BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
RATU KORAIN


__ADS_3

Pukul delapan pagi Anna masih berbaur dengan bantal dan selimut, tak ada alasan ia bangun secepat dulu, rutinitas yang selama tujuh tahun Anna geluti telah di lenyapkan oleh perjodohan itu, dia bukan lagi pelayan resto ataupun kasir laundry, melainkan Sang Ratu Korain Group, ya,meskipun itu hanya settingan antara Dia dan Dae jung.


"Nona Anna."


Ada yang berucap di sampingnya, sontak Anna terbangun mengucek mata, ada tiga wanita yang sudah berdiri tegap di hadapannya.


"Kami pelayan Tuan Jung, kami di perintahkan agar menjemput Nona Anna." Ucap wanita paruh baya itu. dia, Nas Kepala pelayan di rumah Dae Jung.


"Kenapa kalian bisa masuk?" Tanya Anna memperhatikan pintu kamarnya.


"Ini Hotel punya Tuan Dae Jung, jadi apapun dengan perintahnya bisa kami lakukan." Jelas kepala Nas


Anna yang memasang wajah malas bergumam,


'Sama saja, mau jadi Ratu, mau jadi orang biasa, ya harus bangun pagi.' Keluhnya dalam hati.


Anna berlalu ke kamar mandi, ketiga pelayan yang di kirim dari rumah Dae Jung masih setia menunggu Nyonya baru mereka.


Anna sudah selesai mandi, melilitkan handuk putih di rambut yang panjangnya sepinggang, dia terkejut melihat ketiga pelayan itu mengumpulkan baju bekas Anna yang terdapat dalam koper hitam miliknya.


"Baju saya mau di apakan?" Ucap Anna penuh heran.


"Kata Tuan Jung, semua ini harus di kumpulkan untuk di donasikan saja." Jawab kepala Nas.


Anna terperangah.


"Lalu saya pake apa? Ini baju-baju kesayangan saya, susah payah saya belinya, jangan ya." Anna memohon seraya menarik koper itu dari pelayannya.


Pelayan-pelayan itu hanya cekikikan melihat tingkah Anna.


"Nona pake baju yang kami sudah siapkan itu, selebihnya semua sudah siap di rumah."


Anna membalikkan badan melihat baju yang sudah tergantung menempel di tembok, tertegun dengan kemewahan baju itu, di raihnya, mengecek harga dan brand, karya dari salahsatu desainer muslim ternama di Indonesia, harga yang fantastis.


"Ya Allah, Harga baju ini biaya makan kami setahun." Gumam Anna.


"Ayo Nona, Ada perias yang akan merias Nona Anna."


Anna hanya menurut saja, dia duduk mengambil posisi terbaik di depan cermin, wajahnya mulai di poles oleh make up artist yang sudah di tetapkan oleh Dae Jung untuknya.


Riasan glowssy telah menyatu di wajah Anna, Sangat cantik pada gadis pemilik kulit putih langsat itu.

__ADS_1


Setelah dia memakai gaun yang berwarna tosca dengan motif sakura itu, tangannya menenteng tas mewah merk terkenal yang berlogo 'C', sedikit risih sebab Anna tahu tas itu harganya ratusan juta.


'Ya Allah, ampuni hamba yang sudah memakai barang-barang mewah ini, bukan maksud untuk ria, ya Allah.' Batinnya.


Anna pun meninggalkan kamar Hotel itu bersama tiga pelayan pribadinya, Di Parkiran sudah di siapkan mobil untuk di tumpanginya.


Ketika sopir membuka pintu mobil untuk Anna, dia di kejutkan dengan keberadaan Dae Jung dalam mobil tersebut.


Ya,tidak ada salahnya, karna mobil mewah itu memang milik suaminya yang penyandang pria meisterius.


"Pagi Pak." Anna menyapa Dae Jung.


Dae Jung yang masih kesal dengan tingkah Anna sejak subuh tadi, sengaja tak menggubris istrinya itu. Dia sama sekali tak melirik Istrinya, Padahal Anna begitu sudah tampil cantik dengan gaun dan riasan mewahnya.


"Suamiku memang gay!" Kesal Anna dalam hati.


Mobil itu melaju ke Arah Rumah pribadi Dae jung, pagi ini mereka harus bertemu Presdir Hang, sebab pria berusia tujuh puluh tahun itu akan kembali ke Korea.


"Pak Kim, saya mau bertanya sesuatu, apa bisa?" Ucap Anna memecahkan kesunyiaan di dalam mobil.


"Hmm .." Jawab Dae jung.


