
" Mereka meminta keadilan, Pak." Ujar salahsatu pria berkepala plontos.
"Berikan saja asuransi tiap keluarga agar bisa memulai hidup yang baru di tempat lain." Ada yang menambahkan di jajaran kursi direksi.
"Kehidupan mereka sudah berada di tempat itu, mereka membesarkan Anak Cucu disana, tidak semudah itu mereka melepaskan." Ada yang menambahkan lagi.
Dea Jung menyimak semuanya, disituasi yang tidak kondusif seperti ini memaksanya harus meminta pendapat pada seseorang yang sangat berandil dalam kehidupannya.
"Tenangkan mereka, ulurkan semua rencana sampai waktu yang saya tentukan." Perintah Dae Jung.
Para Direktur Eksekutif keluar dari ruangan itu, meninggalkan Dae Jung dan Sekertaris Ji, dari kaca jendela lantai tujuh mereka menyaksikan aksi unjuk rasa tiada henti mengecam mereka.
"Ji Yeong, siapkan semua untuk keberangkatan kita ke Korea sore ini." Ucap Dae Jung yang belum melepaskan pandangan dari pendemo itu.
"Kita harus bertemu Presdir Senior." Lanjutnya.
Ji Yeong mengangguk lalu menghubungi Sekertaris Yuna untuk mengurus keberangkatan mereka ke Korea.
Anna berlari dari tempatnya, bersembunyi di balik mobil tabloid tindak, para aktivis mulai anarkis, melempar botol plastik dan batu kerikil ke dalam Hotel sehingga kaca-kaca jendela retak, mereka kesal sebab pihak Korain belum memberikan jawaban atas permintaan mereka.
Tidak lama kemudian pihak Korain datang meminta perwakilan masyarakat untuk masuk ke Hotel guna bermusyawarah. Tiga dari mereka mengikuti pihak Korain,perundingan menemukan titik terang agar menghentikan aksi anarkis mereka.
******************
Anna yang sudah pulang ke rumah, lelah dan pusing, jarak tempuh yang cukup jauh buat dia mabuk di perjalanan.
"Penyakit miskinku kumat." Gerutunya sembari memegang leher.
Anna yang memang punya penyakit migrant berlebihan tidak mampu menempuh perjalanan jauh bila mengendari roda empat.
Duduk diteras sejenak melepas sepatu,l lalu beranjak membuka pintu. Rumah sore itu kosong, Uwa Nuri sedang ada pengajian, Raka dan Rasti ada jadwal les, waktu yang tepat menenangkan pikiran untuk memulai tulisannya.
Sebelum itu membersihkan diri, memasak mie instant, duduk dimeja makan sembari browsing di ponselnya, mencari informasi yang ingin ia ketahui.
mengetik tiga kata itu,
'PEMILIK KORAIN GROUP'
Puluhan headline menghiasi layar ponselnya, Anna sampai bingung memilih blog yang akan dibacanya.
Jempol kanannya mengklik satu blog yang berjudul
'Profil CEO KORAIN dari korea'
Muncullah sederet photo dan biodata Kim Dae Jung, pengusaha muda yang sukses meneruskan usaha keluarganya, dibacanya dengan secara detail.
__ADS_1
Nama lengkap : Kim Dae Jung
Lahir : Inchaeon, 22 juli 1987
Pendidikan: Universitas Korea,Bisnis Menajemen dan Universitas Sidney.
Status : Belum menikah.
Ayah : Kim Do Hang
Ibu : Rifasya Salim
Agama : Agama Kim Dae Jung tidak diketahui, apakah dia mengikuti Ibunya yang beragama Islam atau Ayahnya yang Katholik.
Namun informasi itu belum buatnya puas,dia berpindah ke blog lain,mengejutkan!
Dia tak habis pikir,apakah memang yang dibaca itu benar atau sekedar isu belaka, coba pindah ke blog lain lagi, semua sama.
Pemilik Group Korain itu ternyata......??????
"Assalamualaikum." Salam Uwa Nuri mengagetkannya.
"Astaghfirullah, Uwa." Pekiknya.
"Kenapa? kamu yang serius main hp, Uwa hanya beri salam. " Ketus Uwa Nuri yang berlalu ke kamar mandi.
Sementara Anna kembali melototi gambar Kim Dae Jung, sedikit geli akan kepribadian lain yang menyimpang pria yang berwajah nan rupawan itu.
"Percuma dia tampan." Gumamnya.
Uwa Nuri yang keluar dari kamar mandi merapikan belanjaannya ke lemari es. Hasil dari pesanan nasi kotak, lumayan cukup untuk persiapan kebutuhan mereka sebulan kedepan.
