
Bibi Nami masih menenangkan Bora yang sejak siang menangisi sikap Dae Jung padanya, belum lagi bekas luka yang di sebabkan Yuna yang meninggalkan bekas di wajah cantiknya.
"Jangan menangis lagi, sayang," ucapnya.
"Dae Jung mengabaikanku, Ibu."
"Dia tidak mengabaikanmu, Dae Jung hanya masih sibuk saja." Sahut Bibi Nami.
"Dae Jung selalu membela orang-orang di sekitarnya ketimbang aku, Ibu." Imbuh Bora di balik bantal.
Bibi Nami begitu geram pada kubuh Korain, mereka sudah sangat menjatuhkan harga diri anaknya, dia tidak akan menerima itu, terlebih lagi sekertarisnya yang sudah buat anaknya kesakitan.
"Lihat saja, kamu juga sudah masuk daftar sasaranku." Kecamnya dalam hati.
Bibi Nami membangunkan Bora dari perbaringannya,
"Bangun dulu, sayang, Ibu mau katakan sesuatu," ujarnya.
Bora mulai menurut semua apa yang di katakan Ibunya, dia bangun sembari melenyapkan lelehan air di pipinya.
"Jika kamu hanya bisa menangis, kita akan kalah dari mereka," tukas Bibi Nami.
"Maksud, Ibu?"
"Ibu, akan menghancurkan orang-orang yang di sekitar Dae Jung, kita punya kekuasaan, uang, dengan gampang kita hancurkan mereka satu per satu, kamu ikuti saja alurnya, yakinkan diri kamu, sayang." Jelas Bibi Nami tersenyum jahat.
Bora lagi-lagi hanya bisa mengangguk, ucapan Ibunya selalu benar, menangis hanya buat dirinya rugi, dia akan menggunakan kekuasaan yang di miliki orangtuanya untuk menghancurkan orang-orang terdekat Dae Jung, yaitu Anna dan Yuna, bila perlu Ji Yeong pun akan ikut jadi di daftar kehancuran itu.
Bibi Nami mengambil ponselnya, dia beranjak ke sudut kamar Bora, dia mendial nomor seseorang yang sangat berperang penting bagi rencana jahatnya itu.
"Saya punya tugas lagi untukmu, lacak tempat tinggal sekertaris Presdir Korain, dan laporkan ke saya." Ujarnya pada seseorang di telpon.
"Baik, Nona." Suara itu terdengar mengiyakan perintahnya.
Tatapan tajam mengingat bayangan Yuna yang akan di jadikan tumbal pertama untuk kebahagiaan Bora, anak kesayangannya.
__ADS_1
"Apa yang ibu akan lakukan?" tanya Bora.
Bibi Nami tersenyum lalu duduk di samping anaknya,
"Kita akan membalaskan luka-luka ini, sayang," sahutnya mengusap wajah Bora.
Ibu dan anak itu sudah kukuh dengan keputusannya, mereka akan meminta bantuan kekuasaan dari presdir GG group yang tak lain Ayah Bora.
"Kita mainkan ini di depan Ayahmu, manipulasi semuanya, Ibu tahu dia tidak akan setuju bila dia mengetahui motif kita." Bibi Namj menambahkan lagi.
Ayah Bora masih berada di Taiwan, sudah sebulan dia meninjau priyok barunya disana, dia juga sangat mengenal Dae Jung, tentu dia banyak tahu tentang hubungan anaknya dulu sewaktu bersama Presdir Korain itu, dia juga sangat tahu bahwa mantan kekasih anaknya sudah menikah, dan hal itu tidak akan di setujui bila ia mengetahui anaknya akan merampas kembali Dae Jung.
"Kamu tidur dulu, besok kamu akan Ibu bawa ke Beauty Clinic termahal kita," ujar Bibi Nami.
Bibi Nami keluar dari kamar Bora, dia akan menghubungu kembali partnernya itu, salah satu musuh bebuyutan Korain nomor satu, dia yang menjadi andil menjalankan semua rencananya, hingga menjadikan boneka Jun Hyun.
"Hallo, aku sudah lelah dengan semuanya, tolong percepat aksimu itu." Ujarnya pada sosok musuh Korain.
