BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
KEMARAHAN DAE JUNG


__ADS_3

Malam tiba, tapi Dae Jung masih menyibukkan diri bersama Yuna di ruangan pribadinya untuk berunding tentang perusahaan yang akan mereka sasar untuk penyelamatan Korain.


"Ada yang menawarkan diri, Pak Kim." Yuna melihat ada email masuk kedalam email Korain Group.


"Dari mana?" tanyanya.


"Dari GG group, dia akan menanamkan sebagian sahamnya pada Korain tekstil." Sahut Yuna yang sebenarnya tidak ingin memberitahu Dae Jung, karna ia tahu perusahaan itu milik orangtua Bora.


Dae Jung mengeleng, pertanda tidak menyetujui hal itu pula.


"Jangan balas, kita nantikan tawaran dari perusahaan lain." Titah Dae Jung.


Yuna merasa lega, karna Dae Jung tak tertarik pada imingan Bibi Nami itu, meski GG group termasuk lima perusahaan besar di Asia, namun pria itu tetap menolak sebab ia tahu, bila menerimanya, sama saja menyerahkan diri pada Bora.


Anna masih tidur di dalam kamar, dia begitu lemas dengan kondisi mual yang mulai rutin, Bu Nas tetap setia menemaninya. Anna merasa di kondisi hamil seperti ini, dia tidak harus bersikpa manja, meski bawaan janin meronta ingin selalu bersama Ayah Dae Jungnya, namun Anna harus tahu batas, ini kondisi yang sangat genting, ada banyak masalah yang harus suaminya selesaikan.


Sementara Ji Yeong masih memantay setiap pergerakan pekerja pribadi di rumah mereka, tak ada yang terlewatkan di setiap gambar cctv di sudut rumah Korain, sejauh ini tak ada yang mencurigakan sesuai intruksi Dae Jung.


Sebenarnya Ji Yeong malam ini berencana ke Kota Busan untuk mencari alamat yang diberikan oleh Jun Hyun, namun titah Dae Jung yang sangat membuatnya tidak tenang hingga dia mengurungkan niat hingga hari esok.


"Apa yang Dae Jung maksud tadi?" Ji Yeong bergumam tapi mata sipitnya belum melepaskan pandangannya dari monitor cctv.


Hingga pada menit kemudian, sesuatu yang di curigai Dae Jung terjawab lewat tingkah aneh pelayan wanita dan salahsatu pekerja kebun dirumah Presdir Hang, mereka bertemu dengan mengendap-ngendap di dapur utama. Dapur itu sepi, hanya mereka berdua yang terlihat di monitor, Bu Nas tak ada karna menemani Anna, dan pelayan lain biasanya menyelesaikan tugas mereka masing-masing.


Wanita itu terlihat membawa minuman yang akan disuguhkan pada seseorang.


"Mari kita buktikan sekarang." Lirih Ji Yeong bernada geram.


Dia mengirimkan pesan singkat pada Dae Jung, dia akan menunggu di ruangtamu. Mendapat kabar dari Ji Yeong, dia bergegas turun ke bawah, dia berpapasan dengan pelayan tadi yang membawa minuman.


"Silahkan lewat, Tuan Kim." Sapa pelayan itu memberikan jalan pada Dae Jung.


Dae Jung pura-pura tidak mencurigainya, dia malah menelpon dengan Ji Yeong sembari mengeraskan suara hingga di dengar oleh pelayan yang sudah melangkah menjauh darinya itu.

__ADS_1


"Ha, Ji Yeong bisakah kamu ke atas, ada berita yang aku dapat tentang siapa pelaku bom bunuh diri itu." Ujar Dae Jung pada Ji Yeong lewat ponselnya.


Pelayan itu mendengarkan, namun ia seperti tak mempedulikannya, dia berlalu ke kamar Anna karna pemintaan Bu Nas.


Dae Jung mengirimkan pesan ke Anna agar tidak meminum semua yang dibuatkan pelayan. Peringatan itu di pahami oleh Anna sehingga balasan kata "Ya" di balas olehnya.


Ji Yeong menghampiri Dae Jung, dia memberikan tatapan penuh arti.


"Kita sudah mendapat informasi tentang siapa pelaku sebenarnya." Kata Dae Jung agak nyaring, sepertinya dia ingin mendengarkan pada tembok yang bisa mendengar kala itu.


"Baik, Pak Kim. Kita harus menemukannya,ada banyak yang bekerja sama dengan mereka." Imbuh Ji Yeong.


Dae Jung melihat di pantulan cermin yang menempel di dinding, guna dia memasang beberaoa cermin di area rumahnya agar dia bisa melihat semua yang tersembunyi. Dan memang benar, di pantulan cermin di sebelah kirinya, ada yang seseorang yang sedang merekam percakapan mereka dengan telpon genggam.


"Baiklah aku ke kamar dulu." Pamit Dae Jung dari Ji Yeong.


