BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
ANAK KEMBAR YANG TERPISAH


__ADS_3

Para polisi sudah siap menciduk Chung Sang dan pengikutnya. Mereka akan ke rumah 308 C, disana rumah itu sudah kosong. Paman Chung Sang dan Dae Song berpencar, mereka tak searah, menjalankan tugas masing-masing. Paman Chung Sang dam beberapa pengikutnya bersembunyi di suatu pulau yang terpencil. Sedangkan, Dae Song sejak siang tadi sudah ke Seoul bersama pengikutnya pula.


Dae Song aman dari kejaran polisi, karna namanya tak ada di daftar ODP, meski tak ada yang mengenalinya namanya di Soeul, namun wajahnya yang mirip Dae Jung justru akan menyusahkannya. Kendati demikian wajah itu pula akan membahayakan pihak kubuh Korain.


Tekadnya sebagai anak yang terbuang menjadikan dirinya anak yang penurut pada Paman Chung Sang. Ayah Ji Yeong itu sudah melakukan yang terbaik dalam hidupnya, merawatnya, memberikan dia hidup yang layak, menikmati fasilitas Korain secara sembunyi-bunyi saat Dae Jung membetikan sesuatu pada Ayah angkatnya itu.


Kim Dae Song dan Kim Dae Jung adalah dua anak kembar yang terpisah akibat ulah Ayahnya Kim Do Hang. Mendiang Ayahnya menitipkan Dae Song di panti asuhan, agar anak yang memiliki kelainan jantung itu tidak terekspos media.


Paman Chung Sang mengambil kesempatan kala itu, dia mengambil satu anak bayi untuk dititipkan di panti asuhan tanpa sepengetahuan Rifasya, tetapi saat malam di rumahsakit , Pamab Chung Sang mengambil bayi yang salah, buka anak Dae Song, melainkan Dae Jung, hingga di usia satu tahun, anak itu kembali di tukar diam-diam oleh Ayahnya sendiri. Sehingga saat usia satu tahun, Dae Jung pernah di diagnosa lemah jatung, dan dinyatakan sembuh saat usia dua tahun, padahal mereka hanya ditukar posisi kala itu tanpa sepegetahuan Rifasya dan Presdir Hang


Hingga kabar manipulasi kematian Dae Song diketahui oleh Ibunya pada saat usia tiga bulan. Memisahkan Ibu dari anaknya, memisahkan adik dengan kakaknya. Dae Song dibawah ke Kota Busan dan disembunyikan oleh Paman Chung Sang.


Bantuan Ibu kandung Ji Yeong, baby sitters rahasianya dari Taiwan, Chung Sang membesarkan Dae Song secara diam-diam untuk menjadikan sarana balam dendamnya pada Korain.


Dae Song dan Dae Jung memiliki wajah yang sama, nyaris tak ada yang bisa membedakannya. Tetapi mereka memiliki pula watak yang berbeda. Dae Song tipe yang arrogant, penjelajah wanita, di rumah 308 C hampir tiap malam dia membaw wanita-wanita malam untuk mabuk-mabukkan, dan gampang marah. Mungkin karna kebnciannya pada orangtuanya yang menjadikan dirinya anak yang terbuang. Sifatnya pun sangat mirip dengan mendiang Ayahnya, Kim Do Hang.


Sementara Dae Jung yang dingin, namun tetap memiliki hati yang lembut. Sopan dan sangat berempati pada orang disekitarnya. Tak gampang menjatuhkan hati pada wanita, dulu hanya Bora yang pertama dihidupnya, dan sekarang hanya Anna istrinya yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Ini berkat didikan dan sifat dari mendiang Ibunya, Rifasya Salim.


****************


Anna dan Dae Jung masih menikmati keriuhan Itaewon Street malam ini. Ah, sangat indah. Mereka berbaur dengan ribuan penduduk Seoul yang juga menikmati malam indah itu.


