
Waktu terasa begitu lambat, harapan korain masih sama, menunggu Dae Jung membuka mata. Esok malam Anna di jadwalkan untuk operasi caesar. Kali ini Anna mengubur harapannya, harapan di temani Dae Jung saat persalinan, lagi-lagi ucapan keikhlasan penawar segala kekecewaan yang ada.
Cinta masih tetap sama, pada rotasinya tak berpindah ataupun di kikis oleh waktu atau keadaan yang mengikat. Bisikkan hati Anna masih bersua, 'Ya Allah, buatlah suamiku bisa mendidik kedua anaknya kelak.'
Anna duduk di samping suaminya. Wajah Dae Jung masih sama, tetap tampan dengan binaran ketulusannya. Anna memainkan jari di hidung lancip suaminya, dulu ketika dia mengusik tidur Dae Jung dengan memainkan jari seperti itu, tangannya langsung di sergap oleh Dae Jung hingga Anna tenggelam dalam pelukannya. Tetapi kali ini berbeda, gamang, tak ada respon cinta dari pria berahang kukuh itu. Tak ada gerakan lembut menyentuh tubuh Anna lagi. 'Aku ikhlas, aku ikhlas!' Tegas Anna lagi menyergah akal dan hatinya.
"Besok aku akan di operasi, anak kita akan lahir, semoga kamu bisa melihatnya dalam mimpi," ucap Anna padanya.
Setelah lahiran nanti, Anna akan kurang berinteraksi dengan Dae Jung. Waktunya akan di sibukkan mengurus sepasang bayi kembarnya. Tugas itu akan di serahkan pada Ji Yoeng menjaga dan meninjau perawat khusus Dae Jung.
Dari luar ada Dae Song yang melihat Anna memeluk tubuh adiknya. Tak ada cemburu di hatinya, meski cinta itu masih tetap bernaung di ruang yang sama. Dae Song hanya berpikir bagaimana adiknya pulih agar mereka bisa berdebat lagi karena cemburu pada satu wanita.
"Kenapa hanya berdiri disitu?" tanya Kakek Hang mengagetkannya.
Kakek Hang datang bersama Ji Yoeng dan Pak Lee.
"Aku tidak ingin menganggu Anna," sahut Dae Song.
"Kita masuk, Anna butuh dukungan, keponakanmu besok akan lahir, kau harus gantikan adikmu sementara untuk mengurus semuanya," ujar Kakek Hang, karena Ji Yoeng sudah terlalu banyak di kerjakan, Yuna mengurus segala persiapan meeting tanpa perwakilan presdir, hingga Bu Nas dan Dae Song harus mengambil alih menjaga Anna saat operasi esok.
"Kakek," seru Anna dengan kehadiran kakek Hang, dan kedua kepercayaan korain itu.
Mata kakek Hang mulai sembab lagi bila melihat kondisi Dae Jung sekarang, sejak kecil Dae Jung sahabatnya. Teman berceritanya. Semua yang di katakan oleh kakeknya suatu perintah Tuhan untuk ia turuti, bahkan saat di paksa menikahi Anna, cucunya itu mengenyahkan egoisnya demi membahagiakan kakek Hang.
"Ha, cucuku yang pintar ini, kau sudah lama berbaring, apakah kau tidak ingin bersama kakek main golf? kau tidak ingin olahraga? biasanya kau yang paling marah bila kakek malas-malasan, sekarang kau yang malas-malasan seperti ini," ujar Kakek Hang pada Dae Jung. Tak ada kalimat turut di balas oleh suami Anna itu, hanya suara eletrokardiograf berbunyi menandakan pacu jantung Dae Jung.
"Benar, Kek. Bahkan dia setiap hari minta temani gym, sekarang sudah berapa bulan dia tidak gym," Anna menimpal.
"Hm, dengar itu, istrimu suka pria yang kuat, kau harus kuat," ketus Kakek Hang agar sedih mereka berkurang dengan mencandai Dae Jung. Dia harap cucunya itu mendengar di alam bawa sadarnya. Kakek Hang tahu, bila permasalahan fisik, Dae Jung sangat sensitif dia ingin terlihat sempurna termasuk pada pasangannya, Anna.
Dae Song mengeleng. Dia lebih punya cara jitu lagi yang bisa mengasah alam bawa sadar Dae Jung. Dia mendekat ke arah adiknya. Rasa sedih Dae Song tak ia tampakkan.
"Dae Junga, jika kau masih berdiam begini, akan ku rebut Anna darimu," kata Dae Song usil.
Plak!!
__ADS_1
Tongkat kakek Hang melayang di kepala Dae Song.
"Apa yang kau katakan?!" Kakek Hang geram pada cucu pertamanya itu.
"Kakek, aku hanya katakan apa yang ku pikirkan, itu cara membuat dia marah," ketus Dae Song mengusap-usap kepalanya yang nyeri.
Kakek Hang merasa tidak enak pada Anna. Ji Yeong dan Pak Lee hanya bisa menghela nafas. Dae Song memang sering buat mereka kesal, tapi juga sekaligus menghibur.
"Maafkan Dae Song, Anna. Dia hanya bergurau," ucap Kakek Hang pada menantu tersayangnya.
Anna hanya membalas senyuman. Dia tahu, kakak iparnya itu hanya mencandai saja. Melihat pengorbanan Dae Song yang rela mati demi dia, Anna tak sudi bila harus marah ataupun kesal pada kembaran suaminya itu.
Rasa ingin bercanda telah lenyap, perlahan Dae Song mendekati adiknya.
