BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
TIBA DI INDONESIA


__ADS_3

Pesawat Jet itu mendarat di bandara kecil Andi Djemma, sambutan buat petinggi Korain telah tersedia, para jajaran direksi berlomba-lomba menyediakan rangakain bunga untuk Presdir Hang.


Senyuman Presdir Hang menyungging indah di pipi keriputnya, ada rasa haru, sejak lima belas tahun yang lalu dia meninggalkan Indonesia, memberi Ayah Dae Jung mengurus segala aset Korain, dan memutuskan pensiun dari pengusaha property sukses.


Tak pernah ia lupakan, pertama kali menginjak bumi pertiwi, tak punya sanak saudara yang bisa di ajak berkawan, terlunta-lunta, dan pada akhirnya dia bertemu dengan Pak Lambau, keluarga Yama.


"Selamat datang Presdir Senior." Ucap mereka menyambut Kakek Dae Jung.


Dengan sedikit tahu bahasa Indonesia, Presdir Hang menjawab.


"Apa kabar kalian? Baik-baik saja, kan?"


Pagi itu mereka berkeliling meninjau ke pabrik kayu lapis Korain yang menjadikan sebagai lapangan pekerjaan selama tiga puluh tujuh tahun pada masyarakat di daerah itu, mengunjungi Hotel dan Resort Korain yang ada di salahsatu destinasi wisata daerah, terakhir para petinggi Korain itu menyinggahi tanah yang sampai sekarang menjadi sengketa bagi Korain dan warga setempat.


Di tanah seluas sepuluh hektar itu masih di penuhi rumah petak warga, aktivitas mereka normal seperti biasa, hanya saja, terlihat beberapa alat kontruksi berat milik Korain menganggur hampir membumi ratakan wilayah tersebut.


"Dae jung, disinilah awal kakek bertemu Pak Lambau, melihat kakek duduk sendiri kebingungan mencari Kakek Hang Baek Heyon." Kenangnya.


Dae Jung hanya mengangguk.


"Ini tanah sebagian sudah di wakafkan beliau, menjadi tanah yang di berikan pada warga yang tidak punya tempat tinggal, dan sisanya diberikan kepada korain untuk di urus, namun sepenuhnya bukan milik Korain, melainkan anak cucu dari Lambau." Jelasnya.


Alasan Pak Lambau memberikan Korain untuk mengurusnya, selain amanah Yama dan Hang Baek Hyeon, juga di dasari ketakutan bila hak warisan itu jatuh ke tangan Ibu Anna, maka ayah Anna sebagai penjudi ulung bisa saja menjualnya, dan Uwa Nuri pun tidak dapat mengurus hal itu, sehingga Pak Lambau yang menganggap Presdir Hang saudara menitipkan pada Korain untuk di jaga.


"Kakek, mari kita istirahat dulu." Ajak Dae Jung yang meraih pergelangan kakeknya.


"Dae Jung, kapan kita ke keluarga Pak Lambau?"tl. Tanya Presdir Hang yang sudah tidak sabar.


Dae Jung mencari seribu alasan untuk mengeles sementara.


"Kita cari waktu yang tepat kakek, jika tiba-tiba, takutnya mereka akan kaget."


Menuntun kakeknya yang berjalan dengan tongkat, mereka meninggalkan sebagian hamparan bumi yang di penuhi kenangan itu.


*** *********


Dae Jung menanti Ji Yeong yang masih sibuk mencari informasi tentang gadis yang di jodohkan padanya, sementara Yuna pun selalu memasang telinga di setiap sudut tembok, guna mengetahui calon perempuan yang akan di nikahi bos besarnya itu.

__ADS_1


Ponselnya berdering, panggilan tertera Sekertaris Ji.


"Haa. Ji Yeong, kamu dimana?"


Suara Ji Yeong berucap, "Ya, sekarang saya berada di depan salahsatu resto seafood tempat Anna bekerja."


"Saya akan kesana sekarang."


Dae Juung menutup telponnya, dengan sopir pribadi ketika berada di Indonesia, dia segera membelah jalan menuju titik lokasi GPS Ji Yeong.


Jalan kota kecil itu begitu asri, bersih, dan tertata rapi, kata macet hampir tak pernah dikeluhkan para penduduknya, hanya butuh setengah jam dari istana Korain, Dae Jung yang sudah tiba di tempat Ji Yeong menunggu di temani beberapa orang bodyguard yang setia mendampingi.


