BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MENYELAMATKAN SATU NYAWA


__ADS_3

Dokter itu masih menunggu keputusan Ji Yeong. Namun Ji Yeong tak ingin mengambil keputusan sepihak, ada yang lebih berhak yaitu Kakek Hang. Pak Lee segera menghubungi asistent Kakek Hang.


"Jangan beri tahu Anna soal ini," ucap Ji Yeong pada Jun Hyun dan Bu Nas. Dia khawatir kondisi yang hamil makin memburuk setelah mengetahui keadaan suaminya.


Kakek Hang yang berbaring di tempat tidur hanya bisa menangis mendengar kabar kedua cucu kembarnya itu.


Lewat telpon, Kakek Hang berkata seraya menangis tersedu-sedu.


"Bagaimana aku bisa memilih, mereka itu adalah cucuku, darah dagingku, jika ada pilihan ambillah yang ada pada tubuhku," kata Kakek Hang.


"Jangan tanya padaku lagi ...huhuhu.." Kakek Hang malah menutup telponnya, menangis sesegukan.


Ji Yeong mendengar itu pun tak bisa berkutik. Sementara dokter tidak punya banyak waktu, kondisi dua anak Kim Do Hang itu kian kritis.


"Kita tidak punya banyak waktu. Jika terlambat, keduanya akan meninggal." kata Dokter itu.


Kata dokter, salah satu dari mereka berdua ada yang sangat parah, dan Ji Yeong sudah tahu itu siapa. Sangat berat memilih, hingga Ji Yeong saat ini pasrah saja.


"Selamatkan yang bisa di selamatkan. Jangan tanya kami sebelum prosesnya selesai. Rahasiakan saja. Biar kami tidak mati karena bersedih." Imbuh Ji Yeong.


"Kenapa kau tidak memilih?" tanya dokter itu.


"Kami akan menyesal seumur hidup bila melakukan itu." Sahut Ji Yeong dia enyah dari hadapan dokter senior itu. Dia ke ruangan di tempat Anna di rawat.


Bu Nas menangkupkan tangan menangis. Dadanya begitu sesak. Kenapa nasib begitu mempermainkan kedua putra Rifasya itu?


Dokter itu kembali masuk ke ruangan ICU, Jun Hyun langsung mencegatnya. Dia berbisik pada dokter senior terkenka di Korea Selatan itu seperti melakukan mediasi.


Ji Yeong ke ruangan instalasi. Telihat Anna masih tidak sadarkan diri, Ji Yeong menitikkan air mata lagi. Melihat istri sahabatnya itu, dia tak sanggup membayangkan bila Anna sadar nanti, dia mengetahui keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Dae Jung, sebentar lagi kau akan memiliki anak, jangan pergi tanpa membesarkan anak-anakmu." Lirih Ji Yeong melihat Anna dari luar pintu kaca.


Air mata Ji Yeong mengalir begitu deras. Tak kuasa membendung kesedihan malam ini. Dia sudah membunuh ayahnya sendiri, dan di hadapkan pada kondisi kedua kakak angkatnya yang meregang nyawa.


"Aku tidak bisa membayangkan aku jadi Anna," kata Yuna dari belakang.


"Kita harus siap-siap jadi penguat dia. Jangan menangis di depan Anna." Tangkas Ji Yeong.


"Pak Kim .." Yuna malah kian bersedih.


Malam ini, operasi anak kembar itu di lakukan. Salah satu dari mereka akan di mendonorkan organnya pada yang satu lagi, kondisi pendonor itu makin parah, tak mampu lagi di selamatkan. Tembakannya tak seberapa namun menghancurkan bagian pital di organ manusia.


Tim dokter berserta petugas medis lainnya juga ikut bersedih menjadi saksi kisah hidup anak kembar itu. Bukti rasa kasih persaudaraan tak pernah terputus. Hingga dari salah satu dari mereka sempat berkata pada dokter agar saudaranya di selamatkan, dia rela mengorbankan hidup demi saudaranya.


Satu mengenai jantung, dan satunya lagi mengenai paru-paru hingga bocor. Mereka harus ada yang jadi korban.Dan ini keputusan muktlak bila satu dari mereka ingin di selamatkan.


