
Suara jeritan wanita terdengar lagi di lantai dua, Pecahan kaca jatuh berserakan di lantai, tangisan memberontak acapkali meriuhkan rumah mewah itu. Seorang Ibu dan Kedua Suster berlarian menaiki anak tangga ke asal suara tersebut.
Saat membuka pintu, wanita yang mengalami depresi berat itu sudah melukai dirinya sendiri dengan menggoreskan beling di tangan kanannya. Darah bercucuran di bed cover, lantai di penuhi pecahan kaca akibat amukannya.
"Sojunghan ( sayang) ." Seru Ibu yang sigap merangkul wanita itu.
Kedua suster yang datang bersamanya segera membalut tangannya dengan perban. nasib baik, goresan beling itu belum memutuskan urat nadinya.
"Omma, nan geunyang juggo sipeo (ibu, aku ingin mati saja) ." Ucapnya terisak tangis.
Ibu itu membelai rambut panjang Anaknya,
"Ani, i muleul masyeo ( tidak, minur air ini) ." Dia memberikan air minum untuk Anaknya.
Salah satu suster memberikan suntik penenang padanya, hanya itu cara yang selalu mereka gunakan bila pasiennya itu memberontak. Setelah obat penenang itu bereaksi, wanita yang memiliki paras cantik itu tertidur, melupakan segala tragedi yang menimpanya.
Ibunya hanya meneteskan air mata, lima tahun telah berlalu, namun Anaknya masih saja mengidap penyakit mental yang acapkali berujung ingin bunuh diri. Berbagai upaya agar Anaknya itu bisa sembuh, Psikiater termahal sudah ia boyong untuk menangani Anaknya, namun hasilnya nihil, semua belum bisa menyembuhkan luka batin pada putri tunggalnya tersebut.
Pelecehan seksual penyebab Anaknya mengalami depresi berat, kegadisan Anaknya di renggut oleh pria berkebangsaan asing yang tak di ketahui siapa pelakunya, karna mereka salah satu orang terpandang di Korea Selatan, sehingga mereka menutupi aib ini dengan cara membiarkan pelaku pemerkosaan pada Anaknya bebas, apa jadinya bila skandal ini di ketahui publik? mereka malah akan jadi sorotan dan itu tidak di inginkan terjadi.
'PERCAKAPAN BAHASA KOREA'
"Jaga Anak saya. Jauhkan dari benda- benda yang bisa membahayakan dirinya." Titahnya.
"Baik, Nona." kata kedua perawat itu.
Ibu itu keluar dari kamar Anaknya, putus asa mulai hinggapi dirinya, Entah apa lagi yang harus ia perbuat, akankah mengundang kenangan masa lalu Anaknya adalah cara yang baik? tapi, oh, apa itu mungkin? batinnya letih.
**************
Kedua mobil ferrari itu melaju sedang menuju bandara,
Tak ada percakapan yang terlontar dari bibir Anna maupun Dae Jung, mereka larut pikirannya masing- masing, begitupun di dalam mobil yang menyusul mereka dari arah belakang, Yuna dan Ji Yeong nampak tak menggubris satu sama lain, sebab kedua partner kerja itu kadang tak akur.
Sesampainya di bandara, sopir mereka membuka pintu, Anna yang sangat cantik dengan style bloues putih di balut jaket kulit coklat, celana jeans yang tak terlalu menampakkan lekuk tubuhnya, kakinya memakai sepatu boods buat dia bak lady rocker hijabers.
__ADS_1
Anna terperangah, membelalakkan kedua mata, melihat pesawat Jet pribadi milik Dae Jung, di badan pesawat itu tertuli nama Korain Group, dia mengarahkan pandangan ke Dae Jung yang sedang merapikan kancing kemejanya yang sempat ia buka sewaktu di dalam mobil.
"Korain benar-benar Kaya raya." Gumam Anna seraya mengeleng.
"Ayo, Nona. Kita akan segera terbang." Ucap Sekertaris Ji padanya.
Anna mengikuti langkah Dae Jung, memasuki pesawat yang berinterior klasik dengan bernuansa white gold itu buat Anna semakin tercengang, begitu mewah hingga tak sudi mengedipkan mata bila melihatnya.
