
Mereka masih berkumpul dilantai dua, mematung di tempat masing-masing, kepala keamanan Pak Lee sudah membawa pelayan itu ke rumahsakit.
Dae Jung memalingkan wajah ke semua barisan pekerja pribadinya, hanya tersisa sembilan pelayan, serta sepuluh bagian keamanan juga bodyguard.
"Katakan padaku, apa ada diantara kalian yang juga menyimpan dendam? apa ada diantara kalian yang tidak suka denganku? apa aku pernah berbicara kasar pada kalian? apa upah yang ku berikan kurang? katakan," tanya Dae Jung ke mereka.
Semuanya hanya diam menundukkan wajah.
"Ini kesempatan buat kalian untuk bicara, aku akan bebaskan bila ada yang jujur, aku sudah lelah dengan orang-orang yang berpura-pura, aku lelah pada semua pengkhinatan ini !" Dae Jung mengeraskan suara lagi.
Pipi Anna sudah dibanjiri air mata, menangis melihat kemalangan nasib suaminya, ketegaran Dae Jung terkikis oleh kekecewaan yang datang bertubi-tubi. Kepada siapa dia harus meletakkan kepercayaan lagi? semua jadi semu dimata pria itu.
Ada yang menyahut dari barisan keamanan.
"Saya selaku keamanan di rumah ini, tidak ada sebab untuk saya mengkhiantai Tuan Kim, saya makan dan hidup dari upah karna mengabdikan diri pada Tuan, saat anak saya sakit Tuan Kim selalu mendampingi saya dan keluarga, saya tidak mungkin melakukan hal keji itu." Sahut pria berbadan kekar dengan mata berkaca-kaca.
"Saya juga, Tuan Kim. Saya tidak mungkin menyakiti Tuan Kim yang sudah sangat baik, ketika Ayah saya ingin dimakam kan Tuan datang menyemangati saya dan memberi keluarga saya kehidupan baru." Sahut salahsatu pelayan itu.
"Saya juga, Tuan Kim. Kami akan tetap bersama Tuan Kim." Serentak semua berkata demikian.
Semua yang di katakan mereka adalah kejujuran dari hati yang terdalam, selama bekerja di Istana Korain, Kim Dae Jung tak pernah sedikit pun berbicara kasar ke pekerjanya, sikapnya memang dingin, namun bila menyangkut semua bawahannya, anak semata wayang Rifasya Salim itu menjadi andil nomor satu membantu mereka.
Dae Jung menelan salivanya, dia mengarahkan wajah ke Yuna.
"Yuna, apakah kau tidak sedang mengkhianatiku?" tanyanya pada Yuna, wanita berambut panjang itu mengeleng.
"Aku masih memiliki otak normal, Pak Kim. Walaupun Pak Kim seringkali dingin dan acuh, tapi saya memaklumi karna Pak Kim memang seperti itu." Jawab Yuna terbata-bata, yang dikatakan juga semua jujur, Yuna wanita modern namun menyimpan kepolosan yang jarang terlihat.
Dia lagi memandangi kepala pelayannya dari jauh.
"Bu Nas, apakah kau juga tidak akan mengkhiantaiku?" Dae Jung bertanya dengan air mata yanpg berlinang.
__ADS_1
Bu Nas melelehkan air matanya pula, seperti seorang Ibu yang terluka melihat kemalangan anaknya.
"Tidak, Tuan. Aku tidak memiliki anak dari rahimku, tapi kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, itu janjiku pada Ibumu. Sampai kapanpun kau akan kudampingi selalu, huhuhhu.." Sahut Bu Nas tersedu-sedu seraya memegang dadanya, rasanya sangat sakit melihat Dae Jung terluka karna nasib mempermainkannya.
Belum ouas hati, Dae Juang melangkah ke Ji Yeong, dia menatap lekat-lekat sahabat juga sepupu angkatnya itu. Mata Ji Yeong ia palingkan darinya, tak sanggup melihat Dae Jung yang sudah lemah.
"Kau, apakah kau akan tetap bersamaku? dibelakangku?" tanyanya.
"Jangan tanyakan hal bodoh lagi padaku. 30 tahun apa itu waktu yang kurang kau mengenalku? kau bukan atasanku tapi kakakku, jangan pernah berpikir buruk pada adikmu sendiri." Ji Yeong berbalik mengutarakan perasaannya.