Dae Jung dan Anna berjalan-jalan santai mengitari jalanan yang padat. Dari arah belakang, keempat bodyguarndnya masih tetap mengikutinya. Mereka berdua masih mencari jajanan yang halal untuk bisa dimakan oleh Anna.


"Itu sana, An." Seru Dae Jung menunjuk ke salah satu kedai makanan muslim. Pemilik kedai itu ternyata orang malaysia.


"Kamu mau makan apa?" tanyanya lagi yang melihat berbagai menu makan khas Malaysia dan Indonesia.


"Apa ya, aku mau asinan saja." Anna menunjuk ke arah asinan yang berjejer.


"Kalian, Ayo, sini." Dae Jung memanggil keempat pengawalnya untuk memilih menu itu juga.


"Kalian pilih sesuka hati, kalau perlu habiskan semuan dagangan Pak Ci, ini." Imbuhnya pada keempat pria kekar bermata sipit itu.


Keempat pengawalnya tertawa, mereka tak sungkan mengambil berbagai cemilan yang mereka ingin makan. Inilah salahsatu mereka betah bertahun-tahun bekerja dengan Dae Jung. Pria itu sangat rendah hati pada pekerjanya.


Dae Jung memilih mengajak Anna duduk di lantai dua kedai itu, mereka berdua memilih bagian outdoor, agar merasakan suasana malam.

__ADS_1


"Kamu bahagia?" tanya Dae Jung lagi pada Anna.


"He em, sangat sangat bahagia. Terima kasih." Ucap Anna.


"Ini tidak seberapa, kau akan lebih ku bahagiakan bersama kedua anak kita." Tangkas Dae Jung yang juga itu ucapan janjinya sebagai seorang pria sejati.


Di atas langit Seoul, ribuan bintang berlomba-lomba memberikan cahayanya di langit gelap tanpa bulan menemani. Dae Jung dan Anna memakan asinan sepiring berdua.


"Oppa, liat bintang itu?" Anna menunjuk ke langit sebelah kanannya.


"Itu bukan bintang, Anna. Itu Satelit." Sahut Dae Jung.


"Emang iya? aku rasa itu bintang."


"Anna, Anna, sudah mau jadi Ibu dua anak masih saja seperti ini. Itu satelit berdiam diri di tempat. Kalau bintang itu berkedip. Sini aku jelaskan." Dae Jung ingin memberikan ilmu-ilmunya tentang isi alam sememsta yang hanya diketahui oleh para ahli Sains. Rasa keingintahuan sesuatu ditambah Otak Dae Jung yang cerdas mempelajari semua itu sejak kecil.


"Kamu lihat disana, bintang yang paling terang dan besar itu namanya "Sirius", bintang ini sudah di sebutkan di dalam Alqur'an An-najm sebagai Asy-syura. sebenarnya ada banyak macam bintang Anna. Kalau di jelaskan juga sampai pagi pun tidak akan kelar." Ujar Dae Jung.


Anna terkekeh, suaminya pun juga tak kuat bila harus menjelaskan semuanya satu per satu. Padahal dia sendiri juga sudah tahu, sebagai perempuan yang sangat menyukai ilmu filsafat, Anna tentu tertarik pula mengetahui isi semesta yang begitu sangat di rahasiakan oleh Allah SWT.


"Kalau aku bintang apa?" tanya Anna.


"Diantara ribuan bintang dilangit, hanya Anna Binar Bintang yang aku pilih." Jawab Dae Jung.


"Kalau kamu? apakah kamu bisa membedakanku bila aku sama dengan bintang-bintang lainnya?"


"Tentu,meskipun kau dihimpit oleh ribuan wajah yang sama, aku pasti akan mengenali suamiku. Tatapanmu, sentuhanmu, detak jantungmu, itu sudah aku hafalkan dalam batinku. Tidak akan bisa dikelabui oleh apapun, meski kamu berganti wajah." Jelas Anna yang sudah sangat mengenal suaminya.


