
Anna berlari ke kamarnya, membawa barisan pertanyaan Dae Song yang mengusik batinnya. Dia duduk di sofa, apa sebenarnya sudah terjadi pada dirinya? mengapa ketika Dae Song msmbicarakan Baek Hyeon, ada Deja Vu bersiluet di pelupuk matanya.
Kejadian ini sama seperti saat terjadi pendemo Korain di Indonesia. Dia melihat seperti ada banyak api dan peperangan. Yama dan Baek Hyeon? apakah benar sudah reinkarnasi padanya? jika benar, siapa sebenarnya Baek Hyoen? apakah itu memang Dae Jung atau Dae Song? namun faktanya, Dae Junglah yang menikah dengannya. Ah, hilanglah pikiran setan ini. Hardik Anna.
"Anna kau kenapa?" tanya Dae Jung, Anna tidak menyadari kehadiran suaminya yang sudah ada di kamar sebelum dia datang.
"Tidak, mungkin bawaan hamil." Anna melerai.
"Apakah ada sesuatu yang mengusik jiwamu?" Dae Jung menyelidik. Anna memang tak pandai berkelik bila itu pada suaminya, Dae Jung sudah sangat mengetahui ekspresi emosionalnya.
"Apa kamu percaya reinkarnasi?" tanya Anna serius.
Dae Jung mengerutkan dahi. Sebagai pria modern tentu dia tidak percaya itu, manusia tidak akan hidup di dunia sebanyak dua kali. Tapi, bila kisah terulang kembali pada setiap individu itu bisa saja terjadi.
"Aku tidak percaya, manusia hanya hidup sekali, tapi bila takdir, itu bisa terulang kembali."
Anna masih tidak mengerti. Sangat terlihat istrinya kebingungan.
"Maksudku begini sayang, orang yang sudah mati takkan kembali lagi. Itu rahasia Tuhan, tapi kamu sendiri kan bilang tidak ada reinkarnasi."
"Iya, tapi kenapa aku melihat siluet masa silam? seperti wajah nenek Yama dan Kakek Baek Hyeon."
"Benarkah? kau melihat barusan? apa sebabnya?" tanya Dae Jung yang juga terkejut.
Anna tergugu. Tidak mungkin bila dia beritahu Dae Jung tentang Dae Song menyatakan cinta padanya, ini akan jadi pertengkaran besar antara saudara. Lagi pula, Anna tidak akan menanggapi hal itu. Dae Song tipe pria yang sering bercanda. Mungkin saja, ini candaan kakak iparnya.
"Anna, kau belum menjawab pertanyaanku." Dae Jung pensaran.
"Itu pertanda dari Tuhan, apa yang baru saja kau lihat? apa yang menyebabkannya?" tanya Dae Jung lagi.
Anna tak menjawab, dia juga tak ingin berbohong. Lebih baik dia diam saja. Dae Jung akan mengerti, diamnya adalah bentuk belum siap untuk menjawab.
"Ya sudah, kalau kamu tidak ingin jawab. Kita turun ke taman, aku mengajakmu untuk berkeliling di sekitar kebun Kakek."
Anna menurut saja, dia membawa istrinya turun ke bawah, tak sengaja dia berpapasan lagi dengan Dae Song di tangga. Anna memalingkan wajah, pura-pura melupakan kejadian tadi.
"Kalian mau kemana?" tanya Dae Song.
"Kami mau ke keliling taman, mau ikut?" Dae Jung menimpal.
"Tidak." Dae Song melanjutkan langkahnya naik ke atas. Sementara Dae Jung dan Anna turun ke bawah.
__ADS_1
Dae Jung berjongkok memakaikan sendal istrinya. Dia memang tipe suami yang romantis. Selalu merendahkan hati bila menyangkut Anna. Dae Song dari lantai atas melihat itu mengerutu sendiri.
"Perempuan manja !!" sangat kesal dengan keromantisan Anna dan Dae Jung.
Di kebun milik Kakek Hang yang masih dalam kawasan rumah Korain, Anna dan Dae Jung begitu bahagia. Seakan balas dendam dengan semua kesedihan belakangan ini.
"Ini buah apel Kakek sudah matang," imbuh Dae Jung memasukkannya ke dalam keranjang.
"Aku akan buatkan kamu jus apel nanti." Kata Anna.
"Tidak usah, aku yang akan buatkan nanti."
Mereka melanjutkan lagi ke kebun anggur, Kakek Hang dan karyawan taninya sukses membuat kebun buah di area rumah Korain, hampir semua jenis buah ada di kebun bila musim semi.
"Aku bahagia," Ucap Anna memandangi teduhnya wajah Dae Jung. Suaminya begitu tampan. Tak pernah berubah, maha karya Allah.
"Jika kamu bahagia, ini, cium disini." Pinta Dae Jung mendekatkan pipi kanannya pada Anna.