Jun Hyun dan Bu Nas masih setia menunggu di depan ruang operasi. Tubuh mereka semua bergetar menunggu kabar dari dokter. Mereka tak memiliki harapan, karena salah satu dari cucu Korain mereka tahu akan meninggal. Berharap untuk bahagia karena ada yang selamat itu terlalu egois, dan tak memiliki hati nurani.


**********


Tujuh jam terlewati, dokter sudah keluar dari ringan itu dengan mata yang bengkak. Selama proses operai, dia tak henti menangis. Moment saat memindahkan organ itu dari satunya ke pada saudara kembarnya, dia tak kuasa, andaikan ada yang mampu melakukan itu selain dirinya, mungkin dia tak memilih ikut andil dalam kisah sedih cucu Kakek Hang itu.


Melihat dokter sudah keluar, Bu Nas dan Jun Hyun tak ingin bertanya. Mereka tidak siap menerima kenyataan. Dokter itu pun hanya berdiam diri.


"Semua telah selesai, jenazah satu orang itu bisa di makamkan besok hari," ujar dokter itu lalu meninggalkan Bu Nas dan Jun Hyum termangu.


Sementara ada Ji Yeong dan Yuna masih tetap menjaga Anna. Dia juga tak ingin mendengar kabar dari dokter. Tugas mereka sekarang ialah menjaga psikia Anna. Tiba-tiba suara Anna berlirih tak jelas. Dia sudah sadar, pandagannya masih buram. Namun dia bisa melihat itu Yuna dan Ji Yoeng di sampingnya.


"Anna kamu sudah sadar," ujar Yuna.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi suamiku dan Kak Dae Song?" tanya Anna pada intinya.


Ji Yeong tahu kalau Yuna tak mampu menjawab itu sehingga dia yang menimpal.


"Mereka baik-baik saja. Sekarang di tangani oleh dokter."


"Benarkah? aku melihat dalam mimpiku, ada salah satu mereka yang datang padaku, dia menngucap selamat tinggal, juga mencium perutku. Aku tidak tahu itu Dae Jung atau kak Dae Song," jelas Anna mengingat mimpi saat dia tak sadarkan diri.


Ji Yeong tertunduk. Firasatnya makin tersesat. Dia tahu, siapa yang sudah pergi itu namun tetap saja dia selalu membohongi kata hatinya agar mampu kuat melepaskan. Yuna menarik nafas, dia tak ingin Anna sampai tahu kondisi Dae Jung.


"Anna, kata dokter, anak kalian itu laki-laki dan perempuan, saat kamu pingsan, dokter USG janin kamu untuk memastikan kondisinya, ternyata mereka itu sepasang anak kembar." Yang di katakan Yuna benar, anak Dae Jung dan Anna sepasang bayi kembar.


Anna sumringah, " Benarkah? pasti Dae Jung sangat senang, dari dulu dia ingin memiliki anak perempuan, jika sudah sadar nanti, aku akan beri tahu dia," ujar Anna bahagia.


Yuna dan Ji Yeong tergugu. Udara memenuhi rongga dada keduanya, sesak, berat sekali menyembuyikan kesedihan itu di hadapan Anna.


"Aku tahu, bayi laki-lakinya pasti mirip Dae Jung." ucap Anna lagi. "Kami akan merawat mereka di Indonesia." lanjutnya.


Tak kuasa menahan sedih, Ji Yeong keluar dari ruangan itu. Dia menangis sejadi-jadinya, mengingat kenangan bersama Dae Jung. 30 tahun mereka bersama, sejak kecil mereka TK hingga sampai hari kemarin mereka bersama, tidak semudah itu mengikhlaskan Dae Jung. Mereka berdua punya mimpi ingin menua bersama istri dan anak mereka kelak.Tetapi ..


"Hyunga ga jima .."lirihnya.


Ada petugas rumah sakit yang datang menghampirinya.


"Mayat Ayahmu akan di kremasi hari ini," kata pria itu.


"Lakukan saja. Aku tidak bisa menghadiri." Sahut Ji Yeong.


Jun Hyun juga ada datang di dekatnya. "Kita sudah kehilangan, bagaimana Anna?"

__ADS_1


Ji Yeong tak bergeming. Sulit berucap saat ini.


__ADS_2