BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
KE DAEGU BERSAMA


__ADS_3

 


Mata sipitnya membelalak, sepasang suami istri di depannya benar-benar buatnya terkejut akan pemberitahuan kepadanya.


"Kalian akan ke Daegu pagi ini? Bersama?" Tanya Ji Yeong.


"Ya, Anna harus bersamaku, apapun itu. Aku tahu, dia akan mati karna was-was bila dia tidak ikut." Sahut Dae Jung melirik ke istrinya.


Anna memasang wajah ilfeel, kesombongan suaminya sedang kumat, niat hati ingin melerai, namun percuma, toh itu juga sebagian dari kenyataan yang ada. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya bersama wanita yang pernah di kencaninya selama tujuh tahun.


"Jadi, hari ini pekerjaanku di kantor bertambah banyak." Keluh Ji Yeong.


"Kamu harus bisa tangani itu. Suatu saat kamu harus juga jadi CEO." Imbuh Dae Jung.


Mereka berdua pamit meninggalkan Ji Yeong merenung di meja makan, tak melirik kopi hitamnya yang sudah tak mengepulkan asap.


  Sepanjang perjalanan ke Daegu, Anna dan Dae Jung mendengarkan musik, bergantian menyanyikan lagu kesukaan masing-masing. Kadang perdebatan masalah lagu yang yak sesuai lirik jadi perdebatan, buat Pak Su yang menyetir menahan tawa dengan tingkah kedua majikannya itu.


 Dae Jung dan Anna sudah tiba di Daegu, tepat di depan rumah Bora. Semalaman, Bibi Nami tak henti menelpon memberitahu anaknya makin tak terkendali mencari mantan kekasihnya itu. Sesuai dengan rencananya, Dae Jung akan selalu membawa Anna ketika dia ke Daegu menjenguk Bora.


Dengan berstyle formal, Dae Jung mendandani istrinya bak wanita karier yang akan sangat berperan penting untuk kesembuhan Bora, ini agar wanita yang sedang mengalami depresi berat itu untuk sementara tidak mencurigai bahwa Anna adalah istrinya.


Anna berdecak melihat kekayaan yang di miliki mantan kekasih suaminya itu, rumah mewah Bora hampir sama dengan yang dimiliki oleh Dae Jung.


"Wah, Oppa. Bora ternyata orang kaya juga." Lirihnya.


"Memangnya kamu tidak kaya!?" Ketus Dae Jung.


"Aku kaya karna keciprtana dari kamu." Sahut Anna.


"Lakukanlah sesuai dengan rencana kita semalam. Ini misi pertama, di dalam  harus kita selalu bersama." Tutur Dae Jung.


"Siap, Tuan Kim. Saya mengerti semuanya."


Dae Jung tertawa melihat tingkah Anna yang memberi hormat padanya, mengusap kepala istrinya lalu berkata,


"Berteman dengan Yuna, Kelakuanmu hampir sama dengannya."

__ADS_1


Mereka menunggu di depan pintu sembari membunyikan bel, pintu itu di buka oleh perawat Bora, di dalam ruang tamu terlihat Bibi Nami menunggu. Betapa kagetnya dia, melihat kehadiran Dae Jung menenteng Anna bersamanya, ini sangat tidak bagus untuk rencana menyembuhkan anaknya.


Bibi Nami melangkah ke arah mereka dengan tatapan tajam, bukan ke Dae Jung melainkan istrinya yang menjadi saingan Bora sekarang.


"PERCAKAPAN BAHASA KOREA"


"Kenapa membawa istrimu?" Tanyanya.


"Itu hak saya, lagipula Bibi Nami tidak perlu khawatir, Bora tidak akan tahu Anna istriku." Jawab Dae Jung.


Anna hanya menunduk diam, kehadirannya memang sungguh tidak akan membuat nyaman siapapun di rumah itu, terlebih lagi Ibu dari mantan kekasih suaminya.


"Ini di luar dari perjanjian kita Dae Jung."


"Saya akan yang menyembuhkan Bora. Jangan mengatur saya." Kata Dae Jung tegas. dia tahu ketidaksukaan Bibi Nami pada Anna.


Karna tak punya pilihan lain, Bibi Nami mengalah dengan permintaan Dae Jung.


"Baiklah, kakian masuk. Bawa mereka ke kamar anakku." Titahnya Pada perawat Bora.


"Jangan tegang.Ada aku bersamamu." Ucap Dae Jung dengan suara rendah pada Anna.


"Dia sangat kaya. Aku minder." Balas Anna berbisik.


