
Ampun! itu yang di katakan Anna dalam hati, Bora makin liar saja pada suaminya, Bora memeluk Dae Jung bercerita tentang masa lalu mereka yang indah-indah, di masa SMP, SMA hingga saat kuliah di Korea dan Sidney, buat Anna mengiggit bibir bawah menahan kekesalan.
"Oppa, kamu ingat ini foto-foto kita saat di namsan tower, kita pasang gembok cinta, sampai sekarang kuncinya ini masih ku simpan." Ujar Bora membuak kotak kecil berisikan kenangannya bersma Dae Jung.
Anna mengerutkan alis, mata sesekali mencuri pandang ke sesuatu yang di pegang oleh Bora, foto kenangan itu sangat mesra seperti cinta monyet pada umumnya. Namsan tower? ya Allah, rupanya Dae Jung pernah kesana bersama Bora. Mengapa suaminya itu tidak memberitahunya? jika dia tahu, mana mungkin dia melakukan ritual yang sudah pernah di lakoni bersama mantannya itu, seklumit kicauna Anna dalam hati.
"Sehabis pulang dari sini, kamu harus jawab semuanya." Geram Anna dalam hati untuk Dae Jung.
Dae Jung hanya menuruti Bora melihat semua kenangan itu, sesekali dia juga melirik ke arah Anna.yang pura-pura tidak melihat kehadiran mereka disana, ada rasa kasihan di hatinya, sebab Anna terperangkap dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan itu.
"Bora, aku haus, bisakah kita minum dulu." Dae Jung mengelabui agar menjauh dari Bora.
Bora mencari kedua perawatnya, namun tenaga medis yang Ibunya bayar sangat mahal itu tak ada di kamarnya, alhasil tak ada jalan lain, baginya Anna adalah pekerja juga untuknya, menyembuhkannya adalah tugan perempuan muslim itu, tentu dia pasti di gaji oleh Dae Jung, pikir Bora.
"Anna, tolong ke bawah ke dapur untuk beritahu Bibi buatkan minum." Pinta Bora pada Anna.
"Hem?" Anna tersentak.
"Bisa?" Tanya Bira menunggu jawaban.
Dae Jung menampakkan wajah marah, baru kali ini istrinya di perintah oleh orang lain tepat di hadapannya.
"Dia bukan pesuruh, Bora." Sahut Dae Jung.
"Oppa, saya bukan menyuruhnya, saya meminta tolong." Bora memelas.
Karna tak ingin melihat perdebatan itu, Anna mengiyakan saja.Dia pamit dari kamar meninggalkan Dae Jung dan Bora, dia rasa itu lebih baik ketimbang mendengar nostalgia mereka yang memanaskan hati Anna.
"Ha, jika mereka selalu bercerita tentang itu, membangkitkan jiwa saiko ku dari kuburannya." Anna mengerutu sembari menuruni anak tangga.
Jiwa saiko Anna yang di maksud ketika emosi Anna selalu meledak tak terkendali, semua bisa di lakukan hingga tingkah konyolnya buat orang-oramg di sekita kesal, semua pernah di lakukan dulu pada mantan kekasihnya, Faiz.
"Dapur rumah ini dimana lagi? ini nih, kalau bikin rumah seperti untuk hunian sekampung, tamunya kan jadi bingung." Celetuk Anna kebingungan mencari posisi dapur.
__ADS_1
Anna melangkah ke arah belakang ruang tamu, bukan dapur yang ia temukan, melainkan ruang tamu kedua. Dai melangkah lagi ke arah samping kanannya, lagi-lagi bukan dapur, tetapi ruang keluarga yang banyak berderet tiga ruangan yang Anna yakini itu kamar, setelah sekian lama menjelajahi posisi rumah Bora, Anna hampir putus asa, namun tiba-tba ada saura menyeru dari belakang.
"Kamu mencari siapa?" Itu Bibi Nami.
"Syukurlah, Bibi dapur rumah Bibi mana?"
"Kenapa? ada yang sesuatu yang kamu perlukan?"
"Iya, Bi. Saya mau ambil minum untuk Bira dan Dae Jung, mereka kehausan."
"Baik, ikut aku." Sahut Bibi Nami melangkah ke arah depan.
Anna terkesima, rupanya dapur rumah itu berada di depan, bukankah dapur posisinya biasa di belakang? Entahlah, orang kaya mah bebas. Imbuh Anna dalam hati.
