
Di Kota Daegu , ada Bibi Nami yang sudah kehabisan akal, tak bisa lagi mencari alasan untuk Bora, mulai semalam sudah tiga kali dia memberikan anaknya suntikan penenang, hanya itu jalan ampuh agar Bora tertidur lalu melupakan keinginannya bertemu Dae Jung.
Dae Jung sudah tidak menghargainya lagi, permintaannya sudah berani di tolak oleh pria yang pernah menganggapnya sebagai pengganti Ibunya. Mematikan panggilan tanpa pamit, ini sangat kelewatan, semua karna kehadiran Anna yang menjadi salju di musim semi.
Di lihatnya wajah Bora, anaknya begitu cantik namun mengapa dia bernasib malang, gelar pendidikan yang di raih Bora bukan sembarangan, ada banyak keahlian anaknya mulai dari menari balet, modeling, hingga menjadi duta kecantikan mewakili universitas di masanya. Tetapi mengapa pesona anaknya harus di kalahkan oleh perempuan udik itu? Istri Dae Jung hanyalah pecahan dari kesempurnaan Bora, sama sekali tak bisa jadi perbandingan yang setara. Hehhg! menjengkelkan bila mengingat perempuan itu. Batin Bibi Nami mengumpat.
-PERCAKAPAN BAHASA KOREA-
"Ibu .." Suara Bora berlirih.
"Kau sudah bangun sayang,"
"Dae Jung kenapa belum datang? "
Bibi Nami gelagapan, tak tahu harus menjawab apa.
"Ibu, Aku ingin bertemu Dae Jung." Pinta Bora menyendukan wajah.
"Sayang, Dia sedang sibuk."
"Tapi, aku ingin sekali bertemu dia, Bu." Bora lagi-lagi memaksa.
"Sayang, kamu tenang."
Bora kembali menjerit memanggil nama Dae Jung.
__ADS_1
"Bora! Tatap mata Ibu, lihat Ibu !" Tegas Bibi Nami yang sudah kehilangan kesabaran.
Bibi Nami memegang kedua pipi Bora,
"Jika kamu seperti ini terus, kamu akan kehilangan Dae Jung selamanya. Dia tidak akan mau bersama dengan wanita yang selalu menjerit seperti ini, Kamu harus jadi Bora yang dulu, saat pertama kali bertemu Dae Jung, seperti dulu lagi. Jika kamu menginginkan Dae Jung kembali, hilangkan semua ketakutanmu di masa lalu."
"Apa yang harus aku lakukan, Bu? Aku sudah putus asa, aku takut bila Dae Jung menghilang lagi." Imbuh Bora.
"Ibu akan membantumu mendapatkan Dae Jung kembali, mulai sekarang kamu harus kembali seperti dulu. Merawat diri, lebih percantik diri kamu, kamu putri dari pemilik GG group, tidak ada yang bis mengalahkan kamu. Lupakan orang yang sudah berlaku buruk padamu, anggap saja dia manatan yang harus kamu lupa." Bibi Nami berusaha membangunkan kepercayaan diri Bora kembali.
Bora menimang semua perkataan Ibunya, Dae Jung cinta pertamanya, dan selalu ia inginkan untuk selamanya bersama Dae Jung.
"Dia bukan lagi anak SMP,SMU, ataupun pria remaja seperti dulu, Dae Jung sudah sukses dan berpikir luas. Dia tidak mungkin mau jika keadaan kamu seperti ini. Ibu tidak bisa berjuang bila kamu sendiri bersikap begini."
Bora menilik semua perkataan Ibunya, memang benar, jika dia bertindak arrogant, Dae Jung tidak akan nyaman padanya. Pikir Bora.
Bibi Nami tersenyum, rupanya anaknya sudah mampu menelaah perkataannya, berarti Bora sudah ada kemajuan, Semua karna Dae Jung, pria beristri itu sungguh obat yang paling mujarab untuk kesembuhan Bora.
"Ibu akan bawa kamu ke salon, belanja semua kebutuhanmu, percantik dirimu sayang. Berusahalah menjadi Ratu jika ingin mendapatkan pangeran sperti Dae Jung." Bibi Nami tak henti mendoktrin anaknya.
Bora mengiyakan, pagi itu Bibi Nami membawa Anaknya untuk melakukan treatment kecantikan kembali, selama lima tahun ritual kecantikan itu tak pernah lagi di lakukan Bora, kali ini dia harus menjadikan anaknya sebagai Ratu GG group yang semestinya sudah begitu.