Anna sontak mengingat kejadian yang menimpanya saat demo berlangsung.
"Uwa, dikeluarga kita ada riwayat penyakit jantung?"
Uwa Nuri malah terkekeh mendengar pertanyaan ponakannya itu.
"Anna, Anna, penyakit jantung itu untuk orang kaya, mana mau bisa mampir dikita yang makan-makan sayur bening seadanya, ikan asin tiap hari." Canda Uwa Nuri.
Anna mengangkat bibir sebelah.
"Ini Anna serius, Uwa. Tadi Anna merasa dadanya sakit sekali, jantungku tiba-tiba berdetak kencang, sakit, tidak enak rasanya, dan anehnya lagi sekikas Anna berada di dunia yang pernah aku alami, Deaja vu istilah Uwa?" Jelas Anna yang mengharap jawaban.
"Apa itu deaja vu?" Tanya Uwa Nuri yang bingung.
__ADS_1
"Itu Uwa, melihat kejadian yang seperti kita alami di masa lalu, padahal kita tidak tahu itu apa."
"Itu ingatan masa lalu maksudnya, An?"
"Iya, Wa. Tapi dalam islam tidak yang namanya begituan, jadi kita gak usah percaya." Jawab Anna lalu kembali fokus ke ponselnya.
Uwa Nuri terdiam, ekpresinya memikirkan sesuatu, dia menghampiri Anna dengan duduk disampingnya.
"Kamu pernah mimpi?" Tanya Uwa Nuri dengan mimik serius.
"Pernah."
"Mimpi apa, Nak?"
"Mimpi jadi orang sukses lah, Wa."
Uwa Nuri menggetok jidat Anna, kesal dengan jawaban ponakan sulungnya.
"Bukan mimpi seperti itu. Mimpi yang, yang, yang .." Uwa Nuri menghentikan perkataannya, dia kembali berusaha mengingat suatu pesan yang dititipkan padanya di masa lampau.
Anna menatap Uwanya, menanti jawaban yang tak kunjung hadir dimulut wanita yang memiliki tahi lalat dibibirnya itu.
"Uwa lupa, nanti Uwa usahakan ingat, ya. Kamu makan dulu, sudah itu istirahat." Usul Uwa Nuri, dia melanjutkan pekerjaannya di dapur seraya mengingat-ingat kalimat amanah itu.
Anna yang juga sangat lelah segera menyeruput helai demi helai mie instantnya lalu ke kambali ke kamar untuk beristirahat sejenak, karna setelah mahgrib ia harus ke laundry lagi.
"Ya, Allah. Aku lupa pesan ambek (bapak), mana Anna sudah dapat tanda-tanda. Aduh ambek, anak bungsumu juga sudah mulai pikun." Gerutu Uwa Nuri dengan nafas berat.
************
Dia terus-menerus mengumpat kata kasar, semua baju suaminya dikeluarkan dari lemari, melempar ke arah Ayah Anna, emosi sudah menguasai akalnya hingga luapan amarah bertubi-tubi di lontarkan.
"Marah-marah terus kamu, Bu." Keluh Ayah Anna yang memungut baju-bajunya yang beserakan dilantai.
"Ingat, Pak. Ibu tidak sudi kalau kamu kasih uang ke anak-anakmu itu. Saya saja sedang hamil, kita butuh biaya banyak untuk lahiran nanti." Ibu tiri Anna yang tak sangat menentang bila suaminya menafkahi anak sambungnya.
Ayah Anna merangkul istrinya,
"Bapak tidak pernah beri uang ke mereka lagi, tadi memang orderan lagi sepi, lagi pula Anna mampu hidupi adik-adiknya. Kan saya sudah punya tanggungbjawab lain, itu kamu, bu, dengan calon anak kita." Rayu Ayah Anna sambil mengelus perut buncit istrinya.
Ibu tiri Anna yang bernama Sani itu masih memasang wajah kesal, uang yang diberikan oleh suaminya tidak sesuai harapan hingga timbul dibenaknya bila suaminya memberikan uang Anna secara diam-diam tanpa seizin olehnya.
"Sudahlah, Bu. Besok bapak akan menghasilkan lebih banyak lagi." Janjinya pada Sani tanpa menyadari kekhilafan sebagai seorang Ayah dari tiga anak yang masih butuh tanggungjawabnya.
Sebagai Ibu sambung, Sani sangat membenci ketiga anaknya itu, tak terima bila kasih suaminya terbagi pada anak yang hanya akan merepotkan hidupnya, pikiran Sani licik sehingga ingin memutuskan tali ikatan antara Ayah dan Anak tersebut.
__ADS_1