BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
RAYUAN MAUT DAE SONG


__ADS_3

#Bahasa Korea yah, malas buat terjemahan 😅


Dae Song seperti di sangkar oleh Bora. Di ruang kerja Dae Jung, dia masih diawasi oleh mantan kekasih adiknya itu. Sepandai apapun dia menolak, tetap saja anak Bibi Nami itu merengek tak ingin enyah dari kantor Korain.


Apakah harus ku manfaatkan dia? sudah lama aku tidak mencumbui perempuan? tapi, nama Dae Jung akan busuk lagi, Bora masih menyangka aku adalah Dae Jung, Dae Song mengerutu sendiri.


"Andaikan Dae Jung ingin bertukar, dia kembali pada Bora, lalu Anna diberikan padaku, oh, betapa bahagianya." Dae Song berandai-andai.


"Oppa, bicara padaku?" tanya Bora yang mendengar kasak-kusuk dari bibir Dae Song.


"Tidak, aku sedang membaca mantra." Dae Song menimpal.


"Mantra apa?"


"Mengusir roh jahat dari sini."


"Memang ada? dimana?" dengan polosnya Bora beranjak ke arah Dae Song.


Tubub Bora yang wangi, sudah menguasai akal Dae Song. Rasanya dia ingin mengerjai Bora di ruangan ini sekarang juga. Tapi tiba-tiba ada Yuna yang mengetuk pintu dari luar.


"Pak, kami saya mengadakan makan siang bersama, ini karna ulang tahun saya." Kata Yuna yang mengada-ngada. Dia sengaja berbohong agar Bora merasa terganggu lagi.


Mata Bora melotot geram pada Yuna. Dendam pribadi antara mereka belum juga usai. Yuna tahu, bila Bora menguasai Dae Song maka ini pertanda akan ada kehancuran lagi di Korain. Selain itu, Yuna juga sudah dapat arahan dari Ji Yeong.


"Kau ulang tahun hari ini?" tanya Dae Song.


"Iya, Pak. Kami tunggu di tempat yang sudah saya infokan di ponsel bapak." Sahut Yuna.


" Aku ikut," pinta Bora.


"Aku tidak mengundangmu." Kata Yuna mulai nyolot lagi.


"Tapi Dae Jung akan membawaku !" Bora tak mau kalah.


"Kau ingin bertengkar lagi?" tanya Yuna.


Dae Song melihat itu, mengusap dadanya.


"Jantungku akan kambuh lagi kalau melihat keributan mereka." Lirih Dae Song.


Dae Song keluar dari ruangan itu meninggalkan Yuna dan Bora berdebat. Dia bersembunyi di toilet, ini lebih baik di banding di sandra Bora setiap waktu.


"Ah .. aku tidak bisa membayangkan kalau setiap hari Bora ada disini, percuma jadi presdir kalau begini." Dae Song mengerutu.


"Anna, Anna, Tuhan tukarkan dia dengan Bora." Permintaan konyol Dae Song.


Ponselnya bergetar di saku jasnya. Nomor yang tak di kenal sedang memanggilnya. Dae Song hanya menjawab tanpa bersuara.

__ADS_1


"Apa jantungmu baik-baik saja, Nak?" suara pria bertanya, itu Ayah angkatnya.


"Ayah, kau dimana? aku baik-baik saja." Dae Song menjawab sedikit canggung. Takut bila Ayahnya salah paham lagi padanya.


"Ku lihat, kau cukup bahagia dengan kehidupan barumu sekarang, aku juga bahagia Dae Song." Ujar Apman Chung Sang.


Perkataan Ayah angkatnya yang demikian, suatu kengerian bagi dirinya. Dae Song tahu betul, Ayah angkatnya memiliki jiwa psikopat.


"Aku disini sudah mendaoat Korain, Ayah. Aku mohon, jangan ganggu Kakek dan Dae Jung, mereka tidak bersalah."


"Kalau Anna?" tanya Paman Chung Sang memancing emosi anaknya.


"Jangan juga Ayah.."


"Dengar Anakku, Ayahmu ini menginnginkan Korain seutuhnya, bukan separuhnya. Katakan pada adikmu itu." Imbuhnya.


"Tapi Ayah .."


Tut ..Tut .. Tut


Paman Chung Sang mengakhiri panggilannya. Dae Song sekarang bingung, apa dia harus meminta lagi pada Dae Jung? tapi di sisi lain, sebagai Kakak fia tidak mungkin tega berbuat demikian pada adik kandungnya sendiri.


Dae Song keluar dari toilet, dia terkejut melihat ada Ji Yeong yang menunggunya di depan pintu. Ji Yeong mengikuti Dae Song ke toilet karna khawatir bila sakit kakak Dae Jung itu kumat tanpa ada yang menolongnya, akan tetapi yang dia temukan suatu percakapan yang buat dirinya makin jengkel pada Dae Song.


"Kau ingin membantu Ayah lagi?" tanya Ji Yeong.


"Berikan nomor itu, aku akan laporkan dia ke polisi."


"Kau gila?!! ini Ayah kandungmu sendiri. Aku juga anaknya, sangat keberatan."


