
Anna masih di dalam kamar menjaga Dae Song yang belum sadarkan diri. Dia duduk di kursi tepat di samping kakak iparnya. Melihat wajah Dae Song lebih jelas. Ah, ini wajah suamiku. Ada rasa lucu menyeruak di dirinya.
Perlahan tangannya mengusap dahi Dae Song dengan tissue basah, dia membersihkan wajah Dae Song yang masih ada menyisahkan darah kering. Sentuhan Anna buat Dae Song mengedipkan mata, tangannya mulai bergerak.
Anna terhenyak. Dia menjauhkan tangannya dari wajah Dae Song. Mata kembaran Dae Jung itu mulai menyorot Anna, meski masih samar-samar ia yakin, sosok di sampingnya itu adalah Anna.
'Anna ada disini.' Kata hati Dae Song.
Anna tersenyum padanya. "Kak, kamu sudah sadar, Alhamdulillah."
"Iya, kenapa kamu ada disini?" suaranya masih berat. Tenggorokannya begitu kering.
Anna mengambilkan air, menyelipkan sedotan ke dalam mulut Dae Song.
"Minum dulu, suara Kakak hampir seperti Kakek." Anna mencandainya.
Setelah minum, Dae Song masih menatap Anna, tatapannya begitu membuat perempuan menjadi salah tingkah, termasuk Anna sekarang.
"Kakak lapar?" Anna ingin mengalihkan perhatiaan Dae Song.
Tapi pria itu tak bergeming. Anna menunduk. Dia lemah bila ada pria lain yang menatapnya selain sumainya.
"Anna, apakah kau khawatir keadaanku?"
"Kami semua khawatir, Kak." Sahut Anna.
"Aku tidak akan mati, sebelum aku memastikan hidupmu akan baik-baik saja." Kalimat itu lepas dari mulutnya.
Anna merasa sesak mendengar itu. Sebegitu besarkah perasaan Dae Song padanya, hingga dia rela mengorbankan nyawa demi kebahagiaan Anna.
"Aku tidak suka Kakak bicara seperti itu." Timpal Anna.
"Tugas Baek Hyoen untuk melindungi Yama."
menyendu. Mereka saling bertatapan. Jika membahas Yama dan Baek Hyeon, Anna selalu tertegun. Di kisah mereka, Dae Song memang Anna ?adalah? Baek Hyeon. Dia tak bisa mengelak itu, ada? rasa haru terselip padanya bila mengingat cerita? kisah cinta tragis mereka.
Dae Song memulihkan seluruh tenaganya Tangannya masih nyeri, tapi berusaha untuk duduk. Anna membantunya, membangunkan tubuh pria tampan itu.
Setelah Dae Song sudah duduk bersandar di bantal,. Dia meraih tubuh Anna melekat di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku mohon, biarkan aku begini dulu." Pinta Dae Song merangkul tubuh Anna.
Anna memberi jawaban anggukan. Wajahnya bertumpu di bahu Dae Song.
"Aku bisa menahan ribuan puluhan peluru, tapi aku tidak bisa menahan jika kamu membenciku, Anna." Ujar Dae Song berkaca-kaca.
Anna hanya mengangguk lagi. Pelukan Dae Song juga menenangkannya. Entah itu perasaan Yama atau cinta Dae Song yang juga tulus padanya.
"Saranghae ..." Lirih Dae Song berbisik di telinga. Air mata ketulusan pria membasahi pundak Anna. Isteri Dae Jung bisa merasakannya.
Di luar kesadarannya, tangan Anna membalas pelukan itu. Dia merangkul tubuh Dae Song.
"Aku ingin mendengar jawabanmu lagi." Dae Song ingin mengulang lagi pertanyaannya yang lalau saat mereka makan siang bersama.
"Jika awalnya aku tidak di sembunyikan, dan aku hidup normal seperti Dae Jung, lalu aku yang di jodohkan padamu, apakah kau akan mencintaiku sepertu Dae Jung?"
Sebelum menjawab, Anna memejamkan mata. Dia mengumpulkan seluruh nuraninya, agar memberikan jawaban itu lagi.
"Aku akan mencintai kamu, tidak ada alasan aku tidak mencintai pria sebaik kamu. Jika kamu yang menikah denganku, aku akan bahagiakan kamu seperti Dae Jung. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk kamu."