Dae Jung melangkah perlahan mengitari tembok, hingga pusarannya terhenti di lemari hias yang menyembunyikan seseorang itu, Ji Yeong ikut terkejut melihat kelancangan pelayan itu.


"Apa yang kau lakukan lagi disini?" tanyanya yang mengagetkan pelayan wanita itu.


"Aku tanya sedang apa kau disini?!" Dae Jung mengeraskan suaranya. Dia sangar tidak suka bila ada yang berusaha mengkhianatinya, dan bisa saja pelayan itu sudah mengkhianatinya.


Ji Yeong mengambil ponsel pelayan itu yang tergeletak di lantai marmer. Pria itu memeriksa semua yang ada di ponsel tersebut, dan kebenaran terungkap lagi, puluhan foto-foto mereka yang sejak beberaoa minggu yang lalu tertampung di memori ponsel itu, termasuk rekaman percakapan mereka tadi.


"Sejak kapan kau jadi penguntit di rumah ini? Hah!?" tanya Dae Jung yang tersulut emosi.


Pelayan itu menangis lalu bertekuk lutut dihadapan Tuan Kimnya. Dia menangis bersujud meminta ampun, hanya itu yang bisa ia diucapkan saat ini.


" Ji Yeong panggil semua pekerja yang ada di rumah ini, kumpulkan mereka disini, dan juga Bu Nas dan Anna." Suara Dae Jung yang tegas kembali terdengar setelah sekian lama ia melembutkan diri semenjak menikah dengan Anna, aura kepemimpinanya terpancar sangar di wajah tampannya.


Ji Yeong menelpon kepala keamanan di rumah itu, semua bergegas memenuhi panggilan Tuan Kim mereka, Bu Nas dan Anna juga ikut serta, Yuna yang sedari tadi di ruangan Dae Jung ikut pula memenuhu panggilan Presdir Korain tersebut.


Mereka berjejer membentu barisan, mata mereka semua tertuju pelayan wanita yang masih bersujud menangis di kaki Dae Jung.

__ADS_1


"Bu Nas, mana minuman yang dibawa oleh wanita ini?" tanyanya.


Bu Nas membawa segelas cangkir yang dibuat oleh pelayan pramusaji di rumah mereka, cangkir itu berisikan teh untuk Anna.


Suasana rumah itu makin tegang, Tuan Kim yang biasanya bersikap diam, dingin, sudah terlihat murka. Mereka dipenuhi pertanyaan tentang apa yang sudah terjadi malam ini.


"Teh ini kau campurkan apa?" tanya Dae Jung pada pelayan itu.


"Tidak ada, Tuan Kim." Jawabnya seraya tersedu-sedu.


"Kalau begitu, kamu bisa meminumnya sekarang."


Pelayan itu diam, wajahnya makin ketakutan, dia memohon ampun lagi. Meminta kehibaan Dae Jung agar memaafkannya.


"Ampuni saya, Tuan Kim."


"Jika tidak bersalah, mengapa kau harus meminta ampun?" tukas Dae Jung.


"Ji Yeong, paksa dia minum teh itu." Lanjutnya.


Ji Yeong mengambil cangkir teh itu dari tangan Bu Nas, lalu mencekoki ke dalam mulut wanita itu, mulut pelayan itu terpaksa meminum teh buatannya sendiri.


Dae Jung menghindar dua langkah kebelakang, dia ingin sedikit menjauh dari pelayan yang sudah mengkhianatinya. Semua mata yang menyaksikan itu hanya juga bisa diam berdiri di tempat, termasuk Anna yang jadi sasaran pelayan tersebut.


Menit demi menit teerlewati, pelayan itu mulai merasakan kesakitan di tenggorokonnya, kedua tangannya memegang lehernya yang mulai panas, dadanya pun ikut sakit, suara rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya, dia terkulai menggelinjang di lantai.


"Dia kesakitan, Dae Jung." Imbuh Anna yang merasa kasihan pada pelayan yang sangat akrab dengannya itu.


"Diam disitu Anna. Jangan dekati dia, ini perintah suamimu." Tegas Dae Jung pada istrinya, Anna menuruti perintah suaminya, dia kembali mematung di samping Yuna.


Dae Jung benar-benar sangat marah, dia tak menyangka orang-orang yang mengabdi pada dirinya rela mengkhianti kepercayaanya. Dia sangat membeci penghianat, tak ada kata maaf pada penghianta dalam hidupnya, dalam bentuk apapun atau siapapun itu.


Di menit kemudian, mulut pelayan itu mengeluarkan buih kuning yang semakin banyak, semua melihat itu terkejut menangkupkan tangan ke mulut. Terlebih lagi dengan Bu Nas dan Anna, karna pelayan itu adalah pramusaji sekaligus pelayan pribadi Anna.

__ADS_1


"Bawa dia ke rumah sakit sekarang, dan jangan sampai di bertemu oranglain." Ujar Dae Jung pada kepala keamanannya.


__ADS_2