BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
KORAIN TERANCAM PAILIT


__ADS_3

Rapat telah berlangsung, Dae Jung dan jajaran direksinya masih merundingkan masalah Korain saat ini. Perusahaan mereka harus terselamatkan dari kerugiaan besar, pabrik tekstil yang tebakar akan berefek pada anak-anak perusahaan Korain lainnya.


"Kita harus mencari solusi sekarang, Pak Kim." Ujar pria yang duduk dijajaran direksi disampingnya.


"Ada banyak yang harus kita tanggulangi. Karyawan yang jadi korban semua meminta tunjangan, pembangunan properti akan tertunda, dengan pabrik yang sudah tidak beroperasi, kita tidak bisa lagi mengekspor, para kreditor pun ancang-ancang bila tidak sesuai tempo pembayaran." Dia menambahkan lagi.


"Kita harus menjalin kerjasama pada pemilik perusahaan lain, jika tidak Korain akan pailit." Ada yang menambahkan lagi.


Dae Jung hanya diam mengatur nafas, dia sudah tahu resiko itu. Apakah dengan harus menjual aset Korain bisa membayar semua kerugian Korain? meskipun demikian, tetap saja Korain akan pailit. Membayar kerugian dengan menjual tidak mampu membuat Korain bangkit jaya seperti dulu lagi.


"Saya akan berusaha dalam 45 hari ini mencari penyelamatan untuk Korain." Kata Dae Jung dengan suara bergetar.


Ji Yeong dan Yuna yang berdiri di sudut ruangan hanya menunduk lesuh, mereka tak bisa berbuat banyak kali ini.


Dae Jung keluar dari meeting room, berjalan tanpa ekspresi, Ji Yeong dan Yuna perlahan mengikutinya dari belakang, setiap langkah mereka hanya di terucap doa agar ada mukjizat pada Korain.


"Aku ingin pulang dulu, Presdir Hang akan tiba." Ujarnya pada Yuna dan Ji Yeong.


"Baik, Pak Kim." Sahut Yuna.


"Saya akan ke kantor polisi terlebih dulu." Kata Ji Yeong yang bermaksud untuk menyelidiki dibalik pengeboman Korain.


"Terimakasih Ji Yeong, selalu menjadi yang terbaik untukku." Ucapnya pada sahabatanya itu.


Ji Yeong hanya mengangguk kecil, kedua matanya menahan air yang akan sembab dimata sipitnya.


Mereka ketiga berpencar ke tempat masing-masing, Yuna kembali mengutak-atik berbagai berkas permohonan di komputernya, Dae Jung kembali ke rumah, sedang Ji Yeong ke kantor polisi.


Saat tiba dirumah, Presdir Hang sudah ada bersama Anna di ruangtamu, Dae Jung menghampiri Presdir Hang lalu memeluk kakeknya itu. Sembari menepuk pundak Dae Jung, Presdir Hang berkata.

__ADS_1


"Usiamu 34 tahun sekarang, kamu cukup dewasa menghadapi ini, kamu pasti bisa bangkit lagi, Kakek yakin itu, Nak."


Karna ada Anna, dia tak ingin meluapkan kesedihannya, Dae Jung tak mau membebani istrinya yang sedang hamil.


"Iya, Kakek. Aku tahu, semua pasti terlewati." Hanya itu kalimat yang juga bisa memotivasi dirinya sendiri.


"Kakek mau kerumah sebelah dulu." Presdir Hang pamit dari mereka, di dalam diamnya, pria penuh keriput itu akan mencarikan solusi untuk Dae Jung.


Dae Jung memutar wajah ke Anna, tersenyum pada istrinya, dia takkan memperlihatkan masalahnya, kesedihannya, kegusarannya, hanya senyuman yang wajib ia tampilkan untuk Anna dan si kecilnya yang masih didalam perut.


"Kamu sudah makan?" tanyanya pada Anna.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," cetus Anna.


"Aku sudah makan tadi, kamu mau makan apa? aku masakan." Dae Jung sebenarnya belum makan siang, dia tak punya nafsu makan semenjak kejadian ledakan, tetapi dia harus menjaga agar Anna bisa makan dalam kondisi apapun.


"Mau makan apa junior?" dia mengelus perut Anna yang masih rata itu, mengajak bayinya bercengkrama, itu cara pelipur laranya.


"Kamu duduk, aku akan membuatkan makanan kesukaanmu, mie kuah daging pedas." Ujar Dae Jung menggulung lengan kemejanya.