"Ha, Hyung (kakak laki-laki), tampaknya kau sudah tidak sabar bertemu jodohmu itu." Ji Yeong bercanda.


"We, saya hanya seorang cucu yang ingin menyenangkan kakeknya." Timpal Dae Jung.


Ji Yeong mengeleng.


"Ha, Dae Junga, jangan pikirkan posisimu, pikirkan posisi gadis yang ada di dalam resto itu, bagaimana bila dia menolak perjodohan ini? Aku tahu wanita seperti dia sangat berprinsip."


"Aku akan menemuinya terlebih dulu, dan bicara, setelah itu kau bertemu dengannya." Ji Yeong memberi usul.


Menyetujui usulan sekertarisnya itu, Dae Jung kembali masuk ke dalam mobil sembari menunggu hasil penelusuran Ji Yeong.


Pria berbadan tegap itu memasuki resto,mata sipitnya mencari tempat yang pas untuk mengajak calon kakak iparnya berbincang, Ji Yeong memeras akalnya menyusun strategi kata agar Anna tak menolak permintaan Dae Jung.


"Silahkan duduk, Pak." Salah satu pelayan di resto itu menyapanya.


"Pak, ini menunya, silahkan di pilih semua enak-enak." Lanjut pelayan yang juga memakai hijab itu.


"He, saya ingin di layani oleh Anna." Pinta Ji Yeong.


Seketika wajah pelayan itu cemberut, lagi-lagi Anna, 'mengapa akhir-akhir ini anna selalu di cari pelanggan yang tampan-tampan?' Kesalnya dalam hati.


"Anna, ada pelanggan laki-laki yang minta di layani sama kamu, heran deh, kamu pake susuk ya?" Kecam pelayan itu.


"Sembarang kamu ngomong." Balas Anna dengan mimik wajah marah.

__ADS_1


Dia segera arah tamu yang menunggunya, terlihat pria memakai jas hitam dengan rambut tertata rapi, penampilan sangat formal ' itu Oppa siapa lagi?' Gerutunya.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanyanya mengagetkan Ji Yeong yang sedang melihat-melihat menu.


Ji Yeong sontak berdiri menundukkan badan memberi salam hormat budaya Korea pada Anna. Melihat itu Anna membalas dengan menangkupkan kedua tangan, lalu duduk saling berhadapan di meja yang terisi hanya empat kursi.


"Anna, nama saya So Ji Yeong, panggil Ji Yeong." Dia memperkenalkan dirinya terlebih dulu.


Anna mengangguk kebingungan, 'memperkenalkan namanya sedang dia sudah tahu namaku?' ucap Anna dalam hati.


"Ini memang mendadak, tetapi kami sudah tahu tentang Anna dan keluarga."


Anna berusaha memahami setiap kata demi kata Ji Yeong yang masih gelagapan berbahasa Indonesia.


"Bisakah saya meminta Anna untuk menemui bos kami.?" Pinta Ji Yeong.



Anna membelalakan mata,menyerngit lalu menjawab.


"Kau kira aku ini cewek panggilan?" Kecam Anna.


Ji Yeong yang tak tahu istilah panggilan sedikit kebingungan.


"Haa? Panggilan, panggilan itu apa? Memanggil?" Tanya Ji Yeong polos.


Anna menghela nafas, sepertinya tak berguna bicara dengan pria di hadapannya sekarang ini, sebab dia bukan inti dari pertanyaannya, melainkan bos dibalik mereka.


"Mana bos kamu? Saya mau ketemu."


Ji Yeong mengajak Anna menuju mobil Dae Jung terparkir. Anna yang mengikuti langkah Ji Yeong menyimpan curiga besar, ia berspekulasi bahwa mereka adalah komplotan penjahat yang menculik para gadis untuk di jadikan tawanan. Meski demikian, Anna tak sedikit pun takut, karna bekal bela diri karate telah di ajari oleh kakeknya.


Ji Yeong mengetuk pintu kaca jendela mobil Dae Jung, Anna yang sudah menunggu di bangku taman resto memperhatikan dari jauh gelagat kaum bermata sipit itu.


"Awas saja kalian macam-macam." Kecam Anna mengepalkan tangan.


********

__ADS_1


__ADS_2