"Dae Song, jangan butakan mata hatimu. Keluargamu kapan saja akan meregang nyawa bila Ayah tidak tertangkap. Dia akan baik-baik saja di dalam penjara, sementara Dae Jung, atau Anna dia akan dalam bahaya." Ji Yeong mencoba mengubah pola pikirnya.


Dengan pelan, Dae Song memberikan ponsel itu pada Ji Yeong.


"Pulanglah, tetaplah di rumah, biar aku yang urus semuanya bersama Jun Hyun."


Ji Yeong meminta Dae Song untuk kembali ke rumah, sekarang rumah Korain adalah tempat yang paling aman untuk keluragnya. Disana banyak polisi dan keamanan berjaga.


"Kita harus akhiri ini, jika tidak, kejahatan Ayah tidak akan berujung." Lanjut Ji Yeong.


Dae Song berlalu tanpa menanggapi, jujur hatinya sangat sedih. Bagaimana pun Paman Chung Sang yang berjasa membesarkannya penuh kasih sayang. Bahkan melebihi dari orang tua kandungnya.


Bersama Pak Su, Dae Song diantar ke rumah. Ji Yeong mulai menelusuri lagi titik lokasi persembuyian Ayahnya lewat jasa Eung He. Bersama Jun Hyun, dia akan menuntaskan semuanya. Sebab Jun Hyun pun resah bila harus di teror pula oleh Paman Chung Sang.


Setiba di rumah, Dae Song di sambut Bu Nas.


"Mau makan Tuan Song?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, Anna dan Dae Jung dimana?"


"Mereka masih di kamar." Sahut Bu Nas yang merapikan jajaran kursi meja makan.


"Dari tadi pagi mereka belum keluar kamar????!!!" tanyanya heran.


Ha, konyol, mereka suami istri, terserah mau bagaimana, Dae Song kau menggenaskan sekali ..batinnya menghardik.


Dia naik pula ke kamarnya, melewati kamar Anna dan Dae Jung dengan mengangkat bibir sebelah. Lakukan saja sesuka kalian. Gerutunya.


Tapi dia tidak sengaja melihat ada Anna berdiri di taman atas, seorang diri. Tak ada Dae Jung menemani. Apa perasaanku ini salah? bila salah, tolong hapuskan Tuhan Yesus. Batinnya.


Dia menghampiri Anna, rupanya Anna sedang menikmati udara sejuk Pyechamdong di siang hari.


"Hei," sapanya pada Anna.


Anna berbalik, menagamti lebih jelas, ternyata itu Dae Song bukan Dae Jung.


"Ya,"


"Udara sejuk, Dae Jung dimana?" Dae Song berbasa-basi.


"Di rumah Kakek," Anna sedikit dingin pada Dae Song, sebab ada rasa jengkel karna membiarkan dirinya semalaman tidur bersama pria yang bukan suaminya.


"Aku sudah tahu kisah Yama dan Baek Hyeon." Tukas Dae Song.


Anna hanya mengangguk. Dae Song sudah menilik dengan baik kisah cinta itu. Tetapi yang jadi pertanyaan, siapakah sosok Baek Hyoen di abad 21 ini? sedangkan Dae Jung pria yang kembar, jika mungkin dia tidak di sembunyikan oleh Paman Chung Sang, tidak menutup kemungkinan dia juga adalah Baek Hyoen, tentu dialah yang di jodohkan oleh Anna dari awal.


"Anna, apa seseorang di ciptakan di dunia ini ada alasan tertentu?"


Anna yang terkejut menjawab, " Ya, semua punya alasan yang berkesinambungan."


Timbul di benak Dae Song, mungkin dia dilahirkan sebagai anak kembar punya alasan dan tujuan Tuhan pada mereka.


"Anna, aku penasaran, kenapa kami di lahirkan menjadi sosok pria kembar? sementara ini kisah Yama dan Baek Hyoen yang kalian lanjutkan." tanyanya pada Anna.


Anna tergugu, dia menelaah pertanyaan Dae Song dengan baik.


"Di sosok pria kembar ini, siapakah jelmaan Baek Hyeon sebenarnya?" tanya Dae Song mengutarakan rasa penasarannya.


Anna menelan salivanya. Bibirnya kelu, tak ada jawaban untuk itu.


"Jika kisah mereka berakhir tragis, siapakah yang akan mengalaminya? sementara aku juga mencintaimu." Kalimat cinta itu lolos dari bibir Dae Song, suasana Pyeochamdong mengiringnya mengatakan cinta pada istri adiknya.


Tubuh Anna bergetar, semua pertanyaan Dae Song sungguh mengusik hatinya. Ada Deja Vu yang terlintas di ingatannya seketika. Apa itu? batin Anna.


Dengan perasaan tak karuan, Anna meninggalkan Dae Song yang berharap jawaban. Mata Dae Song begitu saja berkaca-kaca, pria yang tak pernah serius menanggapi sesuatu justru terjebak dalam rasa yang di anggap bodoh itu.

__ADS_1


"


__ADS_2