"Adikku, cepatlah sembuh, ada banyak orang merindukanmu, aku sangat rindu jadi kakak dari adik sebaik dirimu, Dae Jungku adikku," kata Dae Song mengusap kepala adiknya, tanpa ia sadari rasa hafu itu hadir hingg membuahkan kristal bening menumpuk di kedua matanya. Sebagai tipe pria maskulin, dia malu menampakkan air mata itu, namun cinta persaudaraan begitu kuat dari Tuhan hingga mengenyampingkan itu semua.
************
Operasi caesar Anna akan berlangsung, Dae Song dan Bu Nas menunggu di kamar operasi. Tangan Anna menenteng tasbih, menutup mata sembari membayangkan Dae Jung ada di dekatnya. Menyemangati juga memberikan usapan lembut.
'Sayang, kamu pasti bisa, ada aku disini ..kuatlah demi anak kita ..'
Sayatan demi sayatan di lakukan dokter Yee Rim begitu pula menyayat hati Anna, hanya hitungan menit kedua anaknya akan lahir tanpa ada sosok ayah menyambutnya. Tak kuasa, Anna meneteskan air mata lagi. 'Kuat Anna, kuat, Dae Jung akan marah bila kamu menangis,' imbuhmya dalam hati.
Doktet Yee Rim menarik paksa bayi itu keluar dari pintu darurat yang ia buat.
Oekk .. oek .. suara tangisan bayi pertama terdengar riuh di kamar operasi, Anna mulai banjir air mata, di menit kemudian, terasa ada sesuatu lagi yang di tarik paksa keluar dari rahimnya.
Oek ..Oek ..suara bayi kedua juga menggema di bersama bayi pertamanya. Anna mengeraskan suara menangis bersama ketiga anaknya.
"Dae Jung, huhuuhuhu ..anak kita sudah lahir .."
Doktet Yee Rim pun ikut menangis. Terakhir kali dia melihat tawa Dae Jung saat mengantar Anna USG kala itu. Sebagai dokter yang menangani kelahiran Dae Jung dan Dae Song, dokter Yee Rim ikut merasa sedih dengan kelahiran anak Dae Jung di tengah kondisi seperti ini.
Anna di perlihatkan bayi kembarnya oleh kedua suster. Benar, itu sepasang bayi kembar, kedua bayinya menangis menyorakkan kehadirannya di dunia. Meraung mengabarkan kelahirannnya pada seluruh isi rumah sakit itu. Suara bayi kembar itu lantang seakan menegur bumi yang sudah menyakiti ayahnya.
__ADS_1
"Sayang, ayah ada di sebelah sana, panggil ayah Nak ..panggil ayah kalian .." ucap Anna pada bayi kembarnya.
Suara bayinya makin menggelegar.
"Panggil ayah nak, ayah Dae Jung nak .." Anna memberi semangat pada kedua bayinya.
Mahluk Tuhan yang baru lahir itu pun merasakan kesedihan kedua orangtuanya sejak masih dalam kandungan, hanya saja mereka mengekspresikan lewat tangisan.
"Dae Jung, anak kita lahir, anak kita lahir ..." kata Anna juga ikut memanggil.
Bu Nas dan Dae Song saat itu mendengar tangisan bayi dari kamar operasi, mereka terkesiap, suara bayi itu penerus Korain.
"Bu Nas, anak Dae Jung sudah lahir, " kata Dae Song gembira, dia memeluk Bu Nas bak anak yang sedang memeluk ibunya.
Bu Nas terharu. Ini kisah paling sedih sepanjang sejarah korain. Cicit korain lahir dengan kondisi ayah yang tak sadarkan diri.
Jun Hyun dan ibunya hadir pula, bibi Hang Seo saat itu sudah mengenakan jilbab. Berkat Anna, ibu Jun Hyun itu bisa mualaf. Cara Anna menatap dunia menggerakkan hatinya bersama Jun Hyun untuk memeluk islam. Tak ada gunanya dendam pada jiwa dan raga yang akan mati. Sia-sia hidup, pikir mereka.
*Dialog bahasa korea*
"Kata Nona Anna, carikan orang islam dekat sini, anaknya butuh di adzani," ujar suster itu pada kelompok penunggu Anna.
Dae Sing tergugu. Dia masih atheis, tak ada agama di rangkulnya saat ini, mana bisa mengadzani kedua ponakannya. Ji Yoeng pun katholik bersama Kakek Hang. Pak Lee juga kristen proestan bersama pengawal lainnya.
"Aku saja, aku sudah biasa adzan bila ingjn sholat bersama ibuku," sahut Jun Hyun.
Dae Song dan Ji Yeong terngangah.
"Sejak kapan kau mualaf?" tanya Dae Song.
"Sejak di penjara, haruskan aku umumkan pada kalian?" ketus Jun Hyun. Berkat buku tentang keislaman yang di berikan oleh Anna, Jun Hyun mendapat hidayah.
Saat Jun Hyum mengikuti langkah suster itu masuk ke kamar operasi, Dae Song menarik bajunya dari belakang.
"Jangan sampai salah doa, anak kembar itu hidupnya bisa tidak bagus," imbuh Dae Song.
__ADS_1
""Hahh! Setidaknya tidak seperti pamannya!" Gertak Jun Hyun lalu masuk ke ruangan kamar operasi.
Di kamar operasi, Anna sudah di jahit, tubuhnya lun sudah di tutupi kain pelindung. Jun Hyum melihat si kembar terharu. Dia mulai mengadzani kedua anak Dae Jung. Anna bersyukur karena ini jalan Allah lagi memudahkan lewat hidayah yang di beri oleh mantan guru privatenya itu yang sebelumnya atheis.