Semua yang ada disana larut dalam kesedihan pula, karna tak ingin menumpahkan air mata lebih lagi di hadapan orang-orang terkasihnya, Dae Jung enyah dari mereka, dia menuju kekamar untuk menetralkan semua pikirannya yang sudah berkecamuk.
Anna menyusulnya dari belakang, setiap langkahnya beriringan dengan air mata yang menetes, dia akan menguatkan suaminya kembali, Dae Jung tidak pantas mendapat kerburukan demikian.
Dae Jung duduk bersandar di sofa, memejamkan mata, kata hatinya bersua, semua yang dialami adalah ujian, itu kalimat yang selalu ia ingat dari Anna.
Anna duduk disampinya, perlahan tangannya memijat lengan Dae Jung, dengan mata yang masih tertutup, dia berkata pada istrinya.
Anna melingkarkan tangan dipinggang Dae Jung, menyandarkan kepala di dada suaminya.
"Kata Ji Yoeng, jangan pernah bertanya hal bodoh." Ketus Anna.
"Aku pria yang sejak lahir dipenuhi masalah, Anna."
"Karna kamu orang hebat, dan dipercaya oleh Allah untuk bisa mengatasinya." Sahut Anna.
"Lupakan sejenak itu, anak kita butuh kamu, temani dia." Lanjut Anna.
Dia ingin menghibur suaminya lewat janin yang dikandungnya. Dae Jung membangunkan diri, senyum kecilnya terlihat lagu di wajah tampannya, mengelus perut Anna yang masih rata.
"Junior, Ayah dan Ibumu akan berusaha menjadi yang terbaik, jika kamj sudah dewasa, kamu tidak akan mengalami hal yang sama dengan kami." Ucap Dae Jung berbisik di perut Anna.
__ADS_1
Dae Jung berusaha takkan mengulang sejarah pahitnya pada anak-anaknya kelak, dia tak ingin keluaganya menjadi incaran pada orang-orang yang menyimpan dendam.
Ada banyak pelajaran hidup sudah ia lalui, dia selallu memetik hikmah dibalik semua rentetan masalahnya Baginya, menyakiti orang lain adalah resiko jangka panjang yang akan jadi ancamam setiap saat, karma yang harus dibayar tuntas oleh rasa bersalah, baik didunia ataupun di akhirat.
Kata maaf hanyalah penyambung hubungan,namun hati yang sudah terlanjur terluka takkan kembali sempuran untuk mengasihi. Semua telah terjadi karna sikap Ayahnya yang arogan, dia juga tak ingin menyalakan sepenuhnya, tetapi keburukan takkan pernah dihapus begitu saja apabila semua membekas pada yang di sakiti.
Sementara Ji Yeong masih mempunyai misi, yaitu menemui pekerja kebun Presdir Hang, mengapa dia tak memenuhi panggilan Dae Jung? tentu ada maksud dibaliknya lagi.
"Oppa, aku pulag dulu." Yuna pamit darinya.
Karna sudah larut malam, pacarnya itu akan kembali ke apartementnya.
"Aku antar."
"Tidak usah, kamu pasti juga lelah. Aku pulang sendiri saja."
Ji Yeong tetap kukuh mengantarkan Yuna.
"Kau bagian dari Korain, bisa saja kau akan jadi sasaran mereka. Saat sampai di rumah, kumpulkan semua barang-barangmu, kau akan pindah disini." Ujar Ji Yeong yang ingin memberikan perlindungan pada gadisnya itu.
"Tapi ..." Yuna merasa tidak enak hati.
"Kenapa? Anna dan Dae Jung akan senang, di rumah ini ada sepuluh kamar yang kosong, di rumah Kakek ada lima kamar yang kosong, kau takut disini? jika boleh kau bisa di kamarku bersama?" jiwa usil Ji Yeong kumat lagi.
Yuna memasang wajah kesal lalu mengerutu.
"Aku takut di perkosa olehmu."
"Ha, tidak ada kata nama itu kalau kita saling mencintai, justru kau akan menyukainya," canda Ji Yeong buat Yuna makjn geli.
"Ternyata robot bisa genit juga .." Imbuh Yuna.
__ADS_1
"Aku antar kamu sekarang, jangan menolak."