
Suasana Kota kecil malam itu begitu tenang, sehabis mahgrib tadi hujan baru saja reda, menyisakan hawa dingin yang siap menyergap manusia. Dae Jung mengajak Anna, Ji Yeong, dan Yuna untuk makan malam di restorant untuk keberangkatan hari esok ke Korea, tak ada yang special, hanya saja bentuk ucapan terima kasih Dae Jung pada Sekertaris Ji dan Sekertaris Yuna.
Sembari masih menunggu pelayan resto menyiapkan pesanan, Dae Jung memulai percakapan santai dengan Ji Yeong sementara Anna dan Yuna menyibukkan diri dengan mengotak-atik ponselnya.
Hanya lima belas menit terlewati, pramusaji resto datang membawa trolly yang memajang berbagai makanan. beef black papper, dimsun, bebek goreng, ayam panggang, serta jenis yang di sukai Dae Jung.
Anna dan Yuna yang saat itu juga memesan bakso sudah siap dengan sendok dan garpu di tangannya.
"Wah, kaum wanita memang seleranya sama." Imbuh Ji Yeong.
"Sekertaris Ji, moment dingin ini sangat pas untuk menghangatkan tubuh." Celetuk Anna.
Dae Jung menyerngit, 'Ha .. menghangatkan tubuh? Anna lagi-lagi kamu bar-bar' batin Dae Jung melototi Anna, namun Istrinya itu tak menghiraukannya.
Mereka mulai menyendok makanan yang ingin mereka makan ke piring, Anna yang ingin memakan baksonya pula meracik bumbu terlebih dulu.
Tiga lawan makan Anna itu di buat terkejut saat Anna menuangkan semangkok sambal ke dalam kuah baksonya.
"Baru dua hari kamu menikah denganku, apakah kamu sudah bosan ? lalu ingin bunuh diri?" Tanya Dae Jung.
"Maksudnya Oppa, apa?" Anna bingung menanggapi.
"Kamu ini mau makan bakso atau sambalnya? "
"Menurut Oppa?" Anna balik bertanya dengan memasang wajah konyol.
"Itu tidak bagus untuk kesehatan, buang makanan itu. Pesan lagi yang baru." Titah Dae Jung.
"Ini caraku saat makan yang berkuah, Ah ..Astaghfirullah Oppa, Kan malam pertama kita, aku sudah banyak cerita tentang semua kesuakaanku. Masa lupa sih .." Sahut Anna yang membual.
Dae Jung menghela nafas, tak ada gunanya menasehati Anna yang belum ia ketahui kepribadiannya. Yuna dan Ji Yeing hanya diam menyaksikan kedua pengantin baru yang terkesan unik.
Di tengah-tengah mereka menikmati makan malam, ada panggilan menyusup di telpon genggam Dae Jung, karna tak ingin menganggu suasana makan ketiga orangbterdekatnya , Dae Jung pamit untuk mengangkat telpon, dia memilih menuju pojok resto yang jauh dari keriuahan pelanggan.
"Hallo, Apa kabar?" Tanyanya pada penelpon itu.
Lagi-lagi tak ada balasan dari si penelpon misterius itu.
"Ini siapa? ada perlu apa? "
"Hallo, jangan main-main, kalau begitu Anda saya block."
__ADS_1
Dae Jung mulai kesal merasa di permainkan oleh orang yang iseng padanya.
Saat mengecek, itu nomor yang sama menelponnya tadi siang, Dae Jung takkan tinggal diam, kali ini harus menjadi tugas Ji Yeong mencari tahu siapa penelpon misterius tersebut.
Dae Jung kembali ke tempat duduknya, melihat kekesalan sahabatnya, Ji Yeong bertanya,
"Apa ada masalah?"
"Ini, kamu lacak nomor ini." Dae Jung menyodorkan ponselnya ke Ji Yeong.
Pria yang mempunyai intelejent dimana-mana itu menyalin nomor kode berasal Korea Selatan yang memilik angka terbilang unik.
*************
"Kami sementara melacaknya, memang akhir-akhir ini dia meneror kamu?" Tanya Ji Yeong.
Sepulang resto, Dae Jung meminta Ji Yeong untuk keruangannya.
