
Dae Jung pemuda yang sangat pekerja keras, bahkan di usia mudanya ia habiskan waktu mendedikasikan diri pada Korain hingga usia yang sudah tida puluh empat tahun dia masih menjadi pria yang tak punya waktu untuk masalah pribadi.
Usaha yang susah payah di bagun Presdir Hang selalu menakutinya bila semua itu berakhir dengan sia-sia, sewaktu mendiang Ayahnya masih hidup mengelola korain, Ayahnya pribadi yang sangat jauh dari kata baik, mengelola peeusahaan juga memanfaatkan harta dengan mengoleksi berbagai tipe wanita, entah dari Korea atau Negara lain, menyiksa batin Ibunya hingga sakit-sakitan lalu meninggal dunia sejak Dae Jung kecil usia tujuh tahun.
Trauma itulah membawa Dae Jung menjadikannya sebagai pria yang tertutup dan penyendiri. Membatasi wanita dalam hidupnya, kecuali satu nama wanita yang pernah menghiasi hidupnya bertahun-tahun yaitu Bora. Tapi lima tahun yang lalu Bora pergi meninggalkan Dae Jung tanpa pamit, hilang tanpa jejak. Menyisakan trauma berkelanjutan pada diri Dae Jung.
Bora adalah cinta pertamanya sejak sekolah menengah pertama, seperti ibu dan sahabat bercerita Dae Jung, dulu Bora segalanya bagi Dae Jung. Entah apa alasan gadis Korea anak dari konglomerat itu meninggalkannya secara tiba-tiba saat mereka kuliah di Sidney.
"Tolong, bawakan saya kopi." Perintah Dae Jung di telpon.
Salah salahsatu pramusaji di rumah Dae Jung itu segera membuat kopi hitam Americano.
Yuna yang juga sedang berada di dapur, meyakini kopi itu untuk Dae Jung. Kali ini dia memutar otak lagi, mungkin karna cara mainnya yang sangat halus hingga saat ini CEO muda itu belum mengetahui perasaannya.
"Letakkan disitu saja, biar saya yang antar ke ruangan , Pak Kim." Yuna mencegat pramusaji itu.
Karna Yuna adalah Sekertaris Dae Jung, pramusaji itu menuruti perintah perempuan yang menyelesaikan kuliahnya di Singapura.
Sebelum mengantar ke bos besarnya, Yuna terlebih dulu berkaca, merapikan rambut, menambah lipgloss secantik mungkin.
"Hufft, saatnya." Gumamnya membawa kopi itu menuju ke ruangan pribadi Dae Jung.
Sesampainya di depan ruangan tuannya, Yuna mengetuk pintu.
"Ya, masuk." Suara Dae Jung telah mempersilahkan.
Yuna memutar knop pintu secara perlahan, Pelan-pelan agar kopi itu tidak sampai tumpah. bisa-bisa yang ada malah buat kesal Dae Jung.
"Pak Kim, ini kopinya."
"Letakkan disini." Titah dae jung.
Menyadari bahwa Yuna yang membawa kopi itu dia bertanya." Kenapa kamu yang membawanya?"
"Pelayan tadi menumpahkan kopi hingga kena tangannya, jadi biar saja saya mengantarkannya, Pak."
Yuna lega, untung saja dia mempersiapkan jawaban karna ia tahu bahwa pria jutek itu akan bertanya.
"Oh, begitu." Dae Jung kembali melihat ke layar laptopnya, mengamati perkembangan perusahaannya yang lumayan meningkat pesat tiga bulan terakhir.
__ADS_1
Melihat Yuna yang masih berdiri tegap, Dae Jung mengarahkan pandangannya ke Sekertarisnya itu.
"Kenapa masih disitu?"
"Hm, Ini, Pak Kim." Yuna gelagapan.
"Ada apa? minta kenaikan gaji?" Tanya dae jung spontan.
"Tidak, bukan itu, Pak Kim. Saya mau bicara dengan Pak Kim." Sahut Yuna terbata-bata.
Kedua kakinya gemetar seperti menahan kencing seharian.
"Ok, bicaralah." Dae Jung menanti Yuna untuk mengeluarkan sesuatu hal yang di maksudnya.
Yuna menenangkan diri dulu, mengatur diafragma secara perlahan.
"Pak Kim, akan menikah? dengan seorang gadis disini?" Tanya Yuna, perasaannya pada Dae Jung yang tak sanggup lagi ia tahan membuatnya memberanikan diri.
