
Dae Jung sibuk menyelesaikan pekerjaan Dae Song, beberapa hari belakangan ini, Dae Song kurang fokus menganalisa perkembangan pembangunan pabrik Korain, karena Bora.
Ji Yeong, masih berdiri mengamati sahabatnya itu. Dia membayangkan kalau besok Dae Song yang lagi ada di ruangan itu. Ah, betapa sulitnya berbaur dengan kakak angkatnya itu.
"Ji Yeong, kamu harus bantu Kak Dae Song. Dia masih pelru di bimbing," Imbuh Dae Jung.
"Hem, Ya. " Sahut Ji Yeong seadanya.
"Apakah kau sungguh ingin pindah ke Indonesia?" tanya Ji Yeong.
"Itu sudah bulat. Aku dan Anna akan memulai hidup baru disana, aku akan kemari lagi hanya untuk menghadiri pernikahanmu dengan Yuna."
"Hh, itu masih lamaaaaa ..." Ji Yeong mulai konyol lagi.
"Dae Jung, apa kau merasa kau Baek Hyeon?" tanya Ji Yeong yang ingin melenyapkan rasa penasarannya. Kalimat Dae Song saat mabuk mengusik pekirannya semalam.
Dae Jung tertegun. Otak jeniusnya mulai menelaah setiap peristiwa belakangan ini. Mulai dari kehadiran Dae Song yang tiba-tiba, setelah kakaknya di sembunyikan lebih dari 30 tahun.
"Aku pikir itu tidak penting, aku bukan Baek Hyeon,l suami Yama. Aku Kim Dae Jung suami Anna." Tangkas Dae Jung.
"Begitu, berarti Baek Hyeon itu benar Dae Song." Lirih Ji Yeong.
"Mungkin saja,"
Ada yang mendorong pintu, itu Yuna yang berusaha mencegat Bora agar tak mengganggu Dae Jung.
"Aigo, Yama Dae Song sudah datang." Ketus Ji Yeong yang melihat kehadiran Bora saat ini.
Dae Jung langsung memijat-mijat dahinya. Seketika kepalanya pusing bila melihat pertengkaran Bora dan sekertarisnya itu. Beberapa hari ini dia begitu tenang bersama isterinya di rumah, tapi pagi ini mendapat serangan emosi lagi di kantor dari Bora.
"Bahasa Korea"
"Oppa, sekertaris ini kurang ajar." Ujar Bora dengan nada manjanya.
"Dia tidak kurang ajar Bora, kamu yang kurang kerjaan. Seharusnya kamu fokus belajar mengelola GG group." Sahut Dae Jung kesal.
Bora menghampiri Dae Jung, Yuna menahan emosinya. Andaikan Anna tidak hamil, Yuna akan melaporkan ini ke Anna agar Bora diberi pelajaran oleh isteri bosnya itu.
__ADS_1
"Jangan peluk !! stop disitu !!" Tegas Dae Jung menghentikan langkah Bora.
"Isteriku sedang hamil, tidak lama lagi aku menjadi seorang Ayah dua anak. Carilah saja laki-laki lain Bora." Imbuh Dae Jung.
Ji Yeong hanya menyilangkan tangan melihat kekesalan Dae Jung pada Bora.
"Secepat itu kamu berubah, kemarin kita ciuman di ruangan ini. Kamu lupakan itu?" kata Bora.
"Ciuman?" Dae Jung melirik Ke Ji Yeong, benar lagi, ini pasti ulah Dae Song. Pikirnya.
"Bora, itu kembaranku, Kakakku, Kim Dae Song. Terserah kamu main apa dengan dia, yang penting jangan ganggu aku lagi."
Bora terkekeh. Dia mengaggap pekataan Dae Jung hanya lelucon agar mantannya itu menghindarinya lagi.
"Kamu ingin lari dari kenyataan? setelah kau mencumbuku kemarin? Oppa, kau biadab !!" Kecam Bora.
Dae Jung menggeleng, letihnya berbicara dengan pribadi seperti Bora, Dae Jung tidak bisa membayangkan bila dulu dia sampai menikah dengan Bora, hari-harinya di hiasi perdebatan seperti ini.
"Ink benar, Lihat Foto ini." Dae Jung perlihatkan foto dia dan Dae Song saat makan malam bersama.
"Keluarlah Bora, aku mohon ..aku sedang sibuk." Lanjut Dae Jung penuh kesopanan.
Bora mengangguk. Mungkin karena juga sudah letih berharap pada Dae Jung. Dia keluar dari ruangan kebesaran Korain membawa keterkejutan.
