"Aku tahu, kami pria bertanggung jawab, di kondisi kamu seperti ini, pasti kamu ingin tetap menhaga kami," ujar Anna yakin.
Doktet sudah ada lagi masuk ke kamar rawat Dae Jung. Dia barus saja dari rumah sakit untuk mengecek hasil kesehatan Dae Jung.
"Nona, kami semua sudah mengecek di lab, tuan Dae Jung masih belum bisa menyatu dengan paru-paru itu," kata dokter.
"Jika begitu suamiku tidak akan pulih?" tanya Anna.
"Iya Nona, kami sementara mencari solusi."
"Jika koma, sampai kapan itu berlangsung, maksudku, ah .." Anna tak mampu melanjutkan kalkmatnya. Ini berat bila membahas kesehatan Dae Jung.
Kedua dokter itu diam. Dia memahami perasaan istri pasiennya itu.
Anna pamit dari kamar rawat Dae Jung. Tak sengaja dia berpapasan dengan Dae Song yang di sampingnya ada Minzi, sekertaris pribadinya. Karena Yuna enggan menjadi sekertaris kakak Dae Jung itu. Dia lebih memilih menjadi sekertaris Ji Yeong saja.
Minzi tersenyum pada Anna yang menyembabkan mata. Dae Song melihat itu ingin memeluk Anna lalu menenangkannya.
Anna menyembunyikan raut kesedihannya. Dia membuang pandang ke arah luar jendela. Dia harus tampak tegar di mata siapapun termasuk Dae Song.
"Aku ingin ke kamar dulu," pamit Anna berlalu ke kamarnya.
Dae Song masih memandangi kepergian Anna dari arah belakang. Minzi memutar mata kesal akan hal itu. Dia tahu, bosnya itu mencintai adik iparnya. Kabar itu di di dengar langsung dari mulut Dae Song sendiri. Padahal, gadis berdarah manado itu sudah berjuang untuk tembus di korain melalui seleksi yang ketat dari Yuna.
"Dialog Korea*
"kau kenapa melihatku kesal?" tanya Dae Song pada Minzi.
"Tidak, Pak."
Dae Song kembali ke bawah, dia hanya datang ke rumah untuk memastikan si kembar dan Anna baik-baik saja. Buat Minzi lelah tiap hari itu di lakoni. Perhatian Dae Song pada Anna ia anggap berlebihan.
"Kamu siapkan bunga dan hadiah tas mahal desiner dunia, besok ulang tahun Anna," titah Dae Song pada Minzi.
Minzi tiada henti mengerutu dalam hati. Dia menyukai Dae Song tapi pria itu sangat acuh padanya, padahal bila di bandingkan oleh Anna, Dia merasa lebih cantik.
__ADS_1
Ada Jun Hyun yang datang. Ada bunga dan hadiah di tangannya. Dae Song tersenyum miring.
"Kau datang memberi untuk Anna?" tanyanya.
"Bukan, ini untuk Bu Nas," sahut Jun Hyun mengelabui.
"Kau jatuh cinta pada Bu Nas? sebentar lagi dia akan menikah dengan koki Choi," papar Dae Song.
"Kalau begitu untuk Anna saja," sergah Jun Hyun berllau masuk ke rumah.
"Hei, Anna itu masih jadi istri Dae Jung," teriak Dae Song.
Jun Hyun hanya ingin menghibur Anna. Tak ada maksud lebih, lagi pula dia tahu aturan islam sekarang. Tak ingin dia merebut hak orang lain.
***************
Anna berjalan sendiri di taman bunga Kekek Hang. Dia membayangkan saat-saat bersama Dae Jung dulu. Betapa tampannya senyuman itu. Piknik bersama, bahkan ciuman mereka lakoni di taman bunga itu.
Anna memejamkan mata. Dia membayangkan sosok Dae Jung di sampingnya. Mengenggam tangannya, tersenyum padanya.
"Aku merindukan moment saat kita bersama disini .." Lirih Anna.
Anna membuka mata, dia melihat bayangan Dae Jung tersenyum padanya. Mengusap pipinya.
"Aku ada disini, tidak pernah meninggalkanmu, " ujar bayangan itu.
Anna memelik bayangan suaminya. Dia menangis sesegukan. Di hari ukang tahunnya, Dae Jung bekum juga bisa memberikannya selamat.
"Aku butuh kamu, Haneuk dan Micah butuh kamu, kembalilah ..kembali pahlawanku," tutuur Anna memohon. Bayangan Dae Jung ikut pula menangis. Anna tahu ini khayalan. Tapi kenapa bayangan itu ikut menangis pula saat memeluknya? ah cinta, kau memang anugerah terindah untukku.
"Kim Dae Jung .. dia pangeran korain yang membawa musim semi di hati Anna yang dulunya gersang. Pria seribu kehangatan beserta penuturan cinta tulusnya.
Kim Dae Jung .. sosok yang selalu di rindukan bagi siapa saja yang mengenalnya. Hati nurani tak pernah ia lenyapkan bila itu menyangkut kebahagiaan orang lain. " Lirih Anna pada bayangan itu.
Tamat ..
*******
Note: udah rilis nih di sebelah, 😇😇
__ADS_1