"Perlahan saja, kita tidak bisa terburu-buru, mereka juga punya kekuatan. Dan itu sulit bila tidak ada rencana matang." Sahutnya.
"Baiklah, susun saja rencanamu, aku juga akan menyusun rencanaku." Cetus Bibi Nami menutup telponnya.
"Hah, aku lebih baik berjalan sendiri, demi Boraku, apapun aku akan lakukan, liat saja nanti Anna,"
Sebelum menyingkirkan Anna dari hidup Dae Jung dia akan lebih dulu menyingkirkan Yuna, juga Presdir Hang karna pria tua itu akan jadi penghalang besarnya menyatukan Bora dengan Dae Jung.
*************
Yuna baru saja usai mandi, wajahnya masih perih, namun tidak separah Bora, mungkin esok semua sudah mengering. Dia baru kali ini berduel dengan lawan yang sangat brutal seperti Bora, gangguan mental mantan dari bosnya itu memang selalu membahayakan orang-orang yang berargumentasi dengannya.
Ting ! Ting !
Nada pesan berbunyi di telpon genggamnya, di lihat pesan dari 'My Robot' alias Ji Yeong.
'Kamu selalu kunci setiap ruangan, jangan pernah ke tempat yang sepi sendiri, jangan keluar rumah bila larut malam, dan setiap kamu ingin keluar rumah, infokan ke aku, ini perintah yang wajib di lakukan, ok?'
__ADS_1
Isi pesan Ji Yeong yang penuh rambu-rambu untuknya, Yuna tersenyum manis, merasa sangat di perhatikan, di specialkan, dan di nomor satukan, perempuan mana yang tak melelh bila di beri segala bentuk perhatian.
"Ah, robotku, makin romantis saja," cetusnya.
'Memang kenapa? aku jago bergulat,'
Yuna membalasnya.
'Kamu bergulat sama aku saja, nanti.'
Balas Ji Yeong.
'*Puhhhssss!!!'
'Kamu bangun pagi, besok kita akan di ajak Presdir berlibur', jika sudah ada disana, aku akan memberitahukan hubungan kita.'
Balas Ji Yeong.
'Selama Presdir menikah, dia sudah banyak beru**bah, lebih ramah dan banyak senyum'
Ujar Yuna.
'Itulah cinta, kamu juga selama memacariku, kamu juga terlihat bahagia, pussshhhh!'
Ji Yeong menggoda lagi.
'Itu benar, Pusshhh!'
Yuna tinggal di apartement yang masih di sekitar Pyeochandong, jarak dari rumah Dae Jung hanya tiga kilo mengnatarainya, jadi sebagai kekasih, Ji Yeong akan selalu sigap menjaganya dari jauh.
Tiga kali setahun, Ayah dan Ibu Yuna menjenguknya dari Singapura, Yuna anak kedua dari tiga bersaudara, sangat cerdas dan juga mandiri, dia memutuskan merantau ke Korea karna ingin jadi salahsatu penakluk Gangnam, itu impian bermata sipit itu.
Ji Yeong tak lagi membalas chat Yuna, tetapi pria kelahiran Busan itu akan selalu menjaga kekasihnya, sebab ia tahu karakter Bora dan Bibi Nami, mereka akan melakukan segala cara untuk membalas Yuna. Itu sudah tabiat dari Bibi Nami yang sudah lama ia kenali.
Ji Yeong yang duduk di balkon rumah Kakek Hang, merasa akan ada yang menimpa Yuna, dia membawa Yuna untuk tinggal di rumah Kakek Hang atau Dae Jung? agar lebih aman untuk sementara. Bagi Kakek Hang dan Dae Jung itu tidak akan jadi masalah, rumah yang terisi sepuluh kamar itu hanya di ramaikan oleh beberapa pelayan, rumah Dae Jung bersebelahan dengan rumah Kakek Hang, hanya dinding kaca jadi pemisahnya.
__ADS_1
Itu akan jadi bahan pertimbangannya, dia ingin melihat tindakan Bibi Nami terlebih dulu, seperti apakah cara permainannya, Ji Yeong tahu, penculikan Anna juga ada Bibi Nami di baliknya, dan itu belum bisa ia ungkapkan pada Dae Jung sebab dia belum memiliki bukti otentik.