
Pasangan pengantin baru itu keluar dari lift tepat lantai tiga di mana kamar presdir Hang berada, Dae jung mempercepat langkahnya menyusuri lorong besar sementara Anna masih sibuk mengamati kemewahan rumah Suaminya itu.
"Pasti Pelayan disini pegal membersihkan Rumah sebesar ini setiap hari." Gumamnya.
Diruang tamu lantai tiga, nampak Yuna menunggu ke kedatangan mereka, perempuan yang memakai kemeja putih saat itu lansung berdiri menyapa pimpinannya.
mata Yuna pun tak lepas melirik Anna yang berjalan mengikuti Dae jung dari arah belakang.
Tercengang dengan penampilan istri dari pria yang ia kagumi bertahun-tahun itu.
"Selamat Datang, Pak Kim." Ucapnya menunduk hormat.
Melihat Anna yang sudah berdiri pula di depannya, Yuna pun menyapanya pula, meski tidak ikhlas namun senyum di bibirnya ia paksa melengkung.
"Astaga, begini ternyata tipe Dae Jung, Ah selama ini aku salah memakai kostum, aihs .. rok miniku !" Yuna mengerutu dalam hati seraya sedikit melorotkan rok mininya.
"Selamat Datang, Nona Kim." Ucap Yuna makin kesal.
Ah, mengapa nama itu tidak di gelarkan padanya? seharusnya dia yang pantas menjadi Nona presdir Kim, batinnya merintih.
"Ya, Terimakasih. Nama Saya Anna." dia balik menyapa Yuna dengan mengulurkan tangannya.
Hati tak ikhlas namun Yuna meraih tangan Anna pula.
"Ya, Nona, Saya Yuna Sekertaris Pak Kim." Jawab Yuna berusaha sopan.
Ji Yeong kembali hadir diantar mereka, dia menenteng koper milik Presdir Hang yang akan di antarkan ke bandara olehnya.
Presdir Hang sudah keluar pula dibalik lift bersama ketiga ajudan setianya, penampilannya sudah rapi dengan switer rajut tebal biru, tangan kanan setia memegang tongkat penguatnya, dari jauh dia melempar senyum pada menantunya, Anna.
"Pengantin baru wajahnya sangat bersinar." Canda presdir Hang menepuk pundak Dae Jung.
Anna melipat bibir untuk senyum, sementara Yuna mengangkat bibir sebelah karna cemburu mendengar penuturan itu.
"Hari ini Kakek cepat kembali ke Korea, sudah lewat jdwal Kakek kontrol kesehatan setiap minggunya." Jelas Presdir Hang.
"Iya, Kek, Semoga tiba dengan selamat di Korea." Ucap Anna.
__ADS_1
"Kalian juga segera menyusul Kakek ke kesana, Kakek tunggu di Korea." Presdir Hang menambahkan.
"Ya sudah Kek, Hati-hati di jalan ..Sekertaris Ji akan mengantar Kakek sampai Bandara." Kata Dae Jung memeluk Kakeknya.
Anna meraih tangan keriput presdir Hang untuk ia salami, ia merasa seperti merasakan kehadiran sosok Kakek Lambaunya dalam jiwa Presdir Hang.
"Kakek berangkat dulu, Kalian baik-baik disini, Cepat buatkan cicit Untuk Kakek."
Yuna makin kesal mendengar itu semua, rasanya ia ingin berlari lalu meloncat dari ketinggian mendengar permintaan Presdir Hang pada Anna dan Dae jung.
"Ihhss ...." Gumamnya.
Pria yang sudah memakan banyak asam garam kehidupan itu pamit, menyusul Ji Yeong menemaninya dari arah belakang.
"Ayo, ikut saya." Ajak Dae Jung pada Anna.
Anna kembali mengikuti langkah suaminya itu, meninggalkan Yuna dengan seribu rasa geram.dia memasuki lift untuk menunggu Dae jung di bawah.
Dae Jung menghentikan langkahnya di depan pintu,
"Mulai sekarang, ini kamar kamu, Buka sekarang." Kata Dae Jung mempersilahkan Anna.
"Kenapa menanyakan kamarku? "
"Kita kan Suami Istri jadi harus tahu kamar masing-masing, kalau ada apa-apa dengan saya, mau minta tolong dengan siapa." Jelas Anna.
Dae jung menghela nafas lalu menunjuk ke arah kiri mereka.