Dae Jung menghela nafas. Sulitnya menjaga hati yang ingin setia, batinnya. Ji Yeong yang menyaksikan itu hanya mematung saja. Korain tempat para manusia yang langka.Pikirnya.
*******************
Anna mengendap-ngendap, dia ingin mencari pelayan, perutnya sudah keroncongan, dua bayi kembarnya meronta meminta asupan siang ini. Langkahnya pelan berjalan agar dia tak di temukan lagi oleh Dae Song.
Perlahan lagi menuruni anak tangga, matanya membuanga pandangan ke kanan ke kiri, tak ada pelayan ataupun Dae Song.
Anna berlari kecil ke dapur, tapi saat tiba di dapur utama, Ahh !!! ada Dae Song disana bersama pelayan lain menyiapkan makan siang. Mendengar esapan suara Anna, Dae Song membalikkan badan.
"Hei, adik ipar kau lapar?" tanya Dae Song padanya.
Anna tak bisa mengelak. Dia sungguh lapar, makan siang yang di masak oleh Koki Choi mengundang nafsu makannya ingin membuas di meja makan.
__ADS_1
"Ayo kita makan siang sama-sama." Imbuh Dae Song mengiring para pramusaji itu menyusun makanan di meja utama.
Bu Nas yang melihat itu hanya pasrah. Sejak tadi malam, dia merasa ini jadi pertanda buruk bagi anak kembar Rifasya dan Kim Do Hang itu, mencintai satu wanita yang sama.
"Aku mau makan di kamar saja." Ujar Anna.
"Kau disini saja. Di kamar tidak ada adikku yang menemanimu." Tangkas Dae Song.
"Aku sudah terbiasa sendiri." Anna membela diri.
"Makanlah disini, meninggalkan makanan sebanyak ini bukankah tidak baik di ajaran agamamu?" Dae Song menjebaknya agar Anna mau makan siang bersamanya.
Anna membenarkan kerudung instantnya. Dia duduk di kursi Dae Jung. Mulai mengambil satu per satu makanan di piringnya. Jiwa rakusnya kumat. Selain lapar yang mendera, juga faktor bayi kembarnya. Biasanya, bila Dae Jung di rumah, dia yang menyiapkan berbagai stock makanan di kamar agar isterinya tidak perlu susah payah mencari pelayan lagi.
Dae Song malah asyik melihat adik iparnya makan dangan lahap. Di benaknya kembali berhalunasi, andaikan Anna itu isterinya, dan anak yang di kandungnya itu anaknya. Tentu, dia menjadi orang yang paling terbahagia di dunia ini. Tapi sayangnya, itu hanya halusinasi, faktanya Dae Jung yang memiliki semua itu.
Anna tahu, Dae Song sedari tadi menperhatikannya. Dia tak menghiraukan itu. Mulutnya makin cepat mengunyah, agar seusai makan, dia segera enyah dari hadapan jelmaan Baek Hyeon itu.
"Apa kau sedang mukbang?" tanya Dae Song. " Kau makan seperti lomba maraton."
"Aku memang begini makannya." Sahut Anna memasukkan semua jenis makanan ke mulutnya. Ini cara agar Dae Song ilfeel padanya.
Bukan kehilangan empati, Dae Song malah melihat itu hal lucu yang istimewa di Anna. Dia malah makin menatap Anna tanpa berkedip. Bu Nas yang melihat kedaan itu sudah sesak nafas. Oh, Tuhan musibah apa ini, batinnya.
Dae Song menuangkan lagi makanan di piring Anna, halusinasinya makin menjadi-jadi. Dia bak suami melayani isterinya. Mendapat perlakuan demikian, Anna hanya menurut saja. Anna memaklumi itu, bagaimana pun, dia tidak bolek kasar pada kakak iparnya.
"Anna, aku ingin bertanya satu lagi," pinta Dae Song.
Anna mengangguk, Dae Song membawa Anna ke dalam bola matanya.
"Jika dari awal, aku tidak sembunyikan, aku hidup noral seperti Dae Jung, layaknya anak kembar. Lalu aku yanh di jodohkan padamu, dan kita menikah, apa kau bisa mencintaiku seperti kau mencintai Dae Jung?"
Anna tergugu. Bu Nas yang mendengar itu pun ibah, ikut sedih. Dae Sing sangat menantikan jawaban itu. Benar, ini hanya nasib saja yang membedakan mereka. Lama Anna berpikir, lalu berkata
"...................................."
(NANTIKAN JAWAB ANNA DI AKHIR KISAH INI)
__ADS_1