BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MAKAN MALAM BERSAMA


__ADS_3

Malam itu Anna dan Dae Jung masih di kamar, mereka baru saja menyelesaikan sholat isya bersama. Dari luar ada pelayan yang mengetuk pintu. Itu panggilan makan malam. Mereka berdua segera turun ke bawah.


Di meja makan sudah ada Ji Yeong, Yuna, Kakek Hang, Jun Hyun, dan Dae Song. Ini makan malam yang khusus di buat oleh Kakek Hang untuk merayakan kebahagiaannya. Mata Dae Jung melirik Dae Song, rupanya kembarannya itu sudah merubah warna rambutnya menjadi coklat, alasan utama Dae Song agar lebih mudah dikenali, dengan Dae Jung bermabut hitam, tentu orang-orang pasti sudah dapat membedakan antara Dae Song dan Dae jung.


Dae Jung menarik kursi untuk mempersilahjan Anna duduk, dia pun ikut duduk di samping istrinya. Mata Dae Song berpaling ke arah makanan seketika, sungguh berat melihat perhatian Dae Jung pada Anna.


"Di usia Kakek yang di beri bonus dari Tuhan, Kakek bersyumur bisa berkumpul dengan kalian. Ini awal yang baik untuk kita semua." Imbuh Kakek Hang begitu sumringah.


Bu Nas yang berdiri di sampingnya mengangguk kecil. Dia jadi saksi tua perjalanan sejarah Korain.


"Kalian makan," Kakek Hang mempersilahkan.


Di sela-sela orang-orang terkasihnya menikmati makanan, Kakek Hang memberikan pertanyaan pada mereka.


"Dae Jung, kamu ingin ke Indonesia?" tanyanya.


"Iya, Kek. Saya dan Anna akan hidup disana saja." Sahut Dae Jung.


Kakek mengarahkan pandangan ke anggota baru, siapa lagi kalau bukan si tengil Dae Song yang menelan paksa makanan melihat jemari Anna terselip di jemari Dae Jung.


"Dae Song, rencana selanjutmu apa? kau ingin belajar mengurus perusahaan? atau di rumah saja bersembunyi?" Kakek Hang mulai mencandainya.


Buat mereka yang lain mendengarnya melipat bibir menahan tawa. Jangan sampai kelepasan sehingga Dae Song tersinggung.


"Terserah Kakek saja, aku juga di jodohkan saat ini juga, itu terserah." Jawab Dae Song pasrah.


Kakek Hang memalingkan wajah ke arah cucu tirinya, Jun Hyun.


"Pemuda lembut, kau, apa tujuanmu sekarang?"


Jun Hyun tersenyum kecil, gigi ginsulnya nampak manis di sela senyuman khasnya.


"Saya rasa, ingin mengembangkan lembagaku, agar bermanfaat bagi orang-orang." Yang di maksud Jun Hyun adalah lembaga private high, ternyata dia adalah pemilik lembaga tersebut, dimana tempat Anna di daftarkan oleh Ji Yeong.


Sekarang giliran Ji Yoeng dan Yuna.


"Kalian kapan mau menikah?"


Ji Yeong tergugu. Bukan tak ingin segera menikah, tetapi masalah keluarganya sekarang tak memungkinkan untuk melangsungkan hal sakral tersebut. Ibu kandungnya, Bibi Ling belum di temukan, sementara Ayahnya, masih dalam tahap pencarian. Ini bukan waktu yang tepat. Pikir Ji Yeong.

__ADS_1


Tuna yang menunggu jawaban Ji Yeong pun juga hanya pasrah, dia sudah tahu jawaban lewat kebisuan Ji Yoeng.


"Kami akan menikah bika semua sudah selesai, Pak Senior." Jawab Yuna perlahan.


Karna sudah mendapat jawavan, Kakek Hang mengerti. Rasanya dia sudah menjadi Kakek yang baik untuk mereka. Di masa tuanya, begitu bahagia sekarang, tidak sia-sia dia membangun doa dan Korain agar menjadi penunjang masa depan keturunannya.


"Kakek mau istirahat, kalian lanjutkan makan." Pamit Kakek Hang yang ingin ke rumah sebelah, di temani asistent pribadinya dia meninggalkan cucu-cucunya dengan senyum bahagia.


Dae Jung kembali memotongkan Anna steak, ini kebiasaan mereka setiap kali makan bersama, sementara Yuna menyuapi Ji Yeong yang agak lusuh malam itu.


Tinggallah Dae Song dan Jun Hyun sebagai penikmat adegan romantis itu. Mereka hanya memandangi pasangan yang beruntung, tanpa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan di hati keduanya. Tidak sama seperti mereka berdua, mencintai Anna tapi sudah di miliki oleh Dae Jung.


