
Kasak - kusuk Raka dan Rasti masih terdengar beragument, penataan ruangan untuk kedatangan Ipar mereka jadi ketengangan di antara Kakak beradik itu.
di balut kesederhanana, namun rumah Uwa Nuri begitu nyaman di huni.
"Rasti, biar semua itu di urus Raka, Sini bantu Uwa tata makanan di meja." Seru Uwanya dari dalam dapur.
Rasti meletakkan bingkai foto pernikahan Anna dan Dae Jung lalu berlalu ke dapur, sementara Raka menyusun berbagai bingkai serta tataan sesuai keinginanya.
Hari ini Uwa Nuri memasak makanan spesial, sebab menantu barunya akan datang bertamu, berbagai jenis makan siap untuk mereka sajikan pada Dae Jung dan Anna.
"Uwa, ini di makan gak ya sama Kakak Ipar?" Tanya Rasti ragu, Sebab ia tahu Kakar iparnya itu sudah terbiasa dengan makanan mewah, sedangkan yang mereka sajikan afalah makanan daerah.
Makanan khas seperti Konro (sup kuah daging), Sokko (beras ketan hitam yang padat), Burasa (nasi santan yang di bungkus daun pisang), Lawak (ikan mentah di campur kelapa parut), serta berbagai sajian menu daerah lainnya khas sulawesi selatan.
"Lah, dia kan sudah menikah dengan Kakakmu, ya , harus mencoba makanan daerah istrinya, kita harus bangga dengan makanan khas kita." Imbuh Uwa Nuri yang masih mengaduk kuah Pisang Ijo.
"Benar juga dih, Wa, jadi gak sabar liat ekspresi Kakak Ipar makan semua ini."
Dae jung sudah sampai di rumahnya, Anna yang sedari tadi menunggunya sudah tampil cantik dengan busana long tunik berwarna khaki.
" Ayo masuk." Perintah Dae jung padanya di balik kaca jendela.
Kali ini Dae Jung tak memakai jasa sopir pribadinya, Pria yang memiliki tujuh koleksi mobil mewah memutuskan untuk menyetir sendiri. melihat itu Anna bingung, Sebab dia tak tahu kemana tujuan Dae Jung mengajaknya siang ini.
Anna sudah masuk ke dalam mobil.
"Pakai sabuk pengamanmu." Ucap Dae Jung "Kali ini kita lumayan jauh perjalannnya." Lanjutnya.
Mobil Sport Ferrari milik Dae Jung melaju membelah jalan kota kecil itu.
Suasana dalam mobil begitu canggung, Ini pertama kali mereka berada di tempat sempit hanya berdua saja. bersampingan dengan Dae Jung yang memiliki paras tampan dengan pesona luarbiasa bagi kaum wanita sedikit buat Anna gugup, meski pria itu sudah jadi suaminya, namun hal itu belum melenyapkan batas yang mereka buat di pernikahannya.
Anna memilin tali tas selempangnya, ada yang ingin ia katakan pada Dae Jung, namun karna segan ia tak berani mengungkapkan.
"Ada yang ingin kamu katakan? Soalnya kamu bukan tipe perempuan yang bisa diam." Imbuh Dae Jung seperti mengetahui isi hati Anna.
"Hmm, Oppa, apa bisa saya, hhmm, maksud saya jika boleh besok atau lusa saya ingin mengunjungi Adik dan Tanteku." Ucap Anna sekaligus meminta izin pada Dae Jung.
__ADS_1
Anna yang memang tak mengetahui rencana Dae Jung untuk bertamu ke rumah Uwa Nuri, hanya Dae Jung berkomukasi dengan Rasti bahwa dia ingin mengajak Anna ke rumah mereka.
"Kenapa menunggu besok, kita kan sedang menuju kesana." Sahut Dae Jung yang masih memfokuskan pandangannta ke Arah jalan.
"Oppa serius??"
"Aku bukan laki-laki yang suka berbohong, kamu tunjukkan arah yang benar saja. Aku sedikit lupa."
"Sip, Oppa, Terima Kasih." Ucap Anna begitu sumringah.
"Hm, kamu jangan berpikir berlebihan, Saya cuma ingin dekat dengan keluarga Kakek Baek Hyeon." Ketus Dae Jung dengan wajah datar.
Anna memasang wajah juteknya, ' Ini orang seperti mempunyai kepribadian ganda, Perhatian tapi Cuek, benar-benar sulit di tebak, Ah .. tapi biarlah, aku menikmati saja kepeduliannya padaku dan keluargaku' lirih Anna dalam hati.
"Kita harus seperti sebagai suami istri sungguhan setelah tiba disana." Dae Jung mengingatkan Anna lagi.
