
Pagi-pagi Yuna sudah siap dengan pakain kantornya, namun dia memutuskan untuk ke rumah Korain menjenguk Anna, sekaligus membawakan sarapan Ji Yeong. Mereka berdua memutuskan agar hubungan di antara mereka untuk sementara tidak di ketahui oleh Dae Jung, tak ingin bila profesionalitas mereka sampai terganggu dengan adanya hubungan asmara antara partner kerja.
Dia di sambut kepala pelayan Nas yang menyusun sarapan di meja besar, di dapur utama ada Anna yang sibuk membantu koki Choi, kebiasaan Anna sudah seperti asistent koki di rumahnya sendiri.
"Nona Anna sudah bangun? " Tanya Yuna pada Bu Nas.
"Sudah, dia sedang ada di dapur membantu koki Choi." Sahut Bu Nas menuangkan teh di cangkir Yuna.
"Ah .. Anna, sudah menjadi ratu, masih saja mau repot di dapur." Ketus Yuna pada Bu Nas.
"Dia memang Istri yang hebat, semua kebutuhan Tuan Kim harus dia yang urus." Ujar Bu Nas yang bangga pada Istri Dae Jung itu.
Anna keluar membawa berbagai kudapan pagi, wajahnya sumringah melihat Yuna sudah ada duduk di Sofa.
"Ternyata kita kedatangan tamu Primadona Korain." Tukas Anna.
"Ya, Nona. Aku hampir takut saat kamu dibilang tenggelam di laut Ulleongdo." Celetuk Yuna.
Anna tertawa mendengar itu. Dae Jung dan Ji Yeong sudah menuruni anak tangga, dari jauh mata sipit Ji Yeong mengedipkan mata pada kekasihnya itu, di balas pula secara diam-diam oleh Yuna, semangat kerja mereka makin menggebu semenjak hubungan mereka resmi berpacaran.
Tapi tiba-tiba dari luar, ada suara mobil yang terparkir, mata mereka semua berpusat pada mobil mewah itu. Di balik pintu mobil yang terbuka, ada Bibi Nami juga di susul oleh anaknya Bora yang sudah tampil cantik dengan riasan dan style mewahnya.
Rambut Yuna di potong hingga sebahu, di warnai coklat, dress mini yang sangat seksi, menonjolkan lekuk tubuh gadis yang memilik tinggi 170 cm itu.
Dae Jung yang menampakkan wajah tidak senang dengan kehadiran Ibu dan anak itu di rumahnya, seakan ingin menyakiti hati Istrinya secara perlahan. Anna melirik ke suaminya, Dae Jung masih mematung di depan tangga, di belakangnya masih ada Ji Yeong yang juga ikut kesal pada tamu yang tak di undang itu.
"Mereka mau apa kemari?" Lirih Ji Yeong berbisik pada Dae Jung.
Bora di tenteng oleh Ibunya memasuki Istana Korain, dari jauh mata Dae Jung memperhatikan penampilan Bora yang kembali seperti dulu, namun matanya segera ia alihkan ke Anna yang tiada henti menelan salivanya menahan kekesalan.
Melihat Dae Jung, Bora berlari menghampirinya, meraih tubuh Dae Jung ke dalam pelukannya. Semua mata di kubuh Korain melotot penuh amarah termasuk Bu Nas dan Yuna.
__ADS_1
"Oppa, aku sangat rindu." Ucap Bora yang di susul pula air matanya.
Yuna menganga melihat Presdir Korain di peluk perempuan seksi yang asing baginya itu.
"Anna, dia siapa? kenapa lancang memeluk Tuan Kim." Tanya Yuna.
"Dia mantan pacar Tuan Kim, itu sana Ibunya yang sudah hilang urat malu." Sahut Bu Nas menahan emosi.
Anna hanya membisu, dia menatap tajam pemandangan yang menguji kesabarannya itu.
"Bora, lepaskan aku." Pinta Dae Jung yang berusaha memutuskan lingkaran tangan Bora di pinggangnya.
"Biarkan aku seperti ini dulu, aku sangat rindu padamu."
"Tapi, lepaskan dulu. Aku tidak suka." Tgas Dae Jung yang mekepaskan tangan Bora darinya secara paksa.