Tiba-tiba ada salahsatu pelayan dari belakang, pelayan perempuan itu tidak sengaja meumpahkan minuman di kemeja Dae Jung, sehingga celana dan baju Dae Jung penuh dengan bau alkohol.


Dengan mengucap maaf berbahasa Korea, pelayan itu melap kemeja Dae Jung.


"Tidak usah, biarkan saya sendiri yang bersihkan." Imbuh Dae Jung berbahsa Korea juga.


Dae Jung memanggil keempat pengawalnya.


"Kalian jaga Anna dulu, aku mau ke toilet bersihkan kemejaku." Titah Dae Jung.

__ADS_1


"Kamu disini dulu, ya. Tunggu aku. Ini pegang handphoneku, kayaknya basah kena minuman tadi." Ucap Dae Jung pada Anna.


Pria bertubuh tinggi 187 cm itu bergegas ke toilet, dia diarahkan oleh pelayan ke toilet lain, sebab toilet yang biasa digunakan oleh pelanggan sedang rusak.


Dia mengikuti pelayan perempuan itu, Dae Jung di persilahkan masuk ke ruangan di mana ada toilet.


"Baik, aku masuk. Kamu tunggu saya disini." Pinta Dae Jung yang tidak enak bila toilet pemilik dipakai olehnya.


Setelah membersihkan bajunya dari alkohol, Dae Jung keluar dari toilet itu. Tetapi, ada yang membuatnya bingung, pintu ruangan itu sudah tertutup, dan tak memperlihatkan pelayan perempuan itu lagi.


Dae Jung memutar knop pintu, berkali-kali, tapi sepertinya pintu itu terkunci dari luar. Dae Jung meminta tolong dengan berhasa Korea, berharap ada yang mendengarnya dari dalam.


"Seseorang di luar, tolong bukakan saya pintu ini." Pintanya.


Dae Jung tak henti menggedor-gedor, mencoba mendobrak pintu kayu itu. Namun usahanya selalu gagal.


"Ahhkk !! Ini ada apa?" Gumamnya.


"Tolong, siapapun diluar sana, tolong bukakan saya pintu ini." Dae Jung belum putus asa. Dia mencari ponselnya, astaga ponselnya ternyata dititip pada Anna.


Ekkhhh !!! dia mencoba merusak knop pintu, tapi di luar sana ternyata ada seseoang yang sudah memalangnya dengan lemari besar agar pintu itu tidak terlihat oleh siapapun, pertanda ingin menghilangkan jejak keberadaan Dae Jung.


"Anna, Anna." Teriaknya.


Di menit kemudian, ada gas yang menyembur di sela pentilasi.


"Ada gas, astaga ..seseorang sudah menjebakku." Gumamnya.


Begitu banyak gas yang menyembur keruangan tertetutup itu, membuat Dae Jung batuk-batuk juga sesak nafas. Hingga penglihatannya kabur, dan detik berselang dia terjatuh pingsan.


Anna masih menunggunya. Dari jauh mata Anna sudah melihat penampakan suaminya dengan kemeja basah melangkah padanya.


"Bajunya sudah agak mengering, ya." Ujar Anna mengamati kemeja coklat yang dipakai suaminya.


"Iya, aku sempat mengeringkannya tadi." Sahut suaminya.


Tetapi hat' Anna kenapa merasa gelisah, entah apa yang sudah membuat jantungnya berdegup kencang, apakah akan terjadi sesuatu lagi pada mereka?

__ADS_1


"Ayo,kita pulang. " Pinta suaminya yang meraih tangan Anna untuk di genggam.


Anna merasa tangan itu asing olehnya, tidak seperti cara Dae Jung menggegam tangannya. ' Atau ini perasaanku saja?' gumam Anna mengikuti 'langkah suaminya.


__ADS_2