" Nona, saya memasangkan sabuk pengamannya, ya." Ucap wanita yang berprofesi sebagai pramugari di Jet Dae Jung.
Sebelum lepas landas, Anna tak henti menjalarkan mata ke setiap sudut di Jet suaminya itu, sementara Dae Jung mengfokuskan pandangan ke Anna, dia melihat Anna dengan tatapan yang penuh arti, entah apa yang di pikiran pria itu sehingga memandangi istrinya yang penuh keluguan.
Di barisan belakang, Ada Ji Yeong yang juga melarutkan pandangan pada Yuna yang sedang merapikan lipstiknya, menyadari sikap Ji Yeong ,Yuna melototinya hingga pria segudang cinta itu mengalihkan pandangan ke arah jendela pesawat.
*************
" Flight attedant landing station"
Suara peringatan Pilot sudah terdengar dari arah kemudi, Anna terbangun dari tidur selama perjalan yang memakan waktu enam jam, melihat ke luar jendela matanya langsung di suguhi pemandangan Kota Seoul dari atas.
Dae Jung hanya mengeleng saja melihat tingkah konyol Anna.
Pesawat itu sudah mendarat di Bandara Inchaeon, sebelum membuka pintu pesawat, pengawal mereka memberikan baju dingin yang sudah di siapkan untuk Anna dan Dae jung, sebab Musim dingin belum jua berlalu di Negara K-pop itu, Dae Jung dan Anna menuruti anak tangga, mereka di sambut para kolega bisnis Dae Jung yang mengalungkan bunga di leher mereka rangka menyambut pengantin baru.
Dae Jung menju ke mobil bersama rombongan bodyguard di susul pula Ji Yeong dan Yuna, namun bayangan Anna tak ada do belakang, Dae Jung membalikkan badan,
"Anna!" Dae Jung mengerutu melihat Anna masih sibuk menyalami satu per satu koleganya.
Dia segara menarik tangan Anna lalu memasukkannya ke dalam mobil.
"Wah, Istri Presdir sangat rendah hati." Ucap salahsatu pengelola resto Korain berbahasa korea.
"Iya, meski dia seorang nona besar , tapi dia memberi hormat pada kita semua." Ada seorang wanita menambahkan pujian lagi.
Ketiga mobil beriringan itu melaju kecepatan tinggi, jarak tempuh mereka masih butuh 48 km ke Kota Seoul, Anna masih sibuk memutar wajah kiri kanan, terkesima dengan kemewahan gedung-gedung pencakar langit, Bangunan-bagunan yang tertata rapi, pohon tak menyisakan sehelai daun pun di jalan, sangat bersih dan rapi.
__ADS_1
Anna yang Jet lag, merasakan tidak enak badan, pusing, hawa Ac di mobil menambah rasa mual Anna, dia menyandarkan diri, berusaha merilekskan tubuhnya yang mulai mabuk perjalanan.
"Ya Allah, aku mual." Lirihnya dalam hati.
Anna melirik ke Dae Jung, suaminya itu masih asyik membaca lewat ponselnya.
Makin melaju, Anna sudah tak tahan lagi.
" Oppa, bisa kita berhenti sejenak." Pintanya.
Dae Jung melihat wajah Anna sudah pucat tak bergairah.
"Kamu kenapa?"
Anna mulai mengeluarkan suara mual.
"Anna, kamu mau apa?" Dae jung agak menajuh dari Anna.
"Tolong, saya ingin keluar dari mobil buang kotoran." Pinta Anna.
"Ini kawasan Elit, tidak bisa mau seenaknya buang kotoran." Sahut Dae Jung.
"Kalau begitu, tolong plastik."
Ji Yeong menyodorkan palstik bekas kesek tempat cemilan sopir mereka.
" Aku mau muntah, tolong hentikan mobilnya." Titah Anna pada sopir.
Sopir pribadi Dae Jung berhenti mendadak, Anna yang menampung kotoran di mulutnya menumoahkan di dalam plastik.
Ji Yeong dan sopir di jok depan gemetar menahan rasa mual yang mendengar Anna.
Dae Jung membuka kaca jendela mobilnya, mengeluarkan kepalanya ke jendela.
"Anna, lagi-lagi kamu bikin ulah." Gumamnya.
__ADS_1