
Bora masih nyaman memeluk Dae Jung, tapi pemilik raga yang di peluknya malah sebaliknya, pikiran Dae Jung tetap pada Anna seorang, merasa bersalah lagi bila Anna mengetahui ini. Dia tidak bisa lagi menahan, sebab ia tahu, di sentuh atau menyentuh wanita lain selain Istri sangat tidak baik, itu yang pernah di baca olehnya di buku pernikahan islam seminggu yang lalu.
"Bora,sudah, ya. Lepas, kamu obati luka kamu dulu." Dae Jung berusaha lembut lagi.
Ada Bibi Nami yang tiba-tiba mendobrak pintu, saat di bawah, dia mendengar cerita para karyawan tentang pertengkaran anaknya dan seketaris Dae Jung.
Bibi Nami murka melihat Yuna, Ji Yeong berdiri memasang badan untuk kekasihnya itu.
"Beraninya kau menyentuh anakku?" Geram Bibi Nami.
Ji Yeong merangkul Yuna dengan erat, tak ingin bila Yuna sampai di sakiti lagi Ibu dan anak saiko itu.
"Anda sudah membuat kekacauan di tempat kami." Ji Yeong tegas sebagai Sekertaris dan Kepala Keamanan Dae Jung.
"Silahkan keluar dan tinggalkan ruangan ini. Kami berhak melindungi karyawan termasuk sekertaris ini." Lanjut Ji Yeong dengan suara lantang.
Bibi Nami menahan amarahnya,di tariknya tangan Bora untuk keluar paksa dari ruangan Dae Jung. Bora yang masih menangis hanya menuruti keinginan Ibunya. Bibi Nami merasa di permalukan, di rendahkan oleh orang-orang Korain.
Dae Jung menghela nafas lega, dia seperti keluar dari cengkraman dewa maut yang mengintainya setiap saat. Dia melihat ke arah Yuna yang masih meringis kesakitan di wajahnya.
"Yuna, kamu ke klinik kantor dulu obati lukamu, lalu istirahat, sekertaris Ji antar Yuna ke klinik." Ujar Dae Jung.
Ji Yeong membopong Yuna ke klinik di lantai bawah, di lift hanya mereka berdua, Ji Yeong mengusap wajah Yuna yang di lukai Bora dengan sepatunya.
"Sakit?" Tanyanya.
Yuna mengangguk. Dia memeluk Ji Yeong, mengeluhkan semua rasa sakitnya pada partnernya sekaligus kekasihnya itu.
"Kita obati lukamu dulu." Tutur Ji Yeong.
Mereka sudah berada di lantai bawah, Ji Yeong membawa Yuna ke klinik kantor, disana luka Yuna di beri obat merah serta plaster kecil di setiap luka bekas hantaman hak sepatu. Ji Yeong yang sudah mengenal keluarga GG group tahu betul karakter yang di miliki orang-orang tersebut, dia merasa khawatir, Bibi Nami dan Bora tidak akan menerima begitu saja kejadian ini, mereka akan membalas Yuna dengan cara sadis mereka, bahkan bisa saja tindakan kriminal akan di berikan pada Yuna.
Proses pengobatan luka Yuna selesai, gadis berhidung mancung itu menghampiri Ji Yeong yang tengah berpikir.
"Oppa, Memikirkan apa?" Tanya Yuna.
"Tidak ada, Ayo kita keluar sebentar, aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Pinta Ji Yeong.
__ADS_1
"Tapi, ini masih jam kerja."
"Sudahlah, kita hanya sebentar, Dae Jung akan mengerti. Ayo," Seru Ji Yeong.
Ji Yeong kali ini tidak memakai jasa sopir Pak Su, sebenarnya dia ingin mengajak Yuna untuk pertama kalinya berjalan-jalan dengan mobil sport yang di hadiahkan oleh Dae Jung, tapi kondisi yang sempit waktu ini tak memjngkinkan untuknya pulang kerumah hanya mengambil mobil.
Di dalam mobil yang masih melaju itu, Ji Yeong ingin lebih bercengkrama dengan Yuna, hubungan yang terjalin secara diam-diam sangat membatasi mereka berkomunikasi, sehingga mereka berdua hanya melampiaskannya via chatting atau telpon.
"Yuna, cita-citamu sejak kecil ingin menjadi atlet?" Tanya Ji Yeong.
"Tidak, aku ingin jadi desainer, tapi itu aku urungkan."
"Aku kira jadi atlet?" Tukas Ji Yeong kembali.
"Kenapa memangnya?"
"Atlet pegulat maksudku, kan kamu doyan bergulat." Imbuh Ji Yeong.
Yuna memanyunkan mulut,
Kali ini Ji Yeong mengajak Yuna ke tempat yang tidak jauh dari kantor Korain, dia menghentikan mobilnya di toko fashion brand dunia, toko itu masih terletak di kawasan Hannamdong.
Yuna pun turun dari mobil, tangannya di raih oleh Ji yeong untuk di gandeng, Yuna sungguh tersentak melihat perlakuan romantis kekasihnya itu, pria yang selama ini ia anggap robot dan kaku itu ternyata berhati lembut nan romantis.
