
Ji Yeong kembali masuk ke dalam mobilnya, tangannya mengcengkram kemudi dengan kuat, dia sangat marah atas jawaban Jun Hyun, sangat tak menerima tuduhan pada keluarga Korain tersebut.
Tapi di sisi lain, Ji Yeong berpikir bhawa Jun Hyun mengucap kebenaran, namun kebenaran itu sungguh tak masuk akal baginya. Mana mungkin pria dengan tubuh rentanya mampu berbuat demikian? Hhhh !! Aku bisa gila ! Hardiknya yang memukul-mukul kemudi.
"Baiklah, Aku akan ke rumah itu kembali." Lirihnya.
Untuk membuktikan pernyataan Jun Hyun dia harus mengikuti intruksi mantan guru private Anna itu.
Lalu ada lagi yang mengusiknya, siapa pemilik sidik jari misterius itu? tidak mungkin nama itu tidak memiliki identitas? sakit jantung? siapa penderita itu? sedangkan nama yang dituliskan Jun Hyun salahsatu pengandil Korain terdahulu tidak memiliki riwayat demikian.
Dia harus menanyakan ini pada Dae Jung. Ji Yeong menyalakan mobilnya lalu melaju menyatu dengan jalan menuju ke kantor Korain.
****************
Setiba disana, dia menemukan Yuna yang sibuk merapikan berkas di meja pribadiniya, pandangan Yuna pun tertuju padanya yang melempar senyum.
"Oppa, dari mana saja?" tanyanya.
"Dari kantor polisi, aku ke ruangan Pak Kim dulu, kamu lanjutkan pekerjaanmu." Ujar Ji Yeong yang berlalu ke ruangan Dae Jung.
Gedung mewah dengan puluhan lantai itu, Dae Jung masih sibuk pula merancang untuk pembangunan pabrik Korain tekstil kembali. Sesekali matanya melirik ke foto Anna yang ia pajang di meja kerjanya. Seraya tersenyum mungil, dia berkata pada gambar istrinya itu, "Dasar, hidung ! Kamu akan ku telpon bila pekerjaan ini selesai."
Ada Ji Yeong mengetuk pintu, Dae Jung menyahut dari dalam mengizinkannya masuk ke ruang Presdir Korain tersebut.
"Kau dari mana?" tanyanya.
Ji Yeong menarik salahsatu kursi untuk ia duduki disamping Dae Jung.
"Aku dari kantor polisi, ada banyak bukti yang aku dapat. Tapi berjanjilah jangan tanya soal itu dulu. Demi kebaikan, Hyung." Ujar Ji Yeong.
Dae Jung yang bijak mengangguk menyetujui, dia tahu Ji Yeong melakukan itu demi kebaikan bersama. Bila Ji Yeong tak ingin dia mengetahui itu lebih dulu, maka itu memang demi kebaikan.
"Aku berjanji."
__ADS_1
"Baiklah, apa dikeluarga Korain ada yang memiliki riwayat jantung?"
Dae Jung memutar mata sipitnya ke arah kanan, mengingat memorinya yang tersimpan di masa silam.
"Mendiang Ayahku, dia meninggal karna gagal jantung, kan. Masa kamu lupa." Jawab Dae Jung.
"Aigoo, ya, Ayahmu, tapi ..." Ji Yeong menghela nafas berat, sangat sulit bertanya bila harus dengan cara kisi-kisi.
"Ada apa? tanyakan yang ingin kau ketahui? karna ketika aku bertanya mungkin kau tidak akan bisa jawab."
"Cuma Ayahmu saja memiliki riwayat jantung, mungkin aku salah .." Ucapnya.
"Ibuku dulu sempat bilang, sejak lahir aku memiliki riwayat lemah jantung, bahkan dia selalu membawaku kontrol, ada banyak dokter yang disediakan untukku di rumah. Tetapi, Ibuku bilang lagi, doanya terkabul di usiaku 2 tahun aku dinyatakan sehat. Tidak ada kata lemah atau mantan pengidap lemah jantung. Aku dinyatakan sehat 100%, Itu keajaiban katanya." Ujar Dae Jung mengenang cerita Ibunya saat dia masih SMP dulu.
Ji Yeong mengeleng, dia semakin bingung akan misteri dari rumah 308 C itu. Jalan yang terbaik dia akan kembali secara diam-diam siang ini juga.
"Sudahlah, kita lanjutkan saja besok obrolan ini, siang ini aku punya teman kuliah mengadakan acara." Ji Yoeng mencari alasan agar segera ke Busan lagi tanpa di ketahui oleh siapapun.
"Apa kau ingin membawa Yuna?" tanya Dae Jung.
"Baguslah, kalau begitu setelah pekerjaannya selesai, aku akan memintanya pulang menemani, Anna."
Ji Yeong keluar melangkah penuh rancangan di otaknya, suatu susunan rencana agar bisa menemukan pelaku itu, juga membuktikan kebenaran Jun Hyun.