Anna masih larut dalam kebisuan, dimatanya Dae Jung pria yang sangat baik, disaat memiliki banyak masalah, suaminya tetap menjadi sosok pria yang lembut dan bertanggungjawab.


Dae Jung memulai mengambil bahan-bahan dilemari es, memotong dadu daging, juga sayuran, dan rempah lainnya. Memasukkan ke dalam panci jadi satu, disusul mie ramen kesukaan Anna. Setelah masak, Dae Jung menungkannya dimangkok, tak lupa menambahkan dua telur mata sapi, porsi untuk Anna dan juga bayinya.


"Tuan putri, ini makan siangnya." Ujar Dae Jung menundukkan kepala.


Anna melipat bibir tersenyum, dinikahi oleh Kim Dae Jung sungguh membuatnya seperti putri kerajaan didalam dongeng. Benar kata orang, seorang perempuan akan menjadi ratu bila bersama dengan lelaki yang tepat, dan itu yang dianugerahi oleh Allah untuknya.


"Aku suap kamu," Dae Jung ingin memanjakan Anna lagi.

__ADS_1


"Tidak usah, biar aku saja."


"Aku tidak menyuap kamu, ini caraku menyuap junior, aa.. buka mulutmu," Dae Jung memaksa.


Anna kalah, dia melahap makanan yang disendok Dae Jung.


"Apa kau berusaha menghiburku?" tanya Anna menebak.


"Tidak, aku hanya berterimakasih, karna kehadiranmu dengan anak kita menjadi kekuatan tersendiri bagiku. Hm, jika tidak, mungkin aku sudah gila sekarang." Sahut Dae Jung seraya membuang nafas.


Anna mengenggam tangan suaminya, dia berusaha memberi kekuatan lewat dekapan hangat, lalu dia berkata.


"Oppa, dengarakan aku. Ada banyak keniscayaan didunia ini yang Allah janjikan. Salahsatunya, bersabarlah dikala cobaan menerpamu, yakinlah, setiap kesulitan akan ada kemudahan setelahnya, Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang sedang kesulitan, dia hanya memberi kita ruang untuk merenungkan semua pemberian nikmatnya selama ini." Jelas Anna memberikan penerangan pada suaminya.


"Berarti ini cobaan maksud kamu?" tanya Dae Jung.


"Iya, ini cobaan yang akan mengangkat derajat kita lebih diatas lagi dimata Allah, menjadi manusia adalah tanggungjawab besar, kita dituntut untuk mematuhi perintah Allah, dan menjauhi larangannya, tujuan kita diciptakan bukan hanya untuk hidup bersenang-senang hingga lupa pada sang maha pemberi kesenangan, Allah sedang menegur kita, dia rindu kita untuk lebih bermunajat dihadapannya, mengadahkan tangan, menghibah dengan doa-doa. Oppa."


"Kamu benar, aku memang harus berdoa. Tapi, apakah Allah masih mendengarku, Anna?" tanya Dae Jung.


"Oppa, di surah Al-baqarah ayat 155, Allah berfirman yang artinya, 'Dan sesungguhnya kami memberikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.'


Yakin sayang, bila ujian dan cobaan kita sebesar kapal, maka yakinlah nikmat Allah akan seluas lautan, InshaAllah." Ucap Anna penuh hikmat.


Dae Jung terdiam, yang dikatakan Anna sungguh menyentuh kalbunya. Masalah yang menyayat hati, menyudutkan dirinya, mengobrak-abrik kehidupannya, menguras emosinya, semua akan dilerai oleh kehadiran Anna yang menjadi lentera digelapnya kehidupan Dae Jung.


Anna Lentera yang tak bisa padam, bahkan orang disekelilinya akan berusaha memadamkannya, karna keyakinan Anna pada sang pencipta begitu teguh, tak ada yang bisa menggoyahkannya.


Dia mengusap pipi istrinya, perempuan itu memang nikmat terbesar dari Tuhan, mana mungkin dia akan menyakiti hati istri setulus Anna, cinta dan kasih sayang Anna akan selalu dijaga olehnya bahkan maut memisahkan.

__ADS_1


"Kamu salahsatu nikmat terbesar itu, Anna. Terimakasih sudah menjadi kekuatanku, terimakasih sudah menjadi pendamping yang baik untukku." Ucap Dae Jung berkaca-kaca.


__ADS_2