Mereka sudah memasuki toko itu, di dalamnya terpajang berbagai penunjang penampilan wanita glamour, Yuna hanya diam memperhatikan rayuan maut semua barang branded itu.
Ji Yeong membuka dompetnya, lalu mengeluarkan yang ingin di berikan pada kekasihnya itu.
"Kamu pakai ini, belanjalah sepuasmu, mulai sekarang kamu yang pegang. Jangan pakai kartu orang lain, termasuk Bos Dae Jung." Ujar Ji Yeong pada Yuna memberikan blackcard.
Yuna ternganga, tak menyangka Ji Yeong memiki kartu hitam yang hanya dimiliki oleh orang konglomerat, ternyata pria yang mengabdikan dirinya sebagai Sekertaris Pribadi itu menyimpan aset tersembunyi.
"Kenapa diam? Ayo, ambil. Hm, Yuna kau meragukanku?" Ji Yeong menyelidik.
Yuna mengerjap, mengembalikan alam bawa sadarnya yang sempat terbang berkelana di masa menganggap enteng Ji Yeong.
"Tidak, tapi, aku sudah tidak terlalu suka ikut trend." Sahut Yuna menolak.
__ADS_1
"Yakin? Aku paksa kamu, jika tidak menerima ini, berarti kamu tidak menghargai caraku bahagiakan pacar."
Yuna menelaah, perlahan tangannya meraih kartu hitam itu.
"Baiklah, jika kamu memaksa, aku juga tidak enak menolaknya."
Ji Yeong tertawa dengan sikap Yuna yang pura-pura menolak itu, sebelum memilih barang yang di sukai, Yuna melayangkan ciuman mesra di pipi Ji Yeong.
"Terima kasih, Oppa. Aku mencintaimu." Ucapnya dari hati yang paling dalam, Yuna langsung memilih semua barang yang sudah lama ia impikan.
Melihat itu, Ji Yeong berkaca-kaca, setelah sekian lama dia memendam perasaan pada Yuna, di setiap hari-harinya dia berdoa agar suatu saat di beri kesempatan membahagiakan sekertaris itu.
"Aku bekerja keras karna kamu tujuanku." Lirih Ji Yeong.
Yuna penuh semangat mencoba jam, tas, dan perhiasan lainnya. Di benaknya dia membenarkan kata Anna yang mengatakan, " Cinta itu bukan di ukur oleh harta, melainkan ketulusan, jika seseorang sudah mencintaimu dengan tulus, maka bagaimana pun caranya, dia akan berusaha untuk membahagiakan dengan versinya"
Yuna sadar, Ji Yeong bukan CEO atau pengusaha kelas atas, tetapi cara Ji Yeong membahagiakan dirinya hampir menyamai mereka-mereka yang memilik kekuasan tinggi. Plus dari kekasihnya yang baru dua minggu ia pacari itu memiliki hati yang tulus, tak suka mengumbar pesona pada setiap perempuan, itulah Ji Yeong mengapa lama menyendiri, dia hanya mencintai Yuna secara diam-diam hingga aplikasi kencan online menyatukan mereka dalam kegelapan wajah.
"Aku beruntung bisa di cintai olehmu." Yuna berbisik di telinga Ji Yeong.
Pria itu mengusap kepala kekasihnya dengan lembut,
"Ini belum seberapa, jika kita sudah menikah nanti, kamu berhenti bekerja, biar aku yang semua menanggung kebutuhanmu."
Ji Yeong sebenarnya ingin menikahi Yuna segera, tapi kondisi Dae Jung dan Anna banyak di selimuti masalah, tak ingin bila semua tanggun jawabnya terbengkalai oleh pikirannya bersama Yuna.
***Note***
Assalamualaikum, Disini saya ingin mengubah cara pandang sebagian saudariku yang menganggap pria sukses dan tampan itu semuanya playboy, jahat dan angkuh. Mengembaralah di sebagian bumi Allah, ada laki-laki yang seperti Dae Jung dan Ji Yeong. di antara seratus pria kau akan menemukan 10 di antaranya yang berprinsip seperti mereka. Ingat, Allah lebih banyak menciptakan malaikat ketimbang iblis, tentu dia tidak akan menghilangkan kebaikan pada kaum Adam ummat yang pertama kali di ciptakan.
Jangan menyerah bagi kalian yang mencari cinta, lakukan yamg terbaik bila kamu ingin yang terbaik. Yuna sudah membuktikannya, berniat memperbaiki diri dengan menerima segala kekurangan calon pasangannya kelak, namun dia di hadiahkan Ji Yeong.
Seperti Anna yang di tinggalkan oleh Faiz, dia kukuh menjaga diri meski Faiz meminta syarat-syarat mencintai, Allah memberikan jodoh lebih padanya, yaitu Dae Jung pria berahang kukuh yang sangat terdidik oleh Ibunya sebagai pria berprinsip.
Bagaimana? Jangan meragukan kekuasaan Allah, bumi itu luas dan novel itu sempit, jangan mau di kalahkan oleh novel yang menyimpan berbagai tokoh dan kisah cinta.
Ciptakan kisah cintamu dengan mengibah di ujung sepertiga malam.
__ADS_1
Wassaalamu alaikum. 🙏