
Dua minggu telah berlalu, Anna masih saja berdiam diri di rumah, aktivitasnya hanya menulis, bercengkrama dengan para pelayan. Sementara Dae Jung dan kedua sekertarisnya mengfokuskan diri pada Korain tekstil agar dapat bangkit kembali. Mereka ke kantor pagi-pagi sekali, dan pulang larut malam. Itu pun mereka garus istirahat karna esok pagi harus ke kantor lagi.
Kendati demikian Anna terpaksa berbohong pada Dae Jung, bohong bila dia merasa tidak mengalami ngidam berlebihan, padahal mual dan muntah disiang hari setiap saat menerpanya. Bohong bila dia selalu butuh Dae Jung setiap saat, bohong dengan sesuatu yang ingin ia makan dari masakan Dae Jung. Ah, apalah dayanya, dia tak ingin membuat suaminya kerepotan. Dae Jung pemimpin Korain Group, waktunya akan tersita banyak pada kebangkitan Korain yang sempat menyusut.
Anna baru saja keluar dari kamar mandi, mual hari ini membuatnya sudah sangat kelelahan. Dia membuka jendelan kacanya, berdiri diatas balkon. Dibawah dibagian keamanan rumah, terlihat ada lima polisi pula yang berjaga. Dae Jung memang kali ini lebih waspada lagi pada orang-orang disekitarnya.
"Kami hidup seperti tawanan saja." Gumam Anna.
Di pandangan sebelah kirinya, ada kakek Hang dan juga tukang kebunnya yang sedang membersihkan tanaman-tanaman hiasnya.
"Aduh, aku lapar .." Gumamnya sembari mengelus perutnya yang tersimpan anak Dae Jung.
Tak tahu harus makan apalagi, semua yang dimasak koki Choi dan Bu Nas selalu tidak bisa menyatu dengan lambungnya. Hanya satu yang ingin ia makan, masakan Dae Jung.
Gemuru perutnya makin mendemonya, Anna kalah. Dia beranjak mengambil ponselnya. Mendial nomor Dae Jung. Namun suaminya itu tak menjawab sama sekali, sekali lagi dia mencoba, akhirnya suara lembut itu terdengar olehnya.
"Assalamualaikum, Anna.." Dae Jung sudah fasih mengucap salam. Buat Anna senyum lucu.
"Anna, kau dengar aku?" kata Dae Jung yang ingin memastikan kehadiran Anna.
"Walaikumsalam, iya aku dengar."
"Apa kamu butuh sesuatu?"
"Oppa, pulang kerumah nanti jam berapa?" tanya Anna seraya menggigit ujung kukunya, terpaksa ia menanyakan itu, karna untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap stabil saat ngidam.
Dae Jung sudah tahu maksud pertanyaanya, dia merasa bersalah, kesibukannya belakangan ini hampir tak ada waktu buat Anna yang tengah hamil muda. Bahkan, hari-hari Anna terkurung di Istana Korain, tentu istrinya jenuh menjalani aktivitas sehari-hari itu.
"Kau kesepian? kau butuh aku?" tanya Dae Jung yang ingin tahu perasaan Anna.
"Bukan aku, tapi anak kita .." lirih Anna.
"Kau selalu jadikan anakku alasan, bisakah kau bilang aku memang butuh kamu, Oppa .."
"Memang itu kenyataanya,"
__ADS_1
"Hhhh, wanita memang punya rasa gengsi yang tinggi." Imbuh Dae Jung menghela nafas.
"Aku menelpon tidak untuk mendengar ocehan.." Anna meraih harga dirinya.
"Aku akan pulang cepat, kamu tunggu aku." Ujar Dae Jung, dia ingin merencanakan kejutan untuk Anna malam ini.
"Hm, aku tunggu."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan pada Dae Jung untuk mengakhiri percakapan mereka, Anna ada rasa malu-malu bila meminta sesuatu pada pria yang menikahinya tiga bulan lalu itu.
Anna mengehela nafas, kali ini dia harus memakasakan diri memakan masakan koki Choi, cara untuk menunda lapar.
"He, presdir junior, kita makan saja apa yang ada, Ayahmu sedang sibuk." Ujar Anna mengelus perutnya.
Di kantor Korain, Dae Jung masih sibuk memeriksa laporan Yuna. Di sampingnya ada Ji Yeong yang berdiri sambil menahan kantuk, mata sipitnya sesekali terpejam, dua minggu belakangan ini tidurnya hanya tiga jam. Wajahnya lucu seperti boneka yang dayanya hampir habis. Melihat itu, Dae Jung menahan tawa.
