
Pagi-pagi buta Presdir Hang membangunkan Dae Jung, cucunya itu masih bersembunyi di balik hangatnya selimut, Presdir Hang menarik selimut hingga terlepas dari tubuh Dae Jung.
"Haa.Haraboeji (Kakek) .." Dae Jung bak anak kecil yang terganggu dari tidurnya.
Presdir Hang menepuk belakang Dae Jung dengan tongkat kayunya.
"Dae Junga, kita akan pergi bertemu dengan keluarga Yama." Ucap Presdir Hang.
Dae Jung masih menutup rapat matanya,kantuknya tak tertahan.
"Dae Jungaa, sejam lagi Kakek menunggumu dibawah." Presdir Hang memperingatkan cucunya lalu keluar dari kamar Dae Jung.
"Haraboeji, wanita seperti itu akan ku temui lagi? astaga." Ketusnya membangunkan diri.
Beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap melakukan perintah Kakek kesayangannya.
Hari ini dia free kerja karna sudah terjadwal tetap untuk menemui keluarga Pak Lambau,yang pastinya gadis aneh bernama Anna pula.
Memakai setelan kemeja biru, dia makin tampak gagah dengan aura yang bersinar.
Dae Jung menuruni anak tangga, berlari menuju ke arah Kakeknya yang sedang sarapan, di meja mewah luxury elegant berisi tujuh kursi itu ia duduk di samping Presdir Hang.
"Hari ini bertemu dengan keluarga Yama,sekaligus membicarakan lamarannya." Ucap Prsedir Hang.
Dae Jung yang meneguk susu hanya mendengarkan saja.
"Mereka bukan orang lain, dia keluarga kita juga, keluarga istri dari Kakak Kakek." Presdir Hang tak henti mengingatkan. "Jadi kita harus hormat dan beri mereka penghargaan." Lanjutnya.
"deh, Harraboeji." Sahut Dae Jung yang mengunyah roti omelette.
Setelah sarapan, mereka bersiap-siap menuju ke rumah Uwa Nuri, mobil mewah *mercedes benz limousine* itu melaju membelah jalan kota kecil yang tentram.
***********
Anna yang bersama rasti ke pasar tradisional, membeli bahan-bahan kue untuk pesanan Uwa Nuri, belanjaannya lumayan banyak, untung saja hari itu Rasti jadwal masuk siang ke sekolah, jika tidak kasihan Uwa Nuri bila harus menemani Anna.
Pria-pria yang ada di pasar itu melirik ke Anna yang tampilannya rapi, dengan setelan tunik pink dusty motif bunga, celana panjang putih, memadu padankan dengan hijab pashmina berwarna dark milo, sangat cantik di tubuh Anna yang memilik berat badan 52 kg itu dan tinggi 157 cm.
"Sudah semua, Kak?" Tanya Rasti yang sudah letih.
__ADS_1
Anna meneliti catatan belanjaannya yang sudah terceklist.
"Sudah kayaknya, Dek. Oh tunggu dulu, aku mau beli buah, kita buat es buah nanti, ya." Ujar Anna menuju ke pedagang buah.
Rasti lebih dulu ke parkiran motornya, menunggu Anna yang sedang memilah-milah buah segar, usai membayar. Mereka kembali pulang dengan membawa belanjaan tiga kantong plastik hitam besar.
Setelah sampai di depan rumah Uwa Nuri, tetangga mereka sedang berkasak-kusuk di bawah pohon yang tidak jauh dari mereka berhenti, terlihat mobil mewah sudah terparkir di halaman kecil rumah peninggalan mendiang kakeknya itu.
"Ada tamu, Kak? Pejabat daerah kali, ya." Tanya Rasti.
Anna yakin tamu itu adalah Dae Jung dan kakeknya, tak menggubris para tetangga yang penuh keheranan, dia dan Rasti segera masuk ke rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Rasti sembari menunduk hormat pada tamunya itu lalu berlalu menuju dapur menyimpan belanjaannya.
Uwa Nuri yang sedari tadi menemani Dae Jung dan Presdir Hang bercerita, sudah tahu apa maksud dan tujuan mereka bertamu, sebagai Uwa pengganti orangtuaanna, dia hanya mendukung yang terbaik untuk ponakannya.
"Ini adik Anna, namanya Rasti, Pak." Uwa Nuri memperkenalkan.
"Anna mana?" Tanya Uwa Nuri pada rasti yang duduk di sampingnya.
Anna memang belum menampakkan diri, sibuk mencari keberanian diri untul bertemu kakek Dae Jung.
"Anna harus ikhlas, harus siap. Jangan sampai kamu buat malu kakek kamu." Tegasnya dalam hati.
Dengan bahasa indonesia yang kaku,kakek dae jung berkata. "Anna, ini Anna. Anak Rafiah? Wah cantiknya, mirip dengan Ibunya." Puji Presdir Hang.
Anna tersenyum, juga melempar senyum pada Ji Yeong, namun tidak pada Dae Jung yang juga memasang wajah masam.