Menyediakan Bora outfit brand dunia, dia berusaha agar membuat istri Dae Jung bagai sebutir debu di hadapan berlian seperti Bora. Hm, ini akan menjadi lelucon untuk perempuan udik itu. Kecam Bibi Nami yang menyungging senyum jahat.
*******************
__ADS_1
Anna dan Ji Yeong sudah tiba di kantor polisi, di tempat Jun Hyun di tahan sebagai tahanan sementara. Dae Jung hanya ingin memberikan efek jera pada saudara sambungnya itu, sebab Jun Hyun juga hanya korban dari kebringasan Ayahnya. Belum lagi saat mengetahui kondisi Ibu Jun Hyun yang sakit parah, buat Dae Jung semakin tak tega bila memisahkan Ibu dari Anak semata wayangnya itu. Dae Jung selalu memposisikan diri bila dia berada di posisi Jun Hyun dan Ibunya sebagai Ibu Jun Hyun,, tentu dia akan menderita.
Dae jung juga memahami bahwa Jun Hyun bukan orang jahat yang harus di takuti, jika memang Jun Hyun pria yang arrogant dan memiliki rencana buruk padanya, tentu dia akan memperlakukan Anna secara buruk saat dia menculiknya, atau bahkan Jun Hyun bisa saja menodai Anna. Namun itu tak di lakukan, karna jauh di dalam hati Jun Hyun masih menyimpan kebaikan yang dia tutupi dengan dendam.
Anna sudah duduk di ruang kunjungan, menanti kehadiran Jun Hyun, di tangannya sudah terisi makanan dan berbagai macam barang yang akan di butuhkan Jun Hyun selama menjalani masa tahanannya.
Jun Hyun di bawa oleh petugas, dengan memakai baju tahanan dia terlihat lusuh, wajah tampannya bak layu memikirkan penyesalan sudah bertindak kriminal. Sungguh, dia merasa kehilangan jati diri melakukan demikian, tekanan demi tekanan buat dia terpaksa melakukan demikian, sembari menuntaskan dendam, dia juga ingin memiliki Anna, namun ia sadari caranya sangat salah, dan pantas di hukum.
"Anna .." Lirihnya dalam hati melihat kehadiran Anna di ruang kunjungan.
Dari jauh Anna melempar senyum untuknya, sebenarnya dia masih sangat kesal atas sikap Jun Hyun yang menculiknya, ah, tapi sudahlah, semua orang kadang selalu bertindak di luar batas logika.
Jun Hyun duduk di kursi, dari kaca tebal itu dia melihat wajah Anna, dia meyakinkan diri agar bisa melupakan senyuman Anna itu, dia harus lupa, Anna milik seseorang dan orang itu Dae Jung, saudara sambungnya.
"Kamu sudah merasa jauh lebih baik sekarang?" Tanya Anna membuka pembiraan.
"Ya, aku berusaha ke arah situ." Sahut Jun Hyun yang tak berani menatap wajah Anna, itu cara agar melupakan Anna secara perlahan.
"Kami akan menjemput Bibi nanti, biarkan kami menjaganya selama kamu disini. dan semoga selama kamu menjalaninya, kamu sudah jauh lebih baik." Tutur Anna.
Jun Hyun hanya membalas dengan anggukan.
"Ini, aku juga membawakanmu kitab suci Alqur'an dan berbagai terjemahan hadits, semua pertanyaan kamu tentang kehidupan ada di dalamnya, Jun Hyun hidup tanpa agama itu hampa, tak teratur, hidup harus ada aturannya, seperti pemerintah memimpin negaranya. Kamu baca saja itu semua, barangkali itu akan lebih buatmu memandang cahaya." Jelas Anna, semua yang di bawanya sudah di berikan pada petugas untuk di berikan lagi pada Jun Hyun.
"Aku minta maaf, Anna. Aku hanya pria pendendam yang sedang jatuh cinta, tapi mencintai di waktu yang salah." Ujar Jun Hyun penuh penyesalan.
__ADS_1
Di mata Anna, Jun Hyun tetap pribasi yang baik. Nasib kadang kala buat pelakonnya menjadi buruk, merasa tak di cintai oleh Tuhan alasan pemberontakan untuk melakukan kejahatan, pikir Anna yang menerima permintaan maaf Jun Hyun.