Drukkk!
Dae Jung memukul meja dengan keras, Ji Yeong terkejut seketika melek. Ekpresinya begitu panik.
"Aigoo, kau mengantuk Ji Yeong. Mimpimu sudah sampai dimana?" canda Dae Jung.
"Hahhhh, sepertinya begitu .." Ji Yeong menghempaskan diri di sofa.
"Aku minta maaf, kau sudah bekerja keras seperti ini." Ujar Dae Jung.
"Bahasamu lagi-lagi formal. Boleh aku tidur sejam saja disini? wajah tampanku ini sudah lesu, kalau begini, primadona Korain bisa digait pria lain." Kata Ji Yeong.
Dae Jung hanya bisa senyum kecil, ternyata Ji Yeong sudah sangat serius pada Yuna.
"Istirahatlah, tidak ada bedanya kamu berdiri di sampingku dan berbaring di sofa itu."
Ji Yeong sudah berkawan dengan bantal sofa, sementara Dae Jung ingin menyelesaikan pekerjaannya, lalu segera pulamg ke rumah.
"Hyung," suara Ji Yeong berlirih padanya, ada yang ingin ia tanyakan pada Dae Jung tentang kisah Yama dan Baek Hyeon.
__ADS_1
"Ya? apa kau tidak ingin tidur?"
"Yama dan Baek Hyeon itu kisahnya sangat tragis, kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya pada Yama?"
Dae Jung mengingat cerita Kakeknya terdahulu tentang sebab ia harus dijodohkan pada Anna.
"Kakek hanya bilang, Kakek Baek Hyeon meninggal dalam peperangan. Itu penyebabnya mereka berpisah." Sahut Dae Jung.
"Tapi, aku dengar dari Kakek dulu, tidak lama kemudian Yama pun ikut meninggal. Aku tidak tahu penyebabnya apa, Kakek belum menceritakan semuanya." Lanjut Dae Jung yang sangat santai menjawabnya.
Tetapi buat Ji Yeong sesak nafas, 'Ya ampun, semoga firasat Yuna hanya imajinasinya saja.' Imbuh Ji Yeong dalam hati.
"Memang kenapa?" tanya Dae Jung yang perhatiannya berpusat pada sekertarisnya itu.
"Tidak, aku hanya mau tau saja."
"Jangan khawatirkan itu, Aku dan Anna akan tetap bersama." Dae Jung menepis kekhawatiran sahabatnya, meski didalam hatinya dia pun merasa demikian.
"Memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kisah itu, tapi bagaimana pun kita semua selalu diintai bahaya. Termasuk kau dan Anna, bukankah itu harus diwaspadai."
Dae Jung tergugu. Rupanya ketakutannya pun sama yang dirasakan Ji Yeong.
"Aku harus membiarkan Anna dan anakku tetap hidup, meski nyawaku jadi taruhannya." Sahutnya tulus.
Ji Yeong mulai gusar, kalimat Dae Jung makin membuatnya khawatir.
"Aku pulang cepat hari ini, Anna butuh aku dirumah." Lanjutnya yang mulai merapikan semua berkas untuk Yuna.
"Malam ini, aku juga mau ke Busan," tukas Ji Yeong.
"Kau ingin menjenguk Paman dan Bibi? aku akan meminta Yuna menyediakan buah tangan untuk mereka. Setelah semua masalah selesai, Aku akan juga mengajak Anna kesana." Kata Dae Jung yang sudah menganggap orangtuan Ji Yeong sebagai orangtua angkatnya.
Dae Jung keluar dari ruangannya, rasa kantuk Ji Yeong lenyap seketika. Ada banyak yang ingin dia ketahui, alamat yang diberikan Jun Hyun harus ia temukan, mengulur waktu sama dengan memberikan kesempatan pada orang-orang jahat itu menyusun strategi.
Ji Yeong tak ingin kisah cinta Yama dan Baek Hyeon terulang lagi pada Dae Jung dan Anna. Dia tak sanggup bila diantara mereka ada yang terpisah.
__ADS_1
Dia melacak Maps di ponselnya, menelusuri Kota Busan mencari alamat yang tertera yang diberikan oleh Jun Hyun. Ternyata lokasi yang dimaksud Jun Hyun benar ada, tapi apa yang akan ia temukan disana?