"Ini dapurnya, di dalam kulkas banyak yang bisa kamu suguhkan untuk mereka. Asistentku semuanya sedang keluar, jadi maaf. Bisa kamu yang kerjakan saja? Aku letih semalaman menjaga Bora." Ujar Bibi Nami memegang belakang lehernya.
"Iya, saya saja yang menyiapkannya, Bi."
"Saya Sekolahnya di Indonesia, hanya menengah saja." Jawab Anna paa adanya, berbohong sangat oantang untuknya, meski itu akan di anggap rendah oleh Bibi Nami.
"Tidak pernah kuliah?"
"Iya."
Bibi Nami tertawa geli, dia melihat Anna seperti mengejek, dia tidak menyangka saingan anaknya sangat di bawah standart.
"Apakah kamu dari kalangan rendah, maksudku miskin?" Tanya Bibi Nami lagi.
"Sejenis itu." Sahut Anna.
Perasaannya biasa-biasa saja, toh itu memang semua benar, dia memang miskin dan pekerjaannya hanya sebagai pelayan resto dan kasir laundry, jadi apapun itu dia tak merasa tersakiti.
Bibi Nami terkekeh lagi, jawaban Anna menghiburnya yang tadinya was-was menjadi hilang sebab wanita itu sangat tidak sepadan dengan Bora.
__ADS_1
"Ini namanya, cinderella di nikahi pangeran .. aku tahu sekarang, kamu lanjutkan buatkan minum mereka, aku mau istirahat dulu, jaangan masukkan racun ke dalam minuman itu." Bibi Nami memperingatkan.
Dia meninggalkan Anna yang menganga, kehadirannya memang sangat tidak di senangi.
"Ya Allah, Bibi itu benar-benar tidak menyukaiku, seharusnya dia bersyukur aku mengizinkan suamiku bertemu anaknya." Ketus Anna kesal.
Anna membuat Jus jeruk tiga gelas, dia tiada henti mengerutu mengingat ucapan olokkan Bibi Nami,
"Bibi itu mengingatkanku dengan Ibu tiriku, sepertinya mereka di lahirkan di species yang sama." Ujar Anna sembari menuang es batu ke dalam gelas.
Setalah semua selesai, Anna membawanya fi atas nampan dengan perasaan tak karuan, semoga gelas itu tidak ada yang jatuh setelah membuka kamar melihat kondisi Dae Jung dan Bora. Semoga saja suaminya itu bisa menahan diri untuk tidak di sentuh oleh mantannya, Batin Anna.
Anna mengetuk pintu terlebih dulu, suara Bora dari dalam mengizinkannya masuk. Terlihat kedua anak manusia itu sedang duduk dengan posisi biasa-biasa saja, jika tidak, maka gelas-gelas itu akan melayang di wajah keduanya.
"Ini minumannya, Nona Bora." Ujar Anna meletakkan di atas meja.
"Bora, kau sudah memperlakukan istriku sebagai pembantu." Kecam Dae Jung dalam hati sangat kesal, sebab di rumahnya Anna sebagai ratu yang siap di layani puluhan pelayannya.
"Terima kasih." Ucap Bora tersenyum.
Bora mengambil salahsatu gelas itu lalu menyodorkan ke mulut Dae Jung, namun pria itu menolaknya dengan kasar, hingga jus itu tertumpa di selimut Bora.
"Oppa, apa yang kamu lakukan?" Bora terlihat sangat sedih dengan sikap kasar Dae Jung padanya, tetapi mantan kekasihnya itu tak peduli dengan keadaan hatinya.
Anna tahu, reaksi Dae Jung itu natural dari penolakannya, sebagai istri yang sebulan menaung di bawah satu atap dengan pria itu, dia sudah banyak tahu bila Dae Jung bersikap kasar berarti ada yang sesuatu yang tidak di senangi olehnya.
"Nanti saya bersihkan, Nona Bora minum punya saya saja." Anna menenangkan suasana yang tiddak bagus itu.
"Dengar Anna, kamu bukan pembantunya. Kamu itu psikolognya." Tegas Dae Jung.
Bora makin terkejut, Dae Jung memang sudah sangat berubah, sikap pria yang ia cintai sudah tak sehangat dulu pada dirinya, ini bukan harapannya yang semalaman menunggu esok kehadiran Dae Jung menjeguknya.
Bora menangis tersedu, begitu tersakiti oleh sikap Dae Jung.
__ADS_1