Anna mencium penuh cinta.Bekas lipgloss melekat di pipi lembut Dae Jung. Dia berharap, kebahagiaan ini akan selalu bersama mereka berdua. Jika sudah kembali ke Indonesia, mereka akan mulai kebahagiaan yang lebih lagi.
Dari atas lantai tiga rumah, sepasang mata Dae Song menyorot mereka dari jauh. Sungguh cemburu, sebisa mungkin dia menahan agar rasanya pada Anna hilang, namun semakin dia lenyapkan, rasa itu ingin keluar dari persembunyiannya.
"Dae Song, ada apa denganmu?" lirihnya sendiri.
Ini tidak benar lagi, dia harus mengelabui, Tinggal berdiam diri di rumah cara yang tidak benar, Dae Song akan keluar rumah mencari hiburan. Dia menelpon Ji Yoeng.
"Apa kau bisa membatuku?" tanyanya pada Ji Yeong.
"Bantu apa?" suara Ji Yeong terdengar.
"Kita ke club malam ini. Aku lelah di rumah trus." Pintanya.
"Kau gila, jantungmu bisa kumat."
"Bila di rumah terus jantungku bisa meledak. Melihat mereka .." Lirih Dae Song yang belum melepaskan pandangan dari Anna dan Dae Jung.
"Mereka siapa?"
"Taman dan kebun, sudah kamu dimana? aku dan Pak Su dan kedua bodyguard akan jemput kamu."
"Aku di kantor sekarang." Sahut , dia terpaksa, bila tidak, kasihan Dae Song. Pikirnya.
__ADS_1
Menjemput Dae Song melancong ke Club malam mewah teman Ji Yeong. Disana Dae Song booking bar khusus dirinya dan Ji Yeong.
"Apa tidak masalah bila kau minum?" tanya Ji Yeong khawatir pada jantung Dae Song.
"Aku setiap hari minum di Busan." Sahut Dae Song meneguk minumannya.
"Kau ada masalah? bingung karna Ayah? "
"Itu juga. Sudahlah, jangan tanya lagi. Aku mau habiskan semua isi botol-botol itu." Dae Song menunjuk ke rak memajang berbagai minuman.
Ji Yeong hanya menggeleng. Tingkah Dae Song terlihat masalahnya sangat berat. Ayahnya benar-benar keterlaluan, memanfaatkan Dae Song. Hingga ketenangan anak Kim Do Hang itu tertekan.
Dae Song dua jam bergelut dengan minuman, Ji Yeong hanya minum seteguk saja. Sementara Dae Song, belasan botol minuman import ia habiskan, kicauan sudah banyak terucap tak jelas dari bibirnya.
"Ya ampun, Dae Song dan Dae Jung memang memiliki watak yang berbeda." Sepanjang hidupnya bersama Dae Jung, Ji Yeong tidak pernah melihat Dae Jung melakukan hal ini.
"Kau melihatku mata sipit?? Hekk!!!" Di luar kesadaran, Dae Song mulai mengumpat pada Ji Yeong.
"Mata sipit !!!! Wajahmu seperti kucing saja." Lanjut Dae Song sesekali ada tawa menlengkapi.
Ji Yeong meraba wajahnya, benarkah dia seperti kucing? inikah alasan Yuna menyukainya, sebab Yuna juga pecinta kucing? Ji Yeong menghela nafas.
"Andaikan kau tidak mabuk, sudah ku patahkan lehermu." Kecam Ji Yeong kesal.
"Anna, Anna..." Nama itu lepas dari mulut Dae Song. Wajahnya tampak bersedih.
Ji Yeong memasang telinganya dengan baik. Suara Dae Song tidak jelas di pendengarannya.
" Anna, kenapa harus Dae Jung ...aku setiap malam melihat bayangan itu. Aku Baek Hyoen .....Kamu harus tahu itu....hekk." Kicauannya begitu nyaring.
'Apa yang di maksud Dae Song' lirih Ji Yeong.
Dae Song meraih kedua pipi Ji Yeong.
"Kau tahu Anna? apakah kau tahu siapa Baek Hyoen? aku Baek Hyoen, bukan Dae Jung. Aku yang di sembunyikan di goa, aku yang di sembunyikan Ayahku." Imbuh Dae Song yang sudah memikirkan itu seharian.
Ji Yeong terkejut. Ada apa dengan Dae Song. Ji Yeong makin terkejut saat Dae Song memanyunkan mulut ke arahnya.
"Ayo Anna, cium aku juga, Ayo sini mummmm" Dae Song makin bernafsu pada Ji Yeong yang meihat itu bayangan Anna.
"Kau menggelikan Dae Song !!" Ji Yeong menjauhkan diri dari Dae Song yang sudah mabuk berat.
__ADS_1