Anna menghela nafas " kenapa harus seperti, kenapa bukan sungguhan saja." Gumam Anna.
selang setengah jam kemudian, mereka sudah sampai.
Uwa Nuri sudah menunggu di teras, Anna turun dari mobil menuju Uwanya dan memeluknya.
" Astaga, baru saja semalam tinggal di rumahku." Dae Jung mengerutu.
"Ayo masuk, kita makan siang dulu. Ayo, Nak Dae jung." Ajak Uwa Nuri.
Dae Jung dan Anna sudah di depan meja makan yang tersaji berbagai makanan lezat. Dae Jung memandangi sajian yang asing baginya itu, dia tak yakin bila lidahnya mampu menerima makanan yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Anna mengamati ekspresi Dae Jung, ide jahil Anna pun kembali berderang, Anna menyendok jenis makaanan Lawak yang terbuat dari ikan mentah kecil yang di campur kelapa parut sangrai, cuka, dan cabe.
"Oppa, ini makanan Oppa yang di ceritakan tadi malam, katanya Oppa Dae Jung sangat suka ini, sampai- sampai semalaman hanya lawak yang dia ucapkan." Ujar anna meletakkan lawak di piring Dae Jung.
Suaminya itu seketika menyerngit, menahan kedua bibirnya untuk tidak membalas Anna.
"Sial! Anna mengerjaiku lagi." Keluh Dae Jung dalam hati.
"Alhamdulillah, kalau begitu Ayo makan, Nak, ha ..Rasti, Uwa sudah bilang bahwa Kakak iparmu ini orang yang bersahaja." Imbuh Uwa Nuri begitu senang.
__ADS_1
"saya makan." Sahut Dae Jung meyakinkan diri menyendok lawak dari piringnya.
Anna menanti moment lucu Dae Jung saat merasakan sensasi shasimi khas luwu tersebut.
"Awas kau Anna." Kecamnya.
Sesendok lawak telah melayang ke mulutnya, rasa asam, pedas, gurih terasa di lidahnya, namun karna belum terbiasa Dae Jung di buat tersedak.
"Ini minum dulu, Nak."? Uwa Nuri menyodorkan Air minum.
"Kasihan, Kakak ipar." Sahut Rasti.
"Maaf, Ini makanan kesukaanku, tapi saya sedikit seriawan, jadi bisa saya memakan yang lain saja." Ucap Dae Jung memelas.
"Oh tentu, Nak. Ini konro buatan Uwa, terbuat dari daging yang enak dan segar, Ini Uwa bukakan Burasa ya." Uwa Nuri melayani Dae Jing sepenuh hati.
Perempuan yang di penuhi keikhlasan itu memotong dadu longtong daun buatannya lalu menuangkan ke pring Dae Jung.
"Terima kasih, Uwa." Ucap Dae Jung yang begitu terharu di perlakukan baik oleh Uwa Nuri.
Dia mulai melahap setiap sup daging enak itu, kemudian terhenti, bukan karna masakan Uwa Nuri tidak enak, melainkan mengingat seseorang yang ia rindukan.
"Kenapa Nak? tidak enak ya?" Tanya Uwa Nuri.
Anna, Raka, dan Rasti pun mengamati perubahan wajah Dae Jung yang menunduk seolah ingin menangis.
"Tidak, Uwa. Melihat Uwa melayaniku, saya teringat dengan ibu saya, Sewaktu kecil ibu saya sama perhatiannya dengan Uwa, selain kepala pelayan Nas, Uwa juga memperlakukan saya seperti ibu kandung saya." Dae Jung mengenang almarhum ibunya.
wajah sendu Uwa Nuri juga tersenyum, " Anggap saya seperti ibu kandung kamu, ya, saya senang bisa melayani Anak laki-lakiku, saya bersyukur mendapatkan Anak laki-laki seperti Dae Jung."
Mendengar itu, Raka komplen.
"Jadi, Selama ini Uwa tiak bersyukur aku ada?" Ketus Raka.
"Bagaimana Uwa bisa bersyukur, kamu kerhaanya main hp saja." Canda Uwa buat mereka semua tertawa di deoan meja makan itu.
Dari lubuk hati Anna yang paling dalam, dia ingin memeluk Dae Jung, ternyata selama ini suaminya begitu kesepian, dia yang baru dua tahun di tinggal orangtuanya saja sangat membuatnya sedih, apalagi Dae Jung yang sejak kecil.
__ADS_1
"Oppa, Aku berjanji akan menghiasi hari-harimu dengan tawa. meskipun pernikahan kita belum sempurna." Lirih Anna menatap Dae Jung yang makan dengan lahap.