BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
TEMBAKAN


__ADS_3

Menunggu Jun Hyun usai makan, Dae Somg duduk di ruang tamu, begitu tampan dengan style casualnya. Rencana malam ini dia akan bersama Jun Hyun ke Club, tak ingin memikirkan cinta Baek Hyoen berlarut-larut. Lebih baik dia menghabiskan waktu bersama gadis cantik di luaran sana, ketimbang memikirkan cinta Baek Hyeon yang bertepuk sebelah tangan pada Yama di abad 21 ini.


* Percakapan bahasa Korea*


"Jun Hyun, cepatlah." Serunya Jun Hyun yang masih asyik berbincang pada Ji Yeong dan Dae Jung.


"Kalian mau kemana?" tanya Dae Jung.


"Kemana lagi, di surga Dae Song itu hanya club." Ketus Ji Yeong.


"Jaga dia baik-baik, jantungnya bisa kumat kapan saja." Ujar Dae Jung yang tetap mengkhawatirkan Kakaknya.


Jun Hyun pamit dari mereka, Pak Su sudah istirahat, Dae Song yang akan menyetir malam ini. Sepanjang perjalanan menuju club yang ada di Gangnam, Dae Song banyak bertanya pada Jun Hyun.


"Apa kau masih menyukai, Anna?" tanyanya yang begitu penasaran.


Tentu Jun Hyun tersentak kaget di buatnya, pertanyaan itu sungguh memalukan. Karena tak perlu menjawab, pria yang memang pendiam itu hanya menganggap pertanyaan Dae Song angin lalu.


"Apa kau masih menyukainya? jika kau tak menjawab berarti iya." Ketus Dae Song kembali.


"Terserah pendapatmu apa." Sahut Jun Hyun yang malas beradu mulut dengan kakak tirinya itu.


"Aku akan menikah segera." Ujar Dae Song.


"Terserahlah .." Jun Hyun lagi menimpal.


"Aku mau cari perempuan Indonesia juga." Kata Dae Song mengeluarkan uneg-enegnya.


"Terserah juga."


"Apa di mulutmu hanya bisa mengucap terserah?"


Jun Hyun malah mengalihkan pandangan, dia juga tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia masih mencintai Anna.


Dae Song melihat di kaca spion, sedari tadi ada mobil yang mengikuti mereka. Dia menebak itu adalah suruhan Ayahnya. Dae Song menghela nafas, ternyata dia lupa bahwa hidupnya masih di awasi oleh paman Chung Sang.

__ADS_1


"Jun Hyun, kita tidak jadi ke Club. Kita putar arah kembali ke rumah." Ujar Dae Song berhenti lalu memutar arah balik.


Jun Hyun menoleh ke belakang untuk memastikan itu. Ternyata benar, ada mobil hitam yang mengikuti mereka. Dae Song melaju dengan kecepatan tinggi, dia tahu, mobil itu akan mencegat mereka.


"Mereka sudah tak terlihat." Kata Jun Hyun yang mengamati.


"Sudah ku duga, kita masih di pantau oleh mereka."


Dae Song kembali lagi ke Pyeongchandong, rencananya ia batalkan lagi.


"Ini tidak akan berhenti sebelum dia di tangkap." Ujar Jun Hyun memperingati Dae Song kesekian kalinya.


Dae Song hanya menyimpan itu di belakang telinganya. Dia tahu dengan bahaya yang akan menimpa mereka. Tapi dia tak ingin gegabah melakukan sesuatu tanpa rencana yang tepat. Dae Song sangat mengenali Ayahnya, pria itu mempunyai setumpuk rencana keji demi mendapatkan yang dia inginkan.


Ada Mobil yang tiba-tiba menyusul mereka dengan laju cepat. Salah seorang dari mereka menghunuskan pistol ke arah Jun Hyun. Dae Song mendekap kepala Jun Hyun.


"Awas !!" dUurrt !!


"Ahhkk ..." Dae Song memekik.


Timah panas itu menancap di lengan Dae Song, tangan sebelah kirinnya masih mengendalikan kemudi dengan baik. Jun Hyun segera menutup pintu kaca jendela mobil mereka.


"Aku bisa menahannya. Telpon Ji Yeong sekarang. Kita dalam bahaya."


Jun Hyun menelpon Ji Yeong segera. Mobil itu masih membututi mereka dari arah belakang. Dae Song mengambil pistol milik Pak Lee yang selalu ia simpan di mobil.