Anna mengalihkan pandangannya, menghela nafas untuk meleburkan kesalnya saat itu juga.
Namun Anna tak menjawab.
"Kamu takut pada wanita itu? biar aku bantu menghajarnya." Tutur Yuna menepuk pundak Anna.
"Aku membiarkannya karna dia mengalami ganguan mental. Biarkan itu jadi urusan Tuan Kim, dia tahu cara yang harus dia lakukan sebagai suamiku." Anna bijak menanggapi walau di dalam hatinya menyimpan kecemburuan.
Dari jauh Bibi Nami melemparkan tatapan sinis pada Anna dan Bu Nas. Merasa puas dengan kemenangannya yang bisa menghadirkan Bora di hadapan mereka secara langsung.
"Kamu kenapa kemari?" Tanya Dae Jung.
"Aku menunggu kamu untuk ke Daegu, tapi kamu kata Ibuku kamu tidak punya waktu, jadi aku memutuskan untuk ke rumah ini. Sudah lama aku tidak kesini, tidak ada yang berubah." Bora menjalarkan pandangan ke setiap sudut rumah legend Korain itu.
Dia melihat kehadiran Anna yang setahunya adalah psikolog kenalan Dae Jung.
__ADS_1
"Oppa, psikolog itu ada disini juga." Ujarnya.
"Ya, dia tinggal di rumah ini, bersamaku."
"Ji Yeong apa kabar? Lama kita tidak bertemu." Sapanya pada Ji Yeong, namun pria itu hanya membalas dengan senyum masam.
"Kau duduk dulu saja di sofa bersama Ibumu, aku dnegan mereka ingin sarapan. Silahkan kesana sofa." Ketus Dae Jung berlalu menuju ke meja makan yang di sana sudah ada Anna menunggunya.
Bora seketika memasang wajah sedih dengan sikap dingin Dae Jung kepadanya, dari jauh Bibi Nami memanggil anaknya untuk menunggu Dae Jung di luar rumah saja.
"Ayo sayang, kita menunggu di luar." Serunya pada Bora.
Bibi Nami sangat marah pada Prsedir Korain itu, tapi perjuangannya tidak akan terhenti begitu saja, bagaimanpun caranya dia harus mempersatukan Bora dengan Dae Jung kemballi, itu ambisi utama hidupnya kali ini.
Dari jauh giliran Bu Nas melemparkan senyum ejekannya pada Istri pemilik GG group itu, sangat memalukan! Kecam Bu Nas dalam hati.
Bora dan Bibi Nami menunggu di teras, dia menghapus air mata Bora yang berusaha menahan amarahnya, takut bila amarah Bora menjadi amukan di hadapan kubuh Korain, dia tak ingin anaknya di katakan gadis depresi lagi.
"Tahan diri kamu sayang, Dae Jung masih kesal karna kamu menghilang selama lima tahun. Dia tetap cinta kamu, Ibu yakin itu."
"Tapi kenapa psikolog itu tinggal bersamanya? Aku masih kesal padanya, Bu."
"Dia tidak punya tempat tinggal, jadi Dae Jung memberikan dia tumpangan, sudahlah jangan memikirkan perempuan itu, kamu tidak sebanding dnegan dia."
Bora mengepalakan tangan, wajah Anna sangat membuatnya kesal, semenjak kejadian di rumahnya, dia membenci Anna, sebab Dae Jung lebih memilih membela Anna ketimbang dirinya.
"Apa kita harus menunggu disini, Bu? Kenapa kita tidak ikut mereka untuk sarapan?" Bora memberi usul.
"Jangan, biarkan mereka dulu. Kamu akan ikut bersama Dae Jung ke kantornya. kamu akan menghabiskan waktu bersama dia disana."
Bora mengangguk mengerti, dia sangat bahagia karna selalu mendapatkan dukungan penuh dari Ibunya, Dae Jung akan tetap menjadi miliknya, karna mereka adalah cinta pertama dan sudah pernah mengikat janji satu sama lain. Tak ada yang bisa memutuskan janji itu, karna Dae Jung hanya mencintai dirinya saja. Pikir Bora.
__ADS_1