
Memberontak sudah ia lakukan, salahsatunya mengunci diri di dalam kamar, bantal tidurnya sudah basah oleh air mata, penolakan keras ia lontarkan pada Bapaknya.
Mimpi yang ia susun selama ini tidak boleh di renggut begitu saja oleh pernikahan, ini belum saatnya, dan tak pernah terpikirkan olehnya pula.
Sulfa tahu, ini harapan besar Orangtuanya, namun ia tak sanggup juga bila mengorbankan masa depannya hanya menjadi seorang Istri.
Lamaran telah terjadwal esok sore, setelah itu seminggu kemudian mungkin dia telah berganti status menjadi Istri dari Duda tiga Anak. Tak terbayang masa-masa itu betapa beratnya menjadi Ibu sambung dari tiga Anak yang di tinggal mati Ibunya.
Ia juga tahu, mungkin menjadi Istri dari pria berprofesi sebagai TNI tidak akan membuatnya kekurangan uang, tapi .. Pernikahan tanpa cinta, ahhh, ya Allah, aku tidak sanggup! Batinnya.
"Sulfa, buka pintunya." Mamanya mengetuk.
Gadis pemilik alis tebal itu tak bergeming. Dia masih larut dalam tangisannya.
"Sulfa ..." Sara yang sangat ia kenali, iya, itu sahabatnya, Anna.
Sulfa membuka pintu, dia menarik tangan amAnna masuk ke dalam kamar, tak membiarkan mamanya berkata.
"Anna .." Lirih Sulfa.
Wajah yang seringkali ceria itu lenyap di telan kesedihan, Anna yang merasakan hal yang sama, menguatkan sahabatnya.
"Kamu yang sabar, ya." Ucap Anna mengusap kepala Sulfa.
Kata-kata itu harusnya juga tertuju padanya, pernikahan yang dasar perjodohan telah di ambang mata mereka. Banyak kenangan bersama Sulfa, suka duka mereka lalui bersama, rintangan demi rintangan untuk menggapai cita-cita makanan sehari-hari mereka berdua, lalu, ketika menikah nanti, semua akan terasa berbeda, mereka yakin hal itu takkan terulang, bahkan akan menjauh satu sama lain, di karnakan kesibukan menjadi istri dan juga ibu.
"Anna, aku tidak ingin seperti ini. Aku belum mau menikah." Ujar Sulfa merengek.
Mata Anna berkaca-kaca, dia sangat tahu bagaimana kesedihan Sulfa, mungkin dengan kejujurannya pula bisa meringankan gundah sahabatnya itu.
"Sulfa, kita sama sekarang, aku juga telah di jodohkan, itu jauh sebelum aku di lahirkan." Tutur Anna.
Sulfa begitu terkejut.
"Maksud kamu, An?"
" Ya, aku juga di jodohkan, terlalu egois bila aku hanya memikirkan diri sendiri, Fa. Sementara aku belum tahu yang terbaik buat diriku, meski hatiku bertolak belakang dengan jalan paksaan ini."
__ADS_1
"Kamu juga akan menikah, An?"
"Iya, sama sekali orang yang sangat berbeda yang tidak aku kenal, dan mungkin saja setelah menikah, aku belum tahu nasibku, apakah lebih baik atau malah bernasib buruk. Ketakutanku sama dengan ketakutanmu." Jawab Anna.
Sulfa yang menangkap tiada keikhlasan di hati Anna, berucap,
"Ayo, An. Kita kabur saja, kita pergi ke tempat lain, mungkin di tempat lain kita bisa melanjutkan mimpi-mimpi kita disana."
Anna terhenyak mendengar ajakkan Sulfa yang sudah buntu.
"Tidak Sulfa. Itu namanya pecundang, lari dari masalah meninggalkan masalah, bukan berarti masalah itu akan selesai. Kamu dan aku telah di harapkan menjadi anak yang baik, dengan cara melarikan diri, aku tidak yakin akan menemukan kebaikan pula."
Anna berdiri di depan jendela, memandangi sawah yang terbentang di samping rumah Sulfa.
"Sulfa, ada banyak orang yang menggantung cita-citanya setinggi langit, namun hanya beberapa yang mampu meraihnya, entah jalan yang mudah atau hingga berdarah-darah, kita sudah berusaha di masa ini,menikah bukan berarti menyerah dengan keadaan hanya saja melakukan kebaktian versi orangtua.