"Itu kamarku, kalau kamu butuh sesuatu itu infokan pelayan disini, 24 jam dia bisa membantumu. "
"Memangnya pelayan disini tidak akan curiga kita tidur terpisah? berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa yang menhasilkan cucu." Tanya Anna berbisik.
Dae Jung menyerngit, " Kamu liar juga rupanya?"
"He Pak kim, itu bukan liar, saya ini perempuan dewasa yang normal, taulah obrolan dewasa seperti itu." Timpal Anna.
" Tapi kamu membuatku geli." protes Dae Jung sedikit menjauh dari Anna.
__ADS_1
"Haa! kamu geli itu dikarnakan, Ah , sudahlah, lupakan, Saya hanya takut kalau mereka melaporkan hal ini ke presdir senior."
"saya yang menggaji mereka, jadi semua menurut padaku. he Anna, hilangkan pikiran jorokmu itu." Kesal Dae jung yang lagi-lagi kelelakiannya di uji oleh Anna.
"Ya saya paham, terimakasih Pak Kim." Ucap Anna dengan memberikan senyuman manis pamungkasnya.
Dae Jung melihat itu seketika jantungnya berdegup kencang, cara merelai itu semua dengan mengalihkan pandangan matanya dari Anna.
" Ya sudah, Kamu lanjutkan tidur, hari ini saya mau ke pabrik dulu. Ha .. berpura-puralah kau lelah semalaman bersamaku."
gurauan Dae Jung buat Anna memasang tatapan sengit.
" Dasar Kaum Capcus !" Anna menepuk keras pundak Dae jung.
Dae Jung terkekeh meninggalkan istrinya itu, dia menuju pabrik kayu lapis miliknya, ditemani oleh Yuna, melihat itu Anna berlirih,
"Padahal kamu punya sekertaris cantik, Kenapa takdir kamu harus jadi gay."
Anna memasuki kamar itu, makin membuat kakinya lemah serasa tak berpijak, kamar yang luasnya hampir sama dengan rumah Uwanya itu di hiasi interior kamarnya di tata begitu cantik, warna pink gold mendominasi cat, walpapper hingga furiniture yang ada di dalamnya.
"Dae Jung benar-benar mempersiapkan ini semua, pria itu memang sangat idealis, segalanya harus matang dan sempurna."
terdapat pula ruangan yang menata lemari kaca selebar dua meter yang memajang berbagai baju mahal untuk penunjang kostum Anna sehari-hari, rak menjulang tinggi menyusun berbagai sepatu dari model flat hingga kheels, belum lagi berbagai leci kaca yang menyimpan tas-tas mewah dan aksessoris pelengkap penampilannya.
"Ya Allah, kemarin hanya melihat semua ini di tv, sekarang sudah menumpuk di depan mata. benar kata sulfa, aku memang menang lotre kehidupan." Ucap Anna terperangah dengan apa yanh ia lihat.
Namun sekejap pula Anna tersadar,
"Tapi buat apa kalau semua ini hanya kepalsuan, pernikahanku bukan pernikahan sesungguhnya, kami hanya terikat janji oleh keluarga bukan cinta." Lanjutnya meratapi nasib.
Perempuan sepertinya tak selalu mengedepankan hedonisme, dia hanya ingin menjadi jiwa yang sederhana , baginya kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan uang, hanya hati yang bersyukur mampu menengakan jiwa yang gelisah hingga membawanya ke puncak kebahagiaan, itu yang di tanamkan sejak Almarhum kakek Lambau padanya.
Anna duduk di depan meja riasnya,mengingat masa-masa dia berjuang mencari nafkah untuk kedua adiknya, baru kemarin di jam seperti itu ia menjalani perannya melayani pelanggan di resto, sekarang dia telah menjadi nyonya besar dengan pelayan yang siap melayani dirinya kapan saja.
'Takdir memang penuh kejutan, Takkan ada yang menyangka rencana Indah Allah untuk hambanya yang bersabar, semua yang suram seketika di sulapnya menjadi keniscayaan' Lirihnya.
Di ponselnya, dia menatap foto pernikahannya dengan Dae jung.
__ADS_1
"Oppa, mari kita bersama-sama menjalani takdir Allah ini sampai Allah sendiri pulalah yang memberikan jawabannya." Ucap Anna pada gambar Dae Jung yang tersenyum.