Dia menggunakan taksi kali ini ke stasiun, dia tak lagi menggunakan jasa Pak Su ataupun membawa bodyguard, sesuai intruksi Jun Hyun. Malam ini tak ada kata misteri lagi, semua harus terungkap di depan mata kepalanya sendiri.
Ji Yeong pun yang sebagai asistent keamanan pribadi Dae Jung merasa tanggung jawab akan keselamatan Presdir Korain dan istrinya. Semua berhubungan dengan Korain adalah tanggung jawabnya.
Seperti kemarin, Ji Yeong harus menaiki kereta KTX menuju stasiun Busan. Dua jam kemudian, di tiba lalu memakai jasa taksi mengantarnya ke rumah 308 C itu.
Dari jauh, Ji Yeong mengamati keadaan rumah itu dari dalam taksi, dia sengaja memakai kacamata hitam agar siapapun di dalam rumah atau di sekitar tak mengetahui kehadirannya.
Rumah itu tampak sepi, dua jam Ji Yeong menunggu namun tanda-tanda kecurigaan itu belum juga dinampakkan di rumah 308 C.
__ADS_1
Ada mobil yang datang ingin masuk ke rumah misteri itu, mobil dan sopir yang sangat ia kenali. Ji Yeong sedikit menundukkan badan agar orang yang ada di dalam mobil hitam mewah tak menyadari kehadirannya di taksi.
Saat pintu pagar rumah misteri itu terbuka, sopir yang sangat ia kenali membukakan pintu mobil pada seseorang. Di detik kemudian, ada pria yang ikut pula turun dengan wajah penuh kejahatan terpendam. Dia melangkan tanpa ada dosa yang sudah banyak di perbuat olehnya. Di samping kanan kirinya ada pengawal yang juga bertubuh kekar siap melindunginya.
Tubuh Ji Yeong terkulai, semua tulangnya bak melunak seketika melihat wajah pria tua itu. Melihatnya, dia mengakui perkataan Jun Hyun benar semua. Ini manipulasi seseorang yang ingin berkhianat. Namun mengapa pria itu sangat tega?
Tanpa membuat waktu lama, Ji Yeong menyuruh sopir taksi menunggunya, dia turun dari mobil untuk masuk ke rumah 308 C. Pria itu harus menjawab semua yang terjadi padanya.
Ji Yeong memanjat pagar besi yang sudah terkunci itu. Dia tak lagi mengendap-ngendap, amarahnya membuatnya makin nekat. Ada dua pistol yang sudah ia siapkan untuk menemaninya berduel dengan para pengawal pria itu.
Sekali tendangan, pintu yang tidak terkunci itu terbuka lebar. Mengagetkan para penghuni di dalamnya, termasuk pria tua itu yang terkejut melihat kehadiran Ji Yeong di rumah misterinya. Ternyata rumah 308 C tempat berkumpulnya manusia berhati iblis.
Dua pengawal itu mencoba melumpuhkan Ji Yeong, namun keahlian bela diri Ji Yeong yang pernah menjalani kursus bersama Dae Jung belum bisa mengalahkan kekuatan Ji Yeong.
Karna mendapat serangan dari rombongan mafia itu, Ji Yeong melayangkan peluru ke atas langit rumah, memberikan kode peringatan.
"Diamlah kalian, jangan mencoba jadi lawan Ji Yeong, dia juga salahsatu dari kita." Ujarnya pria tua itu menghembuskan asap rokot dari mulutnya.
Ji Yeong mengarahkan ujung pistolnya ke wajah pria tua itu. Dia sangat kecewa akan perbuatan keji yang dilakukan oleh Tuan rumah misteri 308 C.
"Kau selama ini menipu kami !" Imbuh Ji Yeonh dengan getaran amarah.
Pria tua itu hanya tertawa, dia sangat puas mampu menjebak Ji Yeong masuk ke perangkapnya, dia tahu, Ji Yeong akan kembali kerumah rahasianya lagi.
"Apa yang kau rencanakan lagi pada Dae Jung dan Korain?" tanyanya yang masih meluruskan pistol tepat di wajah pria tua itu.
"Tenang sayang, jangan gegabah." Sahutnya sambil terkekeh.
"Aku tidak sudi lagi menyebutmu Ayah. Kau iblis !" Hardik Ji Yeong.
Ya, pria tua yang di tuliskan Jun Hyun di kertas itu adalah nama Chang Sung, Ayah kandung Ji Yeong. Pria yang sama kemarin di rumahnya, namun kemarin pria itu tidak lagi duduk di kursi roda dengan tubuh yang terkena stroke, tetapi sekarang tubuhnya itu terlihat bugar dan sehat tanpa ada rasa sakit yang menyiksanya selama setahun.
"Meski kau tak sudi menyebutku Ayah, tapi aku tetap ayahmu, tidak akan ada satupuun yang bisa merubah itu. So Ji Yeong !" Kata Ayahnya geram.
__ADS_1
Ji Yeong rasanya ingin menatik pelatuk pistolnya, namun sanggupkah dia membunuh Ayahnya sendiri?