Sulfa, aku sudah bulat menerima perjodohan itu, baik buruknya itu sudah ketentuan Allah.
Aku hanya sebagai pemeran hanya bisa ikhlas, entah cinta atau tidak, tetapi menikah dalah ibadah, cinta ibadah akan menumbuhkan cinta pada Allah. Itu saja kepasrahanku saat ini." Jelas Anna menguatkan diri.
"Aku tidak yakin, An."
Anna yang mendengar keraguan Sulfa merangkul sahabatnya itu.
"Yakin dengan Allah, tidak ada yang bisa menjanjikan kebahagiaan selain dia. Ketika menikah nanti jadilah sebagai istri yang di perintahkan olehnya. Cukup itu saja, biarkan takdir berjalan sesuai dengan ketentuannya."
Sulfa menghapus air matanya.
"Kamu akan di jodohkan dengan siapa?" Tanya Sulfa.
Anna bingung, apakah dia harus menjelaskan pada Sulfa tentang Kim Dae Jung.
"Ayolah, An. Siapa? Kamu kan sudah tahu, aku di jodohkan dengan suami almarhum Tante Firza, calon kamu siapa? Orang yang aku kenal juga?"
Anna mengeleng.
"Trus siapa? Ayolah, An. Sejak kapan kamu main rahasia-rahasian sama aku."
__ADS_1
Anna mengehela nafas.
"Baiklah, dia itu orang Korea."
Sulfa terkejut, dia menangkup kedua tangan ke mulut.
"Oppa, Oppa Korea? Kok bisa? Salah, salah, tepatnya Bagaimana ceritanya?"
"Hu, Sulfa kalau perjodohan aku ceritakan, menembus waktu ke masa peperangan, penjajahan. Emang nenek dan kakek aku luarbiasa perancangan masa depan untuk turunannya." Gerutu Anna.
Sulfa mulai ceria kembali, terdengar suara cekikan keluar dari bibir mungilnya.
"Emang iya, An? Sejarah begitu maksud kamu? "
"Ya, begitulah. Semua karna perjanjian antara cinta Nenekku Yama dan Suaminya Baek Hyeon, sudah itu di lanjutkan kakekku dan kakek pria itu."
"Segitunya kakek kamu, An? Wah, ini mah, andaikan kamu tahu, gak usah berhubungan ama Faiz." Sulfa seakan tak percaya.
"Lah iya, makanya aku shock juga dengan semua ini."
"Namanya siapa? Park Seo Jung kah ? atau Kim So Hyun kah?" Canda Sulfa.
"Ha, kamu browsing aja, pria melenial yang wajah dingin seperti es cendol Pak Kumis di depan, seorang pengusaha muda pemilik Korain."
Lagi-lagi Sulfa terperangah, sedikit tak mempercayai Anna, dia mengambil ponselnya untuk browsing. Mengetik nama pemilik Korain saja, sudah mengumpulkan berbagai informasi tentang calon suami sahabat karibnya itu.
"Anjrit, ini mah kamu menang lotre, An. Gila, Cinderella akan di pinang oleh pangeran ini mah ceritanya."
Anna menyerngit,
"Dasar halu, emang kamu kira enak jadi pendamping pria seperti itu, jelas-jelas kita sangat berbeda dengan dia, pola hidup dia, pergaulan dia, aku mah apa cuma gadis biasa pelayan resto dan karyawan laundry."
"Iya juga , Ya. Ternyata aku berat soalnya aku akan menjadi Ibu tiga anak seketika. Lah, kamu akan berperan sebagai pribadi yang harus berubah dari berbagai aspek" Ucap Sulfa yang masih sibuk mebuka satu per satu gambar Dae Jung yang sedang memimpin rapat.
"Makanya, Fa . Aku harus pasrah dengan semuanya, menikah dengan dia bukan berarti aku harus merubah juga pribadiku. Anna yang sekarang tetap akan menjadi anna setelah menikah. Ya, walaupun itu akan sulit di cintai oleh pria itu."
Anna belum mau menyebut nama Dae Jung secara langsung bila membahas pernikahan. Kaku dan masih kesal dengan perkataan Dae Jung yang ingin mengajakanya menikah kontrak. Entah apa di pikiran pria atheis itu hingga melayangkan penawaran pada gadis yang sangat taat pada ajaran agamanya.
__ADS_1