Anna mengangkat bibir sebelah, 'Ah, Pria ini sangat menjengkelkan.' Batinnya.


Dae Jung berusaha menahan tawa di bibirnya, istrinya itu begitu lugu hingga hal-hal seperti itu di takutkan olehnya.


"Cukup menuruti semua perkataanku, jangan mengerjakan sesuatu tanpa di ketahui para pelayan atau Ajudan. itu saja, selebihnya nikmati hidupmu." Jawab Dae Jung tanpa melihat ke arah Anna.


Anna hanya menangguk, rupanya kebebasan itu sudah tak ada untuknya, dia benar-benar terikat oleh pernikahan pada aturan istana yang terkesan mengekang itu.


"Baiklah, Saya memahami itu,Pak."


Dae Jung menghela nafas panjang.


"Jangan paggil Pak, terlebih lagi di depan Kakek, Oppa, Itu sapaan yang lebih sopan di Korea." Protesnya.


Anna hanya mengeleng 'Suamiku ini benar-benar salahsatu misteri dunia yang sulit di pecahkan oleh perempuan' lirihnya dalam hati.


"Ya, Oppa."


Anna tak ingin lagi berucap, dia mengunci mulutnya dengan sholawat, tak ada yang menarik bila bercakapan dengan suaminya itu, pikir Anna yang membuang pandangan setiap lintasan roda mobilnya.

__ADS_1


Sementara Dae Jung mencuri pandang ke Anna lewat kaca spion dalam mobil, dia menatap pantulan wajah Anna yang memang tampak sangat manis pagi ini.


"Rupanya itik buruk, sudah menjadi angsa cantik." Lirihnya sembari mengamati perubahan Anna yang sudah jauh lebih baik.


***************


Yuna sudah tiba di Rumah Dae jung, masa cutinya di habiskan hanya mengurung diri atas patah hati oleh pernikahan pimpinannya itu.


Sembari menunggu kedatangan Dae jung, dia menyibukkan diri dengan menyusun berbagai laporan staf yang sudah siap di serahkan pada CEO muda tersebut.


"Ah, Pak Kim akan datang bersama Istrinya, Oh Yuna Sakitnya hatimu." Gerutunya di depan layar laptop


"Secantik apa perempuan itu? Ha, Aku benar-benar penasaran dengan tipe Pak Kim, Lebih Seksi kah dari aku? lebih glamour kah?" Lanjut Yuna.


Perempuan yang sudah tiga kali Oplas itu memang belum pernah melihat foto pernikahan Dae Jung, Kesanggupan yang belum menemukan kesiapan, sehingga wanita berdarah bangka belitung itu tak pernah membuka sosial media miliknya.


"Oppa Dae Jung, kenapa kau mencabik-cabik perasaanku ini?" Rintihnya menangis manja.


Suara itu terdengar oleh Ji Yeong yang sedang melintasi ruang tamu, langkahnya terhenti melihat tangisan Yuna yang buatnya geli.


"Segitunya Kamu patah hati, Yun." Gumamnya mengamati Yuna di balik tembok.


Yuna yang mengarahkan pandangan ke arah cermin antik besar yang terpajang di dinding ruang tamu, memantulkan sosok Ji Yeong yang diam-diam memperhatikannya.


Dia mengarahkan telunjuk pada pantulan Ji Yeong, menandakan kekesalannya, sebab terciduk pria bertubuh kekar itu diam di tempat, hati ingin kabur namun kaki melekat pada tempatnya.


"Mati kamu Ji Yeong, bagaimana ini?" Gumamnya yang sudah melihat Yuna akan menghampirinya.


"Sekertaris Ji, Sejak kapan kau jadi penguntit, ha, apa kau memata-mataiku? siapa yang menyuruhmu?" Yuna merocos dengan nada tinggi.


"Seketaris Ji, ini termasuk pelecehan bila menguntit gadis secara diam-diam." Lanjut Yuna.


Ji Yeong memasang wajah sendu, lalu beralasan,


"Jangan menuduh seperti itu, saya hanya lewat, mendengar tangisan yang ku kira itu hantu perempuan yang gentayangan, ternyata itu kamu."


Yuna membelalakkan mata.


"Hantu? sejak kapan hantu berwujud cantik seperti saya?"


Mendengar protes yang tak henti, Ji Yeong menutup kedua kupingnya lalu meninggalkan Yuna dengan berbagai kata kebanggan tentang kecantikannya.

__ADS_1


"Dasar robot!" Hardik Yuna pada Ji Yeong.


__ADS_2