Buat Dae Jung menggeliat, sangat gemas melihat tingkah polos Anna, rasanya dia ingin mengecup bibir istrinya saat itu.


Mereka telah sampai di kamar Bora, perawat itu membukakan pintu, di dalam terlihat Bora masih bebaring dengan tatapan kosong ke langit kamarnya.


Anna makin tercengang melihat sosok Bora yang sangat cantik, bak boneka yang hidup mengurung diri di istananya, begitu menawan bahkan bisa menandingi artis k-pop pada umumnya.


Mata Bora berpaling ke arah mereka yang masih berdiri di depan pintu, dia langsung menyorot Dae Jung dengan tatapan sendu, Bora berlari ke arahnya lalu membawa tubuh Dae Jung ke pelukannya.


Anna membelalak lagi, seperti luka di siram air garam hantinya saat itu, suaminya di peluk mantan kekasih yang belum juga moe on.


"Anna, sabar, sabar, anggap saja kalian akting di drama Korea yang akan sukses." Ucap Anna dalam hati menguatkan dirinya sendiri.


Dae Jung melirik ke Anna, wajah istrinya teralihkan daru mereka.

__ADS_1


"Lepaskan, Bora. Kamu istirahat saja di tempat tidur." Usul Dae Jung memanggil perwata agar menuntun Bora ke perbaringannya kembali.


Melihat Anna yang masih memasang wajah acuh, Dae Jung tersenyum kecil, rupanya istrinya berusaha mengelabui kecemburuannya.


"Bora, Aku datang bersama Anna. Dia salahsatu psikolog yang juga sekaligusl motivator baik yang aku kenal." Dae Jung memperkenalkan Anna sesuai dengan rencananya.


Anna menunduk hormat lalu berucap berbahasa Inggris.


"Apa kabar Nona Bora, Nama saya Anna. Semoga kita bisa menjadi teman."


Bora mengamati Anna dari ujung kaki hingga kepala, perempuan itu memakai kain di kepalanya, seperti yang ia ketahui penampilan itu hanya pada wanita muslim.


"Kamu muslim?" Tanya Bora dengan suara lemas, menjerit semalaman buat tenggorokannya sakit.


"Iya, saya muslim dari Indonesia."


"Oppa, punya hubungan keluarga dengan dia?" Tanya Bora ke Dae Jung, karna ia tahu Ibu Dae Jung seorang perempuan muslim yang juga berasal dari Indonesia.


"Iya, dia keluarga saya." Sahut Dae Jung.


Memang benar, Anna adalah keluarganya, isitrinya juga sekaligus keluarga dari Kakek Baek Hyeon. Bora mengangguk, dia melihat lagi ke arah Anna, tatapannya penuh selidik, semua yang di kenakan Anna, dari tas hingga jam tangan semuanya bermerk kelas dunia.


""Kamu sudah punya suami?" Tanya Bora lagi.


Anna tergugu, jawaban itu belum mereka siapkan. Dia melirik ke arah Dae Jung berharap bantuan suaminya untuk menjawab.


"Dia punya suami, seorang pengusaha di bidang real astate, aku sangat mengenalnya. Aku sudah meminta izin pada suaminya, Aku rasa itu sudah cukup, dia datang disini bertugas untuk membantu kamu untuk sembuh, maka berterim kasihlah." Ujar Dae Jung.


Bora mengannguk,berusaha memahami, meski kehadiran psikolog baru itu buatnya tidak nyaman, namun karna itu bentuk perhatian Dae Jung padanya, di berusaha berdama dengan egonya.


"Oppa, ayo duduk disini." Bora menarik tangan Dae Jung ke sampingnya.


Dae Jung menurut saja, hatinya sangat menolak, namun ia rasa ini resiko agar Bora cepat sembuh supaya dia dan Anna lepas dari utang masa lalunya yang di bentuk oleh Bora sedemikian baiknya.


Bora menyadarkan kepala di pangkuan Dae Jung, suasana kamar Bora yang dingin berubah panas di tubuh Anna, inikah kenyataan yang harus ia lihat setiap mereka datang mengunjungi Bora? Ah ..sangat menyebalkan. Batin Anna meraung-raung.


Pernikahannya sungguh terjebak dalam lingkup masa lalu, dimana dia harus bertarung melawan kisah masa lalu Dae Jung yang banyak menyimpan kenangan indah bersama Bora, sungguh tugas terberat bagi seorang istri yang baru sebulan menikah.

__ADS_1


__ADS_2