Meski dengan memeluk satu tangan, Namun pelukan Dae Song makin erat. Anna memejamkan mata, setipa detak jantung mereka menyatu berirama. Tiba-tiba ada siluet Baek Hyeon dan Yama nampak di benak mereka. Siluet itu juga saling berpelukan dibawah rembulan, di tangan Baek Hyeon juga ada pula perban bekas tembakan.
Anna dan Dae Sing tersenyum melihat bayangan Yama dan Baek Hyeon.
"Aku cukup bahagia dan bisa bernafas dengan cara seperti ini. Terima kasih Anna." Lirih Dae Song.
"Bahagialah selalu, Kak. Aku akan juga bahagia bila melihatmu bahagia." Balas Anna.
"Lima menit saja aku meminta ini." Pinta Dae Song.
Dae Song memeluk Anna begitu erat. Air matanya tak henti bercucuran di pundak Anna. Pria yang seringkali mempermainkan hati perempuan itu telah luluh lantah di hadapan sosok jelmaan Yama itu. Dia tak pernah mencintai perempuan selain Anna.
Dari luar di balik pintu, ada Dae Jung yang mendengar itu. Rasa cemburunya ia kecilkan, baginya dia bahagia mendengar kakaknya terhibur. Namun ia tak memungkiri hatinya sakit karena Anna di peluk lelaki lain, tetapi ini salahsatu cara agar Dae Song merasa hidupnya lebih berarti.
"Apa yang terjadi pada kita bertiga.." Lirih Dae Jung.
Mengapa Kakakknya dan Anna bisa terjebak pada kisah Yama dan Baek Hyeon. ini sungguh sulit bagi mereka.
Dae Jung ke kamar Ji Yeong. Dia ingin membicarakan sesuatu pada tentang posisi Ji Yeing kepala keamanan Korain.
__ADS_1
"Kau sedang istirahat?" tanya Dae Jung yang melihat Ji Yeong berselonjoran di kasur.
"Aku memikirkan kelakuan Ayahku."
Keputusan Dae Jung berat, tapi dia harus memikirkan nasib Ji Yoeng pula. Dia tahu, sangat sulit Ji Yeong berada di garda terdepan memerangi Ayah kandungnya sendiri.
"Aku harap kamu berhenti sebagai kepala keaman Korain." Ujar Dae Jung.
Ji Yeong terperanjat. Dia bangun dari tempat tidurnya.
"Kenapa?"
"Aku memecatmu." Dengan berat hati Dae Jung memutuskan itu. "Jadilah manager di Kantor saja. Biarkan Pak Lee mengganti posisimu."
Ji Yeong tahu apa penyebab Dae Jung berbuat demikian.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap jadi kepala keamanan Korain."
"Tapi, kamu akan berhadapan dengan Paman."
"Aku anaknya yang akan mengakhirinya. Bahkan bila harus menembak dia dengan pistolku sendiri." Ji Yeong sudah bertekad.
Dae Jung malah terkejut mendengar itu.
"Aku sudah bersumpah, aku akan melindungi Korain. Aku tidak akan menyalahi sumpahku. Tarik kembali ucapanmu, aku tidak ingin di pecat." Tangkas Ji Yeong.
Dae Jung mengangguk. Dia beranjak memeluk sahabatnya itu. Hidupnya tidak semalang yang dia pikirkan, ada orang-orang yang tulus di sekitarnya siap melangkah bersamanya.
"Kamu selalu bilang, kebaikan adalah hal yang utama, aku akan selalu ingat itu." Kata Ji Yeong.
Ji Yeong kembali melanjutkan,
"Aku punya rencana untuk mengakhiri kekejaman Ayahku. Sebelum ada nyawa jadi korban, kita harus segera bertindak."
Dae Jung melepas pelukannya.
"Apa kau yakin ini tidak berbahaya pada orang-orang di sekitar?" tanya Dae Jung.
Ji Yoeng membisikkan rencananya pada Dae Jung. Secara detil, dan bagaiman mereka akan menjalankan peran-peran itu. Mengelabui Paman Chung Sang, agar pria paruh baya itu berkahir bersama kekejiannya di jeruji besi. Hanya ada satu caranya ialah ...
__ADS_1