Di meja terlihat ketiga tamunya membawa bunga,dan berbagai jenis makanan mahal serta souvenir khas Korea. Sangat menujukkan keseriusan membangun silaturahmi ini.
"Anna sini duduk dengan Haraboeji." Ajak Presdir Hang.
Anna yang telah duduk di samping Presdir Hang meraih tangan kakek Dae Jung itu lalu menyalaminya dengan hormat dan santun, melihat sikap Anna, Dae Jung tertegun.
"Anna, pasti tahu, saya ini sahabat kakek kamu. Pak Lambau yang berhati mulia."
Anna hanya mengangguk-angguk.
"Anna, Haraboeji sudah membicarakan pada Nuri, bisakah kamu menikah dengan cucuku, Kim Dae Jung?." Tanya Presdir Hang menunjuk ke arah Dae Jung, tanpa basa-basi ia ingin meminang gadis yang ia yakin mempunyai budi yang baik itu.
__ADS_1
Dae Jung saat itu malu dengan tingkah kakeknya yang begitu jujur. Sebab sangat menginginkan gadis aneh itu menjadi pendampingnya.
Anna terdiam sesaat, dia memilih kalimat yang baik untuk jawaban pertanyaan Presdir Hang.
"Saya hanya gadis biasa, Pak." Anna merendah.
Presdir Hang tertawa, seakan ucapan Anna itu lawakan.
"Kamu bukan gadis biasa, kamu gadis dari sebagian milik Korain, hanya saja kakekmu menitipkannya kepadaku."
Anna, Uwa Nuri, dan Rasti saat itu tidak bisa berucap, mereka menganggap Presdir Hang hanya mencandai mereka dengan cara seperti itu agar Anna bisa menikah dengan cucunya.
"Saya tanya sekali lagi pada kalian berdua, apakah kalian ingin berbakti kepada kami?" Tanya Presdir Hang pada Dae Jung dan Anna.
Anna gelisah, namun berbeda dengan Dae Jung yang sudah lebih dulu di wanti-wanti oleh kakeknya, sehingga mengatakan "Ya, aku ingin." Ucap Dae Jung meski hatinya menolak.
"Anna?" Uwa nuri meminta jawaban.
Anna menundukkan wajah seraya mengangguk, tanda persetujuannya.
Presdir Hang sumringah, baru kali ini dia merasakan kebahagiaan, selangkah lagi beban janji pada sahabatnya akan terlaksana, serta amanah Baek Hyeon dan Yama tercapai.
"Kakek sudah tua, dan usianya mungkin sudah tidak lama lagi, hanya kakek yang diharapkan mereka untuk bisa membuat kalian menikah. Jadi, kalian akan menikah bulan ini." Tegas Presdir Hang.
Seakan tak ingin membuang waktu, takut bila nanti Dae Jung dan Anna berubah pikiran sehingga tak mau menikah, sebagai pewaris amanah Nuri juga hanya mengikuti arus, wanita desa sepertinya mana bisa menolak orang besar seperti keluarga Dae Jung.
Dae Jung dan Anna semakin tertekan, pernikahan mereka tidak lama lagi. Kesiapan mental menjadi pasangan suami istri belum di dapatkan, terlebih lagi pada orang yang tidak membuatnya tertarik sedikit pun.
"Maaf, Pak. Saya sebagai pihak perempuan, bisakah saya meminta sesuatu?" Ucap Anna pada Presdir Hang.
Ini yang harus ia tanyakan terlebih dulu, puncak masalah akan terjadi bila Dae Jung tak memiliki keyakinan pada sang pencipta.
"Maaf, Pak. Ini memang manyangkut pribadi Pak Kim Dae Jung, sebagai calon pasangannya, saya seorang muslim yang meyakini Allah ta'alaa, saya ingin menanyakan tentang agama Pak Kim?" Tanya Anna perlahan.
Dae Jung mengerutkan dahi, baru kali ini ada yang terang-terangan menyinggung soal agama pada dirinya, apalagi di hadapan kakeknya.
Mengerti dengan maksud Anna, Presdir Hang mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.
"Ibu Dae Jung seorang muslim sama seperti kamu, Ayah Dae Jung itu juga seorang muallaf, tapi tidak banyak yang tahu, saya seorang katholik. Kalau Kim Dae Jung mengikuti agama Ibunya, dia juga muslim sama seperti Anna. Sayangnya, Dae Jung tidak pernah mendapat pelajaran itu sejak kecil selama Ibunya meninggal dunia." Jelas Presdir Hang menatap Dae Jung yang memasang wajah murung.
__ADS_1
Sebagai kakek, dia tahu betul perasaan cucunya sekarang ini. Kesedihan di tinggal Ibunya pasti dirasakan Dae Jung kembali.
Setelah percakapan panjang, diskusi pernikahan yang genting, mereka menutupnya dengan jamuan makan malam Uwa Nuri khas daerah tempat tinggal mereka.