Dae Song tak tahan, Dia memotong daging pula alalu di meletakkan di piring Jun Hyun.


"Ini bagianmu, haa, Jun Hyun, kau tampak menggenaskan sekali, benar-benar sad boys." Ketus Dae Song mengejek, padahal kalimat itu pun juga terarah padanya.


Jun Hyun menancapkan garpu di daging sapi pemberian Dae Song itu.


"Jangan bersikap seperti guy, menggelikan !" Hardik Jun Hyun keberatan.


"Kenapa kamu marah? apa kau ingin di suap? tanya Dae Song.


Tetapi tiba-tiba di makan malam itu, Dae Song merasakan nyeri lagi di dadanya.


"Ahhhkk .." Dae Song merintih kesakitan.


Dae Jung menghampiri kakaknya, mengusap belakang Dae Song agar rasa sakit kakaknya berkurang.


"Hyung, obatmu dimana?" tanya Dae Jung.


"Di kamar," sahut Dae Song yang sudah mengeluarkan keringat.


"Ambilkan cepat," pinta Dae Jung pada pelayan-pelayannya.


Pelayan mereka berlarian ke atas kamar Dae Song, tangan Dae Jung masih mengusap lembut punggung kakaknya.


Selang beberapa menit, salahsatu pelayan sudah membawa obat Dae Song. Dengan kasih sayang, Dae Jung menyisipkan obat itu ke dalam mulut kakanya, lalu meriah air minum dari tangan Anna.


Reaksi obat itu sangat cepat. Setelah merasa baikan, Dae Song berdiri perlahan,melerai tangan Dae Jung. Dia berjalan gontai, pelayan berusaha ingin membantunya, namun Dae Song menolak.

__ADS_1


Dia berjalan pelan menaiki tangga, ada rasa malu pada banyak pasang mata melihat kesakitannya, penyakit itu adalah kelemahannya, mengancamnya pada maut setiap saat. Obat jadi sahabt yang tak boleh ia tinggalkan.


Dari bawah, Dae Jung menatap sendu kakaknya, sebagai adik yang fitrahnya memiliki kasih sayang sebagai suadara kandung, Dae Jung sedih.


"Andaikan aku bisa membantumu," lirih Dae Jung.


Dia memalingkan wajah ke Ji Yeong,


"Ji Yeong, aku minta tolong, carikan pendonor jantung untuk Dae Song, bagi siapa keluarga yang meninggal ingin memberikan jantung pada Dae Song berikam dia bayaran mahal." Ujarnya.


Ji Yeong mengangguk siap, Jun Hyun juga memahami, dia akan juga mencari setiap info dari rumah sakit.


************


"Benarkah?" Kau di cium Dae Jung?" tanya Bibi Nami pada Bora yang menceritakan kejadian tadi pagi di kantor Korain.


"Iya, Bu." Sahut Bora tersipu malu.


"Hmm .. pantas saja putriku sekarang ini wajah bersinar, ibu yakin kau pasti bisa memiliki Dae Jung kembali. Pelan-pelan saja sayang." Ujar Bibi Nami.


"Ha,Iya, tapi karena Ji Yeong, semua berantakan."


"Anak itu, selalu saja menjadi penghalang. Andaikan Ayahnya tidak berbahaya, dari dulu ibu memberikan dia pelajaran." Tukas Bibi Nami.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Bu?"


"Tidak usah, sekarang Chung Sang sedang di cari polisi, kita tidak boleh sanpau ketahuan bika kita terlibat juga. Korea Selatan gempar akan hal ini bila di ketahui publik."


Untuk sementara Bibi Nami tidak akan melakukan apapun, dia pikir sangat berbahaya bika bertindak dalam situasi menegangkan. Bila Chung Sang sampai tertangkap, tentu Ayah SoJi Yeong itu akan menyeret namanya pula. Bibi Nami berharap, Chung Sang tidak dapat ditangkap, ataupun mengalami kecelakaan hingga tewas. Doa licik Bibi Nami membinatang lagi.


"Tapi bolehkan aku ke kantor Korain besok?" tanya Bora meminta izin.


"Tentu saja ..kamu tidak usah ke rumah Korain, disana banyak benalu."


Bibi Nami masih jengkel dengan Bu Nas, karena kepala pelayan Dae Jung itu, dia seringkali bertengkar dengan suaminya. Bibi Nami tak bisa mengelak, bahwa suaminya masih mencintai Bu Nas. Andaikan Bu Nas dan Anna bisa di lenyapkan, betapa bahagian dia dan Bora. Tak ada bayang wanita masa lalu yang menyaigin mereka berdua.


Note :


Ini WA author 085242863696.

__ADS_1


Bagi yang mau tanya-tanya soal karya, silahkan japri WA saja 🙏🙏🙏


__ADS_2