"Kau bisa menggunakan ini?" tanya Dae Song pada Jun Hyun.


Tanpa memberi jawaban, Jun Hyun mengambil pistol Pak Lee dari Dae Song. Perlawanan meluncur peluru akan di lalukan oleh mereka di tengah sepinya jalan malam itu.


Ji Yeong yang sudah di kamar beristirahat, bergegas mengarahkan Kepala keamanan Pak Lee dan para pengawal Korain. Mereka berkumpul di ruang perlengkapan senjata. Dae Jung mendengar ada kasak-kusuk orang melewati kamarnya beranjak pula keluar.


"Kamu disini, aku akan memanggil Bu Nas menemanimu." Tuturnya pada Anna yang sudah bersiap-siap ingin tidur.


Anna yang lelah hanya mengangguk. Dae Jung juga bersiap-siap mengambil jaket kulitnya lalu turun ke bawah. Di bawah Pak Lee bermata sipit sudah berbaris dengan 15 belas pengawal lainnya, mununggu arahan Ji Yeong meminta letak posisi Dae Song dan Jun Hyun.

__ADS_1


"Apa ada yang terjadi lagi?" tanya Dae Jung.


"Dae Song tertembak. Mereka sedang di kejar oleh suruhan Ayahku." Dengan berat hati Ji Yeong mengutarakan itu pada Dae Jung. Jujur, dia begitu mala dengan kelakuan Ayahnya yang tak berprikemanusiaan.


"Untuk apa kalian masih disini? Kakakku sedang dalam bahaya." Tegasnya pada semua bagian keamannya.


Sepuluh mobil berderet mengantar mereka ke tempat dimana Jun Hyun dan Dae Song bersembunyi. Di sebuah bangunan yang ingin di jadikan hotel masih dalam perbaikan, Jun Hyun dan Dae Song bersembunyi di sela-sela tumpukan semen. Tangan kanan Dae Song tak henti mengeluarkan darah.


"Jangan menembak, Jun Hyun." Imbuh Dae Song berbisik. Dia menahan nyeri di tangannya, wajahnya mulai pucat.


Jun Hyun tetap saja siaga, mengamati pergerakan kelima suruhan Chung Sang, dari jarak 100 meter kelima pria berwajah sangar itu berpencar mencari mereka berdua.


Dae Song mengirimkan titik lolasi mereka pada Ji Yoeng.


"Aku belum ingin mati, Ayahku harus berakhir di penjara.." Lirih Dae Song.


"Jangan berkata seperti itu." Tangkas Jun Hyun. Dia merobek baju kaosnya pelan, jangan sampaindindengar para komplotan Chung Sang, lalu melilikat di luka tembakan Dae Song, agar darah itu berhenti mengalir. Bila Dae Song tetap seperti itu, dua jam kemudian kembaran Dae Jung itu pasti akan mati.


"Beratahan Dae Song, Dae Jung akan datang tidak lama lagi."


Ketiga anggota Chung Sang semakin mendekat di arah persembunyian mereka.


"Kalian jangan bersembunyi. Dae Song Ayahmu menunggumu." Dengan teriak yamg menagung pria itu meminta Dae Song agar menampakkan diri.


Sembari mengitari tempat yang gelap itu, dia iberkata


"Dae Song, jika kau masih berada di rumah Korain, Anna kami akan bunuh." Peringatan pria itu di dengar jelas oleh Dae Song dan Jun Hyun.


Ayahnya tahu, Anna adalah kelemahannya. Dia sangat menegtahui, Dae Song sudah lama mengamati adik iparnya itu dari kejauhan. Mendapat peringatan mengerikan itu, Dae Song menelan salivanya. Dia tak akan menampakkan diri. Dia lelah menjadi boneka Ayahnya.


Jun Hyun masih tetap siaga dengan pistolnya, melindumgi Dae Song yang kian melemah, dia mendekap tubuh Dae Song agar suara rintihan kakak tirinya itu tidak terdengar musuh mereka.


Suara mobil telah terdengar dari luar hotel tua itu.


"Kalian yang ada di dalam, keluar !! kalian sudah terkepung." Imbuh Pak Lee.

__ADS_1


Dae Jung sudah siap dengan pistol sig sauer miliknya. Mereka sudah menggunakan rumoi anti peluru.


"Jangan hiraukan nyawa mereka lagi. Mereka sudah menembak Kakakku." Tukas Dae Jung yang sudah di balut amarah.


__ADS_2