" Sudah ketiga kalinya, letak masalahnya, torornya ke nomor pribadi yang sejak tujuh tahun saya gunakan, Anna saja belum mengetahui nomor ini." Sahut Dae Jung yang penuh tanda tanya.
Ji Yeong memikirkan sesuatu, tercetuk dipikirannya hal yang bisa di simpulkan, namun itu belum bisa ia kemukakan pada Dae Jung sebab belum menemukan bukti ontentik.
"Kenapa dengan dia?"
"Sejauh ini Anna orangnya baik, dia gadis polos yang memang murni itu kepribadian dia."
"Lalu? maksudnya apa?"
"Maksudku, apa kamu sudah tertarik pada Anna?"
Dae Jung tergugu, pertanyaan Ji Yeong saat ini belum mampu dia jawab, Entah apa yang sudah ia rasakan pada istrinya itu, segala perhatian yang ingin di berikan pada Anna bukanlah rasa cinta, melainkan tanggung jawabnya sebagai suami.
"Ah, kamu istirahat saja sana, Aku mau tidur, Jangan lupa matikan lampu." Ketus Dae Jung yang bergegas menuju ke kamarnya.
Ji Yeong yang masih bertarung dengan apa yang sementara ia simpulkan tentang penelpon misterius, ada ketakutan bila semua keadaan itu berubah manakala Dae Jung mengetahui siapa yang menerornya.
"Semoga ini ketakutanku saja." Lirih Ji Yeong.
************
Anna malam itu gelisah, bolak balik dari toilet membuang waktu tidurnya.
__ADS_1
' Ah, benar kata Dae Jung, makan sambak kebanyakan tidak baik untuk kesehatan, lagi pula ini perut juga kenapa, dari dulu penikmat sambal tapi baru kali ini mules berlebihan' Anna mengerutu.
Anna sudah hampir dehidrasi, Karna tak tahan dengan sakit perutnya, dia menuju kamar Dae Jung untuk meminta tolong.
Ketukan berkali-kali ia layangkan ke pintu kamar Suaminya, sembari memegang perutnya yang nyeri tanpa henti.
"Oppa, bangun." Seru Anna dengan suara di rendahkan.
Dae Jung yang tertidur nyenyak mulai mengerjap, memasang telinga dengan baik, suara itu seperti Anna.
Dae Jung melanjutkan tidurnya, menutup telingannya dengan bantal. tak ingin bila Anna menganggu kualitas tidurnya yang bisa saja keisengan istrinya itu sedang kumat.
" Oppa, saya sakit." Ucap Anna kembali.
Keluhan Anna menggerakkan hatinya, Dae Jung bangkit dari tempat tidurnya, nampak di balik pintu, Anna sudah merintih seraya memegang perutnya.
"Anna, kamu kenapa lagi sih?" Tanya Dae Jung dengan menggaruk kepala.
"Oppa, punya obat sakit perut ? dari tadi aku BAB terus." Keluh Anna.
Dae Jung mengusapa wajah kesal.
"Kan, aku bilang apa, makan cabe banyak tidak bagus untuk kesehatan, kamu ngeyel sih." Ketus Dae Jung.
"Tunggu, aku cari obatnya dulu." Lanjutnya mengambil kotak obat miliknya di laci.
Dae Jung memilah-milah obat diare untuk Anna yang bagus, setelah dapat dia kembali ke Anna yang sedang menunggunya di depan pintu.
"Ini, segera minum, kalau tidak, bisa-bisa kamu muncul di headline besok, 'Istri pemilik Korain Group mati gara-gara cabe." Ujar Dae Jung.
"Iya, Oppa. terimakasih, maaf sudah merepotkan."
Anna begitu lemas, tangannya belum lepas mengcengkran perutnya. Melihat itu, Dae Jung iba.
"Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan air minum." peri tah Dae Jung
Anna hanya menurut saja.
"Kamu minum, setelah itu kembali ke kamar untuk istirahat, aku juga ngantuk, makanya kalau jadi istri itu harus dengarkan apa kata suami." Celetuk Da eJung yang memebukakan obat untuk Anna.
Setelah Anna meminum obatnya, Dae Jung menutup kamarnya, meninggalkan Anna yang juga ingin kembali berselimut di atas kasurnya.
__ADS_1