Dae Jung mendengar pertanyaan Sekertarisnya memasang wajah khasnya kembali, dingin pucat tanpa ekspresi.
"Saya hanya dengar dari beberapa pelayan disini, Pak Makanya saya bertanya langsung."
"Oh begitu, Pak. masa Bapak mau menikah dengan gadis yang belum di kenal." Tutur Yuna semakin lancang.
Dae Jung menampakkan wajah marah.
"Sekertaris Yuna, kamu tahu kan, saya paling tidak suka kehidupan personal saya di bahas oleh oranglain. Apalagi di depan saya langsung."
Yuna kembali ketakutan mendengar rambu-rambu Dae Jung.
"Maaf, Pak Kim. Saya tidak bermaksud lancang." Ucapnya seraya menundukkan badan.
"Andaikan kamu tidak punya banyak jasa di perusahaan ini, mungkin kamu akan kena sangsi atas pertanyaanmu itu." Dae Jung belum puas menakuti Sekertarisnya itu.
"Maaf, Pak Kim. Sekali lagi saya minta maaf. Saya pamit dulu, Pak Kim."
Dae Jung yang tak tahu maksud dari Yuna hanya bisa mengeleng, gadis sepintar Yuna bahkan juga bisa mengjengkelkan, bertanya di luar dari batasan sebagai Sekertaris.
Sementara Yuna keluar dari ruangan Dae Jung dengan rasa takut bercampur kesal, dia memukul pintu Dae Jung dari luar. CEO muda itu memang sangat unik, sulit di lumpuhkan, betapa beruntungnya gadis yang akan di nikahi Dae Jung.
"Andaikan kamu bukan bosku, sudah ku siram kamu pake kopi." Kesal Yuna dalam hati.
__ADS_1
"hehhahhahhah ..ahahaha ..." Ada suara terkekeh mengagetkannya, dia membalikkan badan, itu Sekertaris Ji.
Ekspresi mengejek Sekertaris Ji buat Yuna makin jengkel.
"Ini apa lagi, robot berwujud manusia!" Kecam Yuna dalam hati.
Yuna menjuluki Ji Yeong dengan manusia robot, sebab pria berbadan tegap itu selalu berperawakan serius ketika bekerja atau sedang bertugas mengawasi segala aktivitas Dae Jung, dari segi pekerjaan ataupun pribadi Dae Jung.
Ji Yeng manarik tangan Yuna, membawanya ke balkon tempat berbagai tanaman hias tertata rapi.
"Pak Ji. Ini ada apa?" Tanya Yuna.
"Ha, Sekertaris Yuna, sebagai teman Pak kim dan Sekertaris pribadinya, saya harap jangan pernah mengusiknya dengan cara seperti itu."
Yuna menghela nafas lalu mengerutu dalam hati.
'Ya ampun, kau ini hanya sekertarisnya bukan orangtuanya.'
"Pak Ji , saya hanya menanyakan posisi sebagai teman."
Ji Yeong terkekeh kembali.
"Lagi pula, Pak kim sebentar lagi mau menikah, janganlah kamu susah-susahkan diri. Intinya dia bukan jodoh kamu."
Yuna sedikit malu, sebab Ji Yeong sudah mengetahui perasaannya pada Dae Jung.
"Yuna, kamu jangan buat dirimu rendah, kamu bisa dapatkan cinta yang baik, saya tahu Dae Jung itu tipenya seperti apa, dan kamu bukan tipe ideal dia."
Yuna menyerngit, jengkel dengan kejujuran atasannya itu.
"Pak Ji, saya perempuan uang jatuh hati pada bosnya, apa itu salah? Lagi pula, Pak Ji juga tidak tahu soal perasaan."
'Mana mungkin aku tidak tahu Yuna, sementara aku sudah lama jatuh hati sama kamu." Lirih Ji Yeong dalam hati.
Perempuan berusia dua puluh delapan tahun itu meninggalkan Ji Yeong sendiri, meluluhlantahkan harapan Ji Yeong yang ingin banyak berucap tentang perasaan padanya.
Tanaman hias jadi saksi bisu itu hanya bisa melihat Ji Yeong meratapi nasib cintanya.
entah kapan kesempatan itu bisa berpihak padanya,agar ungkapan cinta pada Yuna tersiarkan.
"Yuna, kamu tak pernah melihat aku dengan segudang cinta terpendam ini." Gumam Ji Yeong dengan mata sembab.
__ADS_1